
"Bu...des-"
"lagi apa kamu?" tanya Bu Desi tegas. raut wajahnya yang serius membuat Rima berpikiran yang tidak-tidak.
"enghh-"
"saya kan tanya kenapa gak di jawab" lagi-lagi Bu Desi memotong ucapannya. suaranya terdengar seperti orang yang sedang menahan emosi.
Rima hanya menunduk dengan tangan yang saling bertautan. pikirannya bercampur aduk.
"kenapa diam aja?"tanya Bu Desi lagi. dia memeriksa ke dalam kontrakan Rima saat ini.
"lagi masak Bu"jawab Rima pelan dengan kepala menunduk.
sejak suami Bu Desi itu pulang dia selalu merasa tidak tenang.laki-laki itu selalu memperhatikannya. belum lagi dia juga suka maksa untuk menerima pemberiannya.
"pantesan wangi"kata Bu Desi cengengesan. lah gak jadi marah Bu?.
"neng ibu mau dong kayanya enak tuh tempenya." katanya lagi yang langsung nyelonong masuk.
wajah tegang Rima perlahan memudar. diganti dengan raut wajah yang terlihat lebih tenang.
syukurlah Rima kira Bu Desi sudah tau kelakuan suaminya pada Rima.
"kenapa mukanya tadi tegang bener neng?"tanyanya yang duduk di dekat rafa yang masih setia dengan pensilnya.
"em gak papa Bu. sebentar ya Bu tempenya belum di goreng" gara-gara ekspresi Bu Desi tadi Rima jadi lupa untuk menggoreng tempenya.
"hehehe... sebenernya ibu kesini mau minta lauk sama neng Rima." ucapnya blak-blakan. Rima dan bu Desi sudah seperti keluarga makanya Rima suka memanggilnya ibu atau Bu Desi walaupun bu Desi lebih tua 8-9 tahun darinya, Bu Desi juga tidak keberatan akan panggilan itu. tidak ada kecanggungan di antara mereka namun, sejak adanya pak Dian Rima jadi lebih sering menghindar.
"tadi ibu mau masak sayur SOP cuman gas di rumah habis, mana Nella udah cerewet lagi minta makan masih untung ada nasi sama kerupuk tadi eh dianya gak mau. itu lagi bapaknya Nella di suruh ke warung depan buat beli gas malah males-malesan"curhatnya pada Rima yang sedang menggoreng tempenya.
"Rafa lagi gambar apa?...lah kok di umpetin? Kan Bude Desi mau lihat." Katanya bingung.
Rafa hanya menggeleng kemudian tangan kecilnya membuka resleting tas dan memasukan buku serta alat gambarnya kemudian menutupnya tasnya kembali dan jangan lupakan gembok kecil yang selalu terkunci rapat diantara dua resleting tasnya.
__ADS_1
"Gambar Rafa jelek bude" jawab Rafa singkat terkesan acuh. Kemudian anak laki-laki berusia 3 tahun itu menghampiri Rima yang tengah sibuk menggoreng.
"Ada apa?"tanya Rima pada anak kesayangannya.
Mendapatkan gelengan kecil sebagai jawaban Rima kembali melanjutkan aktivitas nya.
"Neng" panggil Bu Desi. Wajahnya terlihat sangat kusut.
"Emang ibu udah gak cantik lagi ya.kulit ibu udah keriput ya, atau ibu udah bau tanah?"tanyanya dramatis.
"Eh.. kok Bu Desi bilang gitu?" Tanya nya lagi. Rima cukup kaget dengan pertanyaan yang meluncur dari mulut Bu Desi wanita paling percaya diri yang Rima kenal saat ini. Aneh saja tiba-tiba dia bertanya seperti itu.
"Huhh"
"Abisnya itu bapaknya si Nella kaya cuek banget sama ibu akhir-akhir ini"curhat Bu Desi.
Rima terperangah mendengarnya. Rasa risau kini melanda hatinya. Bagaimana jika Bu Desi tau kelakuan suaminya kepada Rima?.
Rima takut kalau masalah ini bisa membuat hubungannya dengan Bu Desi hancur. Pasti hancur Rima! Mana ada istri baik hati sama perempuan incaran suaminya.
"Bu Desi masih cantik kok kulitnya aja masih kenceng"jawab Rima menenangkan."ini tempenya udah Mateng Bu Desi mau berapa?"
Rima hanya mengangguk kemudian menaruh beberapa tempe pada piring.
"Mah jangan banyak-banyak" bisik Rafa pelan di sebelahnya. Rima sampai terkekeh mendengarnya. Rafa yang biasanya cuek bisa-bisanya menawar tempe. Hadehhh
"Segini cukup Bu?"
"Cukup neng" ujar Bu Desi dengan wajah berseri "makasih neng, jadi ngerepotin"
Rima tersenyum "Gak papa Bu. Bu Desi juga sudah bantu Rima banyak banget. Gak usah sungkan kalau butuh sesuatu" teringat dulu Bu Desi sangat berjasa di hidupnya.
Setelah kepergian Bu Desi Rima dan Rafa sedang menyiapkan makanan malam sederhananya. Di sana ada nasi sambal terasi instan serta tempe bacem sebagai primadona. Untuk sayur tadinya Rima ingin mengoseng sayur taoge tapi rupanya sayur taoge nya habis.
****
__ADS_1
"Mah Rafa mau sekolah di sana" jari telunjuknya mengarah ke TK yang baru di buka dekat kontrakan nya.
"Nanti ya kalau usia Rafa sudah masuk 5 tahun" Rima memang berniat memasukan Rafa ke TK saat usianya mencapai angka 5 tahun. Memang banyak anak-anak yang masih 3 atau 4 tahun yang sudah sekolah TK. Cuman kan waktu yang diperlukan untuk lulus nya juga lama otomatis biayanya juga besar."Sudah, Rafa bantu mamah ambil kecap sama saos tomat di dalam ya".
Rima sedang membereskan beberapa barang dagangannya yang terlihat berantakan. Sekarang masih pagi, biasanya Nella selalu mampir ketika ingin berangkat sekolah.
"Eh Nella" sapa Rima saat ia melihat Nella membuka pagar rumahnya. Namun anak itu tampak acuh tak acuh terhadap Rima. Tumben, biasanya setiap pagi Nella yang selalu menyapanya duluan.
"Ada apa kakak cantik?" Kalimatnya memang seperti biasa namun cara bicaranya terkesan malas. Kenapa lagi ni anak.
"Mau roti gak?. Tadi tadi pagi-pagi sekali kakak coba-coba bikin roti"tawarnya. Memang tadi ia sangat semangat buat roti dari resep yang ia temukan di buku yang ia pinjam dari Tante Dira. Dan kebetulan bahan-bahannya ada.
"Emmm... Boleh"
"Sebentar ya kakak ambil dulu rotinya"
Setelah mengambil rotinya dari dalam. Rima langsung memberikannya kepada Nella." Ini rotinya. Semoga enak ya"
"Makasih kakak cantik"jawab Nella pelan
"Ada apa?" Tanya Rima penasaran. Kemana Nella yang ceria hari ini.
Rima melihat tangan Nella merogoh sesuatu di dalam kantong rok SD-nya.
"Ini foto kakak cantik kan?" Sebuah foto yang sudah di cetak polaroid menampakan dirinya yang sedang duduk sendirian.
Dengan raut wajah bingung Rima menatap ke arah Nella.
"Tadi Nella Nemu ini di dompet bapak tadi malam pas Nella mau ambil uangnya eh Nemu Poto ini" jelasnya cemberut.
"Bapak kayanya suka sama kakak cantik" lirih Nella pelan.
Mendengar itu mata Rima membulat kemudian menggeleng pelan. Bisa-bisanya om Dian nyimpen foto dirinya di dalam dompet.
"Kemarin aja pas belanja bapak Nella beli baju bagus benget. Terus kan Nella tanya bajunya buat siapa? Soalnya kan gak mungkin buat ibu bajunya aja kecil. Kan badan ibu besar walau gak besar banget sih.... Terus pas waktu Nella nanya gitu, bapak gak mau jawab. Malah suruh Nella cepetan cari mainannya."menjeda kalimatnya Nella kembali melanjutkannya "nah teruskan Nella mergokin bapak senyum-senyum sendiri sambil lihat poto. Eh taunya itu poto nya kakak cantik"matanya kini menatap lekat Rima.
__ADS_1
"Nella gak mau ya nanti kalau bapak Nella suka sama kakak cantik terus nikahin kakak cantik terus-terus.. ninggalin ibu,Nella sama kakak Nella. Nella gak mau ya kak" kemudian Nella pergi dari hadapannya meninggalkan fotonya yang tergeletak di atas meja dagangannya. sungguh Rima sangat tidak ingin masalah ini terjadi.
Rima meremas foto dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk. Seiring pipi dan hidungnya yang memerah bibirnya juga gemetar. Ia takut kalau dirinya menjadi masalah dalam rumah tangga Bu Desi.