
Setelah tangisnya mereda, Andin bergegas mandi, ganti baju dengan seragam sekolahnya. Lalu tanpa sarapan terlebih dulu Andin langsung berangkat ke sekolah.
"Aku ke sekolah dulu, Ma.", ucap Andin berpamitan pada Mamanya yang ada di kamarnya. Andin tidak masuk ke kamar Mamanya karena takut dipukul lagi.
"Ya, pergi sana! Kalau perlu jangan kembali lagi!", sahut Anita sewot. Sedikitpun Anita tidak menoleh ke arah Andin. Dia sudah sibuk dengan ponselnya sambil tiduran diatas kasur.
Dengan muka masam dan mata yang masih sembab, Andin berangkat kesekolah.
Saat sampai di pertigaan jalan, dua orang sahabatnya sudah menunggunya di bawah tiang lampu jalan.
Andin menatap dua sahabatnya yang sedang mengobrol itu. Wajah mereka tampak ceria seperti biasa.
Sebisa mungkin Andin tidak menunjukkan wajah kacaunya pada Rima dan Eka. Dia berjalan kearah temannya itu dengan senyum yang berkembang disetiap langkahnya.
"Kalian nunggu lama ya?", tanya Andin saat tiba di dekat dua temannya.
"Iya nih, kamu kok tumben lama benget? Biasanya kan kamu yang nunggu duluan?", jawab Eka santai
Andin memalingkan wajahnya dari teman-temannya. Lalu menjawab berbohong, "Tadi aku bangun kesiangan. maaf ya." hehe.
Andin tersenyum amat manis. Senyumnya terlihat sangat natural walaupun matanya sembab.
"Ya sudah, ayo berangkat! Hari ini kan kelas kita ada pertandingan basked melawan kelas 12 IPA 1. Aku mau latihan dulu biar otot-ototku ga kaku.", lanjud Eka.
Eka berjalan duluan dengan muka yang di tekuk. Dia terlihat kesal dan marah. Tidak seperti kemarin yang ramah.
Andin bingung dengan sikap Eka barusan. Dia merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Padahal Eka tidak pernah marah pada Andin sebelum-sebelumnya.
"Rim, Eka kenapa?", tanya Andin berbisik pada Rima sambil menatap punggung Eka yang sedang berjalan beberapa langkah didepan mereka.
Rima menjawab dengan berbisik pula, "Nggak tahu. Tadi dia nggak begitu sebelum kamu datang."
"Kenapa ya? Apa aku punya salah?"
"Kemarin terakhir ketemu kan baik-baik saja. Aku juga tidak tahu kenapa. Mungkin dia ngambek karena kamu nggak mau ikut ke Sidney.", Rima menebak-nebak.
"Massa sih? kayaknya nggak mungkin deh. Apa gara-gara aku telat tadi ya?"
"Uumm, mungkin."
Mereka terus berjalan sambil mengobrol sampai tiba di depan pintu gerbang sekolahan.
Didepan sudah ada beberapa teman-teman mereka yang lainnya.
"Hei, kalian kok telatsih?", tegur salah seorang teman laki-laki yang satu kelas dengan Andin dan Rima. Namanya Bastian. Dia punya kulit putih dengan wajah yang tampan seperti Bule. Dia menyukai teman Andin, Rima.
"Nungguin Andin kelamaan tadi!", sahut Eka dengan ketus.
Mendengar suara Eka yang dingin membuat Andin menjadi sedih.
"Eka kenapasih, lebay banget!", gerutu Rima tak nyaman dengan sikap Eka tersebut.
Eka seperti menghindari Andin dan mengucilkan Andin. Rima tidak senang dengan sikap Eka itu.
Dia lalu berjalan kearah Eka dan menariknya menjauh dari teman-temannya yang lain.
"Ka, kamu kenapasih? Kok ketus banget pada Andin?", tanya Rima berbisik.
Dengan santai Eka menjawab, "Aku mau mengerjai Andin. Besok kan dia ulang tahun yang ke 19.", begitu jelasnya
Astagaa! "Aku lupa kalau besok Andin ulang tahun!", Rima berteriak dengan kata astaga yang di tekankan.
__ADS_1
Beberapa teman mereka menoleh kearah mereka mendengar teriakkan Rima. Termasuk Andin.
Andin yang mendengar teriakkan Rima langsung faham dengan sikap Eka barusan. Andin langsung tertawa ngakak. Rahasia Eka terbongkar sudah.
mmm, "Buahahaha! Aduduuh, hahahaha! hihihihahaha! Hadu-haduh, perutku sakit!", tawa Andin menggema seketika. Andin tertawa sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa.
"Tuh, kan ketahuan?", ketus Eka sambil menoyor kepala Rima
"Aduh, maaf. Aku nggak tahu." ,uuh, sakit tau!
Rima mengaduh sakit sedang Andin masih terlawa lepas seperti orang gila. Untuk sejenak dia lupa akan kesedihannya tadi pagi. Berkat tingkah polos Rima.
Teman-teman lain yang melihat tingkah Andin, Rima dan Eka saling menatap satu sama lain karena tidak mengerti. Dari sorot mata mereka penuh dengan tanda tanya.
"Kalian kenapa sih?", tanya Bastian penasaran.
Rima menjawab, " Besok Andin ulangtahun yang ke-19. Eka mau mengerjai Andin dengan pura-pura ngambek."
Eka menyambar ketus,"Iya. Gara-gara kamu rencanaku gagal. Dasar pengrusak!", sembari.mengacak-acak rambut Rima dengan cakar jari tangan kanannya.
"Aduh, aku kan sudah minta maaf.?"
"Huuhh!", dengus Eka kesal.
Sementara Andin yang balum selesai ketawa juga jadi sasaran amukan Eka.
Eka juga mengacak-acak rambut Andin sampai berantakan seperti sarang burung jalak.
"Ahahahaaha, Aduh, perutku sakit!", teriak Andin tak mempermasalahkan tindakan Eka. Sebaliknya, Andin malah tertawa sampai perutnya makin sakit. Andin senang melihat raut muka Eka yang sangat lucu saat kesal. Tingkahnya juga seperti anak kecil yang kuenya direbut orang lain.
Tetapi tidak tahu kenapa tiba-tiba Eka menangis. Dia menangis tersedu lalu memeluk tubuh Andin dengan erat. Eka merasa sangat bahagia punya teman yang selalu ceria dan pandai bergaul dengan orang lain. Walaupun Andin bukan murid pandai.
"Hei, apa yang kamu lakukan? Geli tau!", gerutu Andin bingung sekaligus malu karena dilihat teman-tamannya yang lain.
"Ulang tahunku kan masih besok? Ya besok aja ngucapin nya! Sekalian ngasih kado.", hehe. Andin tersenyum nyengir
"Huuuuuuu!!!"
Teman-teman Andin serentak menyoraki Andin. Mereka bergantian mengucapkan selamat ulang tahun untuk Andin biarpun hari ulang tahun Andin masih besok. Mereka semua tertawa riang penuh dengan keakraban.
* * * * * * * *
Dilapangan basked, Eka dan timnya sedang melangsungkan pertandingan melawan kelas 12 IPA 1. Lapangan basked sangat ramai di penuhi dengan sorak sorai para pendukung kelas masing-masing.
Andin duduk di bangku penonton bersama dengam Rima dan yang lain yang tidak bisa bermain basked.
"Eka, ayo kaaa!" Teriak Andin menyemangati Eka sambil tepuk tangan saat Eka berhasil menggiring bola ke depan ring lawan.
"Ayo, Kaaaa! Semangaaaattt!!!", Teriak Rima tak kalah hebohnya.
Pertandingan itu berlangsung selama 45 menit dan tim Eka mengalami kekalahan. Raut wajah kecewa dan lelah terpancar dari sinar muka Eka.
"Yaaah, maaf ya teman-teman. Kita kalah.", kata Eka setelah pertandingan usi dengan napas ngos-ngosan.
"Nggak pa-pa lagi. Menang kalah itu kan biasa.", jawab Rima tersenyum memberi semangat untuk Eka.
Eka mengangguk kemudian berkata
"Kalau begitu ayo, kita kekantin!"
"Teraktir donk, Rim. Besoki kan ulang tahun Andin!", Eka nyeletuk seraya mengelap keingat di tubuhnya dengan handuk kecil berwarna putih. Mereka bertiga berjalan menuju kantin
__ADS_1
Rima tersentak kaget
"Kok aku? Yang ultah kan Andin?!"
Andin menyahut, "Yang punya uang kan kamu?!", hehe. Andin mringis memperlihatkan giginya dengan tanpa dosa.
"Dih, dasar!"
"Itu kami anggap sebagai jawaban iya.", serobot Eka girang. "Ayo kita berangkat!", Nanti aku mau pesan bakso 2 mangkok. Es teh, es jeruk, es krim. Umm, terus apalagi ya?"
"Yaah, pesen semuanya saja! sekalian Ibu kantinnya kamu angkut juga sana!", gusar Rima meledek Eka membuat mereka ketawa.
* * * * * * * * *
Mereka mengobrol dikantin dengan meja yang penuh dengan makanan dan minuman yang di pesan Eka dan Andin. Rima cuma geleng-geleng kepala sambil mengintip isi dompetnya.
"Oya, aku mau cerita soal mimpiku tadi malam kepada kalian.", kata Andin mengawali obrolan setelah tadi beberapa saat mereka diam dan hanya terdengar bunyi sendok yang bergesekan dengan piring.
"Mimpi? Mimpi apa?", Eka penasaran.
"Massa ya, tadi malam aku mimpi ada di kerajaan-kerajaan gitu. Tapi anehnya aku iitu seperti nggak terlihat sama orang-orang disana..Aku coba tanya mereka, tapi mereka nggak melihatku sama sekali. Bahkan noleh juga enggak. Aneh kan?"
"Massa sih? Biasanya kan kalau mimpi itu kita bisa loh berkomunikasi sama orang lain!", sahut Rima penasaran.
"Kaan? Aku juga berfikir begitu. Tapi bener loh, mereka itu seperti nggak melihat aku."
?????
Dua orang teman Andin diam sambil menatap Andin sejurus.
"Mereka juga nggak mendengar suaraku. Padahal aku sudah teriak kenceng banget.", Andin melanjudkan ceritanya
"Terus?", serobot Eka makin penasaran.
Andin menjawab, "Kalian tahu, kerajaannya gede banget! eh, bukan kerajaan. Tapi kekaisaran. Ya ampuuun, istanaya itu berkilau seperti dilapisi emas.!", Andin bercerita dengan begitu antusias. Dari awal mimpinya sampai akhir.
"Aku juga pengin!"
Andin menggeleng, "Mending nggak usah deh mimpi yang begitu! Serem tau. Rasanya kayak nyata. Ini aja kepalaku masih nyut-nyutan."
"Apa iya?", tanya Eka tak percaya.
"Itu sebabnya tadi kamu telat?", Rima menimpa ucapan Eka.
Andin mengangguk berbohong.
Mereka lanjud mengobrol sampai pulang. Andin menceritakan mimpinya semalam dengan berbagai macam perasaan. Kagum, bingung, takut, sedih, senang dan sakit bercampur.
Mereka pun berpisah lagi.
Andin sendirian lagi berjalan menuju rumahnya. Saat tiba dirumah, dia melihat sepeda motor Papanya didepan rumah.
"Papa dirumah?"
Andin hendak berjalan masuk kedalam rumah. tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara dua orang yang sedang bertengkar dengan diselingi bunyi hantaman benda yang sengaja dilempar.
Andin tidak berani masuk dan memilih untuk duduk di samping pintu depan sambil menguping obrolan dua orang didalam rumahnya.
"Banting semuanya! Ayo lempar?! Kamu itu bisanya cuma marah-marah dan menuduh orang sembarangan!!", suara seorang pria berteriak membentak
"Mereka bertengkar lagi."
__ADS_1
* * * * * * * *