
Diego terus memcari sampai tiba di tepi sungai. Dia melihat seseorang sedang duduk termenung seorang diri diatas sebuah batu besar menghadap kesungai. Dari postur tubuh dan juga seragam ksatria yang dipakainya. Menunjukkan dia adalah Leon.
Diego segera turun dari kudanya lalu berjalan menuju tempat bocah itu duduk menyendiri.
"Leon?"
Suara Diego memanggil anak berambut silver mengkilap itu. Suara Diego membuat bocah itu menoleh menatapnya.
Sheon yang dikira Leon, menatap Diego dengan tatapan kosong tanpa sirat apapun. Tatapan yang hampa dan dingin yang penuh dengan rasa penyesalan berbaur air mata.
Sekilas Diego memperhatikan anak laki-laki yang mematapnya itu. Diego tahu bocah itu bukan Leon tapi Sheon. Terlihat mirip, tapi Diego bisa membedakan antara Leon dan Sheon. Orang lain mungkin tidak tahu, tapi Diego sangat tahu yang mana Leon, yang mana Sheon.
"Paman?", gumam Sheon pelan.
Diego mulai naik ke atas batu yang sama dengan Sheon. Dia duduk di samping kiri Sheon sambil menatap air sungai yang mengalir deras.
Beberapa saat keduanya saling diam. Hanya terdengar gemercik suara air sungai yang menghantam bebatuan yang dilaluinya.
Sheon hanya diam sambil sesekali menyusut ingus dihidungnya. Matanya yang merah jadi semakin merah karena menangis. Dia benar-benar menyesali perbuatannya pada Leon.
Kenapa tadi aku sampai melakukan itu? Aku sangat bodoh! Bagaimana bisa aku melukai Leon? Hanya karena obsesiku yang ingin menjadi ksatria hebat yang di kenal banyak orang, aku sampai tega melukai Leon. Apa Leon baik-baik saja sekarang? Maafkan aku, Leon. fikir Sheon menyesal.
"Kenapa kamu dan Leon bisa bertengkar? Apa karena kamu bilang padanya kalau kamu akan pergi ke Lugas?"
"Ya. Dia melarangku pergi kesana."
"Sebenarnya aku juga tidak setuju kamu pergi kesana. Tapi kalau ini sudah menjadi tekadmu, aku juga tidak bisa berkata apa-apa. Aku berharap Yang Mulia Kaisar dapat menepati janjinya kelak."
"Yang Mulia sudah berjanji. Mana mungkin Beliau mengingkari janjinya?"
"Yaah, semoga saja begitu."
"Paman."
"Kenapa?"
"Aku ingin bertemu Leon dan meminta maaf. Dimana dia sekarang?"
Diego menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Aku akan.menemuinya sekarang.", sergah Sheon sambil bangkit dari duduk.
Diego menghentikan langkah Sheon dengan memegang tangan kanannya, menghalanginya untuk pergi.
"Jangan temui dia!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Disana pasti ada Ayahmu. Kamu tahu, Nak? Ayahmu sangat membenci orang yang tega melukai saudaranya sendiri dengan alasan apapun. Dia pasti akan langsung membunuhmu saat melihatmu disana.
Sheon terdiam menatap Diego tanpa ekspresi.
"Lebih baik kamu tinggal bersama Paman saja dulu dirumah Paman untuk sementara waktu sampai keadaan sudah membaik dan Ayahmu sudah tidak marah lagi."
"Baiklah, Paman Diego."
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
Dirumah sakit kekaisaran Hiton, Leon sedang berbaring lemah dengan telanjang dada. Perutnya yang tadi berlumuran darah, sudah di perban dan diobati oleh Dokter.
Leon masih tidak sadarkan diri karena pengaruh obat biusnya belum hilang. Disamping Leon ada ibunya yang sedang duduk menunggu dan menjaga putranya. Matanya terlihat merah dan berair. Dia menangis sepanjang waktu menunggu Leon.
Dia ciumi punggung tangan kanan putranya dengan penuh rasa sayang. Putranya yang masih kecil dan butuh perlindungan darinya, terluka karena ulah saudara kembarnya sendiri.
"Dia sudah bangun?", tanya Marquess pada Istrinya.
Ibu Leon menoleh menatap suaminya dengan ekspresi sedihnya.
"Belum. Bagaimana? Apa kata Dokter?"
"Lalu, Sheon? Apa dia sudah datang?"
"Jangan sebut nama anak itu! Aku muak mendengarnya!"
"Dia juga putramu. Kamu jangan lupa itu. Dia juga saudara Leon."
"Mana ada saudara yang berniat membunuh saudaranya sendiri? Apa dia mau mengulang sejarah Ayahnya yang hampir mati dibunuh kakaknya sendiri?"
Ibu Leon hanya diam tak menjawab. Mukanya tertunduk.
"Aku lupa. Sejarahnya memang sudah terulang hari ini."
"Tolong jangan membenci putramu yang lain! Biar bagaimanapun Sheon juga putra kita."
"Ya. Aku tahu."
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
Setelah peristiwa penusukkan yang dilakukan Sheon pada Leon itu, banyak berbagai rumor beredar.
Setelah kejadian itu, Sheon tidak pernah lagi datang ke istana kekaisaran untuk berlatih bersama yang lain. Sheon menghilang seperti tanpa jejak. Orang lain mengira Sheon telah mati karena di bunuh oleh Leon. Rumor itu beredar sangat cepat keseluruh penjuru Kekaisaran.
__ADS_1
Padahal sebenarnya Sheon sudah pergi ke daerah Lugas untuk ikut berperang merebutkan wilayah itu bersama dengan Diego.
Akan tetapi belum genap sebulan Sheon berada di tempat perang, Diego mengabarkan pada Marquess William bahwa Sheon telah gugur dalam perang.
Jasad Sheon di temukan sudah hancur oleh ledakan bom dari kerajaan Ikhlindis.
Marquess mendatangi kaisar untuk menagih janji yang pernah dia ucapkan pada Sheon sebelumnya. Kaisar menjanjikan akan membuatkan makam dan upacara penghormatan untuk mengenang jasa Sheon. Akan tetapi Kaisar menolak pernah mengatakan itu. Dia melupakan janjinya sendiri.
"Bukankah Anda menjanjika itu pada putra Saya Yang Mulia?", tanya Marquess saat berada di ruangan kerja Kaisar.
"Apa kamu punya bukti bahwa aku pernah mengatakan itu pada Putramu?"
Deegh! Jantung Marquess William.seolah berhenti berdenyut sesaat.
"Yang Mulia. Anak saya yang mengatakan itu pada saudara kembarnya sebelum pergi ke Lugas. Mana mungkin putra saya berbohong?"
"Jadi memurutmu aku yang berbohong?"
Marquess tak bisa berkata-kata. Dalam hatinya bergejolak hebat. Seluruh jiwanya terasa terbakar mendengar jawaban kaisar.
Tetapi Marquess tidak bisa mengatakan apapun. Dia tidak memiliki bukti yang membenarkan ucapannya. Hanya omongan Leon dan Diego, mana bisa di terima oleh Kaisar.
Akhirnya Marquess kembali ke pemakaman putranya dengan membawa tangis dan kekecewaan pada Kaisar Dimithri.
Putraku bukan pembohong! Untuk apa dia pergi ke daerah terkutuk itu kalau tidak diiming-imingi status dan posisi bagus? Walaupun usianya baru 7 tahun, tapi dia itu bukan pembohong! Aku selalu mengajarinya untuk jujur. Kaisar, kaulah yang berbohong. Kamu mengingkari janjimu sendiri. fikir Marquess kesal dan penuh dendam.
Tak lama setelah Sheon dimakamkan, istri marquess-pun meninggal dunia karena mengalami shock dan guncangan ditinggalkan putra keduanya, Sheon.
Marquess Allan benar-benar hancur. Hanya Leon yang dimilikinya sekarang. Putra yang harus dilindunginya.
Itulah peristiwa yang menyebabkan perseteruan antara Marquess Allan dan juga Kaisar Dimithri. Diam-diam Marquess menyimpan rasa dendamnya pada Kaisar Dimithri.
Kematian Sheon juga menjadikan pelajaran yang mendalam bagi Leon. Leon selalu menyimpan perasaan dendam pada kaisar karena telah menipu Sheon.
Dalam 10 tahun terakhir, Leon tidak pernah mempercayai kaisar. Dia melayani dan menjaga Mikhailla karena dia sangat menghormati Marrie dan Mikhailla. Selamanya rasa benci Leon pada Kaisar tidak akan pernah berubah.
Leon bertekad menjatuhkan dan meruntuhkan kekaisaran Hiton yang dipimpin oleh Dimithri. Dia ingin Dimithri hancur sampai kebawah.
"Sheon, aku akan membalaskan dendammu pada Kaisar Dimithri. Aku berjanji."
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
MAAF KALAU MASIH JELEK, KURANG BAGUS. AUTHOR MASIH BELAJAR!!!
__ADS_1