Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 22


__ADS_3


Leon terbanting diatas rumput dengan begitu kasar. Sambil memegangi dagunya yang sakit, Leon bangkit dan mengeluarkan pedangnya.


Mata keduanya yang sejurus saling menatap bengis. Mata yang dipenuhi keinginan membunuh yang sangat kuat diantara mereka berdua.


"Aku akan membunuhmu sebelum kamu tiba di tempat terkutuk itu, Sheon!", geram Leon dengan napas memburu.


"Coba saja kalau bisa! Justru kamulah yang akan mati di tanganku, Leon!", sahut Sheon sama seriusnya.


Anak ini benar-benar sudah tidak waras. Bagaimana cara berfikirnya bisa berubah hanya dalam dua tahun? Padahal dulu dia yang melarang ku untuk ikut Ayah pergi kesana. Tapi anak ini...Fikir Leon dalam hati. Belum sempat menghabiskan ucapannya, Leon sudah diserang oleh Sheon dengan pedangnya.


Leon yang waspada langsung menghindari setiap serangan Sheon. Ucapannya yang tadi ingin membunuh Sheon sebetulnya cuma omong kosong saja. Dia tidak menyangka Sheon akan menyerangnya seperti ini.


Sheon benar-benar mengerahkan tenaga dan kekuatannya untuk dapat melukai Leon. Tetapi sediktpun, Leon tak membalas serangan Sheon.


"Kenapa dia menghindari serangan ku terus? Bukankah dia ingin membunuhku? Atau ini cara Leon untuk mengalahkan ku?" fikir Sheon kwalahan mengatasi Leon yang dari tadi selalu menghindari serangannya.


Leon tidak menyerah. Dia tetap menghindari serangan dari saudara kembarnya. Walaupun dia sendiri sudah kehabisan stamina untuk menghindar dan ingin segera mengakhiri perkelahian itu. Tetapi sepertinya Sheon belum menyerah.


Sheon tetap menyerang Leon walau dia sudah tau pasti kalau serangannya akan dihindari oleh Leon.


Beberapa ksatria muda yang ada disana melihat mereka bertarung. Mereka hanya menatap tanpa berani melerai. Disisi lain, mereka juga tidak tahu, yang mana Leon yang mana Sheon. Kedua anak kembar itu memakai kemeja dan celana dengan warna yang sama.


"Hei, cepat pisahkan mereka!", tegur seorang anak muda berambut merah pada beberapa temannya yang ada disana.


"Ogah, ah! Kalau kami pergi kesana, kami yang akan mati."


"Dasar! Mana omongan kalian yang sebelum-sebelumnya mengatakan bahwa kalian lebih hebat dari si kembar Sheon? Kalian cuma besar mulut doang!"


"Hei, Modi! Memangnya kamu berani? Kalau berani, kamu sendiri saja sana yang melerai mereka!"


Bocah berambut merah itu tersenyum.masam lalu berkata dengan sinis, "Aku memang akan pergi kesana."


Beberapa temannya yang tadi tak percaya sampai melongo, "Kamu akan melerai mereka? Memangnya kamu berani? Kamu akan kesana?"


"Aku akan kesana. Mengadu pada Tuan Diego!", jawab si rambut merah sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Teman-temannya hanya terdiam tertohok jawaban si rambut merah.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Duuuaaakh!


Leon sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia langsung menghantam perut Sheon dengan tendangan kaki kanannya. Tendangan itu sangat keras sampai Sheon tidak bisa menahan keseimbangan dirinya.


Sheon yang sudah kehabisan tenaga itu seketika terhuyung ke tanah dengan napas ngos-ngosan dan mulut penuh darah. Dia mengakui kekuatan dan ketrampilan bela diri dan berpedang Leon jauh lebih unggul dari Sheon.


Leon yang sudah kehabisan kesabaran langsung menghunuskan pedangnya ke arah leher Sheon, tetapi ada yang menghalanginya.


"Leoon! Tungguuu!", teriak suara itu dari kejauhan.


Leon langsung menoleh kearah suara itu. Disana dia melihat Ayah mereka.sedang berlari dengan wajah marah kearah mereka. Pedang di tangan Leon seketika terlepas dari tangan Leon dan jatuh menghantam rerumputan. Leon menatap kedatangan Ayahnya itu dengan penuh rasa penyesalan.


Akan.tetapi Sheon yang sudah dibutakan oleh nafsu membunuhnya, dia langsung menghunuskan pedang yang tadi di pegang Leon tepat ke perut Leon.


Leon yang lengah, kembali menatap Sheon sebelum akhirnya limbung dan jatuh tepat dihadapan Sheon.


Darah mengalir begitu deras dari luka tusukkan itu. Baru kali ini Leon terluka oleh pedang Sheon.


Leon sudah tidak bergerak. Tubuhnya melemah. dengan mata separo terpejam.


Marquess yang melihat itu seketika mempercepat larinya sampai dia tiba didekat kedua putranya.


"Apa yang kamu lakukan pada Kakakmu?", tanya Marquess pada Sheon. Matanya terbuka lebar dan tajam.


Sheon tidak berani menjawab. Perlahan-lahan dia merangkak mundur dan menjauhi Ayahnya.


"Apa yang kamu lakukan padanyaaa??!! Jawab Ayaaahh??!!", teriak Marquess mengulang kalimat tanya yang sama.


Sheon tidak menjawab. Dia bergerak bangun lalu berlari pergi meninggalkan Ayahnya bersama saudara kembarnya yang terluka parah.


Marquess hanya menatapi kepergian putranya dengan tatapan marah dan murka. Beberapa kali Marquess menghembuskan napas dengan kasar. Air mata meluncur perlahan dari sudut-sudut bola mata Marquess.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★

__ADS_1


Marquess bangun sambil menggendong tubuh putranya yang perutnya terkoyak dan berlumuran darah. Tidak ada yang membantunya. Seorang diri Marquess William membawa putra pertamanya yang sudah tak bergerak pergi ke dokter istana kekaisaran Hiton. Marquess meninggalkan tempat latihan para ksatria dengan membawa tangis dan rasa marah pada Sheon.


Setelah Marquess William pergi, para ksatria dengan leluasa bergunjing dan membicarakan peristiwa tragis itu.


"Kau lihat tadi? Yang memulai pertengkaran adalah Leon.", bisik seorang ksatria muda yang satu kamar dengan Sheon.


"Iya. aku juga lihat tadi.", sahut yang lainnya menambahi.


"Terus siapa yang terluka tadi? Sheon atau Leon?", tanya orang yang baru datang. Diego.


Para ksatria muda tadi saling menatap satu sama lain bergantian. Diantara mereka ada yang garuk-garuk tengkuk kepala. Mereka bingung dan ketakutan melihat tampang sangar Diego.


"Siapa yang terluka? Jawab atau ku patahkan tangan kalian!", sentak Diego tak sabar.


Spontan para ksatria itu menjawab, "Sheon, ketua."


"Sheon?", desis Diego nyaris tak percaya. "Lalu pergi kemana, Leon?"


"Ekh, dia pergi kearah gerbang menuju hutan, Ketua.", jawab mereka ketakutan.


Diego langsung pergi setelah mendapat jawaban dari empat ksatria muda yang ada dihadapannya tadi.


Apa benar Leon tega melukai saudara kembarnya sendiri? Kenapa dia sampai melakukan itu? Kemana jalan fikiran anak itu? Kalau ketemu akan ku hajar anak itu!, fikir Diego sambil berjalan menuju tempat yang dikatakan beberapa anak muda tadi


Diego pergi dari istana menuju hutan untuk mencari keberadaan Leon. Dia sangat marah pada Leon karena telah melukai saudaranya sendiri.


Diego terua mencari dengan menunggangi kudanya sampai ketwngah hutan Limbon. (Hutan terluas dan paling berbahaya di kekaisaran Hiton).


Selain marah pada Leon, Diego juga mengkhawatirkan Leon. Mengingat Leon pergi sendirian kehutan. Leon pasti juga sangay shock dengan apa yang dia lakukan pada Sheon.


Diego terus memcari sampai tiba di tepi sungai. Dia melihat seseorang sedang duduk termenung seorang diri diatas sebuah batu besar menghadap kesungai. Dari postur tubuh dan juga seragam ksatria yang dipakainya. Menunjukkan dia adalah Leon.


Diego segera turun dari kudanya lalu berjalan menuju tempat bocah itu duduk menyendiri.


"Leon?"


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★

__ADS_1



__ADS_2