Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 14


__ADS_3

Setelah memenmpuh perjalanan melelahkan yang tidak begitu jauh, Leon bersama Mikha tiba juga di tempat yang mereka tuju. Pasar daerah Girgin.


"Woooaaah!",


Mikha tampak terlihat senang. Kegembiraan terpancar dari wajahnya. Matanya berbinar-binar menyaksikan banyak orang yang ramai memenuhi pasar.


Ada banyak orang yang berbeda dan mengenakan pakaian berbeda-beda pula. Ada orang yang berkulit putih, hitam, bertubuh tinggi, tidak terlalu tinggi, ada pedagang ada juga pembeli.


Sangat menyenangkan. Membuatnya dapat mengenang kehidupan sebelumnya. Di kehidupan sebelumnya juga ramai saat dipasar tradisional. Semua orang terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Bertransaksi atau sekedar bersenag senang mencari suasana baru selain ke mall.


Leon sudah turun duluan dari kudanya. Dia tersenyum puas melihat Mikha yang tak henti-hentinya tersenyum dari tadi. Rasanya Leon jadi tidak tega untuk mengusik senyum itu.


"Kita sudah sampai. Ayo, turun Mikha!", kata Leon sambil mengulurkan tangan kanannya pada Mikhailla.


Mikha beralih menatap Leon. Dia menyambut uluran tangan Leon yang berniat membantunya untuk turun dari kuda. Mikha sedikit takut saat turun. Bola matanya yang bergetar terlihat jelas oleh Leon.


Dengan penuh pengertian Leon membimbing kedua tangan Mikha mengalung dilehernya. Walaupun dia takut Mikha merasa tidak nyaman dengan tindakan Leon tersebut.


Mikha cuma diam. Dia faham Leon merasa kurang enak dengan perilakunya sendiri.


"Jangan takut! Aku akan menangkapmu. Cepat turun!"


"Oh, Oke.", jawab Mikha singkat. Dia melompat saja tanpa aba-aba. Tetapi untung saja Leon selalu sigap. Tubuh Mikha langsung ditangkap dalam gendongannya.


Sedikit terhuyung Leon menangkap Mikhailla, tapi tak sampai terjatuh.


Hehe, "Aku berat ya?", tanya Mikha meledek Leon. Setelah keduanya berjalan beriringan ditengah jalan-jalan pasar diantara banyak orang


Ekhem! "Ya, Badanmu makin berat melebihi sekarung beras.", balas Leon meledek Mikha.


"Aku memang banyak makan akhir-akhir ini. Tapi rasanya berat badanku stabil tuh! Kamu saja yang lembek. Lihat bahu apa ini? Kurang kokoh. Tidak bidang dan kurang berisi!"


Bug! Bug! Mikha menepuk-nepuk bahu Leon yang sebetulnya amat kokoh dan kekar walau umurnya baru 17 tahun


Oho! "Benarkah? Kamu akan menyesal sudah mengatakan itu.", sahut Leon ketus sembari mempercepat jalannya.


"Wah, dia marah?", gumam Mikha kaget. Dia juga mempercepat langkahnya mengikuti Leon. "Dia kayaknya nggak suka kalau ada yang merendahkan bentuk tubuhnya. Tapi kan benar, bahunya kempes."


Mikha tidak tahu karena dia belum pernah melihat Leon berlatih dengan bertelanjang dada. Kalau dia melihatnya, dia tidak akan berani bilang begitu.


Mikha juga tidak tahu, kedatangan Leon saat latihan rutin di champ pelatihan militer kekaisaran sangat ditunggu-tunggu oleh para lady putri bangsawan yang tergila-gila pada Leon, termasuk Tuan Putri ke-2 kekaiasaran Hiton, Emanuel Hiton.


Langkah keduanya terhenti didepan sebuah gedung yang didalamnya sedang diadakan pertunjukkan musik.


Leon menatap Mikha yang tampak begitu antusias dan tertarik ingin menonton pertunjukkannya.


"Ayo, masuk!", kata Leon tiba-tiba sudah datang sambil membawa dua lembar tiket di tangan kanannya. Di tangan kiri membawa kantong berisi makanan ringan dan minuman untuk mengisi perut saat pertunjukkan berlangsung.

__ADS_1


"Harus pakai tiket juga ya?"


"Iyalah. Emangnya kamu fikir menonton pertunjukkan itu gratis?", menggerutu.


"Maksudku kukira cuma langsung bayar tanpa perlu tiket."


Leon faham mengapa Mikha bertanya. Ini pertamakalinya Mikha keluar, jadi wajar dia tidak tahu. Mereka masuk dan segera duduk di kursi tengah yang kosong.


Selama 60 menit pertunjukkan itu berlangsung. Mikha tampak gembira menikmati lantunan musik klasik dari pertunjukkan itu.


Berbeda dengan Leon. Leon terlihat gelisah. Matanya selalu waspada berkeliaran mengamati sekelilingnya. Sejak tadi dia merasa ada yang mengikuti mereka.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Setelah pertunjukkan selelsai Mikha menarik Leon menuju ke lapak pedagang jagung bakar.


"Leon, jagung bakarnya baunya wangi benget! Aku mau jagung bakar."


Leon mengeluarkan beberapa keping koin emas dari kantongnya.


"Ini, beli makanan apapun yang kamu inginkan aku akan menunggu disini.", kata Leon menyerahkan kepingan koin emas itu pada Mikha.


"Beneran?", sentak Mikha girang. Mikha segera berlari seperti hewan yang baru lepas dari kandangnya setelah mendapat anggukan dari Leon.


Setelah Mikha tidak ada disampingnya, Leon bergegas mencari tahu siapa yang sengaja menguntit dirinya. Bola mata Leon mencari kesana kemari dengan liar dan waspada.


Tiba-tiba, lewat seorang laki-laki bertubuh tidak terlalu tinggi disamping Leon. Leon langsung menegur pria itu.


Pria itu menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Dia merasa sudah ketahuan.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Leon tegas.


Pria itu menunjukkan tanda lambang kekaisaran Hiton di pergelangan tangannya. Sambil berkata, "Ikuti aku tanpa bersuara!"


Leon mengikuti langkah pria itu tanpa mengatakan apapun. Dia tahu pria itu adalah orang kepercayaan kaisar. Melihat dari lambang yang berwarna emas menyala. Itu menandakan dia sangat dekat dengan kaisar..


Setelah berjalan tak begitu lama, langkah mereka terhenti di tempat yang cukup sepi.


Orang itu langsung menghunuskan pedangnya tepat di leher Leon sampai membuat Leon tidak dapat bergerak. Sebenarnya Leon bisa saja mengalahkannya. Tetapi Leon lebih memilih menunggu orang itu mengatakan maksudnya membuntuti Leon


"Kenapa kamu membawa Tuan Putri pertama keluar dari istana pengasingan?", tanya pria itu dingin dengan tatapan membunuh.


"Memangnya apa salahku membawanya keluar? Toh aku tidak membawanya kabur bukan?", jawab Leon dingin pula. Tatapannya tak kalah dingin dan sadis. Bahkan jauh lebih mengerikan dengan mata yang menyala merah.


"Dasar pengkhianat! Aku akan melaporkan kelancangan mu pada Yang Mulia Kaisar. Aku heran, kenapa yang Mulia mempercayakan tugas seberat ini pada anak bau kencur yang umurnya masih belum dewasa seperti mu, putra pertama Marquess Allan?."


"Laporkan saja! Itu artinya kamu sudah bosan hidup. Lalu kenapa kalau umurku masih 17 tahun? Kalau dari kemampuan aku jauh lebih unggul darimu..", sahut Leon tidak takut. Ujung sudut bibirnya tampak turun kebawah.

__ADS_1


"Lancang sekali kamu!", sentak pria itu. Gerakkan tubuhnya membuat ujung pedang di tangannya menggores leher Leon sampai bardarah.


Leon hanya tarsenyum sinis dan dingin. Lehernya yang berdarah tak membuat dia merasakan sakit sedikitpun. Justru malah membangkitkan amarahnya. Rasa ingin membunuhnya semakin kuat setelah mencium bau darahnya sendiri.


"Kamu sudah menggoreskan setitik luka ditubuhku. Kamu tahu apa artinya itu?" Nyawa dibalas dengan nyawa. Darah harus dibalas dengan darah.,"


Mata Leon menyala semakin tajam.


"Anak kurang ajar ini!! Berani-beraninya kamu mengancam orang kepercayaan Kaisar?!", sentak pria itu geram.


"Toh, Ayahku jauh lebih dipercayai oleh kaisar daripada kamu. Orang yang disembunyikan identitasnya oleh kaisar bahkan bisa dengan mudah dilenyapkan oleh kaisar kapanpun dia mau. Ppfft! Orang kepercayaan ya?", Kata Leon tersenyum sinis.


"Ternyata mulutmu jauh lebih tajam dari pedangmu anak muda!"


"Selagi aku masih bisa mengontrol diriku pergilah dan urungkan niatmu untuk melapor pada kaisar. Dan lagi aku beri kamu waktu 5 detik. Jika dalam waktu 5 detik kau belum menyingkirkan pedangmu dari leherku, maka pedangmu sendirilah yang akan memotong lidahmu! Satu!"


Dasar anak siaa..."


"Dua!"


"Aku akan membunuhmu sekarang juga!"


"Tiga!"


;Anak ini..."


"Empat!"


Pria itu semakin kesal dan ingin menghunuskan pedangnya kearah perut Leon. tetapii...


"Lima! Kamu ternyata lebih suka lidahmu terpotong ya?", dengus Leon dengan tenang sambil menghindari serangan dari pria berambut hitam itu. Dengan sigap Leon membalikkan badan membelakanginya. Dia membuat posisi dengan tenaga yang dia pusatkan ke lutut kaki kanannya dengan beban penuh di telapak kakinya dan kaki kanan sebagai penyangga penyeimbang tubuhnya.


Leon melakukan tendangan tepat mengenai dagu pria itu.


Pria itu langsung terjungkal kebelakang dan jatuh ke tanah. Pedang yang dia pegang sampai terlempar jatuh dihadapannya.


Leon sudah berdiri didepan pria itu dengan tampang sangarnya. Dia menunduk menatap pedang itu lalu memungutnya.


"Sial! Sial! Sial! Dia jauh lebih kuat dan pintar dari usianya.!", gumam si pria dalam hati merasa kesal dengan mulut yang berdarah karena tendangan Leon terlalu kuat.


Leon berjalan perlahan dan mendekat sambil membawa pedang ditangannya. Senyum di wajah dinginnya membuatnya semakin terlihat mengerikan.


Leon duduk dihadapan pria itu sambil berkata, "Apa kata terakhir yang ingin kamu ucapkan sebelum lidahmu itu ku potong, hem?" dengan suara lembut tetapi menakutkan.


"Kamu bukan manusia! Kamu mengerikan! Kamu monste...."


Craaakkkhhh!!!!

__ADS_1


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★



__ADS_2