HaRima

HaRima
bagian 36. Salah alamat?


__ADS_3

Mobil keluarga Rega sudah sampai di pekarangan rumah Claviora, ah lebih tepatnya rumah keluarga Claviora. Karena selama ini Claviora tinggal sendiri di apartemen.


Perjalanan lumayan panjang, sampai menempuh waktu kurang lebih 2 jam. Anis sedari tadi terus menggerutu, kenapa perjalanan ini sangat lama. Dia sudah tidak mood lagi. Bibirnya pun sudah maju beberapa senti.


Rumah ini sangat sederhana, bahkan jauh dari kesan mewah yang begitu melekat dalam diri Claviora. Halaman rumahnya lumayan cukup luas sehingga mobil bisa parkir di sana, meskipun hanya halaman dengan tanah serta rerumputan liar. Namun yang terpikirkan Gina, Anis serta Gina kenapa rumah ini sangat sepi? Udara malam yang semakin sejuk. Anis memperhatikan sekeliling. Tidak ada satpam apalagi gerbang.


Biasanya kan jika ada acara lamaran minimal ada lah yang menyambut. Tapi ini kosong melompong. Tidak ada siapapun di luar. Anis menghela napas sambil bersandar pada mobil, "gimana sih. Udah jauh-jauh, salah alamat lagi."


Gina melotot. "Enggak! Ini benar kok alamatnya. Ibu juga bingung kenapa pada sepi begini." Gina mulai panik, perasaanya sudah resah saat melihat rumah ini sepi. Dia juga ragu rumah kecil ini milik keluarga Claviora.


Berbeda dengan Rega. Laki-laki itu hanya menatap ibunya yang tidak bisa diam mondar-mandir di depan pintu rumah dan mengetuknya berkali-kali.


"Ibu, udahlah. Kemungkinan besar kita salah alamat. Atau kalau emang ini bener alamatnya. Keluarga kak Claviora kabur kali."


"Anis!" Wajah Gina memerah. "Sekali lagi kamu bicara ibu robek mulut kamu!" Gina kembali mengetuk pintu rumah bercat putih itu dengan sedikit terburu-buru.


"serem amat," desis Anis.


Tok.... Tok... Tok...


"Permisi."


Bima juga kini ikut-ikutan membantu Gina. Harusnya Rega yang panik saat ini. Tapi laki-laki itu terlihat santai, sama sekali tidak berniat membantu dua orang yang memanggil keluarga Claviora.


Pak amar yang sedari tadi diam memperhatikan ke riweuhan istrinya, melangkah mendekati Rega. Dia tepuk pundak Rega dua kali. Entah apa maksud ayah tirinya ini. Mungkin hanya untuk menenangkan?


Pintu dibuka.


Atensi semua orang kini tertuju pada seorang wanita paruh baya. Meskipun usianya tidak muda lagi. Tapi dari wajahnya dia sangat cantik, mirip sekali seperti wajah Claviora. Wajah itu terlihat panik. Tanyanya menggenggam berat satu lembar kertas dengan goresan tinta berwarna hitam.


"Ss.. silakan masuk dulu."


Mereka semua heran, tapi ikut masuk seperti apa yang wanita paruh baya itu ucapkan tadi. Duduk di sofa dengan cemilan seadanya, Gina tidak bisa diam sama sekali dari duduknya. Mulutnya itu sudah gatal ingin mengatakan apa sebenarnya yang akan terjadi.

__ADS_1


Mengambil napas sebentar. "Sebelumnya maaf sekali... Ini ada surat dari Vio katanya buat... buat... Rega." Wanita paruh baya itu memberikan surat dengan tangan gemetar. Sepertinya dia juga sudah membaca suratnya. Terlihat dari sorot mata tidak enak yang wanita itu berikan pada keluarga Rega.


"Saya Mia, ibu dari Claviora. Sangat meminta maaf sebesar-besarnya atas dasar kelakuan anak saya yang tidak pantas." suaranya bergetar. Bahkan kedua bola mata dengan lengkungan hitam di bagian bawahnya itu tidak berani menatap.


Tangan Rega segera membuka surat dan lekas membacanya.


Untuk Rega


Rega, aku minta maaf. Sebelumya aku memang setuju dengan semua rencana kita yang akan menikah. Tapi maaf sekali lagi, aku gak bisa lanjutkan semua ini.


Rega memandang surat itu dengan tatapan nanar.


Aku menerima pernikahan ini karena waktu itu aku baru putus dari pacarku yang ada di Inggris. Soal pertanyaan kamu waktu itu apa aku punya pacar atau tidak, aku tidak menjawab tidak kan? jadi aku tidak pernah berbohong kepadamu.


ah, pertanyaan waktu itu? dia hanya menjawab kalau dia memang punya banyak teman laki-laki. Tapi dia tidak pernah menyebutkan kalau dia tidak memiliki pacar.


Dan tepat sebentar lagi hari lamaran kita, dia menjemputku ke sini dan juga melamar ku Rega. Aku tidak bisa menolak. Aku harap kamu mengerti karena alasan aku menerimamu hanya untuk pelampiasan saja. Aku tahu kamu juga gak cinta sama aku. Aku juga gak cinta sama kamu. jadi aku gak mau nanti aku hidup bersama mu hanya karena pelampiasan. Aku juga gak mau nanyinya keuangan mu bakal terganggu karena aku tidak bisa berhemat.


Tolong bilang kelurga mu jangan sampai memarahi ibuku. Dia tidak tahu apa-apa, karena aku tidak memberitahunya. Bahkan dia juga tidak tahu kalau akan akan menikah di Inggris dalam waktu dekat.


Maaf aku sangat menyesal telah menerima lanaranmu......


Dari Claviora.


"Dia membatalkannya?" Rega bergumam dan sukses membuat semua orang terkaget.


"apa!" Gina tidak percaya. Dia merebut kertas dari tangan Rega dan membacanya. Sampai berulang kali karena tidak percaya apa yang barusan dibaca. Gina memegang dadanya yang terasa sesak.


****


"Kurang ajar! Berani sekali dia ngeremehin Si Rega." Bima memaki Claviora tiada henti saat perjalanan pulang. Sungguh dia merasa kesal sendiri.Rega yang tidak jadi nikah. Malash dia yang riweh sendiri. Eh tidak sendri, Anis juga sama kesalnya.


Tiba di rumah Rega, sudah larut malam. Bima yang menyetir kini sudah tepar di atas sofa karena emosi.

__ADS_1


"Kalau gak ada niat buat nikah sama abang, kenapa dia setuju? kalau ketemu lagi. Anis plites kepalanya nanti. Bang! ngomong kek atau apa kek. Ini udah gagal lamaran terus di tinggal nikah kaya gak ada sedih-sedih nya."


Sedih? Rega sama sekali tidak merasakan hal itu. Hatinya yang sebelumnya tidak tenang sekarang justru malah lega. Mungkin yang ditulis Claviora di kertas itu ada benarnya juga. Lebih baik gagal menikah daripada nanti hidup bersama tapi tak bahagia, membayangkan hidup dengan orang yang menjadikan kita pelampiasan saja sudah membuat bulu kuduk Rega berdiri. Mungkin Rega hanya merasa kecewa. Entah kecewa pada dirinya sendiri atau siapapun itu. Yang jelas Rega juga sangat menyesal telah menuruti permintaan Gina untuk melamar Claviora.


Lihatlah! wanita paruh baya yang dipanggil ibu oleh Rega juga Anis itu sedang bersandar di badan sofa ruang tamu rumah Rega. Matanya memandang kosong pada langit-langit. Hembusan napas berat tidak pernah absen semenjak kepulangan mereka dari rumah Claviora tadi.


"Gimana sama undangan ibu?" Tanyanya lirih. Bertanya pada diri sendiri.


otomatis lirihan Gina membawa atensi mereka ke arah Gina.


"ibu udah sebar undangan, kalau Rega mau nikah waktu dekat ini di grup arisan, ibu juga udah kasih tahu waktunya sama tempatnya. ibu harus gimana Rega? ibu malu kalau harus batalin semua ini. Baju pengantin juga ibu udah siapin, itu baju mahal loh Rega. Ibu tahu kalau wanita itu pasti gak mau barang murah." Semua orang di dalam sana menghela napas. Amar sebagai suami Gina mencoba untuk menenangkan istrinya dengan merengkuh puncaknya sekalian mengusapnya.


"Ibu tinggal bilang batal apa susahnya sih Bu? kalau ibu gak mau ngetiknya, sini biar Anis yang ngetik."


"gak! Gimana kalau mereka semua ngira ibu bohong. terus mereka pada ngerendahin ibu nanti."


Anis melengos. "ya salah ibu sendiri, ngapain udah undang-undang segala. padahal belum pasti. Abang juga! udah tahu mau lamaran. malah sama sekali gak kontekan sebelumnya."


"gimana mau kontekan, kan semuanya udah gak aktif." Bima ikut menyahut sambil mengupas kuaci yang di sediakan di atas meja.


"Rega pokoknya mamah gak mau pernikahan kamu batal!" Gina segera memutar otak supaya anaknya hari menikah dengan jadwal yang hina terapkan di dalam undangan.


Uhukk...


Anis keselek biji kuaci karena mendengar perkataan Gina yang memaksa. Amar yang panik segera memanggil pembantu di rumah ini untuk membawakan air putih biasa. karena di atas meja hanya tersedia minuman dingin.


Rega menggerakkan kepalanya pelan. "ibu tenang. Urusan teman ibu biar Rega yang urus. soal tempat dan baju, itukan bisa kita pakai nanti."


"permisi." Rima meletakan air putih itu di hadapan Anis yag langsung di sambut secara terburu-buru olehnya. Saat hendak kembali ke arah dapur Suara Gina yang begitu melengking kini memenuhi sudut ruangan.


"nikahi saja pembantu janda anak satu itu!"


jegerrrr

__ADS_1


Rasanya oksigen di sekitar tempat ini semakin menipis. Rega memandang ibunya dan Rima secara bergantian.


"kenapa? bukanya kamu udah tertarik sama dia sebelumnya Rega?" Gina bertanya. Dan terjadilah ronde kedua keselek biji kuaci pada tenggorokan Bima.


__ADS_2