
"Leoon!", teriak seseorang dari kejauhan. Itu suara seorang wanita.
Leon menoleh menatap ke sumber suara. Dari arah samping kebun, terlihat Mikha sedang berlari kearah Leon yang sedang duduk sendirian di bibir jendela kamarnya.
Mikha terlihat sudah tidak murung lagi. Mukanya sudah lebih ceria daripada beberapa hari lalu. Senyumnya kembali menyeruak dari bibir manisnya.
Leon yang melihatnya juga senang. Akhirnya Mikha dapat kembali ceria.
"Leon, ayo keluar!", teriak Mikha kencang dari bawah karena kamar Leon ada di lantai dua. Di tangan Mikha membawa sebuah kotak makan berwarna merah dan sebuah karpet.
"Kemana?", tanya Leon berteriak pula.
"Ayo, kita piknik di kebun!"
"Tunggu disitu! Aku akan segera keluar!", jawab leon segera bergerak turun dari jendela. Leon lekas keluar menemui Mikha. Dia tergoda dengan apa yang ada didalam kotak makan yang dibawa Mikha itu.
"Kamu sudah baik-baik saja, Mikha?", tanya Leon selekas sampai di bawah di hadapan Mikha.
Mikha tersenyum manis. Senyum yang menandakan dia baik-baik saja dan tidak bersedih lagi.
"Apa yang kamu bawa didalam kotak makanan itu?", tanya Leon penasaran.
"Aku tadi habis bikin nasi uduk.", jawab Mikha seketika membuat Leon bingung.
"Na..nasi uduk? Apa itu? Aku baru dengar."
Mikha meringis. Dia lupa kalau Leon bukan orang Indonesia. Jadi pasti Leon tidak tahu apa itu nasi uduk.
"Ayo, ikut aku!"
Mikha langsung melempar karpetnya kedada Leon. Dengan paksa, Mikha menarik lengan tangan kiri Leon.
Mereka berlari kecil menuju tempat biasa mereka sering duduk dan mengobrol bersama.
"Nah, rentangkan karpetnya!", kata Mikha memerintah Leon menggelar karpetnya diatas rumput dibawah pohon apel.
Leon menurut tanpa mengeluh sedikitpun. Justru Leon sangat bahagia, akhirnya Mikha kembali ke dirinya yang sebelumnya. Yang galak tapi tetap manis. Yang suka memerintah dan tidak cengeng.
Keduanya duduk bersebelahan diatas karpet. Mereka menikmati udara sore hari yang hangat dan tenang sambil menyantap makanan yang di bawa Mikha.
"Ini nasi biasa. Tapi rasanya berbeda. Enak banget! Ada gurih-gurihnya gitu. Terus ini juga enak, sepertinya ini kelapa kering, tapi ada suwiran daging ayamnya. Ini kedelai sangraikan? Kamu belajar dari mana memasak yang beginian?", tanya Leon disela mengunyah makanannya.
Gak mungkin kan ku jawab kalau aku belajar masak ini dari kehidupanku sebelumnya? Dia gak mungkin percaya. ucap Mikha dalam hati.
__ADS_1
Mikha menjawab,"Aku hanya mencoba bereksperimen saja. Ternyata enak kan?"
"Iya."
"Apalagi kalau makannya dicampur lalu pakai kerupuk. Ya ampun! Rasanya seperti terbang ke langit!", jelas Mikha lagi.
"Benarkah?",
Leon mengikuti saran Mikha dan mencampurkan semua makanan yang dibawa Mikha lalu menyuapnya sesendok ke mulutnya.
Ini beneran enak! Rasa gurih dari nasi bercampur dengan rasa manis dari kelapa kering dan rasa asin dari kedelai dan kerupuk. Semuanya menyatu menjadi satu kesatuan rasa yang mengagumkan. Aku baru merasakan makanan yang seperti ini. Aneka rasa yang bercampur sungguh pertamakalinya buatku. Mikha benar-benar hebat! fikir Leon seketika jadi penikmat sekaligus kritikus makanan.
"Gimana? Enak?", tanya Mikha penasaran.
Sambil mengunyah nasinya Leon mengangguk-anggukkan kepala dengan penuh semangat.
Leon terlihat sangat menyukai masakkan Mikha itu. Dia sampai menghabiskan dua piring nasi yang Mikha buat.
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
Tanpa terasa sudah dua jam berlalu. Hari sudah hampir gelap. Matahari sudah berada di ujung senja.
Mikha mulai meminta Leon merapikan alat makan dan karpetnya. Keduanya berjalan kecil menuju istana bersama berdampingan.
"Mikha, kamu cantik!", desis Leon memuji kecantikan Mikha.
Mikha langsung menoleh menatap Leon kaget. Tetapi kedua pipinya memerah malu.
Leon terdiam sesaat. Dia sendiri malu sudah mengatakan itu. Dia palaingkan wajahnya dari Mikha.
Keduanya jadi salah tingkah dan malu sendiri. Jantung mereka juga lagi-lagi berdenyut kencang. Tubuh memanas tetapi telapak tangan jadi dingin dan berkeringat.
Phaak!! Mikha memukul kepala Leon dengan telapak tangannya begitu keras.
Leon terpental kesamping. Dia merasa pusing ditabok kepalanya oleh Mikha.
"Jangan pernah kamu berani-beraninya menggodaku! Kalau masih berani, bukan tangan yang melayang tapi pedang. Kamu mau?!", ketus Mikha dengan tampang sangar dan menakutkan.
"Hyyyyy!", Leon bergidik merinding mundur kebelakang.
"Ekhem! Ekhem!"
Terdengar suara seseorang mengejudkan Leon dan Mikha.
__ADS_1
Leon dan Mikha serempak menoleh ke suara itu.
Lisa berdiri disamping pintu dapur sambil menyandarkan punggungnya di tembok dan kedua tangan dilipat diatas perut.
Mikha langsung berlari menubruk Lisa. Dia terlihat sangat malu. Sedang Leon hanya menatap Lisa penuh keterkejudan.
"Sudah mau gelap, Tuan Putri. Ayo, saya sudah menyiapkan air hangat untuk Tuan Putri mandi!", kata Lisa hangat. Senyum cantik Lisa sangat menarik. Terkadang Mikha sering menangkap Paman Diego mencuri pandang kearah Lisa ketika Lisa tersenyum. Mikha merasa Paman.Diego menyukai Lisa.
"Iya. Badanku sudah bau rumput dan matahari."
"Kalau begitu aku pergi dulu, Mikha!", ucap Leon menyela obrolan Mikha dan Lisa. Leon pergi setelah Mikha dan Lisa mengangguk.
"Wah, lihat pita rambut Nona sampai berantakan. Hayo, Nona ngapain bersama Leon?", sergah Lisa menggoda Mikha seraya berjalan menemani Mikha yang bergelayut manja delengan tangan kiri Lisa yang membawa kotak makan Mikha tadi.
"Nggak ngapa-ngapain kok. Kami cuma makan terus ngobrol. Sudah, itu saja. Memangnya apa yang kamu fikirkan? Jangan bilang kamu berfikir kami melakukan begituan!"
"Ti...tidaak! Saya cuma penasaran saja. Karena setahu saya, Leon itu menyukai Nona."
"Apaaaa??!", Mikha terkejud sontak.
Leon menyukaiku? Massa?
"Kamu jangan bercanda, Lisa!", Mikha mengelak tak percaya.
"Tidak. Saya serius. Leon memang menyukai Nona. Sudah lama bahkan. Nona ingat waktu Nona pingsan saat di bawa Leon pulang dulu? Leon menangis. Dia sangat sedih sampai menyalahkan dirinya sendiri. Saya memergokinya menangis dipojokkan ruangan penyimpanan. Dia menangis tersedu-sedu. Dia bahkan berdo'a merelakan nyawanya ditukar dengan nyawa Nona kalau Nona tidak selamat. Konyolkan? Memangnya yang begitu bisa?"
"Mungkin bisa.", desis Mikha pelan lalu dilanjudkan berbicara dalam hati, Karena aku mengalaminya.
Keduanya telah tiba dikamar Mikha.
"Mau saya bantu untuk mamdi, Nona?"
"Uum, tidak usah, Lisa. Aku mau berendam dulu sebentar. Aku mandi sendiri saja.", sahut Mikha menolak bantuan dari Lisa.
Lisa tak membantah atau memaksa membantu Mikha. Dia berjalan kearah ruangan penyimpanan pakaian Mikha dan memilihkan gaun malam yang harus di pakai gadis cantik itu.
Mikha sendiri sudah melepas semua pakaiannya dan sudah berendam di air hangatnya yang bercampur wangi bunga yang segar dan menenangkan.
Apa iya, Leon menyukai Mikha? sejak kapan? Massasih? Memangnya boleh ya ksatria menyukai orang yang harus dilindunginya? Padahal kufikir Leon hanya menganggap Mikha sebagai sahabat dan ucapannya yang menggodaku itu cuma candaan saja. Uuuh, aku jadi malu sendiri setelah mendengarnya dari Lisa. Tapi anehnya, Leon kok nggak canggung ya?
Mikha bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil memejamkan mata sejenak menikmati hangat dan harumnya aroma parfum yang di tuangkan Lisa kedalam bath-up-nya.
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
__ADS_1