
"Kalian sedang bertengkar ya?", tanya Marrie setelah selesai makan.
"Tidak!" jawab Mikhailla dan Leon hampir bersamaan. Kalimat mereka sama, tapi dengan nada yang berbeda.
Hohoho, "Sepertinya memang terjadi sesuatu.", gumam Marrie dalam hati.
Marrie tersenyum. Dia segera menyudahi makan siangnya.
"Ibu, aku sudah selesai makan. Aku ke kamar duluan ya?"
"Iya. Jangan lupa minum obatmu ya."
"Siap, Ibuku."
Mikhailla melangkah meninggalkan ruang makan.
Leon masih terus menatap Mikhailla. Melihat Mikha yang berjalan keluar, cepat-cepat dia membersihkan sisa-sisa makanan yang masih menempel dibibirnya dengan serbetnya. Setelah itu dia juga memohon undur diri pada Marrie.
"Saya juga mohon undur diri, Nyonya. Terimakasih untuk makan siangnya."
"Tunggu sebentar, Leon!", serobot Marrie membuat leon tidak jadi berdiri.
Leon kembali duduk.
"Kalian sedang bertengkar kan?"
Leon sudah bisa mengira kalau Marrie pasti tahu Leon sedang ada masalah kecil dengan Mikhailla. Makanya dia tidak terkejud.
"I…itu, kami hanya sedang ada kesalahfahaman kecil. Tetapi ini tidak akan mempengaruhi tugas saya. Saya akan selalu menjaga Tuan Putri.", jawab Leon tenang.
"Terimakasih, Leon. Leon, kuharap kamu bisa memahami dan memaklumi sikap Mikhailla. Kamu tahukan, usianya baru 15 tahun? Dia masih sangat labil. Kamu harus lebih dewasa menghadapinya."
Leon mengangguk faham, "Saya mengerti, Nyonya.."
"Ya sudah, kamu boleh pergi."
"Nyonya, apa… Apa... Saya boleh minta izin untuk mengajak Tuan Putri sekedar jalan-jalan melihat suasana diluar sebentar?", kata Leon ragu-ragu.
Apa?", sontak Marrie kaget.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya permisi."
"Tapi jangan lama-lama. Dan kamu harus benar-benar menjaga Mikhailla. Jangan ajak dia ke Ibu Kota! Kamu faham?", Marrie berkata dengan suara tegas. Sebenarnya dia khawatir keselamatan putrinya dipertaruhkan disini. Tetapi dia juga tidak ingin meragukan kemampuan Leon dalam menjaga Mikhailla sebagai ksatrianya.
Leon terlihat sangat senang. Jika disitu tidak ada Marrie, dia pasti sudah meloncat kesana-sini seperti seekor kelinci.
"Saya permisi, Nyonya."
"Silakan."
Setelah meminta izin pada Marrie, Leon keluar dari ruang makan. Dia memilih untuk mengasah ketrampilan berpedangnya. Dia berlatih di samping kamarnya tepat di sebelah pohon pinus didekat taman. Leon berlatih hanya dengan mengenakan kemeja putih yang kedua lengannya disingsingkan dan celana panjang berwarna coklat.
Leon berlatih hingga matahari tampak condong ke barat. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Leon tampak lelah dan letih. Dia melepas peluhnya sejenak dengan tidur terlentang diatas rumput yang berwarna kuning keemasan tertimpa cahaya senja.
Kedua matanya terpejam merasakan sejuknya hembusan angin menerpa tubuhnya. Dia beristirahat dengan tangan dua dilipat dibawah kepalanya sebagai bantal.
Ingatan Leon melayang membawanya kembali ke masa pertemuan pertamanya dengan Mikhailla 12 tahun silam. Saat Mikhailla masih kecil dan lucu. Mikhailla yang terlihat manis.
"Leon tersenyum mengingat kepolosan Mikhailla saat itu. "Haha, dia dulu benar-benar imut. Bahkan sampai lamanya waktuku berjalan aku lupa kalau dia sekarang sudah dewasa."
Leon terus memikirkan masa-masa itu sampai dia tertidur pulas diatas rumput.
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
Matahari sudah terbenam. Leon sudah bangun dan mandi. Ketika dia berjalan-jalan di lorong istana, dia melihat Mikhailla.
Mikhailla sedang berdiri didekat jendela. Menatap bulan yang bersinar terang. Dia mengenakan gaun berwarna kuning berbahan ringan. Beberapa kali bibirnya mengembangkan senyum yang amat manis. Wajahnya nampak bersinar dibawah cahaya bulan.
Leon berjalan mendekati Mikhailla.
Mendengar suara lengkah kaki yang datang, Mikhailla seketika menoleh menatap arah suara langkah kaki itu berasal.
Tampak Leon berjalan mendekat.
Mikhailla kembali menatap bulan itu.
"Kamu sedang apa?", tanya Leon dengan suara akrab setelah berdiri di samping kiri Mikhailla.
__ADS_1
"Hem? Sedang menatap bulan.", jawab Mikha singkat.
"Kenapa?"
"Karena aku kagum pada bulan. Meskipun di tengah kegelapan malam, dia tidak pernah sendirian. Ada banyak bintang yang menemaninya.", menjawab dengan suara lembut.
"Kenapa tidak matahari?"
"Karena matahari panas."
Leon tersenyum. Dia lalu duduk menekuk kedua lututnya sambil dua tangannya menarik daun telinganya.
"Aku minta maaf.", kata Leon bersungguh-sungguh. Wajahnya agak tertunduk tapi matanya yang sayu masih dapat memandang Mikhailla.
"Hem?", Mikhailla memoleh menatap Leon. Diamatinya Leon dengan seksama. Mikhailla dapat merasakan kesungguhan dari sikap Leon ini.
"Maaf ya?", kembali Leon memohon maaf pada Mikhailla. Dia benar-benar sudah menyadari kesalahannya.
Mikhailla diam.
"Aku mengaku salah dan akan menerima hukuman apapun dari Tuan Putri."
Leon tampak memelas duduk berlutut seperti seekor anjing yang minta diberi makanan.
Mikhailla tersenyum. Tangan kanannya bergerak menyentuh kepala Leon dan mengusap-usap kepalanya lalu mengacak-acak rambut Leon dengan jarinya.
"Ahahaha!", Mikhailla tertawa begitu lepasnya melihat rambut Leon yang berantakan seperti orang yang baru bangun tidur.
Leon juga senang melihat Mikhailla senang.
"Aku dimaafkan dong?"
"Iya. Sudah, berdirilah!"
Leon menurut dan berdiri. Dia pandang Mikhailla dengan tatapan legas lalu memeluknya erat.
Mikhailla sangat terkejud dengan tingkah laku Leon. Dia ingin menolak pelukkan itu, tetapi tidak sanggup. Pelukkan Leon terasa hangat dan nyaman. Ini kedua kalinya Leon memeluknya dengan tiba-tiba begini.
"Jangan bersikap dingin lagi padaku Tuan Putri! Rasanya sangat menyiksa. Ada yang sakit diaini, di hatiku kalau Tuan Putri marah dan diam padaku."
"Aku serius loh."
"Tapi geli. Orang gagah kayak kamu ngomong begitu bikin merinding geli-geli gitu."
"Padahal aku ingin dibilang romantis."
Mikhailla mulai melepaskan pelukkannya. Begitu juga Leon.
"Leon. Kita sahabatkan?"
Dheg! Jantung Leon seakan terhenti beberapa detik mendengar ucapan Mikhailla.
"Iya.", jawab Leon kecewa, seperti ingin dianggap lebih oleh Mikhailla.
"Apakah kita akan terus bersahabat selamanya?"
"I...iya."
Mikhailla tersenyum. "Terimakasih", kata Mikha sebelum berlari keluar sambil menarik tangan kiri Leon agar ikut bersamanya.
Leon mengikuti kemana Mikhailla menariknya. Akhirnya mereka tiba di taman ditempat tadi pagi mereka bertengkar kecil.
Mikhailla duduk dan akan membaringkan tubuhnya.
Leon menahan Mikhailla dengan tangannya
"Kenapa?"
"Rumputnya kasar punggungmu akan sakit nanti."
"Nggak pa-pa kok."
"Jangan!", sambung Leon melarang Mikha untuk tidur diatas rerumputan..
Mikhailla mendesah kecewa.
"Tunggu disini! Aku mau masuk kedalam dulu mengambil alas."
__ADS_1
"Tapi..."
Leon segera berlari masuk kedalam istana tanpa sempat Mikha bicara. Tak lama dia kembali dengan membawa karpet di tangannya. Leon selalu tersenyum disepanjang langkahnya.
Setelah karpet di bentangkan diatas rumput, baru Leon membiarkan Mikhailla untuk berbaring disana.
"Terimakasih", ucap Mikha bahagia.
Leon juga tersenyum. Dia senang melihat Mikha senyum lagi.
"Sama-sama.", jawab Leon juga ikut berbaring disisi kiri Mikha.
Sesaat keduanya diam menyaksikan hamparan luasnya langit yang tampak terang oleh sinar bulan dan bintang yang kerlap-kerlip laksana perhiasan.
"Leon, coba buka dan rentangkan tangan mu sambil menatap langit!"
Mikhailla memulai percakapannya.
"Seperti ini?"
"Iya. Apa yang kamu rasakan?"
"Heeem, rasanya tenang. Seperti langit ada tepat didepanku. Bintang-bintang itu juga seolah aku bisa menjangkaunya."
"Iya kan?"
"heem."
"Kamu tahu Leon? Dulu saat aku sedang sendiri ketika bulan purnama begini, aku selalu pergi kelapangan dan tidur diatas rumput saat malam hari. Aku merentangkan tanganku, aku berangan bahwa aku bisa memeluk langit dan bulan. Tapi saat pagi tiba dan matahari muncul, aku membuang semua anganku untuk dapat memeluk langit. kamu tahu kenapa?"
"Karena kamu sadar dilangit tidak cuma ada bulan dan bintang saja. Tetapi masih ada matahari yang panas.", jawab Leon tenang dan nyaman.
Mikhailla tertawa, "Haha! Benar sekali. Aku tidak mau terbakar oleh panasnya matahari."
"Tapi aku suka matahari.", sahut Leon
"Kenapa?", penasaran sambil memiringkan tubuhnya menatap Leon lekat.
"Karena tanpa matahari, bulan tidak akan dapat bersinar."
"Umm, iya juga. Bulan kan menerima cahaya dari matahari? Kamu hebat Leon."
"Terimakasih! Aku baca dari buku."
"Apa kamu pernah dengar, orang bilang orang yang sudah mati yang amal kebaikannya banyak. Katanya dia akan dibuatkan tempat yang paling tinggi dan indah diantara bintang-bintang itu."
"Benarkah?"
"Iya. Ada yang bilang begitu padaku."
"Siapa?"
"Adadeh." jawab Mikhailla tidak berani jujur. "Yang bilang itu Kakekku di kehidupan ku yang sebelumnya." melanjudkan dalam hati.
"Kalau itu benar, aku akan perbanyak amal.kebaikanku. Agar aku diberikan tempat yang paling tinggi dan indah diantara bintang-bintang."
"Aku juga."
Mereka terus mengobrol menikmati keindahan langit saat malam hari. Tanpa sadar Mikha sudah tertidur.
"Mikha, coba lihat! Disana ada bintang jatuh!", kata Leon girang. Tetapi Mikha tidak menjawab.
Leon memandang Mikha dengan sendu. Dia lalu duduk dan menggendong Mikha. Dia ingin membawa Mikha kekamar gadis itu dan membaringkannya. Sambil berjalan, Leon berharap dalam hati agar Mikha selalu bahagia.
Tiba dikamar Mikha, Leon langsung membaringkannya dukasur. Sesaat dia menatap wajah yang begitu lugu yang sudah lelap dalam tidur dihadapannya. Leon terdiam sambil membelai pipi Mikha dengan pelan seperti ada seseatu yang mendorongnya, Leon merasa tergoda dengan bibir merah yang merekah itu dan hendak mendekatkan wajahnya dengan wajah Mikhailla. Tetapi saat bibirnya hampir menyentuh bibir Mikha, Leon tersadar dan langsung menghindar.
"Tidak! Apa yang sudah ku fikirkan? Dia Tuan Putri kekaisaran. Dia sahabatku. Perasaan ini tidak boleh melewati batas. Sadarlah Leon!", haaaah...
Leon menghembuskan napas berat kemudian beranjak bangun dari duduknya. Sekilas dia menatap Mikha kembali.
"Semoga kita selalu bersama disetiap kehidupan. Aku dan kamu. Aku berharap bisa memilikimu. Walaupun bukan dikehidupan sekarang. Tapi dikehidupan berikutnya dan berikutnya lagi."
Kata Leon dalam hati sebelum pergi.
★ ★ ★ ★ ★ ★ ●
__ADS_1