Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 7


__ADS_3


"Papa dirumah?"


Andin hendak berjalan masuk ke dalam rumah. Tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara dua orang yang sedang bertengkar diselingi bunyi hantaman benda yang sengaja dilempar.


Andin tidak berani masuk dan memilih untuk duduk disamping kiri pintu sambil menguping pertengkaran dua orang didalam rumah itu.


"Buang! Ayo, lempar semuanya! Banting! Kamu itu bisanya hanya marah-marah dan menuduh orang sembarangan!"


Suara seorang laki-laki berteriak membentak.


"Mereka bertengkar lagi..."


Desis Andin.


Dia kembali teringat dengan keadaan rumahnya yang berantakan seperti kapal pecah. Begitu lelah dan kesusahannya Andin saat membereskan rumah.


Andin meringis mengatupkan giginya kesal sambil mengumpat dalam hati, "Dasar orangtua tidak tau diri! Kenapa mereka selalu bertengkar dan membuat rumah berantakan? Apa tidak bisa, bertengkar sewajarnya? Dengan ngomel aja begitu tanpa harus memecahkan barang? Atau kalau tidak ya di bereskan setelah bertengkar? Kan nggak begitu nyusahin orang lain lagi! Ya, Gustiii! Aku akan kerja rodi lagi deh!"


"Kamu itu tukang bohong! Kesana-kemari gonta-ganti wanita! Memangnya aku nggak tahu, haaa?! Aku tahu setiap malam kamu selalu pergi ke hotel dengan wanita yang berbeda? Berkencan dengan banyak wanita! Menjijikkan!", teriak suara Anita dari dalam tidak kalah memburunya.


Praaangkhh!!


"Menjijikkan kamu bilang?"


"Iya!"


"Kamu yang lebih menjijikkan! Kamu sudah tidur dengan laki-laki lain sebelum kita menikah dan mengandung anak laki-laki itu! Kamu perempuan j*lang yang tidak tahu diri! Kamu lebih menjijikkan daripada seorang pel*cur!"


"Dia itu anakmuu! Mau sampai kapan kamu menutup mata?"


"Dia bukan anakku! Dia anak harammu bersama pria itu! Aku muak setiap kali melihat wajahnya yang tersenyum didepanku seperti anak yang tidak taudiri! Wajahnya itu membuatku jijik dan ingin membunuhnya"


"Tega sekali kamu berkata seperti itu pada anakmu sendiri? Padahal dia itu memang jelas anakmu! Andin itu anakmuu!"


"Tidaak! Dia itu anak haram! Dia anakmu bersama Ayahku!"


"Kamu! Bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Jadi selama ini kamu berfikir bahwa Andin itu anak Ayahmu? Aku tidak menyangka darimana kamu mengarang kata-kata itu? Padahal kamu sendiri tahu keadaanku saat pertama kali kamu melakukannya dengan ku. Tapi kamu malah menuduhku yang bukan-bukan untuk menutupi kesalahanmu! Laki-laki brengs*k! Kamu brengs*k! Kamu b*jing*n! Aku menyesal suda menikah denganmu dan mengandung anakmu! Dasar brengs*k! Mati saja kamuuu!!", kalimat Anita diakhiri dengan nada tinggi di akhir kalimat sambil di barengi dengan bunyi hantaman benda-benda yang dilemparnya kearah suaminya.


Andin yang mendengar semua kenyataan itu hanya duduk terdiam shock. Bersandar di tembok dengan menyulupkan wajahnya didalam lipatan tangan di atas kedua lututnya dan menangis terisak.


Bibirnya tidak mampu berkata apa-apa. Seluruh tubuhnya gemetaran. Hatinya serasa tercekik. Mengetahui dari mulut Papanya sendiri bahwa Andin hanya anak. haram.


"Aku... Aku anak haram? Aku bukan anak Papa? Papa salahkan? Pasti benar kata Mama kalau aku anak Papa! Papa mengatakan itu pasti untuk menutupi kesalahannya? Begitu kan? Aku bukan anak haram! hiks! Aku anak Papa! Aku anak Mama dan Papa. Siapa yang harus ku percaya? Mama? Atau Papa? Selama ini keduanya tidak pernah menyayangiku. Siapa yang harus ku percaya?", huhuhu.


Andin menangis tersedu-sedan sampai benerapa lama baru dia memberanikan diri untuk bangun dan masuk ke dalam rumah setelah tak terdengar suara pertengkaran orangtuanya lagi.


Dengan langkah hati-hati Andin berjalan sambil menahan sengguk-sengguk tangisnya.


"Itu dia anak sialan baru pulang!!", tegur suara Papa Andin menghardik.


Andin yang mukanya tertunduk, tak berani menoleh menatap Papanya. Pundak Andin bergetar karena takut.


"Darimana saja kamu, hah? Apa kamu juga habis pergi menjajakkan tubuhmu pada Om-Om di luar sama seperti Mamamu yang jal*ng itu?"


Andin tidak menjawab. Dia lebih memilih untuk diam dan segera menghindar. Andin memalingkan muka.


Melihat sikap anaknya yang dingin membuat Papanya Andin jadi geram dan naik pitam.


"Hei, kalau orangtua sedang bicara itu lihat orangnya! Jangan menghindar! Sial*n!", Ketus Papanya Andin sambil menarik lemgan tangan kanan Andin dengan kasar.


Andin terbanting kebelakang terhuyung ke lantai. Saat dia mendongak mengalihkan tatapannya ketempat lain, dia melihat tubuh Mamanya tergeletak tidak bergerak disisi kuersi kayu yang terbalik.

__ADS_1


Andin memekik pelan. Seluruh bulu kuduknya jadi merinding. Matanya terbelalak lebar tak berkedip sedikitpun. Detakkan jantungnya berhenti seketika.


Anita tergolek tak berdaya dengan tubuh tengkurap. Dari kepalanya mengalir banyak darah yang begitu merah tanpa henti. Dia sudah tidak bergerak lagi. Tubuhnya mengejang dan kaku.


"Ma...namaa?", desis Andin hampir setengah tidak bersuara dan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Air matanya mengalir dengan begitu deras.


Andin berrgerak merangkak perlahan mendekati Mamanya.


"Mamaa?! Hiks! Mamaaa! Mama banguun! Mamaaaa!!!", teriak Andin sambil menggoyang-goyangkan pundak Mamanya. Tangan Andin gemetaran. Darah di tubuh Mamanya terlihat menakutkan. Mengenai kedua tangan Andin.


Tubuh Andin membeku. Beberapa kali giginya mengatup dengan cepat..


"Mamaaa! Andin minta maaf atas sikap Andin selama ini. Andin sayang sama Mama! Bangun, Maaa! Andin nggak apa-apa Mama nggak sayang sama Andin. Hiks! Mama memukul Andin. Tapi Mama harus bangun! Bangun, Ma!", huhuhu


Andin menangis histeris. Dia lalu membalikkan tubuh Mamanya yang bersimpah darah dan meletakkan kepala Mama dipangkuannya.


"Mamaaaaa! Baanguuunnn!! Banguuun, Maaaa!!", teriak Andin lagi. Dia peluk tubuh Mamanya yang sudah kaku namun dari mulut dan hidungnya masih mengalir darah yang segar.


"Dia sudah mati", kata Papanya Andin dengan suara datar tanpa penyesalan. Ditangan kanannya sudah membawa sebilah pisau dapur yang berlumuran darah.


Andin terkejut dan menoleh kebelakang kearah suara Papanya berasal. Papanya sudah berdiri tepat dibelakang Andin. Dengan tangan berlumuran darah. Darah Anita.


Pandangan mata Papanya Andin terlihat tajam dan menakutkan. Ada aura hitam yang menyelubunginya. Tatapan sejurusnya itu seoalah-olah ingin membunuh Andin.


"Pa...papa membunuh...ma..mamaa? Papa sudah mem..mbunuh Mama! Papa jahat! Papa kejam! Papa Iblis! Papa memang bukan Papaku! Aku benci Papa! Papa monster!", teriak Andin


"Diiiaaammm!!"


"Aaaarrkkkkhhh!! Kukh! Uhukkh!", Andin memekik nyaring saat Papanya dengan brutal menghujamkan pisaunya keperut Andin beberapa kali.


"Diam kamu dasar anak haram! Anak setan! Lebih baik kamu menyusul Mamamu yang Jal*ng ke neraka! Itu akan lebih baik untuk kalian! Matilah kalian dengan tenang!", gerutu Papanya Andin dengan tanpa ampun mencabik perut Andin dengan pisaunya sampai puas.


Tubuh Andin terhuyung dan ambruk seketika dilantai. Darah mengalir seperti air dari perutnya. Seluruh tubuhnya bersimpah darah.


"Huukh! Pa...papa o...or..rang yang... sangat ja..jahat! Uuukkh! Ak.. akku ti..dak ak...an per...nah memmaaf..kan pap...paa...! Huuukkhh!!", kata Andin terbata-bata. Dari mulut dan hidungnya juga mengalir darah yang amat deras.


Mata Andin yang berlinangan airmata semula terbuka lebar perlahan menutup dan terpejam separo rapat. Tubuh Andin sempat kejang-kejang beberapa kali sebelum benar-benar tidak bergerak tergeletak tidak tergoyak disisi jasad Mamanya.


Keduanya tewas dengan keadaan yang begitu mengenaskan bercucuran darah.


Sementara Papanya Andin hanya terduduk sendirian menatapi jenazah dua orang wanita dihadapannya tanpa rasa bersalah dan penyesalan sedikitpun di matanya.


* * * * * * *


Beberapa saat dia terdiam dengan mata kosong. Tangannya yang kaku berlumuran bercak darah itu gemetaran.


Tak lama kemudian, airmata mengalir dari sudut-sudut bola matanya. Tetapi bukannya menangis. Papanya Andin malah tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Tidak ada ada rasa simpatik dam belas kasih pun pada anak dan istrinya.


"Buahahahaa! Bagaimana? Sekarang kalian sudah tenangkan? Iya kan? Iya dong?! Hhaahah! Hidupku akan jauh lebih tenang tanpa adanya dua perempuan sial*n ini! Hahahaha! Hiks! Maafkan aku istriku tercinta?! Hahaha, hiks!"


Triiiiiing!


Tangis tawa Papanya Andin terhenti saat mendengar bunyi suara ponsel dari dalam tas Andin.


Dia membuka tas Andin lalu menerima panggilan video dari Rima.


"Halo!", kata suara Papa Andin dingin


"Eh, Om. Andinnya mana, Om? Saya boleh bicara sebentar tidak?", kata Rima ketika melihat dilayar ponselnya yang muncul gambar Papanya Andin.


Papanya Andin menjawab sambil mengarahkan kamera ponselnya kearah jasad Andin, "Dia suda mati bersama Mamanya! Ahahahaha!!"


"Kyaaaa!!!"

__ADS_1


Rima berteriak kencang saat melihat ponselnya. Dia sampai melempar ponsel itu ke kasur lalu berlari menuju kamar Papa dan Mamanya.


"Papaaaa! Mamaaaa! aku takuutt!", teriak Rima berlari ketakutan masuk kedalam kamar orangtuanya. Rima langsung menubruk Papanya dan memeluknya erat sambil meracau menangis ketakutan. Sekujur tubuhnya gemetaran dan dingin.


"Papa, aku takut.", bisik Rima terkikuk-kikuk.


"Kamu kenapa, Sayang? Tubuh kamu gemetaran dan dingin banget loh.", sahut Papanya Rima kuatir.


Huhuhu, "Pa...Papa, An..Andiiinn! An....Andin, dan...dan Mamanya.... Me..mereka ma..mati, Paaa... Maaa!"


"Apa?", sontak Mamanya Rima yang sedang main hp di kasur jadi kaget.


"Andin teman kamu itu?", tanya Papaya Rima manambahi Mamanya Rima.


Hiks!, "I...iya. Pa, Papa harus kerumah Andin. Papa harus menangkap Papanya Andin!"


"Tunggu dulu! Menangkap?"


Rima menarik tangan kanan Papanya menuju kamarnya. Dia menunjuk ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidurnya. Dari ponsel itu masih terdengar suara tawa Papanya Andin.


Perlahan Papanya Rima meraih ponsel anaknya. Betapa shock dan terkejutnya dia saat meliha Tubuh dua orang perempuan yang tidak bergerak mengenaskan di lantai berlumuran darah.


"Orang gila!", sentak Papa Rima


Kemarahan Papa Rima langsung membludak. Dia langsung menelepon kantor polisi.


* * * * * * * *


Dirumah Andin.


Banyak orang berkerumun di sekitar rumah Andin yang di beri garis pembatas oleh polisi.


Papa Andin langsung di bawa kekantor polisi. sementara benerapa orang polisi lain mengurusi jasad Andin dan Mamanya.


"Andiiinnnn!", teriak Rima histeris saat melihat tubuh Andin dibawa keluar oleh para polisi.


"Huhuhu, Andiiiiinnn!!!", teriak Eka tak kalah histeris.


Rima dan Eka hendak berlari mendekati jasad Andin, tetapi Papa mereka menahan mereka dan memeluk mereka erat.


"Papa, Andin Paaaa! Kenapa Andin matiii?", teriak Eka histeris dan berontak


"Paaa, bangunin Andin, Paaa! Andin nggak boleh mati!!! Kita belum pergi liburan sama-sama Andin. Aaaannndiiiinnn!" teriak Rima tidak terima sahabatnya pergi meninggalkannya.


Huhuhuhu, "Andiiiinnn! Andin banguuun! Aku beneran marah kalau kamu nggak banguuun!! Banguuuuuunnn!!!", teriak Eka


Kedua sahabat Andin terlihat sangat shock dan sedih. Mereka tidak terima dengan kepergian Andin.


Padahal tadi siang Andin masih tertawa bersama mereka. Sekarang diantara mereka tidak akan ada lagi keberadaan Andin. Suara tawanya yang riang. Keceplas-ceplosannya. Sikapnya yang dewasa. Semua itu tidak akan ada lagi. Semua itu hanya akan menjadi kenangan yang akan selalu mereka ingat dalam hidup mereka.


* * * * * * * *


Saat dipemakaman Andin, Eka dan Rima masih tidak henti-hentinya menangis. Keduanya saling nemeluk disamping kuburan Andin yang bertaburan bunga


Perasaan tak sanggup dan tak pecaya masih menghinggapi jiwa mereka.


Huhuhu, "Andiiinnn. Hiiikks! Se...semoga kamu bahagia disana. Huhuhuk! Semoga disana kamu bisa tertawa. Aku dan Eka akan selalu mengingat dan memdoakan kamu.", kata Rima berusaha berbesar hati menerima kepergian sahabatnya


Hhuhuhuhu, "Selamat jalan, Andin! Kami sangat menyayangi kamu!"


** * * * * * *


__ADS_1


__ADS_2