
Perlahan dengan santainya Leon berjalan dari pintu kamarnya. Dia menutup kembali pintu kamarnya.
Tadinya Leon ingin menemui Mikha, tetapi seseorang mendatanginya. Orang itu mengaku sebagai ksatria yang diutus oleh kaisar untuk menjemput Leon ke istana kekaisaran Hiton segera.
Orang itu mengatakan, yang Mulia Kaisar ingin mengadakan rapat mendadak dengan para anggota kementrian dan juga beberapa ksatria. Termasuk Leon dan juga Paman dari Mikhailla, Diego.
Entah ada urusan mendadak apa sampai kaisar memanggil semua staf kenegaraan hadir ke rapat itu. Biasanya saat kaisar mengadakan rapat pribadi, hanya mengundang beberapa orang kepercayaannya saja. Apalagi saat menyangkut putri pertamanya, Mikhailla yang dirahasiakan keberadaannya sebelum usianya 18 tahun dan segel kekuatan sihirnya terbuka.
Mungkin saja rapat ini tidak ada hubungannya dengan Mikhailla. Walaupun Leon berharap Kaisar Dimithri segera mengumumkan keberadaan Mikhailla secara global dan terang-terangan. Agar Mikhailla sendiri merasa bebas tidak terkurung di tempat yang menjenuhkan ini lagi
T**oh aku bisa melindungi Mikha! Apa salahnya keberadaannya diumumkan didepan hallayak? Kalau Kaisar tidak bisa. Akan ku buat Putri ke-2 nya yang melakukannya. Gumam Leon dalam hati sambil berjalan menuju gerbang keluar. Tetapi langkahnya dihadang oleh suara Mikhailla dari belakang, tak jauh dari Leon.
"Leon!", teriak Mikha membuat langkah kaki Leon berhenti sejenak.
Leon berbalik menatap Mikhailla, "Kenapa? Mau mengejek ku lagi?", ketus Leon bergurau
Mikha tersenyu nyengir lalu mengatakan, "Enggak kok. Maaf ya. Kamu mau kemana? Aku panggil dari tadi kok nggak dengar?"
Leon beralih menatap seorang ksatria yang dari tadi menunggunya diatas kuda.
"Kamu mau pergi kemana? Padahal tadi aku mau mengajakmu membuat kue." sahut Mikha dengan wajah kecewa.
Leon menjadi bimbang dan ragu untuk pergi. Daripada menemui kaisar, dia lebih tertarik membuat kue dengan Mikhailla. Melihat Mikha yang kecewa sampai bibirnya maju 10cm. Leon jadi tertawa sekilas.
"Aku tidak lama kok. Cuma Yang Mulia sedang mengadakan rapat. Nanti setelah rapatnya selesai aku akan langsung pulang. Memangnya kamu mau bikin kue apa?"
Mikha lalu mendekati Leon dan membisikkan benerapa kalimat di telinga kanan Leon.
"Hari ini ternyata Lisa ulang tahun. Jadi aku dan Ibu ingin membuatkan kejutan ulang tahun untuknya."
Tidak tahunya bisikkan Mikha yang napasnya begitu hangat menerpa daun telinga Leon disalah artikan dan membuat kedua pipi Leon memerah. Detakkan jantungnya juga terdengar begitu kencang.
"Kamu faham?"
Haah? Leon kaget, "Ah, iya aku faham kok.", menjawab salah tingkah sambil menggaruk pipi kanan dengan telunjuk tangan kanannya.
"Tapi kalau nungguin kamu akan terlalu lama membuat kuenya. Jadi kamu pergi saja tanpa ada beban. Toh acara kejutannya masih sore nanti."
"Baiklah. Saya akan mematuhi perintah Tuan Putri!", lalu naik ke atas punggung kudanya
Hoho! "Bagus kalau begitu. Selamat jalan! Hati-hati ya!"
"Aku pergi dulu, Mikha? Jangan khawatir ada penyusup masuk, karena ada banyak penjaga disini."
"Oke"
Leon segera pergi meninggalkan Mikha. Dia pergi bersama seorang yang memberinya kabar tadi. Dia yakin orang itu orang utusan kaisar karena membawa bukti cap stempel dari kaisar sendiri.
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
Tiba di Istana kekaisaran, Leon langsung diantar ke gedung rapat kekaisaran.
Saat Leon sampai, dia melihat sudah banyak orang yang berkumpul dan duduk di kursi masing-masing kecuali kaisar. Kaisar rupanya belum tiba.
Leon menatap wajah demi wajah itu secara berurutan. Lalu dia juga duduk di kursinya, disamping Ayahnya, Marquess William Allan.
__ADS_1
"Yang Mulia Kaisar Dimithri Hiton telah tiba! Hormat kepada Matahari Kekaisaran Hiton!", suara seorang pengawal kaisar.
Semua orang yang ada di dalam gedung rapat seketika diam berdiri menghadap sang kaisar dan memberi hormat.
"Silakan duduk kembali!", ucap sang kaisar dengan begitu tegas dan amat berwibawa. Kemudian Kaisar duduk di kursinya.
"Yang Mulia, ada apa Anda memanggil dan mengumpulkan kami disini?", tanya Marquess William Allan memulai rapat mereka.
"Aku mengumpulkan kalian disini karena ingin membahas mengenai kelompok pemberontak yang akhir-akhir ini selalu meneror para rakyat kecil di pedesaan."
"Yang Mulia, mengenai sekelompok pemberontak itu kami sudah berusaha menyelidikinya. Mereka kelompok gelap yang sulit untuk kami lacak. Perpindahan dan pergerakan mereka terlalu cepat dan sulit di tebak. Mereka menyerang dan menjarah semua hasil panen para petani kecil didesa tanpa meninggalkan jejak dan bukti satupun. Mereka juga menyerang secara random." jawab Diego selaku pemimpin pasukan ksatria utama kekaisaran Hiton. Dia dan para bawahannya yang di tunjuk kaisar untuk mengusut kasus pemberontakan trsebut.
Sekelompok pemberontak yang tidak diketahui berapa jumlah anggotanya itu, sering kali menyerang para petani di pedesaan. Prinsip penyerangan mereka tidak secara besar-besaran. Tetapi mereka menyerang rumah ke rumah secara acak dan berpindah-pindah desa. Sehingga keberadaan mereka sulit untuk dilacak oleh Diego dan para bawahannya.
Kaisar Dimithri tersenyum tanpa arti. Dia memulai obrolannya lagi, "Apa tidak ada cara untuk menangkap salah satu diantara pemberontak itu?"
"Berbagai cara sudah kami coba Yang Mulia. Bahkan kami juga sudah memasang beberapa jebakan. Tetapi mereka selalu mengetahui jebakan yang sudah kami pasang.", jawab Diego lagi serius.
Kaisar Dimithri kembali tersenyum dingin. Seperti biasa, dia selalu menanyakan pendapat masalah seperti ini pada Leon. "Hmm. Bagaimana pendapatmu Lekn, Putra Marquess Allan?"
Leon yang dari tadi fokus memperhatikan dan mendengar obrolan itu langsung buka mulut, "Menurut pendapat saya, lebih baik kita biarkan dulu para pemberontak itu merajalela. Lalu setelah mereka lengah, kita bisa langsung menangkap mereka. Baginda, bukankah mereka menyerang satu rumah setiap malamnya? Itu berarti jumlah mereka tidak cuma 10 atau 20 orang. Tetapi mungkin bisa jadi lebih dari 100 orang. Mereka pasti melakukan penyamaran di siang hari dan berbaur bersama para warga masyarakat yang mereka incar." kata Leon tak kalah tegasnya.
"Tidak bisa Yang Mulia!", teriak salah seorang mentri bernama Julio, berisia separo abad. Wajahnya di tumbuhi jenggot yang sudah beruban. Dia memotong ucapan Leon yang membuat berbagai pasang mata beralih menatapnya. "Saya tidak setuju kalau para pemberontak itu dibiarkan merajalela! Itu sama saja mengorbankan lebih banyak jiwa dan pendapatan kekaisaran kita!" sambung pria itu yang bergelar duke.
"Tuan Duke yang terhormat! Tolong jangan menyela pendapat orang lain sebelum orang itu selesai bicara.", kata Leon tidak senang ucapannya disela orang lain.
"Kamu ini masih anak-anak. Bagaimana bisa pendapatmu itu dibenarkan?"
"Tuan Duke Julio! Leon benar! Jangan menyela pendapat orang lain. Lagipula aku yang menanyakan itu pada Leon bukan?", sahut sang kaisar membela Leon.
"Cukup!! Leon cepat lanjudkan pendapatmu tadi!", sentak kaisar bengis.
"Menurut saya kita harus mengurangi jumah ksatria yang diturunkan untuk mengatasi pemberontak itu. Kita harus mengurangi separo dari jumlah yang sekarang."
"Leon! Apa maksudmu?", sergah Marquess Allan juga memprotes pendapat Leon.
Leon mengangkat telapak tangan kanannya meminta Ayahnya untuk diam. "Tuan Marquess, saya belum selesai dengan pendapat saya. Tolong jangan menyela!" ucap Leon dingin.
Perilaku Leon membuat para mentri dan bangsawan yang ikut rapat itu ikut bergidik.
"Lihat, bahkan dia juga tidak takut sama sekali pada Ayahnya sendiri!", bisik seorang bangsawan pada bangsawan lain
"Dia anak yang benar-benar mengerikan. Saudara kembarnya sendiripun tewas ditangannya!"
"Sungguh menakutkan."
"Jangan pernah mengganggu anak itu!"
"Iya, salah-salah nyawa kita taruhannya
Semua orang berbisik pelan membicarakan Leon.
"Diam semua!", sentak sang kaisar muak dengan obrolan yang menjijikan itu.
Seketika ruangan kembali senyap.
__ADS_1
"Saya bisa melanjudkan pendapat saya kembali Yang Mulia?"
"Silahkan, Leon!"
"Yang Mulia. Sudah dipastikan dengan mengirim jumlah pasukan yang lebih sedikit bisa membuat para pemberontak itu merasa bahwa kita sudah menyerah dengan mereka. Tetapi kita bisa menggunakan beberapa ksatria tambahan yang kita selundupkan diantara para rakyat dan para pemberontak itu. Dengan jumlah mereka yang cukup bamyak, tidak mungkin mereka mengenali satu persatu wajah anggota mereka bukan? Dengan begitu salah stu diantara ksatria kita pasti bisa menyusup dan mencari tahu mengenai siapa dan apa tujuan mereka selain merampok. Begitu saja usul dari saya Yang Mulia."
Usulan Leon di sambut tepuk tangan dari Kaisar. Kaisar sangat puas dengan pendapat Leon.
"Baiklah pendapatmu itu sangat bagus, Leon. Diego!"
"Ya, Yang Mulia."
"Cepat laksanakan apa yang tadi dikatakan oleh penerus Marquess Allan!"
"Baik Yang Mulia.", jawab Diego di lanjudkan berbicara dalam hati, "Aku tahu ada yang disembunyikan oleh bocah ini. Bocah ini pasti sedang merencanakan sesuatu. Iblis mengerikan ini benar-benar penuh kejutan. Bahkan dia jauh lebih gila dariku dan Ayahnya."
"Kalau begitu, masalah mengenai pemberontak itu kita tahan dulu. Lalu ada masalah yang lain lagi yang ingin ku bahas disini.", kata sang kaisar belum mengizinkan rapatnya usai.
"Apa itu Yang Mulia?", tanya Dioge
"Mengenai pembangunan beberapa ruas jalan baru didekat daerah Girgin dan Puson. Ku dengar proyek itu di hentikan. Siapa yang melakukannya?"
"Itu saya Yang Mulia." sahut Duke Julio berterus terang.
"Jelaskan alasanmu. Kenapa kamu menghentikan pembuatan.jalan itu?"
"Saya menghawatirkan keselamatan para pekerja karena teror dari pemberontak itu, Yang Mulia."
"Baiklah kalau begitu alasan mu ku terima."
"Terimakasih Yang Mulia."
"Kalau begitu rapat ini kita akhiri disini."
Kaisar segera pergi dari ruang rapat setelah mengatakan rapatnya selesai diikuti para pengawalnya dan juga anggota rapat yang lainnya.
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
"Aku tahu kaisar akan membahas soal pemberontakan sebuah organisasi tak dikenal itu. Tapi aku tidak menyangka kamu akan membantunya dengan ide sebagus itu, Leon.", kata Diego menyelidiki Leon. Saat itu mereka sedang dalam perjalanan meniju istana pengasingan.
"Tuan pasti sedang menginterogasi ku kan?"
Diego langsung tertawa terbahak-bahak diatas kudanya.
"Buahahaha! Benar perkiraanku. Kamu punya niat yang tersembunyi. Anak licik!", tersenyum sinis.
"Tapi Tuan pasti mendukung ku kan?", tanya Leon tersenyum sama liciknya.
Lagi-lagi Diego tertawa, "Hahahaha! Tentu saja. Karena kau muridku. Ayahmu pasti sangat bangga memiliki seorang putra yang jauh lebih gila darinya!"
"Kalian berdua yang mengajariku untuk jadi orang gila.", sahut Leon dingin.
Diego terus tertawa di sepanjang perjalanan. Mereka tidak banyak bicara. Tetapi saat menatap Leon, Diego tak bisa menahan tawanya sendiri.
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
__ADS_1