
"Ponakan ku!"
Andin mencondongkan badannya mundur saat pria berambut pirang ikal itu mendekatinya dan duduk di samping kirinya.
Andin merasa sedikit takut melihat orang itu.
"Yang Mulia betulan tidak mengingat Paman?", tanya pria itu memastikan.
Andin tampak mengangguk pelan.
Sinar diwajah pria itu seketika berubah 180°. Matanya yang semula terlihat bersahabat, berubah seketika seperti diselubungi kegelapan. Membuat bulu kuduk merinding.
Hiiiiyyy!! Andin mengernyit takut. Badannya semakin dicondongkan ke belakang.
"Auranya menakutkan kayak Papa. Uh, apa dia tidak terima karena aku tidak mengingatnya?", Andin berfikir keras.
"Tuan ketua Ksatria! Anda menakut-nakuti dia.", tegur suara dari arah pintu. Suara Leon menyelamatkan Andin yang gemetaran.
"Maafkan Paman, Mikhailla. Paman tidak tahu kalau kamu takut pada Paman..", pria itu bersungut. Ada kekecewaan dimatanya. Mata itu meredup. Mukanya tertunduk lesu.
Andin merasa kasihan melihat pria itu. Dengan memberanikan diri dia meraih jemari tangan kanannya seraya berkata,
"Paman. Mungkin saya agak lelah saja. Setelah beristirahat nanti mungkin saya sudah bisa mengingat Paman.", kata Andin dengan suara dibuat setenang mungkin.
Pria itu jadi terharu tetapi tidak sampai menangis. Karena menangis akan melukai harga dirinya sebagai seorang komandan pasukan prajurit utama kekaisaran Hiton.
Dia menatap wajah gadis berusia 15 tahun itu dengan tatapan hangat.
"Iya. Mungkin Yang Mulia butuh istirahat. Paman akan datang lagi minggu depan. Paman yakin Yang Mulia akan mengingat Paman yang tampan dan gagah ini. Dan mungkin saja saat itu justru Paman yang malas untuk mengingat Yang Mulia."
"Diiih! Pede amat ni orang?!", gerutu Andin dalam hati.
"Kalau begitu Paman pergi dulu. Cepat sehat Yang Mulia!"
"Aku akan mengantar Kakak sampai gerbang.", sahut Marrie
Pria berkumis tipis itu bangkit dari duduk. Dia mulai berjalan keluar dari dalam kamar ponakannya ditemani Marrie.
* * * * * * * *
"Marrie, Yang Mulia Kaisar bilang, beliau akan datang menjenguk Mikhailla saat malam hari nanti. Beliau akan datang seorang diri."
Pria yang ternyata merupakan saudara tiri yang berbeda ibu dengan Marrie itu memulai obrolan sambil berjalan.
Namanya Diego. Dia merupakan Komandan pemimpin pasukan perang ksatria kekaisaran. Dia adalah orang yang berjasa besar dalam membentuk strategi peperangan.
"Baiklah..", jawab Marrie singkat.
Diego mengetahui kekhawatiran dan kesedihan adiknya itu. Dia meraih pundak Marrie lalu memeluknya.
Seketika tangisan Marrie membuncah. Ketakutannya akan kehinlangan putri yang amat dicintainya membuat dia tidak bisa mengendalikan tangis yang dia tahan sejak tadi didepan kakaknya.
"Kakak, aku sangat takut kehilangan putriku. Aku benar-benar tidak akan sanggup."
__ADS_1
"Marrie, bersabarlah sedikit lagi. Kamu harus kuat sampai usia Mikhailla 18 tahun. Saat segel kekuatan sihir dalam dirinya terbuka, aku yakin kamu pasti bisa."
"Tapi Mikhailla hampir saja mati kemarin. Rasanya aku ingin menyerah saja. Aku ingin pergi meninggalkan kekaisaran dan hidup di tempat lain bersama putriku. Aku tidak sanggup hidup selalu dihinggapi perasaan tidak tenang seperti ini."
"Tidak, Marrie. Kamu tidak boleh lemah. Ada aku. Ada Yang Mulia Kaisar dan ada Marquess William Allan bersamamu. Kamu harus kuat demi Putrimu. Aku yakin, Yang Mulia tidak akan tinggal diam dengan kejadian ini. Dia akan lebih waspada lagi."
Marrie mengangguk merasa lega sudah menumpahkan perasaanya pada kakaknya. Meski hanya saudara tiri, tapi Diego sangat menyayangi Marrie.
"Mikhailla akan menjadi Ratu di kemudian hari. Dan itu sudah di ramalkan dalam sejarah. Ramalan itu tidak akan ada yang bisa merubahnya sekalipun itu Ratu Anastasha dan permaisuripun."
"Apakah Mikhailla sanggup menjadi Ratu suatu saat nanti? dia sangat lemah, Kak"
"Marrie, dia bukan gadis yang lemah. Dia hanya bersikap kamuflase sebagai seorang putri yang keberadaannya masih disembunyikan. Dia gadis yang kuat. Dia adalah calon Ratu kekaisaran Hiton. Dan lagi, disampingnya selalu ada ksatria terkuat d benua. Arion Allan. Mikhailla akan aman."
Arion Allan yang dimaksud adalah Leon.
Kata Diego tak menyerah memberi dorongan kekuatan untuk adiknya.
"Kakaak."
"Sudahlah, jangan khawatir! Aku pergi dulu."
Diego melepaskan pelukkannya dari Marrie. Keduanya kembali melanjudkan langkah mereka sampai gerbang istana pengasingan.
* * * * * * * * *
Didalam kamar, Andin cuma duduk di tempat tidur sambil mengamati pemuda gagah bermata merah itu dengan tatapan sulit diartikan. Dia melihat pemuda itu dengan waspada.
"Hei, Leon! duduklah disini! Ada yang ingin ki bicarakan dengan mu.", memerintah tegas.
Andin tidak mengerti. Tetapi tatapan Leon mengingatkan dia pada sahabatnya, Eka.
Leon lalu berlari menghambur kearah Mikhailla. Dia menubruk tubuh mungil gadis itu dan memeluknya erat.
Apa yang dia lakukan membuat Andin kaget dan terjungkal kebelakang. Dia tak menyangka Leon akan bersikap kekanakan seperti Eka.
Leon menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Mikhailla. " Huuuwaaa! Padahal aku berfikir kamu sudah mati. Aku sudah kuatir akan dipenggal kepalaku oleh Kaisar karena tidak bisa melindungimu.", Leon menangis seperti anak kecil.
"Padahal tadi kamu kelihatan kerren. tapi ternyata kamu lembek, Leon!", ketus Andin
"Aku minta maaf Mikhaaa! Hiks!"
"Sudah jangan seperti anak kecil! Minggir sana! Tubuh kamu berat tahu!", gerutu Andin berusaha mendorong Leon yang menindih tubuhnya.
"Gak mau!", Leon merengek. Yang Leon lakukan benar-benar mengingatkan Andin pada Eka.
"Mingiiirr!"
"Nggak mauu!", Leon bersikeras menolak tanpa menyadari kalau berat badannya jauh lebih berat dari Mikhailla.
Ugh!, "Leon., aku gak bisa napas tau! Aku mati beneran nih?"
"Jangaan! Kalau kamu mati, aku tidak akan punya teman lagi. Cuma kamu yang mau berteman denganku.", sahut Leon segera bangun lalu duduk. Dia menatap wajah Tuan Putrinya sejenak.
__ADS_1
Andin merasa tidak nyaman dengan tatapan pemuda tampan didepannya. Entah mengapa jentungnya jadi berdebar kencang. Dia memalingkan wajah dari Leon.
"Jangan menatapku begitu!", ketus Andin dengan mendorong muka Leon menjauhinya.
"Mikhailla, kenapa kamu bisa ada di sungai itu?", tanya Leon mulai serius bicara.
"Hem?", Andin menoleh menatap Leon.
"Kamu tahukan kalau kamu tidak bisa berenang? Atau jangan bilang kamu memang mau bunuh diri?"
"Apa? Apa katamu? Bunuh diri?"
"Ya, mungkin saja kamu sudah bosan hidup."
Bletaak!! Sebuah pukulan keras mendarat dikepala Leon dari jitakan tangan mungil Mikhailla.
"Aaawwh! Kenapa memukulku?"
"Kamu sudah gila ya? Kenapa kamu menanyakan hal bodoh dan menuduhku mau bunuh diri? Memangnya mentalku mental tempe? Aku ini masih punya otak tahu!"
"Lalu kamu kenapa bisa disana? Untung saja saat itu aku sedang lewat sana pulang latihan pedang. Kalau tida....k.", Leon tidak melanjudkan ucapannya. Kedua pipinya tiba-tiba memerah. Jantungnya berdebar tidak menentu. Leon memalingkan mukanya.
"Kalau tidak kenapa? Aku mati begitu?"
Leon tidak menjawab. Beberapa kali bola matanya melirik ke arah Mikhailla.
Andin heran dengan sikap aneh Leon itu.
"Ada apa? Kenapa mukamu merah kayak gitu?"
"Ehem! Um, tidak. Tidak apa-apa." ,jawab Leon berbohong menutupi sesuatu. Wajahnya makin merah.
"Kenapasih? Apa ada yang aneh dengan diriii..."
Andin menatap dirinya sendiri. Mukanya seketika berubah merah saat menyadari belahan dadanya terbuka. Saat itu Andin ternyata mengenakan gaun tidur.
Buuugh! Andin memukul kepala Leon dengan bantalnya..
"Aaddoohh!", Leon mengaduh. Tawanya menggema diseluruh ruangan kamar Mikhailla., "Hahahaha. Maaf... Nggak sengaja."
"Nggak sengaja apa? Haaa! Dasar otak mesuumm!"
Teriak Andin jengkel. Tangannya masih memukuli Leon dengan bantalnya.
Leon lalu berlari keluar dari kamar Mikhailla dengan wajah merah malu. Jantungnua masih tak henti berdebar. Entah sejak kapan debaran itu datang. Tapi Leon baru pertamakali merasakan itu setiap didekat Mikhailla.
"Aku minta maaf!"
Andin berlari turun dari tempat tidur. "Pergi sanaa! Dasar kurang ajar!", sentak Mikhailla sambil menutup pintu kamarnya dengan kasar.
Braaakkh!!
__ADS_1
★ ★ ★ ★ ★ ★