
"Ayaaaahhhh!!"
Gubraakkh!
Andin berteriak melengking hebat. sambil menghentakkan kakinya. Napasnya ngos-ngosan tak beraturan begitu cepat. Andin terus memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Andin terduduk dan terbangun diatas tempat tidur dikamarnya. Kamar yang terasa sepi dan lembab. Tidak terdengar hiruk pikuk suara orang di luar sana.
"Hah... Haah... Hahh..!"
Andin berusaha mengatur napasnya. Mambiarkan keringat dingin mengalir membasahi tubuhnya. Perasaan takut dan sakit masih dia rasakan.
Ini mimpi. Tapi terasa nyata dan menyakitkan.
"Hahh! Hah! Aku mimpi? Aku masih hidup? Barusan itu mimpi? Tapi kenapa mimpi itu terasa seperti nyata? Hah! Hah! Ini dikamarku? Kamar ini... Aku beneran mimpi... Itu aneh. Ayah? Kenapa? Rambut ungu itu? Rasanya nggak asing. Nggak. Tadi itu memang mimpi. Hah! Sekarang jam berapa?"
Andin bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan napas yang masih tak beraturan.
Dia segera menyeka keringat dingin yang membasahi wajah dan lehernya. Matanya mengarah ke jarum jam di dindingnya yang jarum pendeknya mengarah ke angka 2.
"Jam dua pagi?"
Suara Andin terdengar serak dan berat. Kerongkongannya dia rasa kering.
"Tenggorokanku kering. Aku haus", ucap Andin lalu beranjak dari tempat tidurnya. Dengan langkah gontainya Andin berjalan tak bersemangat menuju dispenser di dapur.
Setelah meneguk segelas air putih, Andin kembali kekamarnya dan merebahkan tubuhnya. Untuk sejenak Andin memejamkan matanya. Terdiam menjernihkan fikirannya yang masih kacau.
__ADS_1
"Benar-benar mimpi yang aneh. Jelas-jelas tadi rasanya kayak ada yang mendorong punggungku dan menceburkanku ke sungai itu. Tapi tadi kan aku lagi mengikuti Lisa ke istana kaisar. Kenapa bisa jadi di atas tebing. Terus cewek itu siapa? Nu... Siapa ya namanya? Aku yakin dia yang mendorongku."
Andin terus berfikir mendiskusikan mimpi yang dia alami dengan dirinya sendiri. Sampai ketiduran.
Hingga waktu bergulir dan pagi pun menyingsing.
* * * * * * * *
Triiiiiiing!!
Bunyi alarm yang sangat kencang dari ponsel Andin seketika membangunkan tidur Andin.
"Aduuuh, alarm kamvret! Aku kan masih ngantuk!", gerutu Andin sambil meraih ponselnya yang ada di atas meja laci di samping kiri tempat tidurnya. Andin segera beranjak dari kasur dia meraih handuk dari gantungan dipintu kamarnya lantas bejalan keluar kamar menuju kamar mandi.
Andin berjalan sambil mengucek-ucek kedua mata dengan penggung tangannya. Membuang belek yang menempel di sudut-sudut dua matanya.
Wanita berusia 35 tahunan itu menatap Andin dengan tatapan dingin dan sinis.
Dengan suara kasar dia berkata, "Waah, wah. Si Tuan Putri baru bangun?!", menegur ketus.
Andin terkejud. Spontan dia menoleh kearah suara yang menegurnya.
"Ma..Mama?", sahut Andin tergagap.
Sekujur tubuh Andin jadi dingin saat melihat tatapan Mamanya yang begitu dingin dan tajam.
"Enak ya jadi kamu. Hidup cuma sekolah sama main-main doang? Makan, tidur, makan, tidur. Gak kerja apa-apa. Gak liat orang lain yang sibuk kerja. Anak sialan! Kelakuanmu nggak jauh beda sama Papamu yang brengs*k itu!"
__ADS_1
"Ma, aku kan anak Mama. Kenapa Ma...mama begini padaku?"
"Waaw, sudah berani jawab ya?" lantang
Andin menggelengkan kepala saat menyadari ada bau alkohol menyengat yang keluar dari aroma tubuh Mamanya.
"Dia minum lagi.", Andin bergumam dalam hati. Dia memalingkan wajah dari Mamanya. "Mama minum lagi? Kenapsih, Mama selalu minum kayak gini? Apa Mama nggak sayang dengan Lever,Mama?", desis Andin nyaris tak bersuara namun dapat didengar Mamanya yang sedang mabuk itu.
"Apa katamu? Kamu benar-benar sudah mulai berani pada Mama?!", sentak wanita bernama Anita itu dengan berjalan mendekati Andin.
Tanpa Andin duga, tiba-tiba Mamanya melayangkan tangannya menampar pipi kiri Andin dengan tangannya.
Plaaakkh! Bunyi tamparan itu begitu keras sampai membuat Andin limbung dan hampir terjatuh.
Andin seketika menatap Mamanya dengan tatapan penuh dengan kekecewaan. "Mama jahat! Aku benci Mama! Aku benci!", teriak Andin dengan nada suara yang samar-samar sebelum berlari masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa tangis di wajah manisnya.
"Dasar anak kurang ajar! Memangnya siapa yang pernah melahirkanmu, haaa? Kalau bukan karena aku yang baik hati ini, aku tidak akan pernah mau melahirkanmu! Aku pasti sudah menggugurkanmu! Kalau bukan karena belas kasihku, kamu tidak akan ada didunia ini! Kamu dengar itu? Dasar anak nggak tahudiri!", Teriak Anita keras seperti orang yang sudah dikuasai setan.
Sedangkan didalam kamar mandi, Andin hanya menangis sambil memegangi pipinya yang masih terasa panas karena tamparan Mamanya.
Huhuhu! "Aku nggak pernah minta dilahirkan sama Mama! Aku juga nggak minta dibesarkan! Kenapa nggak Mama bunuh saja aku sejak masih didalam kandungan? Kalau memang keberadaanku menyusahkan Mama? Kenapa Mama harus melahirkanku? Seandainya aku bisa memilih lahir dari perut siapa? Aku tidak akan memilih Mama sebagai mamaku! Aku benci Mama!"
Andin menangis sejadi-jadinya dikamar mandi diselangi suara keran yang Andin nyalakan.
"Seandainya Mamaku adalah Marrie? Aku pasti akan jadi anak yang sangat beruntung didunia ini. Tapi kenapa Engkau mendatangkanku dari rahim seoarang ibu yang kejam seperti Mama? Kenapa?", Huhuhu
* * * * * * * *
__ADS_1