Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 2


__ADS_3

"Ooowwaaaakkkk!", tangisan seorang bayi terdengar sangat kencang dan melengking di malam hari, di tengah hujan deras dan badai.


Seorang selir dari kekaisaran Hiton bernama Marrie melahirkan seorang bayi perempuan didalam istana pengasingan. Istana terpencil yang letaknya berada di daerah Puson, daerah yang paling jauh dari istana kekaisaran Hiton dan juga ibu kota.


Marrie melahirkan seorang putri cantik yang merupakan putri pertama dari kaisar Dhimitri Hiton.


Ditengah hujan yang sangat lebat disertai petir dan kilat yang menyambar, Marrie melahirkan putrinya tanpa di temani oleh sang Kaisar. Marrie hanya di bantu oleh seorang pelayan wanita yang selalu setia melayaninya tanpa seorang dokter.


Marrie merupakan putri dari sepasang suami-istri bangsawan biasa. Dia di angkat menjadi salah satu selir Kaisar dua tahun yang lalu saat usianya 20 tahun. Tetapi dia harus diasingkan karena telah mengandung putri pertama kaisar.


Sejak 100 tahun berdirinya kekaisaran Hiton, sudah menganut kepercayaan. Bagi Kekaisaran Hiton seorang putri pertama yang lahr dari seorang selir dianggap pembawa bencana dan kehancuran untuk kekaisaran Hiton.


Kaisar sengaja mengasingkan selir Marrie dan juga putrinya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ratu dan juga pendukung Ratu.


"Oowaaakkk!", bayi mungil yang masih merah itu menangis keras.


Melihat putrinya menangis, Marrie langsung menggendong dan memeluk putrinya dengan penuh rasa sayang dan kehangatan.


"Ya ampun putri Ibu yang manis, kenapa menangis Sayang?", kata Marrie cemas sambil mengayun-ayunkan putrinya pelan.


Seorang palayan yang berdiri mendampingi Marrie tersenyum lalu berkata, "Mungkin Tuan Putri lapar, Nona?"


Pelayan itu bernama Lisa, berkulit sedikit gelap dengan rambut pirang ikal.


"Benarkah, Lisa?", tanya Marrie dengan polosnya


"iya, Nona. Coba beri Tuan Purti asi?"


Marrie mengikuti saran dari Lisa, dia mulai membuka kancing gaunnya dan memberikan asi pada putri cantiknya yang memiliki warna mata violet dan rambut yang berwarna violet juga.

__ADS_1


Bayi itu langsung berhenti menangis setelah diberi asi oleh Marrie. Marrie tak bisa menyembunyikan tangis harunya nelihat bayinya yang begitu menggemaskan. Airmata menetes perlahan dari sudut-sudut matanya yang berwarna biru laut.


"Wah, benar-benar tidak menagis lagi. Kamu hebat, Lisa."


Astaga!, "Nona jangan bilang begitu! Tadi saya hanya menebak saja.", sahut Lisa dengan kedua pipi yang memerah karean senag dipuji oleh Marrie.


Marrie tersenyum seketika melihat wajah merah Lisa yang baginya lucu itu.


"Wajahmu lucu kalau lagi malu."


"Nona, jangan menggoda saya terus!"


"Ahaha" Marrie tertawa ringan sambil mengusap air matanya denga punggung tangan kanannya.


"Ngomong-ngomong, Nona. Apa Nona sudah menemukan nama yang tepat untuk Tuan Putri?"


Marrie diam dan berfikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya bicara, "Selama ini aku belum pernah kefikiran sebuah nama untuk anakku."


"Oh, aku teringat sebuah nama. Dulu ibu pengasuhku sering menceritakan kisah seorang putri cantik dari sebuah kerajaan peri. Namanya Mikhailla. Gadis itu peri sekaligus putri yang kuat dan juga adil. Akhirnya dia menjadi Ratu dari kerajaannya. Aku ingin memberi nama putriku Mikhailla. Iya, Mikhailla Hiton."


"Waah, itu nama yang indah Nona. Putri Mikhailla Hiton. Bagus.", sahut Lisa terlihat amat senang.


Kedua wanita itu terlihat bahagia dengan kehadiran Mikhailla. Mereka tampak senang walaupun hujan turun dengan sangat lebat, tanpa menyadari ada sesosok bayangan yang sedang mengintai mereka dari dekat.


* * * * * *


Setelah Andin membuka pintu, Andin dikejidkan dengan keberadaan dua orang wanita di sebuah ruangan yang begitu asing untuk Andin. Ruangan itu terlihat dipenuhi dengan barang-barang mewah tapi kuno. perabot dan juga furnitur rumah itu juga antik dan unik. Seperti di kerajaan-kerajaan barat.


"Dimana aku?", tanya Andin pada dirinya sendiri seraya mengamati dua orang wanita itu. Seorang wanita yang sedang mengeram kesakitan karena akan melahirkan dan seorang yang lain terlihat cemas dengan membantu wanita yang berwajah cantik itu melahirkan.

__ADS_1


Andin lalu bejalan mendekati mereka.


"Maaf Nyonya, ini dimana ya?", tanya Andin dengan muka bingung kepada dua orang wanita itu.


Tetapi dua wanita itu tidak menjawab. Bahkan mereka tidak menoleh sama sekali pada Andin.


Andin kembali bertanya sambil berjalan mengikuti si wanita yang memakai seragam pelayan itu melangkah.


"Hai, Mbak. Mau nanya, ini dimana ya?"


Wanita itu tak menjawab, seperti tadi hanya cuek.


Andin mulai terlihat kesal. Wajahnya sudah terlihat masam.


"Heee, dasar! kamu tuli ya?", sentak Andin jengkel.. Sudah tidak ada formalitas lagi.


Tetapi lagi-lagi wanita itu tidak menjawab.. Hal itu membuat Andin semakin kesal saja.


Astaga! Apa dia beneran tuli?


Fikir Andin dalam hati.


"Oooiii, Mbak! Saya nanya baik-baik lhoh!"


Tidak ada sahutan


Andin semakin marah dan jengjel. Dia hendak memukul si pelayan itu tetapi tidak bisa. Tengan Andin tidak bisa menyentuh perempuan itu. Andin sangat kaget. Dan yang lebih mengejudkan lagi, saat Andin melihat tangannya sendiri yang tembus pandang seperti gambar wattermark.


"Ap.. Apa-apaan iniii? Kenapa aku tembus pandang begini? Apa aku sudah wafat? Tapi ini dimana? Kalau sudah mati kan seharusnya aku ada di surga! yah, paling tidak di pinggiran surga lah, bukan neraka. Aku kan bukan orang jahat. Tapi kenapa aku malah...?! Oh my, jangan-jangan aku jadi arwah gentayangan?! uuuhh, Rimaaa!! Ekaaa!! Tolong akuuuu!!"

__ADS_1


Teriakkan Andin melengking hebat sampai membuat petir. Tetapi Marrie dan Lisa tidak menyadarinya.


* * * * * *


__ADS_2