Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 19


__ADS_3

Leon memang benar. Kaisar memang tidak memikirkanku. Kalau Kaisar memikirkanku, Dia pasti tidak akan pernah mengucilkanku dan ibu disini. Dia pasti akan melindungiku didalam istana kekaisaran Hiton. ucap Mikha tak henti memikirkan perkataan Leon tadi siang.


Mikha selalu mengingat perkataan Leon yang terlihat serius tadi itu. Disepanjang acara kejutan ulang tahun untuk Lisa, Mikha tidak bersemangat. Dia terlihat gelisah.


Kenapa dikehidupanku yang sekarangpun aku tidak menerima cinta dari Ayahku? Kenapa kedua Ayahku selalu membuangku? Apa aku tidak berhak memdapat cinta dari seorang Ayah? Apa pemderitaan, rasa sakit dan kematianku di kehidupan sebelumnya masih belum cukup untuk mendapatkan cinta dari seorang Ayah?


Apa kasih sayang seorang Ayah sangat mahal? Bukankah aku juga putrinya? Darah dagingnya? Mengapa dia membuangku? Mengapa dia tidak pernah menengokku walaupun hanya sekali? Apakah aku terlalu jadi beban untuknya?


Tuhan! Engkau mengambil kehidupanku sebelumnya dan membawaku kesini. Tapi mengapa Engkau menempatkanku sebagai Putri pertama kaisar yang membuangku?


Bermacam-macam kalimat tanya memenuhi kepala Mikha. Sebelumnya Mikha tidak ingin memikirkan itu. Tetapi aneh kalau tidak difikirkan.


Selama acara makan malam untuk Lisa, wajah Mikha terlihat murung dan begitu gelisah. Dia yang tadinya paling antusias tiba-tiba jadi pendiam dan tak banyak bicara.


Leon terus mengkhawatirkan perubahan sikap Mikha. Begitu juga Marrie. Dia merasa cemas melihat tatapan putrinya yang tampak hampa tak bersemangat.


"Kamu kenapa, Sayang?", tanya Marrie lembut sambil membelai pipi kanan Mikha.


Lamunan Mikha seketika buyar. Dia menatap ibunya dengan rasa keterkejutan, "Ya?"


"Kamu sakit?", tanya Marrie lagi dengan pertanyaan yang berbeda.


"Tidak kok, Bu. Aku baik-baik saja. Aku hanya kefikiran sesuatu tentang ayah.", jawab Mikha jujur.


"Ayah?"


Mikha hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya pelan-pelan lesu..


Marrie merasa benar-benar tidak tega melihat kesedihan diwajah Mikhailla. Mikha pasti sangat merindukan Ayahnya. Dia tidak pernah sekalipun bertemu dengan Ayahnya sejak lahir. fikir Marrie ikut bersedih.


Belum selesai acara berakhir, Marrie memutuskan membawa Mikha kekamarnya untuk beristirahat sejenak.


"Ibu.", ucap Mikha pelan saat berbaring ditempat tidurnya. Mikha terus memandang Marrie dengan tatapan yang sendu dan sedih.


"Kenapa? Ada apa, Sayang?", tanya Marrie sabar seraya mengusap-usap kepala Mikhailla dengan lembut.


"Ibu, apakah Ayah tidak mencintaiku? Apakah Ayah tidak menyayangiku? Kenapa Ayah membuang kita disini? Kenapa kita tidak tinggal di istana kaisar bersama anggota keluarga kekaisaran yang lain? Apakah aku tidak pantas untuk tinggal di istana yang besar itu bersama Tuan Putri ke-dua? Apakah aku dibuang karena aku hanya anak seorang selir?" hiks


Mikhailla mengatakan persaan hatinya pada Marrie dengan airmata yang perlahan membanjiri kedua belah pipi ranumnya.


"Sayaang...", sergah Marrie ikut bersedih.

__ADS_1


"Kenapa, Ibu? Kenapa aku dibeda-bedakan dengan Tuan Putri Emanuel? Kenapa aku tidak diakui oleh Ayah? apakah lahir dari ibu yang seorang selir itu dosa besar? Apakah aku disebut anak haram?" hiks


"Mikhailla, Putri ku sayang. Ayahmu sangat mencintaimu, Nak. Ayah juga sangat menyayangi Mikhailla. Ayah melakukan ini untuk melindungimu."


"Bukankah di istana kekaisaran perlindungannya jauh lebih baik daripada disini, Ibu? Ibu aku bisa merasakan kalau Ayah memang tidak mencintaiku. Ayah membenciku, Ibu." huhuhu


"Tidak Sayang. Jangan bilang begitu!"


"Tidak! Itulah kenyataanya!"


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan kamar Mikha sebelum terdengar suara dari Diego


"Marrie, boleh aku masuk?"


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Diego yang melihat dua wanita itu bersedih menjadi khawatir. Dia sangat mencemaskan Marrie dan keponakannya, Mikhailla. Apalagi Marrie yang sangat lemah dan selalu berkeinginan untuk pergi dari kekaisaran Hiton bersama putrinya.


Setelah acara ulang tahun untuk Lisa yang berjalan dengan tak begitu sempurna karena ketidak semangatan Mikha, Diego pergi menemui Marrie yang sedang menemani Mikha dikamar Mikha.


Tok! Tok! Tok!


"Marrie, boleh aku masuk?"


Diego segera masuk setelah suara Marrie menyilakannya masuk. Dia melihat Marrie sedang memeluk Mikha yang sedang menangis.


Diego ikut duduk disamping kiri Mikha. Di tepuk-tepuknya pelan pundak gadis berusia 15 tahun itu dengan penuh perhatian.


"Kamu merindukan Ayahmu, Mikha?", tanya Diego.


Mikha tidak menjawab. Daripada rindu, rasa kecewa dan sakit hati Mikha jauh lwbih besar pada Ayahnya.


"Sebisa mungkin aku akan bicara pada Baginda agar beliau menemuimu nanti."


"Paman!"


"Ya?"


"Apakah lahir dari seorang selir itu seperti lahir sebagai anak haram di kekaisaran ini? Kenapa aku dan Ibu di buang di tempat ini? Aku benci Ayah! Paman, aku juga ingin hidup nyaman seperti Tuan Putri Emanuel. Aku juga ingin tinggal di istana itu.. Aku bukan orang asing kan? Aku juga anak kaisar. Meskipun Ayah tidak menyayangiku, setidaknya biarkan aku dan Ibu hidup bebas tanpa di bayang-bayangi oleh nama kaisar. Itu saja."

__ADS_1


Mikha menangis sejadi-jadinya dalam pelukkan Marrie yang juga sedang menangis. Marrie juga sangat menderita melihat putrinya tampak begitu membenci Kaisar. Bukan merindukannya.


"Mikha, bukankah kamu punya Paman? Kamu punya Ibu. Dan kamu juga punya Leon. Kami sangat menyayangimu. Paman berjanji, suatu saat kita akan hidup bahagia, dengan atau tanpa kaisar."


Kata Diego dengan menatap tajam kearah lain sambil berkata dalam hatinya, "Kaisar Dimithri, aku benar-benar tidak akan tinggal diam jika kau membuat adik dan keponakanku menderita terus-menerus ditempat ini. Akan ku pastikan. Suatu saat kamu akan mendapat penderitaan yang lebih setimpal dari ini. Awalnya kamu membohongi Marrie dan aku. Lalu tindakanmu yang membiarkan adikku yang sedang mengandung tinggal ditenpat ini dan hanya menempatkan seorang pelayan saja. Penderitaan Marrie saat melahirkan. Aku akan membalas semua itu sampai kamu tidak ingat lagi bahwa kau adalah kaisar."


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Setelah bertemu dengan Marrie dan juga Mikha. Diego pergi menemui Leon yang tengah duduk menyendiri di tengah kegelapan malam dibawah pohon didekat taman. Dia sedang melamun duduk diatas rumput tanpa alas.


"Kenapa kamu belum tidur?", tanya Diego setelah duduk di sebelah kanan Leon.


"Saya belum mengantuk.", jawab Leon singkat.


"Leon apa kamu masih ingat saat kita berlatih pedang di belakang rumah kediaman Ayahmu dulu?",


"Ya.", jawab Leon lagi datar.


Diego menatap Leon sejenak. Dia melihat ada duka dan dendam yang tersimpan jelas di mata bocah laki-laki berusia 17 tahun disisinya sekarang.


Diego menghela napas berat lalu menghembuskannya lagi dengan kasar, "Haah! Dulu kamu benar-benar sulit sekali diatur. Kamu selalu kabur setiap kali Ayahmu memintamu untuk berlatih pedang. Lalu dengan susah payah Sheon membujukmu. Dia sampai mengorbankan makan siangnya untuk di berikan padamu agar kamu mau berlatih pedang. Sampai-sampai dia sakit perut karena kelaparan."


Diego bercerita mengenang masa lalunya dan masa kecil Leon bersama saudara kembar Leon, Arsheon saat masih berusia 3 tahun dan dipaksa Ayahnya untuk berlatih pedang.


Leon tersenyum masam seraya bergumam, "Sheon yang bodoh!"


Suara Leon terdengar penuh dengan kepahitan.


"Kamu tahu, kalian itu benar-benar mirip. Kalian bahkan tidak bisa hidup satu sama lain waktu itu."


"Karena Kaisar, aku kehilangan saudara sekaligus pelindungku. Aku masih tidak bisa melupakan kejadian delapan tahun yang lalu. Bagaimana Sheon dengan mudahnya terhasut ucapan manis kaisar. Kalau saja aku bisa mencegah Sheon pergi ikut kaisar ke medan perang dan menggantikan dia, mungin Sheon masih hidup sekarang."


"Aku minta maaf soal itu Leon. Aku yang tidak bisa melindungi adikmu. Aku benar-benar menyesal.", kata Diego dengan suara bergetar.


"Padahal dulu kaisar berjanji akan memberikan penghargaan dan penghormatan pada Sheon jika Sheon gugur. Tapi kenyataannya, Kaisar seolah-olah lupa dan tidak pernah mengatakan itu."


Hati Diego juga ikut bergetar mendengar suara Leon yang juga datar dan bergetar.


"Bahkan Ibuku jadi stress dan meninggal karena sakit-sakitan tidak bisa menerima kepergian Sheon. senyum Ibuku menghilang saat itu juga. Aku masih ingat pesan terakhir dari Ibu. Dan aku tidak akan melupakan itu. Selamanya, Kaisar adalah seorang penjahat di mataku."


Diego meletakkan telapak tangan kirinya di pundak Leon lalu menepuk-nepuknya pelan. Dia berusaha menghibur Leon.

__ADS_1


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★



__ADS_2