Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 11


__ADS_3

"Hhiiiihh!", geram Mikhailla sambil mencubit lengan tangan kanan Leon dengan muka kesal.


Sekarang Leon yang ketawa.


Keduanya saling diam untuk beberapa saat. Menyaksikan hamparan bunga warna-warni. Angin yang bertiup halus menerpa wajah keduanya. Angin itu membuat rambut Mikhailla jadi beterbangan ditiupnya


Leon menoleh memandang Mikhailla.


Gadis itu terlihat sangat cantik dengan senyum yang selalu merekah.


Jantung Leon kembali berdegup dengan kencang menyaksikan kecantikan gadis disebelah kanannya. Kedua pipinya kembali memerah. "Dia benar-benar cantik. Andai aku bisa bersamanya selamanya..", ucapnya dalam hati mengagumi kecantikan Mikhailla.


Menyadari itu, Leon langsung buang muka. "Aku mikir apasih? Mana boleh seorang kstaria rendah sepertiku memikirkan hal kurang ajar begini pada Nona-nya? Mikhailla adalah calon Ratu dimasa depan. Sedangkan aku hanya putra dari seorang marquess. Aku harus menjauhkan perasaan ini dari hatiku. Aku tidak boleh tergoda!"


"Hhei, Leon!", sentak Mikhailla membuyarkan lamunan Leon seketika.


"Hem?", Leon tersadar.


"Kamu melamunin apasih?"


"Tidak. Bukan apa-apa.", jawab Leon tidak berani jujur.


"Jangan bilang kamu mikirin hal kotor lagi?", menatap sejurus.


"Sudah jangan ingatkan aku dengan yang kemarin lagi! Gara-gara itu aku juga nggak bisa tidur.", aku juga malu tahu


"Haaallooo! Permisi broow! Harusnya aku yang bilang begitu! Kan kamu yang enak. Dasar!", sergah Mikhailla lalu mendorong pundak kanan Leon sampai Leon berguling ke samping


"Aduuh! Ahaha. Itu pemandangan langka. Yah memang seharusnya tidak dilupakan." jawab Leon bergurau.


"Hiiiiiyyy! Dasar kamuuuu!", geram Mikha sambil menarik kerah Leon. Tapi bukan Leon yang dia tarik. Justru Leon yang menariknya.


Wajah keduanya begitu dekat 3 cm. Jika bergerak sedikit saja maka hidung mereka akan bersentuhan.


Debaran-debaran itu muncul lagi. Seketika Leon membuang muka dari Mikha. Begitu juga Mikha. Keduanya duduk saling menjauh.


"Uuh, aku kenapasih?", fikir keduanya merasakan ada yang panas dipipi mereka.


Keadaan menjadi sangat canggung dan tidak nyaman.


"Ekhem! Ekhem!", Leon pura-pura batuk


"Ummm, Le...Leon. Apa kamu tahu siapa yang datang tadi malam kekamarku?", tanya Mikhailla mengalihkan obrolan dengan membuat topik baru.


"Tidak. Tidak ada yang datang tuh!" jawab Leon berbohong.


"Massa sih? Apa aku cuma mimpi ya?"


"Bisa jadi. Kamu kan suka menghayal.", meledek.

__ADS_1


"Apa iya?"


Leon mengangguk. Dia masih berusaha mengatasi ketegangan dirinya. ruang lingkup geraknya seakan-akan terbatas setiap didekat Mikhailla.


"Ya, tapi massa aku menghayalkan pria masuk kekamarku? Kamu gila ya?", protes Mikhailla melotot pada Leon.


"Aku mana tahu isi otakmu! Yang tahu ya kamu sendiri. Sudah jangan bahas itu! Jawab saja pertanyaanku yang kemarin?"


"Hmmm? Pertanyaan yang mana?"


Leon mengubah posisi duduknya mencari posisi nyaman.


"Pertanyaan yang kemarin. Gimana bisa kamu tenggelam disungai? Apa kamu disana dengan seseorang? Um, atau sendirian?"


Mikhailla kembali mengingat-ingat kejadian sebelum Mikhailla yang asli jatuh ke sungai. Tetapi dia tidak mengingatnya. Yang dia ingat hanya kejadian beberapa saat sebelum jatuh ke sungai bersama seorang gadis yang dia ingat bernama Nuel.


Leon menatap Mikhilla tanpa ekspresi. menunggu jawaban darinya.


"Aku lupa. Yang ku ingat aku ada di atas tebing bersama seorang gadis muda bernama Nuel. Hanya itu saja."


"Nuel?", Leon menunjukkan ekspresi terkejudnya.


"Kamu mengenalnya?"


"Kamu kan juga mengenalnya."


"Aku mengenalnya?


"Jadi dia adikku? Tidak adil!", Mikhailla menggumam.


"Mikha, sedang apa kamu disana bersama Tuan Putri ke-2? Jangan bilang...", Leon tidak berani melanjudkan ucapannya.


Mikhailla mendekatkan mukanya ketelinga kanan Leon dan membisikkan beberapa kata padanya.


"Dia yang mendorongku ke sungai."


"Aapaaa??!", sentak Leon berteriak kaget. "Kamu serius, hppph??", ucapan Leon tertahan karena mulutnya di bungkam telapak tangan Mikhailla.


"Jangan keras-keras! Nanti ada yang dengar."


Leon yang kesulitan bernapas menganggukkan kepalanya, "Kamu beneran? Nggak asal nuduh kan? Meskipun kamu Putri pertama, tapi kalau kamu menuduh sembarangan anggota keluarga kekaisaran tanpa bukti, kamu biasa dihukum pancung." setelah mulutnya dilepasakan oleh Mikhailla.


"Kalau kamu tidak percaya padaku, mending lupakan saja. Anggap aku nggak pernah bilang ini."


Mikhailla memalingkan wajahnya. Wajahnya tampak sedih. Dia tidak menyangka kalau Leon akan mengatakan itu.


"Bukan begitu. Bukannya aku nggak percaya padamu. Tapi....", Leon tidak sanggup melanjudkan ucapannya. Dia takut Mikhailla salah mengartikannya.


"Aku nggak marah kok Leon. Biar masalah ini aku yang urus sendiri. Dari awal memang keadaan selalu tidak pernah adil padaku. Kamu tidak perlu percaya padaku itu hak mu."

__ADS_1


"Mikha jangan marah! Aku... "


Leon benar-benar bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Mikhailla. Dia merasa serba salah.


Mikhailla lalu bangun. "Aah, aku lupa belum minum obat. Aku pergi dulu ya.", katanya dengan suara bergetar. Rasanya seperti ada yang menusuk dadanya sampai membuatnya sesak. Mengatahui Leon tidak mempercayainya dan malah meragukan ucapan orang yang sudah bersamanya selama 12 tahun. Tanpa dia sadari airmatanya mengalir.


Leon meraih tangan kiri Mikhailla.


"Mikha? Maksudku bukan itu. Maafkan aku."


"Tidak apa-apa, Leon. Aku mengerti kok. Orang nggak akan percaya kalau nggak ada bukti. Sekalipun itu sahabatmu sendiri yang hampir mati. Umm, tolong lepaskan tangan ku.", kata Mikha menguatkan hatinya.


Leon tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa terdiam menyaksikan kekecewaan dimata Mikhailla. Perrlahan dia melepaskan cengkraman tangannya.


Setelah tangannya dilepas oleh Leon, Mikhailla segera berlari meninggalkan Leon.


Leon menatap kepergian Mikhailla tanpa bisa mencegahnya. Dia faham kekecewaan gadis itu.


"Apa benar yang Mikhailla katakan? Yang Mulia Tuan Putri ke-2 yang mendorongnya? Kenapa? Bukankah selama ini mereka akrab dan baik-baik saja? Apa jangan-jangan..."


Leon teringat pada mantel bulu yang pernah diberikan Tuan Putri ke-2 untuknya. Tetapi karena mantel itu tidak cocok untuk Leon, Leon pun memberikan mantelnya pada Mikhailla tanpa sepengetahuan Tuan Putri ke-2. Leon tidak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Dia tidak pernah berfikir Putri ke-2 sejahat dan sekejam ini.


"Ini ada hubungannya dengan mantel bulu itu? Apa Tuan Putri ke-2 tahu kalau aku memberikan jaket itu pada Mikhailla? Kalau itu benar, maka akulah yang salah disini. Mikhailla pasti sangat kecewa padaku. Aku harus memohon maaf padanya. Tapi sebelum itu aku harus memastikan kebenarannya dulu."


Leon beebicara pada dirinya sendiri. Beberapakali dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya lagi dengan kasar.


Leon segera berlari mengejar Mikhailla. Tetapi tampaknya Mikhailla sudah masuk ke dalam kamarnya.


Leon sudah berdiri didepan pintu kamar Mikhailla.


"Leon?"


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Leon sedang duduk dikursi diruang makan bersama Marrie dan Mikhailla didepannya disebrang meja.


Leon tidak henti menatap Mikhailla. Meskipun sedang makan, bola matanya selalu melirik gadis itu.


Mikhailla sendiri selalu memalingkan muka dan tidak memerdulikan Leon.


"Aku nggak menyangka kalau Leon nggak mempercayai ucapan sahabatnya sendiri. Bagaimana jika yang mengatakan itu Mikhailla yang asli? Dan Leon mengatakan hal yang sama? Aku tidak bisa bayangkan betapa sedihnya Mikhailla. Dia pasti lebih terluka.", ucap Mikhailla dalam hati sambil menyuap steak daging dihadapannya.


"Mikha, maafkan aku.", tatapan Leon yang menatap Mikhailla soelah meminta maaf dan menyesal.


Marrie yang dari tadi menyaksikan kebisuan Leon dan Mikhailla jadi resah. Dia merasa suasana hati Mikha sedang buruk Tidak biasanya Mikhailla dan Leon saling bersikap dingin.


Suasana diruang makan juga jadi dingin seperti di musim salju. Marrie tidak nyaman dengan keadaan ini.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★

__ADS_1



__ADS_2