
Malam itu salju turun begitu lebat menyelimuti udara kekaisaran Hiton. Dingin, senyap meretas sepi yang semakin membekukan keheningan malam.
Dedaunan yang semula berguguran, hanya terlihat batang dan cabang pohon yang diselimuti salju.
Mikha sedang duduk di kursi kayu di atas balkon disamping kamarnya. Pandangannya menerawang jauh menatap puncak pegunungan yang tampak memutih pucat.
Sebuah pemandangan yang tidak pernah Mikha temukan di kehidupan sebelumnya. Menatap salju yang turun. Melihat daratan yang putih berkilau diselimuti es. Semua itu yang pertama untuk Mikha.
Salju semakin turun dengan lebatnya mengaburkan pemandangan yang semakin keruh. Butiran-butiran es yang lembut tertiup angin malam semakin mendinginkan raga.
Mikha bergidik kedinginan merasakan dingin yang seakan menembus tulangnya. Gaun tidurnya yang hangat tidak mampu mengusir rasa dingin yang melandanya.
Rasanya sangat dingin sampai kulit seperti menjadi keriput. Tetapi Mikha tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Dia masih ingin menikmati peristiwa alam ini terus dan terus.
Tiba-tiba...
Tok! Tok! Tok! Ada yang mengetuk pintu menuju balkon di kamar Mikha.
Mikha menoleh menatap suara ketukan itu. Ternyata Marrie yang datang membawa sebuah jaket untuk Mikha. Marrie tidak datang sendiri, dia datang bersama Leon yang membawa 2 gelas coklat panas di nampan.
Sebelumnya beberapa saat yang lalu di dapur.
Leon sedang sibuk memasak coklat panas untuk Mikha. Seperti tahun-tahun sebelumnya saat musim salju tiba, Leon selalu membuatkan coklat panas untuk sahabatnya itu. Ditambah lagi tadi Leon sempat melihat Mikha sedang menggigil kedinginan. Leon yakin, coklat pamas akan mampu mengusir rasa dingin Mikha.
Saat akan mengantar coklat panas itu, Leon berpapasan dengan Marrie di depan pintu kamar Mikha.
Leon terkejud. Dia ingin kembali nanti saat Marrie sudah pergi, tetapi Marrie melarangnya dengan mengatakan dia datang hanya untuk melihat putrinya sebentar.
Kembali ke saat sekarang. Mikha yang sekarang berusia 16 tahun terlihat lebih dewasa. Mikha tidak lagi mengingat masalalunya yang dulu. Dia sudah dapat melupakan rasa sakit dan sedih saat Papanya melenyapkan dirinya dengan tangannya sendiri. Mikha membenci Papanya, tapi Mikha tidak ada keinginan untuk membenci Ayahnya yang sekarang. Walau dia tahu Ayahnya membuang dia dan juga ibunya.
Mikha justru bersyukur, setidaknya dia punya ibu yang sangat mencintai dan menyayangi Mikha. Mikha juga punya Paman Diego, Lisa dan juga Leon. Mereka selalu ada untuk menjaga dan mendukung Mikha. Mikha sangat menyayangi mereka semua.
"Ibu, Leon! Kalian ada apa kesini?", tanya Mikha selekas menoleh menatap dua orang di ambang pintu.
"Ibu mau mengambilkanmu jaket. Sepertinya kamu kedinginan.", jawab Marrie sambil meletakkan jaket yang dia bawa ke pundak Mikha.
Mikha menatap Ibunya sejenak sebelum beralih menatap Leon.
Leon tersenyum manis kemudian berkata, "Aku membawakanmu coklat panas. Tadinya aku ingin minum ini denganmu. Kufikir kamu butuh teman mengobrol, jadi aku kesini. Tapi karena sudah ada Nyonya, lebih baik ini untuk kamu dan ibumu saja."
Marrie menggelengkan kepalanya. Dia tahu Leon kecewa.
"Leon, tidak apa-apa, kamu saja yang menemani Mikha. Mikha jauh lebih butuh sahabat sepertinya?"
"Aku mau kalian ada disini."
__ADS_1
Seketika Marrie tersenyum lalu mengecup kening putrinya dengan sayang.
"Ibu sudah ada janji dengan Paman Diego."
"Paman kesini?"
"Ya.", jawab Marrie singkat lalu berjalan keluar meninggalkan Mikha bersama Leon berdua saja di balkon.
Mikha kembali duduk disusul kemudian Leon juga duduk disamping kanannya. Keduanya sama-sama bersandar di sandaran kursi. Menatap objek yang di pandang masing-masing.
Udara semakin dingin saja. Angin makin kencang berembus. Malam juga semakin gelap.
"Leon."
"Kenapa?"
"Aku ingin pergi ke istana kekaisaran. Aku ingin melihat seperti apa itu Nuel. Kamu mau kan menemaniku kesana?"
"Apa", Leon seketika terkejud Mikha tiba-tiba mengatakan hal yang tak masuk akal untuk Leon
"Temani aku ke istana. Aku ingin melihat ekspresi Nuel ketika tahu aku masih hidup. Dia pasti kelihatan kaget dan shock mengetahuinya."
"Tapi sepertinya itu agak sulit."
"Kenapa? Kamu takut aku akan ketahuan kalau aku Putri Kaisar?"
"Leon! Leoon!", Mikha membentak Leon yang sedang asyik melamun. Mikha memukul pundak Leon kasar.
Leon terkejud kembali sadar.
"Maaf.", sergah Leon sambil garuk-garuk kepala malu.
"Kamu mikirin apa sih?", tanya Mikha penasaran sampai memiringkan kepala memohon Leon untuk jujur.
Leon menggelengkan kepalanya dua kali sebelum menjawab, "Tidak ada. Aku cuma berfikir permintaanmu itu tidak mungkin."
"Kenapa tidak?", protes Mikha
Leon menghembuskan napas panjang dan berat. "Keluarga kekaisaran tidak ada yang menginginkanmu. Kamu pasti akan kesulitan tinggal disana. Apalagi Ibumu. Kamu mau Ibumu hidup lebih menderita disana? Permaisuri tidak akan tinggal diam mengetahui Selir Marrie kembali ke istana. Dia akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan Ibumu dari sisi kaisar.", kata Leon lalu diam sesaat sebelum bicara kembali, "Lebih baik urungkan dulu niatmu untuk ke istana sampai usiamu 18 tahun."
"Kenapa aku harus menunggu selama itu hanya untuk balas dendam? Aku tidak bisa! Didalam dadaku sudah bergejolak dipenuhi dendam yang membara.", sahut Mikha dengan berapi-api.
Leon tertawa cekikikan melihat Mikha yang sangat bersemangat. Udara yang tadinya dingin, berubah jadi panas seperti ada kebakaran.
"Kenapa malah tertawa? Memangnya ada yang lucu?"
__ADS_1
"Ah, tidak. Aku cuma senang saja melihat kamu bersemangat begitu. Seperti sseseorang yang sudah siap untuk berperang." , padahal belum persiapan apapun
"Apa katamu? Kamu minta dihajar ya? Haa?", sentak Mikha sambil mencari benda yang bisa dia gunakan untuk memukul Leon tapi tidak ada.
"Maaf. Jangan marah! Ayo, diminum coklatnya, sebelum dingin!"
"Ogah.", jawab Mikha singkat dengan memanyunkan bibirnya. Wajah Mikha tampak murung.
"Iya, kalau begitu kapan-kapan ku ajak main sesekali ke istana kekaisaran Hiton."
"Benarkah?", sorak Mikha terlonjak senang. Dia langsung memeluk Leon dengan erat dan rasa terimakasihnya. "Kamu memang Leon ku yang paling baik."
Dag dig dug! Jantung Leon berdebar-debar tidak menentu. Sekujur tubuhnya menjadi tegang saat Mikha memeluknya tanpa aba-aba terlebih dulu. Seperti di sengat listrik. Apalagi saat dadanya bersentuhan dengan dua bukit kenyal di tubuh Mikha. Leon merasa demam seketika.
Wajah Leon memerah seperti orang yang sakit demam. Rasanya nyaman dan hangat. Leon selalu merindukan pelukkan Mikha. Leon ingin selalu ada disamping Mikha dan membuatnya tersenyum. Leon akan melakukan apa saja untuk Mikha. Apapun itu. Alasannya hanya satu.
"Karena aku mencintaimu, Mikhailla."
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
Hari sudah semakin larut. Udara juga semakin dingin. Kemanapun mata memandang, hanya ada kegelapan dan hamparan salju dimana-mana.
Mikha terlihat tenang menyandarkan kepala di pundak kanan Leon. Leon juga senang saat Mikha bersandar di bahunya. Sambil mengobrol, mereka menikmati panorama malam dengan ditemani dua gelas coklat cair panas.
"Mikha. Kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi ke istana kekaisaran?", tanya Leon dengan suara paraunya.
Mikha mendongakkan kepala menatap Leon sendu. Lalu menyandarkan kepalanya kembali di bahu Leon.
"Aku mau melihat Yang Mulia Kaisar. Aku juga ingin bertemu dengan adikku. Apa aku salah? Setidaknya aku ingin melihat ekspresi kagetnya saat melihatku. Tampangnya pasti kaget bukan main seperti melihat hantu."
"Baiklah. Besok kita ke istana. Pagi-pagi sekali aku akan menunggumu di bawah pohon biasa kita bertemu."
Mikha tersenyum manis, "Terimakasih. Aku beruntung punya sahabat sepertimu disini. Kalau gak ada kamu aku pasti bingung harus berbuat apa. Nggak punya teman itu rasanya sedih dan kesepian."
"Aku tahu. Mikha, kamu mau mampir sebentar ke kediaman Marquess Allan? Aku ingin kamu melihat tempat tinggal masa kecilku bersama saudara kembarku."
Mikha mengangkat kepalanya. Matanya menatap Leon penuh keterkejutan. "Sa...Saudara kembar? Kamu punya saudara kembar?"
"Bukannya dulu aku pernah cerita padamu ya?", Leon balas bertanya.
"Massa? Kapan? Aku tidak ingat tuh!"
Leon menghela napas panjangnya. "Sudahlah kalau kamu lupa. Besok ku ceritakan lagi."
"Baiklah. Aku juga penasaran ingin melihat fotomu saat kecil. Hihihi", cetus Mikha senyum nyengir.
__ADS_1
Keduanya terus berbincang sampai Mikha ketiduran di pundak Leon.
Dengan perasaan tidak menentu Leon memindahkan Mikha ke tempat tidurnya. Setelah memasangkan selimut Mikha, Leon bergegas menutup pintu dan jendela kamar Mikha kemudian pergi meninggalkan Mikha terlelap dalam tidurnya.