
"Apa yang terjadi padamu? Biasanya kamu selalu siaga. Apa ini? Putraku terluka?", dengus Marquess William pada Leon yang barbaring istirahat di kamarnya.
"Dia membuntutiku pergi keluar dari sini bersama Tuan Putri.", jawab Leon jujur dengan suara dingin.
"Dia?", Ayah Leon tidak faham apa yang dikatakan putranya.
"Orang yang dikirim kaisar untuk mengawasi ku."
"Jadi pria yang datang dengan lidah terpotong itu orang kepercayaan kaisar yang diperintah untuk mengawasimu disini?"
"Iya. Dia mengancam akan melaporkan ku pada kaisar karena telah berani membawa Tuan Putri keluar dari sini. Tapi aku sudah memotong lidahnya agar dia tidak bisa mengadu pada kaisar."
Marquess William tersenyum sinis, "Jadi dia tidak sepenuhnya mempercayai ku? Begitu ya? kaisar sudah mulai mengibarkan bendera permusuhan dengan keluarga Allan. Aku tidak akan tinggal diam."
"Ayah, apa aku melakukan tindakan yang salah dengan tidak membunuhnya dan membiarkan dia tetap hidup?"
"Tidak tindakanmu sudah tepat. Urusan pria itu biar aku yang bereskan. Tugasmu hanya menjaga dan melindungi Putri. Buat Tuan Putri membenci Keluarga kekaisaran termasuk Ayahnya."
"Baik, Ayah." awab Leon singkat
"Kalau begitu aku pergi dulu. Kedepannya kamu harus lebih hati-hati. Kaisar menambah lebih banyak kesatria penjaga diluar istana pengasingan ini."
Leon mengangguk faham.
Setelah itu Marquess William pergi dengan membawa kemarahan di hatinya. Hatinya benar-benar hancur mendapat pengkhianatan dari kaisar yang sekaligus sahabatnya sendiri.
Cih! Aku tidak menyangka pengorbananku yang selama ini selalu setia melayani beliau di khianati begini. Padahal aku yang sudah bekerja keras disini untuk menjadikan dia kaisar. Tapi apa balasannya untukku? Dia bahkan mengirim orang untuk mengawasi putraku. Air susu dibalas air tuba. Aku tidak akan menerima penghinaan ini. Dimithri! Kamu sudah memulai permusuhan kita lebih dulu. Tunggu saja, akan kubuat hidupmu menderita.! gerutu Maequess William sembari menarik pelana kudanya dengan sengit dan kasar. Dihatinya membawa dendam yang begitu besar pada kaisar yang sudah dia layani sejak 20 tahu lalu. Saat mereka masih berada di akademi dan diam-diam mengjkhianati William dibelakang.
★ ★ ★ ★ ★ ★ ★
Diam-diam di pagi hari, Mikha masuk kekamar Leon seperti maling dengan membawakan semangkuk bubur dan secangkir teh. Dia masih mengkhawatirkan Leon.
Tetapi Leon tidak ada di tempat tidurnya. Pintu kamar mandinya terbuka, berarti Leon tidak ada di sana.
Terdengar bunyi suara pedeng yang bergesekan dari arah luar. Mikha menegok ke arah jendela kamar Leon. Dia melihat Leon sedang berlatih pedang bersama beberapa orang ksatria yang biasanya berjaga di luar istana pengasingan.
Mata Mikha terbelalak menyaksikan pemandangan mengagumkan dihadapannya.
Leon berlatih pedang dengan bertelanjang dada. Membuat otot perutnya yang sixpack terlihat dengan jelas.
Mikha yang melihatnya jadi menelan air liyurnya sendiri. Dia terus menatap Leon tanpa berkedip dengan jantung yang berdetak kencang seperti bedug yang ditabuh kuat.
"Astaga! Itu Leon? I..itu beneran Leon?", glek!, "Badannya bagus bangeettt! Oh my, selamatkan jantungku! Aku mau mati rasanya."
Mikha langsung ambruk ke lantai seperti orang pingsan yang kehabisan napas. Aku kemarin itu bilang apa ya? Mulutku memang jahat!.
Mikha keluar dari kamar Leon. Dia pergi menemui Marrie yang sedang sibuk menyiram sayuran di kebun belakang istana.
__ADS_1
"Ibu!", teriak Mikha bersuara merdu dan riang. Mikha berlari kearah Ibunya lalu memeluknya dari belakang.
"Ada apa?"
"Nggak pa-pa. Tadi aku habis lihat Leon latihan."
"Terus kenapa muka kamu merah?"
Mikha tersenyum, "Massa muka ku merah? Emang kelihatan ya?"
"Jelas.", berbisik.
"Ibu tadi aku melihat otot di perut Leon yang lagi latihan. Dia kerren banget!"
Mendengar jawaban Mikha membuat Marrie jadi tertawa. Hoho!, "Putriku sudah dewasa rupanya?"
"Ibuuu..."
Hehe, "Kalau begitu bantu Ibu memetik tomat disebelah sana!"
"Siap, Nyonya!"
Ketika sedang sibuk memetik tomat, tiba-tiba Leon datang denga tubuh penuh keringat. Namun dia sudah memakai kemeja putihnya.
"Selamat pagi, Nyonya!", Leon menyapa Marrie dengan penuh peluh.
Leon berjalan mendekati Marrie. "Badan saya sudah membaik, Nyonya. Apa Mikha tadi datang ke tempat latihan saya, Nyonya?", bertanya malu-malu.
"Dia pergi kekamarmu membawakanmu bubur dan teh hangat."
"Maaf, saya tadi tidak masuk kekamar dulu sebelum kesini. Jadi saya tidak tahu kalau Mikha membawakan saya sarapan dan teh."
"Tidak apa-apa, Leon. Yang penting kamu sudah sembuh sekarang."
"Saya sangat berterimakasih pada Nyonya karena sudah mengirimkan dokter untuk memeriksa dan mengobati saya."
Marrie tersenyum manis. "Tidak perlu berterimakasih. Kamu sudah ku anggap seperti anakku sendiri. Jadi jangan sungkan."
""Terimakasih, Nyonya." jawab suara Leon terdengar asing. tetapi tidak dianggap pusing oleh Marrie
Setelah menemui Marrie, Leon kembali kekamarnya. Diatas meja dikamarnya, Leon menemukan semangkuk bubur dan secangkir teh yang sudah sedikit dingin.
Leon lekas duduk dikursinya menghadap bubur diatas mejanya. Dengan begitu lahab dia menyantap bubur dan teh buatan Mikhailla tanpa sisa.
"Benar-benar gadis yang sempurna. Dia tidak cuma cantik dan baik. tetapi juga pandai memasak. Yaah, walaupun cuma memasak bubur.", fikir Leon sambil berjalan membawa nampan berisi mangkuk dan cangkir kotornya menuju dapur.
Selepas menaruh mangkuk kotornya, Leon memilih untuk menemui Mikhailla dan Marrie kembali ke taman.
__ADS_1
"Leon, kamu sudah selesai latihan?", teriak Mikha dari tengah-tengah kebun. Mikha sedang meneruskan pekerjaan Marrie menyiram sayuran.
"Sudah.", jawab Leon berteriak pula. Semakin lama langkah Leon semakin mendekat kearah Mikha.
"Gimana bubur buatanku? Enak tidak?"
"Enak. Besok buatkan lagi ya?"
"Diih, kamu kan sudah sembuh. Makan makanan biasa aja!", sahut Mikha ketus.
"Masakkan mu enak. Benar-benar enak."
"Kamu merayu ku ya, supaya aku memasak untuk mu lagi?"
"Iya.", sahut Leon gamblang.
"Huh!", Mikha bersungut kesal.
"Sini ku bantu. Mumpung aku belum mandi."
Mikha seketika menjauhkan dirinya dari Leon. "Hiiyyy! Jorok! Mandi dulu sana!"
"Aku mau membantumu."
"Nggak usah! Aku sudah mau selesai kok. Pergi sana! Badanmu bau!"
"Apa tadi kamu bilang? Badanku bau? Coba katakan sekali lagi!"
Mikha meringis, "Kamu bau! Badanmu bau keringat! Pokoknya sangat bau! Bau amis! Bau daging! Bau! Bau! Bau! Weeeekkk!", celoteh Mikha meledek Leon. Mikha langsung berlari kabur setelah menjulurkan lidah kearah Leon seperti anak kecil.
"Heei! Tunggu! Awas kamu ya, berani-beraninya mengataiku bau?!", sentak Leon berlari mengejar Mikha yang sudah jauh.
Mikha masih ketawa. Wajahnya begitu ceria. Dia terus berlari karena Leon.mengejarnya dengan tampang mau balas dendam. Tetapi Mikha tidak takut. Dia semakin gencar menggoda Leon dan meledeknya..
"Dasar bau! Tubuhmu penuh dengan kuman yang bau! Lweeeekkk!"
"Waaah, kamu memang harus di peluk ya biar tahu rasa?!", teriak Leon masih tak menyerah mengejar Mikha.
"Hiiiyyy! Ogaahh! Ibuuu! Selamatkan aku dari monster keringat bau itu! Ahahahaha!"
Awas saja kalau kena! Haaah!, gumam Leon menyerah untuk lari. Dia memilih untuk berhenti saat dia sudah tidak melihat Mikha lagi di kejauhan.
Leon memutuskan untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih bersih dan wangi. Lengkap dengan jubah ksatrianya. Kali ini Leon menaikkan rambut poninya sehingga jidatnya terlihat jelas. Dia merubah sedikit penampilannya.
Dia pasti akan memyesal sudah bilang aku ini bau!
__ADS_1