Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 21


__ADS_3

"Kalau begitu, ayo kita bicara di tempat lain."


"Baik, Yang Mulia."


Marquess Allan dan.kedua putranya sudah berjalan mengikuti sang kaisar menuju ruang kerjanya.


Sepanjang jalan, Leon dan Sheon tak henti-hentinya mengagumi istana kekaisaran Hiton. Mereka terus berceloteh berdua sambil mengikuti langkah Ayah mereka.


Tanpa mereka sangka langkah mereka terhenti setelah tiba di depan pintu sebuah ruangan. Mereka segera mengikuti langkah para orang dewasa masuk kedalam ruangan itu.


"Leon, lihat lukisan itu! Apa itu Yang Mulia Kaisar yang sebelumnya?", tanya Sheon berbisik ditelinga Leon.


Dengan sifat Leon yang tenang dan datar, Leon menjawab, "Mungkin. Aku juga kurang tahu."


Kembali Sheon berbisik ditelinga Leon, "Kaisar itu jaih lebih berwibawa dan mengakumkan bukan? Daripada Kaisar yang sekarang?", tanya Sheon tanpa disaring.


Tidak ada yang memedulikan obrolan dua anak.kecil yang rasa ingin tahunya sangat tinggi itu. Merka terus berjalan tapi terhenti karena menabrak seorang ksatria pengawal Kaisar tadi.


Duugh!


"Aduh, sakit!", keluh Sheon sambil memegangi dan mengusap keningnya yang terbentur sarung pedang. Sedangkan Leon dia diam saja. Kedua bocah itu menatap sang ksatria yang mereka tabrak. Begitupun ksatria tersebut.


Ksatria itu melotot dengan mata tajam kearah Sheon dan juga Leon. Namun dua anak kevil itu tidak takut. Mereka membalas tayapan ksatria itu dengan tatapan lebih dingin dan sadis.


"Leon, Sheon, ayo duduk disini!", kata Marquess meminta dua putranya untuk dudk di.kursoli disamping kanan dan kirinya. Marques tak menyadari apa yang terjadi pada dua anak kembarnya itu.


"Baik, Ayah." jawab Leon dan Sheon hampir serentak. Keuanya lantas duduk di kursi disamping Ayah mereka. Tetapi mata mereka selalu melirik dingin ke arah ksatria yang tadi dengan tatapan tidak suka.


Kaisar cuma tersenyum.melihat tingkah anak-anak Marquess itu. Dia menatap Sheon dan Leon secara bergantian. Tatapannya tidak asing dan terasa memaksa.


"Sheon, Leon, apa kalian mau menjadi ksatria di sini?"


Kaisar memulai obrolan mereka.


Kedua anak laki-laki itu mengangguk tanpa aba-aba.


Lagi-lagi Kaisar tersenyum, "Kalau begitu, mulai sekarang kalian akan tinggal disini dan berlatih ilmu pedang, memanah dan bela diri disini."


Leon dan Sheon terkejud, tetapi mereka juga sangat senang mendengar itu.


"Benarkah Yang Mulia?", tanya Sheon bersemangat.


"Ya. Kalian mau? Aku berjanji akan memempatkan kalian ke posisi yang bagus diantara posisi ksatria."


"Waaah, aku mau!", jawa Sheon langsung tergiur dengan tawaran Kaisar. Leon menoleh menatap Sheon. Dia merasa Sheon terlalu cepat ambil keputusan.


"Bagus. Kalau kamu, Leon?"

__ADS_1


Leon menatap kaisar. Tatapan Leon penuh dengan tanda tanya dan kecurigaan. Tetapi Leon tetap menjawab, "Mau Yang Mulia."


Alasan Leon menjawab mau, karena Leon ingin terus bersama saudara kembarnya.


Kaisar tersenyum menatap Marquess. Begitupun juga Marquess yang juga tersenyum lega.


Itulah awal mula, Leon dan Sheon masuk dan berlatih menjadi ksatria di kekaisaran Hiton.


Sampai benerapa bulan kemampuan mereka meningkat pesat. Mereka sudah masuk tim ksatria junior dengan usia paling muda.


Beberapa bulan kemudian Kaiasar menugaskan Leon untuk pergi ke istana terpencil yang berada di daerah Puson. Daerah yang jarang ditemukan keberadaan orang disana. Tempat terasingkan di kekaisaran Hiton.


Leon di tugaskan untuk menjaga dan melindungi putri pertamanya yang dia sembunyikan di istana pengasingan itu. Kaisar ingin Leon menjadi teman untuk putrinya. Kaisar sangat percaya dengan kemampuan Leon.


Mulanya Leon menolak dengan alasan belum siap diberi tugas yang seberat itu. Tetapi Marquess dan saudara kembarnya meyakinkan Leon dan terus membujuk sampai Leon mau. Dengan hati yang berat Leon meninggalkan istana kekaisaran dan pergi ke daerah Puson dengan di temani Ayahnya.


Sheon kini sendirian di istana kaisar tanpa Leon yang biasanya selalu disampingnya. Dia merasa sangat kesepian. Tetapi Sheon bertekat tidak akan lemah meskipun jauh dari Leon. Sheon tidak pernah melewatkan latihan satu kalipun. Dia berlatih dengan sangat giat sepanjang hari. Begitupun Leon.


Leon juga tak pernah melewatkan satu latihan pun. Dia ingin membuktikan pada Sheon kalau dia juga hebat seperti Sheon. Saking semangatnya berlatih, Leon sempat beberapa kali melukai beberapa ksatria yang melatihnya dengan pedangnya.


"Aku akan jauh lebih hebat darimu, Sheon. Lihat saja nanti!"


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Dua tahun sudah berlalu. Diusia Leon dan juga Sheon yang sudah 7 tahun, mereka di pertemukan kembali di istana kekaisaran Hiton oleh sang Kaisar. Mereka dipertemukan di area latihan.


Sheon dan Leon terlihat sedang duduk diatas rumput yang hijau usai berlatih. Mereka mengobrol melepas rindu satu sama lain. Tubuh mereka penuh keringat.


"Lihatlah, apa aku kelihatan buruk?"


"Tidak.", jawa Leon kaku.


Sheon lalu mendekatkan mukanya ketelinga kiri Leon lalu membisikkan beberapa pertanyaan pada Leon, "Hei, daripada itu, bagaimana penampilan Tuan Putri? Apa dia cantik?"


Mendengar pertanyaan itu, kedua pipi Leon seketika memerah. Leon kaget saat Sheon mendorong bahunya.


"Kenapa mukamu merah, tol*l!", gerutu Sheon.


"Siapa bilang? Aku sedang kepanasan saja."


"Bohong! Tadi mukamu tidak semerah ini!"


"Dih, di kasih tahu juga. Sudah lama nggak ketemu, kamu jadi semakin menyebalkan!", gerutu Leon membalas Sheon dengan memukul kepalanya.


"Ahahaha, Leon. Jangan bilang kamu menyukai Tuan Putri?", ketus Sheon ketawa lebar meledek Leon.


Leon jadi salah tingkah, "Mana mungkin aku berani? Dasar kamu ini, makin kesini otakmu makin melenceng."

__ADS_1


"Hahaha! Kamu membantah, berarti benar kamu menyukai Tuan Putri? Hahaha! Happph"


Leon membungkam mulut Sheon dengan kedua telapak tangannya sampai Sheon kesulitan bicara.


"Diam, bodoh! Kalau tidak, ku lakban mulutmu pakai lem.", sergah Leon kesal.


Sheon masih tertawa meski mulutnya dibungkam olah Leon. Tawa Sheon baru berhenti setelah dilepaskan oleh Leon.


"Dasar anak nakal ya! Masih kecil sudah berani suka sama seorang gadis?", lagi-lagi Sheon menggoda Leon.


"Berisik!!", sentak Leon dibarengi memukul kepala Sheon dengan sarung pedangnya.


Blethaaakk!!


"Aaaww!! Dasar kejam!", huuuuh, sakit!


Keluh Sheon sembari mengusap-usap.kepalanya.


Sheon berhenti tertawa beberapa saat sebelum berbicara serius.


"Leon, aku akan pergi ke daerah Lugas!", kata Sheon dengan nada yang datar.


(Lugas merupakan daerah yang masih diperebutkan oleh Kekaisaran Hiton dan juga kerajaan Iklindis selama puluhan tahun sejak kekaisaran Hiton di pimpin oleh Ayah Dimithri)


Leon sangat terkejud mendengar itu. Matanya terbelalak menatap Sheon seakan tak percaya. Mengingat daerah Lugas sudah memakan banyak korban jiwa. Termasuk Ayah kaisar yang sekarang.


"Apa kamu sudah gila?!", sentak Leon sambil menarik kerah kemeja Sheon. Suara Leon sangat keras sampai mengundang perhatian dari para ksatria yang ada disana.


Mata Leon menyala merah dan tajam. Wajahnya terlihat sangat mengerikan. Aura dingin menyelimuti Leon.


"Apa yang kamu fikirkan, haaah? Apa kamu mau menumbalkan nyawamu demi daerah kecil yang tidak berarti itu? Kamu sudah tidak waras, Sheon!", sentak Leon lagi geram.


"Lepaskan aku!", balas Sheon menepis tangan Leon dengan paksa.


"Sheon. Kamu harus memikirkan itu lagi!"


"Apa hak mu melarangku? Tekadku sudah bulat. Toh nanti jika aku gugur, Yang Mulia akan membuatkan tempat makam terhormat untukku bersama para ksatria yang gugur terdahulu."


Puuuaakh! Leon memukul perut Sheon dengan tinjunya begitu keras sampai Sheon terpental kebelakang.


Apa yang dilakukan Leon membuat para ksatria yang seumuran dengan mereka jadi merinding ketakutan. Mereka cuma melihat saja.


"Uhuuukh! Kamu. Kenapa kamu memukulku?", Sheon terlihat tidak terima. Sheon bangkit lalu balas menendang dagu Leon dengan kaki irinya sampai mulut Leon mengeluarkan darah yang tak begitu deras.


Leon terbanting diatas rumput dengan begitu kasar. Sambil memegangi dagunya yang sakit, Leon bangkit dan mengeluarkan pedangnya.


Mata keduanya yang sejurus saling menatap bengis. Mata yang dipenuhi keinginan membunuh yang sangat kuat diantara mereka berdua.

__ADS_1


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★



__ADS_2