Hanya Sebuah Mimpi

Hanya Sebuah Mimpi
Chapter 10


__ADS_3

Mungkin karena lelah, hari belum beranjak petang, Andin sudah tertidur lelap di kamarnya. Dia benar-benar lelap sampai tidak mengetahui kehadiran seseorang di kamarnya.


Orang itu adalah Kaisar. Dimithri Hiton. Kaisar sedang duduk ditepi tempat tidur tepat disamping kanan seorang gadis yang tertidur lelap.


Kamar itu tidak terlalu terang karena hanya lampu tidur yang menyala. Kamarnya terlihat remang dan cukup tenang.


Kaisar Dimithri terus menatap putrinya sendu. Dia usap-usap kepala putrinya begitu lembut penuh kasih sayang. Dia amat merindukan putrinya itu. Putri yang tidak pernah ditemuinya sejak lahir sampai usianya 15 tahun.


"Mikhailla, putriku. Maafkan Ayah karena tidak pernah menemuimu selama ini. Ayah tidak bermaksud menyakitimu. Kamu tahu Ayah juga sangat tersiksa ketika harus berpisah dengan ibumu saat sedang mengandungmu.", kata Dimithri dengan suara hangat.


"Ayah melakukan ini demi kebaikan mu, Mikhailla. Ayah harus melindungimu. Dan hanya dengan cara ini Ayah bisa melindungimu."


"hhmmm?", Mikhailla terlihat mendesah. Dia memindah posisi tidurnya tetapi tidak bangun. Kedua tangannya memeluk lengan tangan kanan Dimithri.


Dimithri tersenyum. Saat tertidur putrinya tampak lucu.


"Aku sudah melewatkan 15 tahun masa-masa indah merawat dan bermain bersama putriku. Bagaimana dia saat baru bisa berjalan dan latihan berbicara. Saat pertamakali memanggil Ayah. Aku tidak akan menemukan masa itu lagi."


Begitu banyak penyesalan dalam hati Dimithri.


Dimithri terus menemani putrinya hingga hari beranjak tengah malam, baru dia pergi meninggalkan putrinya.


Dimithri berjalan keluar dari kamar. Didepan pintu sudah ada Marrie yang menunggunya.


"Kamu menunggu disini dari tadi?"


Marrie mengangguk. Wajahnya terlihat lelah.


"Hari sudah larut. Sebaiknya Anda segera kembali ke istana, Baginda."


Dimithri menggelengkan kepalanya


"Bolehkah aku disini sebentar lagi?", ucap Dimithri sambil menatap Marrie dengan penuh kerinduan.


Marrie tidak menjawab dia membalikkan badan. Tapi dengan cepat Dimithri meraih pundaknya. Marrie kembali membalikkan badan menatap Dimithri dengan tatapan sedih.


Dia masih kecewa pada Dimithri yang sudah membohonginya 18 tahun yang lalu. Mengenai kenyataan yang Dimithri sembunyika dari Marrie, bahwa Dimithri adalah seorang kaisar.


"Jangan diamkan aku begini, Marrie! Aku tidak sanggup melihatmu dingin begini padaku.."


Marrie tidak sanggup melihat tatapan Dimithri yang sayup itu. Dia lalu memeluk Dimithri. Disandarkannya kepalanya sejenak di dada Dimithri yang bidang dan kokoh lalu membenamkan wajahnya.


Dimithri membalas pelukkan Marrie dengan erat. Dia sangat merindukan wanita yang sangat dicintainya itu.


"Aku sangat merindukanmu, Marrie."


Marrie melonggarkan pelukkannya. Wajahnya mendongak memandang Dimithri dengan sendu.


"Saya juga, merindukan Anda, Yang Mulia.", sambut Marrie. Matanya sudah mengilatkan kaca yang siap pecah


Dimithri mendekatkan wajahnya dengan wajah Marrie. Dia belai kedua pipi Marrie yang tampak halus dan ranum. Sebuah ciuman dia daratkan di kening Marrie.


Melihat Marrie tidak menolak, Dimithri berani turun kebawah. Dia kecup bibir Marrie dengan begitu saratnya dan memagutnya. Meluapkan seluruh perasaan rindunya di sana.


Marrie tidak cuma diam. Dia juga membalas ciuman Dimithri dengan penuh hasrat.


Untuk sejenak terjadi keheningan antara Marrie dan Dimithri. Sampai suara seseorang mengganggu keduanya yang saling meluapkan kerinduan satu sama lain.


"Yang Mulia..."

__ADS_1


★ ★ ★ ★ ★ ★


Dimithri sudah berdiri disamping kudanya. Dia begitu enggan untuk meninggalkan Marrie.


Sesaat dia menatap kearah jendela kamar putrinya. "Aku pergi dulu, Marrie? Jaga dirimu dan Mikhailla baik-baik."


Marrie mengangguk. Mukanya terlihat sedih harus kembali melepas pria yang dikasihinya pergi.


"Aku titip anak dan istriku pada kalian berdua.", kata Dimithri beralih pada Lisa dan Leon.


Dimithri segera naik keatas punggung kudanya. Tanpa menoleh lagi dia menarik pelana kudanya lalu pergi meninggalkan Marrie bersama Lisa dan juga Leon yang berdiri tak jauh dari tempat Marrie.


Marrie terua menatapi kepergian Dimithtri sampai bayangan pria itu menghilang ditengah kegelapan malam.


"Mari, masuk Nona!"


Lisa mendekati Marrie. Marrie membalikkan badan dan mulai berjalan masuk kedalam bersama Lisa dan Leon.


Lisa dan Leon mengantar Marrie sampai depan pintu kamarnya.


"Selamat malam, Nona. Semoga tidur Anda nyenyak.."


"Iya. Kaliam juga istirahatlah."


Lisa dan Leon baru pergi setelah Marrie masuk kedalam kamarnya. Keduanya berjalan terpisah menuju kamar masing-masing. Begitulah hari itu berlalu.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Mikhailla terbangun dari tidurnya. Dia merasa tubuhnya sakit semua. Dengan menguap dia menggeliatkan tubuh meregangkan otot-ototnya yang kaku.


"Aku bangun disini lagi? Berarti yang kemarin bukan mimpi. Aku benar-benar masuk ke tubuh Mikhailla. Terus apa benar Mikhailla sudah mati? Kalau iya, dia pasti sudah tenang sekarang."


"Siapa ya?", fikirnya penasaran.


Kreeteek! Pintu ada yang membuka dari luar.


"Selamat pagi! Kamu sudah bangun, Sayang?", sapa Marrie dengan senyum yang berkembang dari bibir tipisnya. Marrie datang dengan wajah ceria.


Mikhailla menoleh. Dia senang dapat melihat wajah Marrie kembali. Entah mengapa ada perasaan lega dihatinya.


"Ibuuu!", teriak Mikhailla manja. Tingkahnya begitu kekanakan. Dia lekas turun dari tempat tidurnya untuk menghambur kepelukkan Marrie.


Marrie yang sedang menyiapkan pakaian ganti untuk putrinya jadi kaget. Dia merasa putrinya jauh lebih manja daripada sebelumnya. Setelah kecelakaan disungai 2 hari yang lalu.


Disatu sisi Marrie merasa sangat lega melihat Mikhailla yang terlihat biasa-biasa saja setelah mengalami kejadian mengerikan itu. Dia seolah sudah dapat mengatasi trauma jiwanya.


Bukan sudah berhasil mengatasi trauma tersebut. Tapi memang jiwa yang ada pada tubuh putrinya bukanlah jiwa putrinya. Melainkan jiwa orang lain. Yang jelas-jelas tidak mengalaminya. Hanya ingatan mengerikan karena kecelakaan itu membekas di ingatan tubuh Mikhailla, yang membuat jiwa yang memasukki tubuh itu jadi mengingat segala kejadian itu.


Mikhailla terus bermanja bergelayut disamping ibunya. Beberapakali dia menciumi pipi ibunya dengan sayang.


"Aku sayang, Ibu."Kata Mikhailla


"Ibu juga sayang Mikhailla. Jadi Mikha harus terus bersama Ibu. Tidak boleh meninggalkan Ibu, ya!"


Mikhailla tersenyum, " Aku akan selalu bersama Ibu. Sampai aku tua. Bahkan sampai aku disurga nanti, aku akan membawa Ibu kemanapun aku pergi."


(Kesalahan yang selalu Andin katakan adalah, Andin selalu percaya diri kalau dia akan masuk surga. Padahal belum tentu dia akan masuk surga., "Hahaha")


"Putrikuu.", Marrie membelai pipi Mikhailla lembut.

__ADS_1


"Tangan Ibu halus. Ibu cantik. Ibu adalah orang tercantik didunia ini yang tidak ada duanya. Seperti bidadari."


"Hemhem. Kamu juga cantik. Kamu lebih cantik dari Ibu.", ucapan Marrie membuat Mikhailla senang.


Semua anak akan senang bila mendapatkan pujian dari orang lain, apalagi yang memuji adalah ibunya. Begitu pula dengan Andin yang selama ini tidak pernah mendapat perhatian yang manis dari Mamanya di kehidupan sebelumnya.


"Sekarang, anak Ibu yang cantik cepat mandi! Lisa sudah menyiapkan air hangat dikamar mandimu. Nanti setelah mandi Ibu bawakan sarapan dan juga obat yang sudah dikirimkan oleh dokter yang kemarin."


"Baik, Nyonya!", kata Andin meniru gaya Leon saat diperintah oleh Marrie.


Leon selalu membungkuk dan menunduk didepan Marrie. Berbeda saat didepan Mikhailla. Ketika didepan Mikhailla, leon seperti seorang anak kecil yang selalu senang bertemu dengan temannya. Kegagahannya saat mengayunkan pedang, runtuh saat didepan Mikhailla.


"Kamu seperti Leon.", gumam Marrie senang.


Mikhailla segera berlari kekamar mandinya yang mewah. Dia masih terkagum-kagum dengan artistik ditempat yang baginya masih asing itu.


Selama hidup dia tidak pernah mandi di bath-up. Mikhailla merendamkan tubuhnya di sana dan menikmati aroma wangi dari parfum yang ada di air bak mandinya. Dia merasa begitu tenang. Sejenak dia memejamkan matanya.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


Mikha sudah selelai mandi dan sarapan. Wajahnya sudah tidak begitu pucat. Sudah ada semburat merah dibibirnya.


"Tempat ini masih sama seperti dimimpiku dulu.", fikirnya


Mikha berjalan-jalan dipesekitaran tempat tinggalnya. Saat dia akan menuju taman, dia melihat Leon sedang duduk dibawah pohon apel yang rindang.


Leon terlihat melamun menatap hamparan padang bunga yang luas nan indah didepannya.


"Ngapain Leon disitu? Dia ngelamunin apaan ya?", ah gangguin skuy.


Mikha berjalan perlahan tanpa bersuara. Dia mendekati Leon dan ingin mengagetinya. Tetapi belum sempat hal itu terjadi, ternyata Leon sudah mengetahui kedatangan Mikhailla disisinya.


"Kamu mau ngapain?", tanya Leon tanpa menoleh kebelakang menatap Mikhailla.


Mikhailla yang terkejud


"Eeeyy, kok kamu tahu aku disini? Padahal tadi aku ingin mengagetimu, loh."


"Aku sudah hafal kebiasaan mu. Jadi jangan coba-coba remehkan ke pekaan instingku.", sahut Leon sambil melepas jubah putihnya. Di rentangkannya jubah itu diatas rumput yang hijau.


Mikhailla hanya menatapi perbuatan Leon dengan diam. Dia mengerti maksud Leon. Tanpa menunggu perintah dia duduk diatas jubah itu dengan tidak tahu malu.


"Duduklah disi...!", katanya lagi meminta Mikhailla untuk duduk diatas jubahnya.


"Duuh, beneran nih? Aku jadi nggak enak.", jawab Mikha tanpa basa-basi langsung duduk.


"Nggak enak dia bilang?", Leon menggerurtu. Bibirnya maju lima centi meter.


Mikha yang mendengar itu langsung tertawa.


"Ngomong-ngomong, kamu sedang apa disini?"


"Mengitung berapa jumlah rumput yang tumbuh disini."


"Hhiiiihh!", geram Mikhailla sambil mencubit lengan tangan kanan Leon dengan muka kesal.


★ ★ ★ ★ ★ ★ ★


__ADS_1


__ADS_2