Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 13


__ADS_3

Leon sudah berdiri disamping luar pintu kamar Mikha pagi-pagi sekali. Sambil harap-harap cemas.


Kamar Mikha masih terasa sepi. Sebenarnya hari ini Leon berencana untuk mengajak Mikha pergi melihat-lihat keadaan dunia diluar istana pengasingan.


Leon berfikir Mikhailla pasti sangat jenuh dan bosan hanya dikurung didalam istana. Gadis itu pasti senang bila diajak pergi ketempat-tempat menyenangkan.


Leon memandang kearah pintu kamar Mikhailla. Pintu itu masih tertutup rapat. Leon sudah tidak sabar ingin pergi keluar bersama dengan Mikha.


Kebetulan hari ini hari libur. Jadi pasti ada banyak toko dan lokasi taman hiburan yang buka dipasar di dekat daerah Puson. Tepatnya didesa Girgin


Sebenarnya semula Leon berencana ingin membawa Mikhailla melihat festival kembang api yang diadakan di Ibu kota setiap malam Minggu. Tetapi, Marrie sudah lebih dulu mewanti-wantinya agar tidak ke ibu kota.


Leon juga faham apa maksud Marrie melarangnya. Ibu kota sangat berbahaya. Apalagi kalau Kaisar tahu Leon membawa Mikhailla keluar dari istana pengasingan yang di selimuti sihir pelindung yang di pasang oleh sang kaisar. Kaisar pasti akan langsung memenggal kepala Leon.


Hampir satu jam Leon berdiri menunggu Mikhailla didepan pintu sampai kakinya mau rontok ruas demi ruas. Tidak tahan dengan menunggu saja, dengan berani dan penuh rasa percaya diri Leon masuk kedalam kamar Mikhailla tanpa permisi.


Dan saat dia masuk, dia melihat Mikhailla masih tertidur lelap dengan posisi sembarangan. Leon memandang nya dari kejauhan.


Disudut-sudut mata Mikhailla ada gumpalan-gumpalan bola kecil berwarna putih kecoklatan.(belek)


Leon yang melihatnya jadi merinding. Sambil senyam-senyum kecut meringis menertawai tidur Mikha yang berantakan. Rambutnya modal-madul seperti sarang burung.


"Hiiiiyyy!", Leon bergidik ngeri. "Jorok banget! Anak perawan siapa yang tidurnya ngangkang begitu? ckckckck! Untung aku yang lihat kelakuannya. Coba kalau orang lain, mereka pasti sudah kabur", gerutu Leon disela tawanya. Dia tidak mampu menghentikan tawanya hingga terpingkal-pingkal didepan pintu kamar Mikha.


"Uuuhh! Huuuuuaaaammm!", suara Mikailla menguap dengan keras. Mulutnya terbuka dengan bulat. Tubuhnya bergeliat meregangkan ototnya diatas tempat tidur.


Kebiasaan buruk Andin terbawa. Saat bangun tidur Andin selalu bergulang-guling dikasur dengan memeluk dan menciumi gulingnya.


Melihat tingkah sahabatnya yang seperti bayi itu membuat Leon tidak dapat lagi menahan tawanya.


Ppffffttt!, "Bbuahahahahahaaahahaa!!!", Suara tawa Leon menggelegar. Dia tidak dapat lagi mengendalikan dirinya. Sanbil tertawa Leon memukul-mukulkan tangan kanannya kepintu. Sedang tangan kiri memegang perutnya yang kram menahan tawa.


Mikhailla berhenti berguling-guling. Seperti mendengar petir di siang bolong. Suara tawa Leon menyambar menghanguskan Mikha. Mikha membeku. Dua bola matanya seolah-olah akan keluar.. Mulutnya menganga. Napasnya tertahan.


Leon masih tertawa ngakak didepan pintu sampai batuk-batuk membelakangi Mikha. Tanpa dia sadari ada bayangan hitam yang berdiri tegap di belakangnya. Punggungnya serasa ada yang menyentuh membuat Leon merinding. Tawa Leon berhenti seketika.


Dhegh! Suara jantung Leon tegang.


"Apa yang sedang kamu lakukan dikamar seorang gadia yang sedang tidur, haaah?", kata suara yang terdengar dingin. Suara Mikhailla.


Berani tak berani, Leon berbalik kebelakang. Matanya terbelalak dan bergetar.


?!?!?!?! Leon sontak terkejud


Mikha sudah dibelakang Leon ketika Leon sedang sibuk tertawa.

__ADS_1


"M..m...Mikha, ak...aku, i...itu.. aku... umm..." Leon tidak biaa bicara. Bicaranya tergagap


Mikha sudah tidak punya kesabaran lagi. Dari tubuhnya seolah keluar api yang berkobar dan siap melahab Leon.


Ggrrrr!, "Kamu! Beraninya kamu masuk kedalam kamar seorang Putri Kaisar? Apa kamu sudah bosan hidup ya? Haaa?!", mata Mukha menyala tajam.


"Ebb...bukan begitu! Aku tadi sudah mengetuk pintu. Ttt...tapi kamu tidak juga membuka pintunya. Jadi...jadi aku langsung masuk saja."


"Memangnya siapa yang mengizinkanmu masuk, haaah??!"


Leon tersentak kebelakang.. "Itu..u ak..ku mau mengajak k..kamu jjj...jalan-jj...jalan keluar i...istana pengasingan..."


"Apaaaa???"


Leon tersenyum meringis memperlihatkan barisan giginya.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


"Nyonya, saya mohon izin keluar bersama Mikha?"


Muka tertunduk, Leon meminta izin pada Marrie.


Marrie menghembuskan napas berat. Dia ingin melarang Leon tetapi dia tidak tega melihat Leon kecewa. Leon sudah sangat berjasa membantu dan menjaga putrinya.


Dia sudah mau menjadi teman untuk Mikhailla dan tinggal bersama mereka di daerah terpencil selama 12 tahun. Marrie sudah menganggap Leon seperti putranya sendiri. Putra yang selalu menjaga adik perempuannya.


"Baik, Nyonya.", jawab Leon separo menunduk. Matanya menampakkan binar kebahagiaan.


"Leon, ayo!", teriak Mikha dari kejauhan. Hatinya berdebar-debar karena sudah tak sabar untuk segera melihat dunia luar.


Mikha terlihat cantik dan anggun mengenakan gaun berwarna putih dengan hiasan topi dikepalanya. Warna topinya senada dengan warna gaunnya.


Leon sendiri memakai jass berwarna hitam dengan kemeja putih didalamnya. Celana panjangnya berwarna hitam pula.


Mikhailla juga terlihat sangat bahagia bisa pergi keluar dari sini. Asalkan ada Leon disampingnya, aku juga sedikit tenang.. fikir Marrie berbesar hati merelakan putrinya pergi bersama Leon untuk bermain diluar istana pengasingan.


"Kamu tidak pamit dengan Ibumu dan minta do'a agar kita selamat sampai pulang nanti?"


"Memangnya aku mau ikut perang?"


"Setidaknya berkat do'a ibumu kita bisa selamat."


"Kamu ini selain tidak sopan juga sangat memaksa ya?"


"Bukannya memaksa! Memangnya kamu mau, jadi anak durhaka?", sentak Leon sewot.

__ADS_1


"Hhiiihhh!", geram Mikha sambil mencubit kedua pipi Leon sampai merah.


"Aaaww!"


Pipi Leon jadi terlihat seoalah habis ditampari.


Mikha berlari mendekati Ibunya. Tawanya riang gembira. Kemudian memeluk ibunya dengan erat sambil berseringai manja, "Ibu aku mau pergi jalan-jalan sebentar. Saat aku tidak didekat Ibu, Ibu harus selalu memikirkan aku!", hehe


Mikha tersenyum manis. Beberapa kali dia mencium kedua pipi Ibinya. Setelah itu dia pergi bersama Leon naik seekor kuda bersama menuju daerah Girgin


Tidak tahu ada sepasang mata yang menyaksikan kepergian mereka itu. Sosok bayangan itu terlihat sangat mencurigakan.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Sepanjang jalan naik kuda, Mikha tidak henti tertawa. Ini pengalaman pertama bagi Mikha selama hidupnya. Jangankan naik kuda sungguhan, beranganpun tidak pernah.


Mikha duduk didepan Leon yang mengendalikan laju arah kudanya berlari. Kedua tangannya melingkar di pinggang Mikha agar Mikha tidak jatuh. Harum aroma tubuh Mikha begitu wangi menusuk hidung Leon. Leon menyukai parfum yang selalu keluar dari aroma tubuh Mikha. Seperti bunga mawar saat sedang mekar.


Tidak henti Leon menatap Mikha yang begitu cantik ketika tertawa lepas tanpa beban. Leon ingin terus melihat senyum itu disampingnya.


"Ini baru pertama kalinya kan, kamu naik kuda?", tanya Leon setengah teriak.


"Ahahaha! Iya."


"Kamu suka?"


"Iya. Sangat. Tapi bokongku agak sakit."


"Kalau sudah terbiasa nggak akan sakit. Contohnya aku."


"Haaa?", Mikha tidak faham dengan ucapan Leon. Kalau sudah terbiasa?


"Nanti aku akan mengajarimu.!"


Mikha langsung memotong ucapan Leon, "Nggak mau!"


"Kenapa?"


"Kan sudah ada kamu. Kamu pasti akan selalu bersamaku kan? Ahahahaha!"


Dhegh!


Leon diam sambil menatap Mikhailla dengan tatapan sayu. Kedua pipinya memerah. Wajahnya tampak bahagia.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★

__ADS_1



__ADS_2