Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 8


__ADS_3

Saat dipemakaman Andin, Eka dan Rima masih tidak henti-hentinya menangis. Keduanya saling nemeluk disamping kuburan Andin yang bertaburan bunga


Perasaan tak sanggup dan tak pecaya masih menghinggapi jiwa mereka.


Huhuhu, "Andiiinnn. Hiiikks! Se...semoga kamu bahagia disana. Huhuhuk! Semoga disana kamu bisa tertawa. Aku dan Eka akan selalu mengingat dan memdoakan kamu.", kata Rima berusaha berbesar hati menerima kepergian sahabatnya


Hhuhuhuhu, "Selamat jalan, Andin! Kami sangat menyayangi kamu"


* * * * * * * * *


Perlahan penglihatan Andin mengabur. Semuanya jadi buram dan samar-samar cahaya pun mulai lenyap.


Semakin lama semakin gelap. Gelap dan tenang. Rasa sakit yang tadi menyiksa sudah tidak terasa lagi. Sekarang Andin tidak bisa merasakan apapun. Hatinya merasa sangat damai. Tubuhnya terasa sangat ringan.


Di tengah ketenangan hatinya terbersit perasaan penyesalan yang dalam. Penyesalan yang tidak seharusnya dia rasakan.


"Papa. Padahal selama ini aku berfikir bahwa Papa akan menyayangiku suatu saat nanti. Tetapi semua itu hanyalah tinggal harapan yang tidak akan pernah terwujud. Papa memang tidak akan pernah bisa menyayangiku. Selamanya aku akan mengingat ini. Papa adalah orang yang paling ku benci. Dan aku berharap saat kita bertemu lagi nanti, aku akan membalas rasa sakit ini dengan yang lebih parah. Aku bersumpah!", ucap Andin dalam hati.


"Mikhailla!", samar-samar Andin mendengar suara. Suara yang begitu jauh. Suara yang terdengar lembut dan hangat. Suara yang tidak asing di telinga Andin


"Mikhailla!"


Suara itu terdengar semakin dekat dan dekat.


"Suara ini...?", dalam hati Anddin bertanya.


"Mikhailla! Mikhailla! Ini Ibu, Sayang!", hiks.


Suara itu terdengar begitu memilukan.


Perlaha-lahan, Andin membuka kelopak matanya ketika merasa ada tangan yang menggenggam jemari tangannya dan mengelus kepalanya. Pertama membuka mata , Andin melihat ada seraut wajah cantik seorang perempuan yang tidak asing baginya.


"Mikhailla, kamu sudah sadar, Sayang?", tanya perempuan itu dengan wajah cemas dan takutnya.


Andin mengedipkan matanya dua kali. Dia terlihat bingung melihat Marrie yang menatapnya sambil berlinangan airmata.


Andin mengalihkan pandangannya, mengamati sekelilingnya dengan perasaan campur aduk.


"Kamar ini?", gumam Andin bingung.


"Kenapa, Sayang? Apa ada yang sakit?"


Andin kembali menatap Marrie. Rasa tak percaya menghinggapinya. Andin diam termenung. Wajahnya sangat pucat.


"Mikhailla? Jangan diam! Ayo, jawab Ibu! Apa ada yang sakit?", Marrie bertanya pertanyaan yang sama dengan rasa cemas. Andin tidak mampu berkata apapun. Air bening mengalir pecah memenuhi kedua pipi Andin. Melihat Marrie yang begitu mengkhawatirkan dia.


"Mikhailla! Jangan menangis, Sayang!",


Marrie lalu memeluk Andin dengan penuh rasa syukur. Pelukkannya terasa hangat. Andin sangat merindukan pelukan ini.


Andin masih terkejud tak percaya. Dia masih hidup.


Hiks!, "Aku masih hidup?", tanya Andin nyaris tak bersuara.


"Iya, Sayang. Kamu masih hidup. Putri Ibu tidak boleh pergi meninggalkan Ibu! Ibu tidak bisa hidup tanpa kamu, Naak!"


Marrie masih menangis. Telapak tangannya menepuk-nepuk punggung Andin pelan.


"I...Ibuuu?", apa boleh, aku memanggilnya Ibu?


"Iya, Sayang. Ini Ibu."


"Ibuuuu! Huhuhu! Ibuuu! Aku takuuut! Aku tidak mau mati, Ibu!", Hhppp


Tiba-tiba Andin merasakan sesak didadanya. Pernapasannya seolah tersendat sesuatu.Bayangan-bayangan mengerikan saat di tebing itu terlintas didalam ingatan Andin. Sakit dikepala itu juga datang lagi.


"Aaargghhh! Saakiiittt!! Kepalaku sakiiitt!", Andin berteriak sambil memegangi kepalanya. Tubuhnya meonta-ronta dalam pelukkan Marrie.

__ADS_1


"Mikhailla! Ada apa, Sayang?"


Marrie terlihat khawatir melepaskan pelukkannya. Dia kebingungan tidak tahu harus berbuat apa.


"Sakiiit! Kepalaku sakiiit! Aku tidak bisa bernapas. Ibu tolong aku! Aku akan mati.. hppp! Ibuuu hppp! Ayaaah, tolong akuuu! Hpp!"


Andin terus berteriak dan meronta ronta diatas tempat tidurnya. Kilasan-kilasan ingatan masalalu yang begitu nyata membuatnya merasa sesak dan sakit


"Nuueell, jangan tinggalkan aku..hppp! Nuel, aku tidak bisa berenang. Tolong aku! Toloong! Leon, tolong aku!"


Muncul sesosok bayangan seorang pemuda didalam ingatan Andin yang samar. Pemuda dengan wajah tampan. Rambutnya berwarna putih silver mengkilap. Matanya merah menyala.


"Aku akan mati.. Tolong... aku!"


"Leooon! Leon! Kapan dokternya akan sampai? Mikhailla kenapa ini?", Marrie jadi semakin panik melihat putrinya yang kejang-kejang.


Dari arah pintu, masuklah seorang pemuda dengan rambut silver dan mata merah.


"Ada apa Nyonya?", tanya pemuda berseragam ksatria kekaisaran itu. Dia terkejud melihat Mikhailla kesakitan di tempat tidur.


"Tolong Putriku, Leon?!", Marrie putus asa.


"Mikha! Mikha! Ini aku, Leon!"


Leon memegangi tangan kanan Mikha berusaha menyadarkan Mikha dari belenggu traumanya.


"Tolong aku!", Andin masih berteriak.


"Mikha! Mikhaaa! Sadarlah!"


Andin terua meronta kesakitan. "Aku akan tenggelam."


"Mikhaaa! Sadarlaaahh!", Leon berteriak membentak Mikhailla sembari memegangi kedua tangannya erat.


Sontak Andin terdiam dengan napas ngos-ngosan. Kedua matanya yang tadi terpejam sudah terbuka. Andin menatap dua orang yang juga sedang menatapnya.


Tubuh Andin penuh dengan keringat dingin.


"Leon?", tanpa sadar Andin menyebut nama yang tidak pernah dia dengar. Tetapi nama itu terasa sangat dekat dengan Andin.


"Iya. Aku disini."


"Aku masih hidup!", kata Andin. Suaranya terdengar serak.


"Selama aku masih hidup, tidak akan ada yang bisa menyakitimu. Aku sudah berjanji pada Yang Mulia Kaisar dan Ibumu."


"Tapi kamu tidak ada saat aku mati tenggelam."


"Aku minta maaf."


Andin beralih menatap Marrie sendu.


"I..ibu? Ibu, aku merindukan Ibu."


Andin melepaskan genggaman tangan Leon seraya bangun untuk duduk dan memeluk Marrie erat. Andin menagis terisak dipelukkan Marrie. Dia merasa sangat merindukan Marrie. Rasanya seperti sudah betahun-tahun rindu itu terpendam.


"Sayangku. Putri Ibu."


Tok! Tok! Tok!


* * * * * * * *


Tok! Tok! Tok!


Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar.


"Nona, Dokternya sudah datang bersama seseorang!", kata suara dari luar. Suara Lisa.

__ADS_1


"Suruh segera masuk!", sahut Marrie melepaskan pelukkannya dari Mikhailla.


Krreeeet! Pintu terbuka dari luar. Masuklah Lisa bersama seorang laki-laki berjenggot yang usianya berkisar separuh abad (50 tahun).


"Salam hormat Nyonya! Salam hormat, Yang Mulia Tuan Putri pertama", dokter itu membungkuk memberi salam pada Marrie dan Mikhailla(Andin).


Marrie tersenyum. "Tolong periksa kondisi Putriku, Dokter!"


"Baik, Nyonya."


Leon segera menyingkir dari sisi Mikhailla dan berdiri disamping kiri pintu dengan posisi tegap yang terlihat gagah.


Dokter sudah mulai mengeluarkan peralatan medisnya untuk memeriksa keadaan Mikhailla. Dengan cekatan sang dokter memeriksa kondisi kesehatannya.


"Apa ada yang sakit, Tuan Putri?"


"Kepala saya selalu sakit saat mengingat kejadian saat saya terjatuh dari tebing, Pak Dokter.", jawab Andin dengan bahasa formal.


Dokter itu terkejud saat sang putri berbicara formal padanya. Dia merasa takut, melirik kearah belakang. Tepatnya pada Leon.


Leon cuma diam dengan wajah kaku menatap tajam sang dokter.


Dokter itu jadi merinding. Dia melanjudkan memeriksa Mikhailla dengan tangan gemetaran. Apalagi mengingat siapa yang sedang berdiri diluar sana. Seorang pria yang jauh lebih kejam dan sadis daripada ksatria yang selalu berada disamping Mikhailla, Leon


"Bagaimana, Dokter?", tanya Marrie sudah tidak sabar ingin tahu kondisi putrinya.


"Yang Mulia Tuan Putri mengalami trauma batin yang hebat, Nyonya. Mungkin kecelakaan yang menimpanya membuat jiwanya sangat terguncang. Hal itu menyebabkan kepalanya selalu sakit bila mengingat kecelakaannya. Sebaiknya Yang Mulia Putri jangan dibiarkan sendirian dan mengingat kejadian itu dulu untuk sementara ini. Sampai traumanya sembuh total.", jawab sang dokter dengan sangat berhati-hati.


"Baik, Pak Dokter. Saya tidak akan mengingat kejadian itu."


Andin menjawab berdusta. Hatinya berkata, "Enak aja melupakan? Aku akan membalas perbuatan anak kecil bernama Nuel-Nuel itu. Aku harus membalaskan dendam Mikhailla. Tunggulah pembalasan ku nanti, Nuel! Aku akan membalasnya dengan lebih sadis dengan cara yang cantik dan sempurna. Hemh!"


"Saya akan segera menyiapkan obat untuk penyembuhan Tuan Putri. Dan saya akan mengirimkan obatnya secepat mungkin."


Terimakasih, Dokter." Marrie tersenyum ramah.


"Keponakanku, Mikhailla?"


Suara seseorang pria yang barusaja masuk dengan percaya dirinya. Pria itu mengenakan seragam prajurit ksatria kekaisaran. Separti yang dikenakan Leon.


Andin hanya diam. Dia tidak mengenali pria itu. Didalam mimpinya dulu, Pria ini tidak ada. Apa dia adik Kaisar?


Andin menatap dengan penuh pertanyaan.


"Anda siapa?", tanya Andin ragu-ragu.


"Astaga! Kecelakaan itu menyebabkan ingatan ponakanku yang cantik ini geger otak! Sampai tidak mengingat pamannya yang tampan ini! Dokter ini sepertinya tidak berguna!", dengus pria itu sambil menarik kerah pak dokter tadi sampai kakinya tidak menyentuh lantai.


"Huwaakkh! Maaf. Maafkan saya.", teriak si dokter ketakutan.


"Kakak! Apa yang Kakak lakukan? Cepat turunkan beliau.!", tegur Marrie pada pria itu.


Blugh! Pria itu langsung melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju pak dokter sampai dokter itu menghempas ke lantai.


"Aduuh! Saya mohon maaf Tuan?"


"Mulai besok jangan pakai dokter ini lagi! Aku akan mencarikan dokter yang terbaik di kekaisaran ini!"


"Kakak!"


"Sudah! Pergi sana!"


"Saya permisi, Nyonya"


"Maaf atas perilaku kakak saya, Dokter?", Marrie terlihat tidak enak hati.


Dokter itu mengangguk. Matanya tidak berani menatap pria yang tadi menarik kerahnya. Dia berlalu pergi dengan diantarkan Lisa.

__ADS_1


* * * * * * * *



__ADS_2