
Entah sudah berapa lama waktu berjalan. Tanpa terasa sudah satu minnggu berlalu. Ditempat yang asing itu, Andin hanya mengikuti kemanapun Marrie atau Lisa pergi.
Sepanjang waktu itu pula Andin tidak pernah merasakan lapar ataupun haus.
"Lisa mau kemana ya? Kenapa dia pergi diam-diam begitu? Ini aneh. Aku harus mengikuti dia.", kata Andin sambil berjalan mengikuti langkah Lisa beberpa langkah dibelakangnya.
Lisa pergi keluar dari istana pengasingan. Saat tiba diluar gerbang daerah Puson, ada sebuah kereta kuda bersama seorang kusir yang sedang menunggu Lisa.
Andin masih mengikuti Lisa hingga naik kedalam kereta kuda itu. Andin duduk di hadapan Lisa di kursi lain sambil menatap Lisa dengan penuh tanda tanya dan kecurigaan.
Kereta akhirnya berjalan meninggalkan daerah Puson menuju suatu tempat yang entah dimana.
"Ku fikir dia orang baik selama ini. Tapi hari ini aku merasa ada yang disembunyikan oleh Lisa dari Marrue. Mukanya yang tegang itu jelas menunjukkan kalau dia benar-benar punya rahasia. Aku akan terus mengikutinya.", gumam Andin mengamati Lisa dengan seksama penuh introgasi.
Sepanjang perjalanan Andin sibuk menatap Lisa tanpa sadar kereta sudah berhenti si suatu tempat.
Andin terperangah tak percaya melihat tempat itu. Dihadapan Andin, sebuah istana yang begitu besar dan megah. Istana itu terlihat berkilau dan mewah.
Seperti didalam dongeng-dongeng kerajaan barat. Sungguh mengagumkan.
Andin Terdiam terpaku berdiri di samping kanan kereta kuda melihat pemandangan yang baru pertamakali dia lihat dalam hidupnya.
"Apa ini sungguhan? Ini mimpikan? Istana itu sungguh besar dan indah. Itu terlihat sangat nyata.. Sungguh mengagumkan! Apa istana seperti ini bena-benar ada? Istana besar yang dindingnya berkilau seperti dilapisi emas.", Andin terkagum-kagum seraya berjalan mengikuti Lisa yang berjalan memasukki istana itu.
__ADS_1
Didepan pintu gerbang istana, ada puluhan para prajurit yang berjaga. Mereka tampak gagah dan kuat tak tertandingi. Para prajurit itu mengenakan seragam ksatria kekaisaran Hiton denga jubah berwarna putih berlambang bintang berwarna emas, lambang kekaisaran Hiton..
"Waaawww, benar-benar mengagumkan! Coba aku ada hp? Aku pasti akan live stream di ingstamgrand", Andin tak henti-hentinya berdecak kagum.
* * * * * * *
Setelah mengikuti Lisa yang dikawal seorang prajurit dan berjalan cukup lama mengelilingi istana kekaisaran dan menyusuri lorong-lorong istana, Lisa berhenti didepan pintu sebuah ruangan yang disitu ada empat orang ksatria yang berjaga dedepannya.
"Beritahu Yang Mulia Kaisar, pelayan Selir Marrie sudah datang!", kata seorang prajurit yang sejak Lisa tiba di istana sudah mengawalnya.
"Baik, Tuan Marquess Allan.", jawab seorang ksatria berambut coklat pekat sebelum masuk kedalam ruangan itu tak lama dia keluar lagi dan mengatakan, "Baginda mempersilakan kalian untuk masuk!", sambil membukakan pintu.
"Baginda? Apa maksudnya Kaisar yang ada didalam?", tanya Andin pada dirinya kaget tak percaya. Sedangkan Lisa sudah masuk keruangan itu bersama seorang pria yang mengawalnya, yang ternyata bergelar Marquess.
"Ada apa ini? Kenapa aku gemetaran begini? Perasaan apa ini?", beberapa pertanyaan muncul dalam benak Andin. Tiba-tiba raganya terasa ada yang menariknya masuk kedalam ruangan itu.
Diruangan itu ada Lisa, Marquess Allan dan juga seorang pria tampan dan gagah bermata tajam dengan warna mata violet dan rambut violet yang senada dengan warna matanya.
Andin terdiam tak bergerak didepan pintu menatap pria itu. Jantungnya berdebar semakin cepat. Napasnya seolah akan terhenti. Seluruh tubuhnya mengaku tak bergerak tetapi gemetaran. Semakin lama menatap pria itu, Andin merasakan sakit yang cukup menyiksa di hatinya. Tanpa menyadari, wajahnya sudah di banjiri airmatanya yang menganak sungai di kedua belah pipinya begitu deras.
Samar-samar muncul bayangan-bayangan kejadian yang tidak Andin mengerti. Bayangan itu muncul terus menerus silih berganti seperti sketsa-sketsa yang pecah. Rasa sakit itu semakin parah. Andin memegangi kepalanya yang seperti mau pecah. Tubuhnya terhuyung-huyung.
"Aaakkkhhh! Saakkiiittt! Kepalaku saakkiiiittt! Tolong akuuu!", teriak Andin memohon pertolongan sambil berjalan terhuyung
__ADS_1
Andin melihat bayangan seorang gadis di depan matanya. Gadis berusia 13 tahun yang berdiri dihadapannya diatas sebuah tebing yang curam.
"Kakak, biar aku yang memetik bunganya!", kata gadis itu ramah
"Tidak, biar aku saja, Nuel.!" jawab suara yang entah itu suara siapa. Pandangan itu beralih menatap sekuntum bunga teratai yang tumbuh di tepi sungai yang dalam. Andin melihat sebuah tangan meraih bunga itu, tetapi sebelum berhasil meraihnya. Dari belakang, ada sepasang tangan yang mendorong punggungnya.
Byyuuuurrr! Tubuh gadis yang tidak di ketahui siapa itu langsung tercebur kesungai.
Andin berteriak spontan seolah-olah dia yang mengalaminya.
"Kyaaakkk! Tolong! Tolong akuuu!", teriak Andin tiba-tiba gelagapan seperti didalam air. Seperti nyata dan Andin yang mengalaminya
"Toloong! Nuel, tolong akuuu!! Hppp... hppp! Toll... tooloong akuu, Nuell! Hppp.... hppp!"
Andin seperti merasakan sesak didalam dadanya. Napasnya terdengar sangat cepat dan tak beraturan.
"Napasku sesak. Aku akan mati. Tolong aku, Leon! Ibu, tolong akuuu! Ayaahhh!"
"Aayaaaahhhh!!!"
* * * * * * *,
DON'T FORGET TO LIKE & LOVE-NYA
__ADS_1