
petir sudah hilang, tapi hujan masih setia menemani meraka berdua. Dari tadi Rima terus menghawatirkan Rafa sambil sesekali mengusap kedua lengannya.
arah gazebo dan pintu belakang rumah lumayan jauh. kalau Rima nekat menerobos hujan, pasti dia akan basah kuyup, sebab hujannya yang sangat lebat. tapi bukan basah yang Rima takutkan, melainkan suara petir serta kilatan cahaya yang membuatnya takut untuk menerobos, sekarang petir memang sudah hilang, tapi Rima tidak ingin menerobos hujan yang masih lebat, takut besok dia sakit dan tidak bisa melakukan pekerjaan nya dengan baik. Rafa juga sepertinya masih terlelap dalam tidurnya. Rima mengalihkan pandangannya, ia melihat kandang kecil yang di dalamnya terdapat dua kelinci milik Rafa.
"terima kasih" ucap Rima, menoleh ke arah samping, di mana Rega duduk saat ini dengan mata terpejam.
"untuk?" tanya Rega, tanpa ada niatan untuk membuka mata.
"untuk kelincinya. Dua hari yang lalu, Rafa mau berterima kasih, tapi kak Rega sangat sibuk waktu itu. jadi Rafa belum sempat mengucapkannya"ucap Rima, dan Rega tampak mengangguk samar sambil memijat pelipisnya.
"terima kasih sudah membelikan anak saya peliharaan untuk bermain" gumam Rima. Dua hari ini Rafa tidak terlalu banyak melamun, karena punya kesibukan baru.
"tidak gratis."
Rima melotot. kalau tau ini tidak gratis, Rima lebih baik mengembalikan kelinci itu sekarang juga. enak saja, ia tidak pernah meminta.
"kalau tidak gratis. kenapa kak Rega membelikannya?" tanya Rima dengan penuh penekanan.
"terserah saya" jawab Rega cuek dan itu semakin membuat Rima meradang.
sifat Rega yang memang perhitungan karena menurun dari ibunya, Gina. setiap kali dia memberi sesuatu itu harus ada imbalan nya. meskipun itu bukan berupa benda.
bukan pelit atau apa. Rega juga tidak mau rugi, bukan uang yang dia mau, tapi dia bisa mendapatkan yang lain. bibir tebal Rega terangkat, dalam pikirannya Rega sedang memilih apa yang cocok sebagai imbalan atas Dua kelinci yang dia berikan. tenang saja, Rega tidak akan meminta yang berat-berat, ini hanya hal sepele, seperti....
"pijat kaki saya" Rega menyodorkan kedua kakinya dan menjatuhkannya tepat di pangkuan Rima.
Rima membuang napas kasar. kedua kaki berbalut celana piyama berwarna hitam itu sangat berat.
Rega menyenderkan punggungnya ke dinding gazebo yang lain, dari tadi dia berkeliling rumah, kakinya terasa sangat pegal. sepertinya sebuah pijatan plus-plus cocok untuk Rega saat ini. ehh tidak! pijat sajalah, yang plus-plusnya nanti menyusul hehe.
__ADS_1
"yang keras. pijitan kamu kurang berasa" protesnya.
"salah sendiri otot kakinya ketebalan." gumam Rima, tangannya terlihat ragu untuk memijat betis pria itu. selama Rima tinggal di sini, dia tidak pernah sedekat ini dengan Rega.
"apa?"
"tidak. tidak ada apa-apa" jawab Rima cepat. dia menunduk, kembali fokus pada pekerjaannya. tidak apalah, Rima menghitung ini sebagai balasan. karena Rega mau menampung dirinya dan juga Rafa.
Rima bersyukur, dia mendapatkan majikan baik seperti tuannya ini. Rega tidak pernah meminta yang aneh-aneh, dia juga jarang berada di rumah. Rima juga tidak pernah melihat kedua orang tua Rega, sebenarnya Rima penasaran, kenapa Rega memilih pisah rumah dengan orang tuanya. tapi itu bukan urusan Rima.
Rima juga jarang keluar dari rumah ini. soal bahan dapur, biasanya Rega yang memesan, laki-laki itu mudah bosan dengan masakan, jadi Rima harus memasak makanan yang berbeda setiap harinya.
"Rafa tidak sekolah?" tanya Rega.
Rima menggeleng, melihat tatapan Rega yang seolah bertanya 'kenapa?'. Rima menghembuskan napasnya.
" minggu depan daftar TK . nanti saya yang urus semua." ucap Rega sepihak.
Rima yang mendengarnya langsung berhenti memijat kaki pria itu. "tidak perlu"
"dengar. urusan biaya, kau tidak perlu khawatir, nanti saya yang tanggung semua. Minggu depan daftar kan Rafa di TK dekat sini"ucap Rega kembali. nada bicaranya seperti orang yang tidak mau di bantah.
wajah Rima memerah, Rega memang punya niat baik, tapi dia tidak berhak mengatur kehidupan Rafa. Rima sudah berniat untuk memasukan Rafa langsung ke sekolah dasar, dia tidak mau merepotkan Rega. meskipun pria itu terlihat suka rela. tapi manusia tidak ada yang tau, Rima tidak mau bergantung pada orang lain, meskipun sekarang dia masih bergantung pada Rega. dia tidak mau seterusnya bergantung di sini. ada masanya dia pasti keluar dari rumah ini.
"maaf kak. tapi saya sudah bilang. Rafa tidak perlu masuk TK. saya memang punya Maslah dari biaya, tapi bukan berarti saya bisa menerima begitu saja tawaran kak Rega tadi." Rima menjeda ucapannya. "Rafa bukan tanggung jawab kak Rega. jadi kak Rega tidak perlu memaksa saya untuk menyekolahkan Rafa."
"saya tidak memaksa. saya hanya menawarkan. kalau kamu tidak mau, ya sudah." jawab Rega acuh.
"hujannya sudah reda. saya duluan masuk" ucap Rima saat melihat hujan mulai reda. dia berlari menghindari gerimis yang masih ada. membuka pintu kemudian menutupnya kembali tak lupa Rima juga menguncinya.
__ADS_1
paginya Rima kembali sibuk di dapur. ia sedang mencuci beberapa sayuran. disana terlihat ada bayam beserta jagung. Rima menyisihkan sayurannya supaya kering, ia mulai mengiris beberapa bawang merah,bawang putih,tomat, kencur, dan dua buah cabai. Rega tidak suka makanan yang terlalu pedas.
langkah besar Rega terdengar menuruni tangga. laki-laki itu sepertinya pilek. tadi subuh Rima juga mendengar Rega bersin-bersin di kamarnya.
"teh jahe"
Rima menoleh, dia melihat Rega dengan pakaian rumahan. kaos oblong berwarna hitam melekat di tubuhnya yang kekar, sementara bawahnya dia mengenakan celana di bawah lutut. jangan lupakan wajahnya yang masih luyu. Rega belum mandi, bahkan dia belum cuci muka sama sekali.
"baik" dengan segera Rima menyiapkan apa yang Rega minta tadi.
Rega melangkah kemudian duduk di sofa, tangannya mengklik tombol remote TV. tubuhnya bersandar sambil terus memindahkan saluran TV yang cocok untuk dia tonton hari ini. Rima datang dan menaruh gelas berisi teh jahe yang Rega minta tadi.
setelah bosan dan teh jahe nya habis, Rega kembali menghampiri Rima. dia duduk di kursi meja makan sambil menatap nasi dan beberapa lauk pauk, di sana ada sayur bayam, tempe goreng dan ayam. semenjak Rima bekerja di sini, Rega selalu makan-makanan rumahan. Rima tidak pernah memasak pizza, spaghetti atau apapun itu, mungkin Rima tidak bisa pikir Rega,dia juga tidak masalah, toh makanan yang Rima buat juga tidak pernah bosan di lidahnya. berat badannya juga bertambah sejak lidahnya mengenal masakan Rima.
suara ribut terdengar dari luar. Rega ingin menyendok nasi, tapi dia hentikan karena terganggu dengan kebisingan dari luar. Rima juga kaget, dia mendengar beberapa orang berteriak.
keduanya keluar bersamaan, disana juga ada pak Jajang, tadi subuh dia sudah kembali dari rumahnya.
"ada apa ribut-ribut?" tanya Rega.
Rima juga terlihat panik,saat mendengar tetangga rumah ini menangis.
"tetangga sebelah kemalingan" ucap pak Jajang, memberi tahu.
****
makasih untuk 💯 like.
semoga rezekinya lancar.
__ADS_1