
...tandai taypo 👀...
.......
.......
.......
..."Tadi kamu bilang, kamu akan kembali ke Inggris setelah kita menikah?"...
"Iya."
"Kalau saya melarang kamu untuk kembali ke Inggris bagaimana?" Tanya Rega.
Claviora melotot,"enggak bisa! Aku udah susah payah masuk ke perguruan tinggi itu. Mana mungkin aku mengundurkan diri begitu saja hanya karena itu perintah mu."
"Tapi di sana posisi saya sebagai suami kamu. Jadi kalau saya meminta kamu untuk tidak kembali ke Inggris dan hanya mengurus saya bagaimana?"
"Tidak ada pengecualian. Aku tidak bisa mengikuti permintaanmu Rega." Yang benar saja. Susah payah dia masuk ku perguruan tinggi itu. Mana mungkin dia mundur hanya karena perintah dari Rega?
"Terus kalau kamu pergi ke Inggris bagaimana dengan saya sebagai suami kamu nanti?"
Claviora terbahak,"astaga, Rega kamu dari dulu gak pernah berubah ya. Jangan terlalu memikirkan kedepannya. Kita jalani aja dulu. Kamu ini terlalu pemikir, pengatur juga. Bisa gak sih jadi orang jangan terlalu mikir." rupanya Claviora sudah tidak canggung lagi dengan Rega. buktinya dia sudah bisa menolak apa yang dia tidak mau secara tegas.
Wajah Rega memerah. "Tidak bisa! Saya memang seperti ini, pemikir dan pengatur! Jika kamu tidak suka sifat saya seperti ini lebih baik batalkan saja perjodohan ini. Kita tidak satu frekuensi, bahkan masalah sepele saja kita sangat berbeda bagaimana nanti kalau ada masalah besar?"
Claviora diam.
Pemikir, Rega sangat butuh untuk berpikir kedepannya bagaimana, dia tidak bisa memutuskan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu. Ini wajar menurutnya, tapi tidak bagi Claviora, gadis ini merasa Rega terlalu berlebihan sampai-sampai dia memikirkan beberapa tahun kedepannya setelah di hadapkan dengan keputusan. Waktu dia memutuskan untuk membawa Rima ke rumahnya pun sebenarnya Rega ragu-ragu. Tapi karena kasihan dengan anak itu Rega jadi tidak tega. Lagi pula Rima tinggal di rumahnya bukan hanya tidur makan,tidur makan.
Pengatur, pada dasarnya memang begitu, Rega suka sekali mengatur. Tapi Claviora susah untuk diatur lebih tepatnya gadis itu juga senang mengatur. Rega jadi berpikir, Kalau nanti dia menikah dengan orang yang susah untuk diatur karena merasa bisa mengatur dirinya sendiri seperti Claviora, Rega tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tuh kan belum apa-apa udah mikir lagi.
"Sebaiknya kita berdua pulang, ini sudah malam. Besok jika ada waktu, kita bertemu lagi."
__ADS_1
Rega sangat tidak mood lagi, dia ingin segera pulang dan istirahat. Terlalu banyak bicara dengan Claviora membuatnya lelah. Gadis itu pasti tidak mau mengalah.
Claviora mengangguk, dia cukup terkejut Rega ingin membatalkan perjodohan ini.
"mari saya antar." Rega mana mungkin tega meninggalkan gadis ini sendirian di taman yang mulai sepi.
****
"Ada apa?" Tanya Rega.
Melihat Rima tengah membetulkan kipas yang biasanya di gunakan untuk mengipasi Rafa saat hendak tidur. pembantunya terlihat lucu dengan bola mata menyipit, fokus untuk memperbaiki kipas yang rusak.
"Tidak papa kak," jawab Rima singkat.
"Sini biar saya lihat." Rega merebut kipas ditangan Rima. Dilihat saja Rega sudah tahu kalau kipas ini sudah koyak. Mau dibetulkan gimana?
"Ini sudah rusak. Taruh saja di tempat barang bekas, siapa tahu nanti ada yang mau beli barang bekas."
Rima mengangguk,"baiklah," ucapnya menuruti perintah Rega.
Rega tidak selancang itu untuk membuka kamar orang sembarangan. Tadi hanya saja kamar Rima memang sudah terbuka lebar, sampai hampir menampakan seisi kamar itu.
"Om?" Rafa bangkit dari tidurnya, melihat Rega dengan tatapan bertanya.
"Sini ikut om."
Rafa turun dari ranjang. Berjalan lunglai ke arah Rega. Anak ini sudah menagntuk. Tapi tanpa ada angin yang menyentuh kulitnya, Rafa benar-benar tidak bisa tidur.
"Rafa mau di bawa kemana?" Tanya Rima saat melihat putranya digandeng Rega.
"Biar dia tidur di kamar saya malam ini. Rafa kan tidak bisa tidur tanpa angin kan?, saya juga sama seperti itu. Di kamar saya ada kipas angin. Kita berdua bisa tidur bersama."
Apa? Tidak boleh! Kalau begini ceritanya Rima yang tidak bisa tidur. Lagi pula rasanya Rafa tidak pantas untuk tidur di kamar tuannya.
"Maaf, tapi sebaiknya tidak perlu. Rafa bisa saya kipasi dengan buku gambarnya."
__ADS_1
Rega tampak berpikir dengan pandangan mata ke arah atas. mana mungkin dia mengajak anak menginap di kamarnya tanpa persetujuan dari mamahnya, tapi kasian juga, kipas yang biasa di pakai kini rusak tidak terselamatkan.
"Oke, besok saya belikan kipas angin kecil untuk Rafa." Rega berbalik badan menuju kamarnya. "Tapi ada syaratnya."
Benar dugaan Rima. Tuannya ini tidak akan memberikan apapun dengan cuma-cuma. biasalah, perhitungan, pelit dan tidak mau rugi.
"Syaratnya, besok siang, kamu sama Rafa datang ke kantor saya."
Rega sudah tidak terlihat dari pandangan Rima, lenyap di ujung tangga dan naik untuk masuk kedalam kamarnya. Rima menarik napas dalam kemudian menghembuskanya.
Besok siangnya, Rima dan Rafa sudah siap dengan penampilannya. Penampilan yang tidak jauh berbeda dari hari-hari biasanya. Tapi ya sudahlah, toh Rega sama sekali tidak menyuruhnya untuk pakai baju bagus kan?
demi satu buah kipas angin, tidak ada salahnya kan Rima menerima perintah yang Rega ajukan. Lagi pula kalaupun Rega tidak membelikan Rafa kipas angin, Rima juga akan tetap menuruti perintahnya. karena ini memang pekerjaannya.
Dengan baju serta rok panjang melekat di tubuh Rima, tak lupa dengan blazer ungu gelap dibagian luar serta rambut yang di kuncir kuda sudah menjadi ciri khas Rima.
Tadi pagi pas waktu sarapan Rima sempat bertanya pada Rega, walaupun canggung sih. Rima bertanya, apakah dia harus membawa makanan atau tidak. Tapi kata Rega tidak perlu, sebab mereka nanti akan makan di restoran.
Rima sempat terkejut, mana mungkin majikan dan pembantunya makan berdua? Di restoran lagi.
saat naik angkutan umum menuju kantor sang majikan, hati Rima mendadak resah, dia lumayan takut untuk datang ke kantor itu, tidak tahu apa penyebabnya apa.
"kita mau kemana?" si kecil Rafa masih bingung. tadi dia tiba-tiba di tarik Rima saat memberi makan kelincinya. langsung mandi dengan bersih dan pakai baju yang lumayan rapi dari biasanya. mamahnya ini tidak mengatakan apapun tadi, makanya sekarang putra semata wayang Rima Anindita ini bertanya.
"kita mau ke.. emm bertemu dengan om Rega."
"tapikan om Rega juga pulang nanti malam, kenapa bertemu sekarang?" tanyanya lagi.
"mamah juga tidak tahu. Sudah ya, Rega lihat mobil aja."
setelah memalui serangkaian yang begitu kejadian yang begitu merepotkan, di mulai dari angkutan umum yang di tumpangi mogok sampai Rima harus pindah angkutan, satpam perusahaan yang lumayan menjengkelkan karena mengira Rafa dan Rima akan meminta sumbangan, hingga meja resepsionis yang sama menjengkelkan karena tidak percaya kalau dia sudah membuat janji dengan Rega.
huh melelahkan. tapi akhirnya dia Sampai juga di ruang kerja Rega. dengan wajah memerah karena kepanasan, serta keringat yang mulai bercucuran...
sebenarnya ada apa gerangan sih, Rega sampai harus merepotkan Rima untuk datang ke kantornya?
__ADS_1
...****...