
Suasana restoran cukup sejuk, mungkin karena restoran ini bertema alam. Rega, Rima dan Rafa, mereka bertiga duduk di meja sudut ruangan. Sengaja memilih dekat jendela.
"Rumah sudah bersih kan?"
"Sudah kak."
"Haus? Minum saja." Melihat keringat yang masih setia meluncur di kening Rima serta dengan napas menderu, pasti wanita satu anak ini kehausan.
"Terima kasih."
"Hhmm."
Setelah Rima sampai di kantor tadi, tanpa banyak drama, Rega langsung mengajaknya ke restoran terdekat. Kalau dilihat dari gelagat Rega, laki-laki itu sepertinya sedang menunggu seseorang. Beberapa kali mata itu melirik ke arah pintu serta jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Seorang gadis dengan pakaian kuning melekat di tubuhnya yang ramping namun cukup menonjol di bagian tertentu. Duduk tanpa di suruh tepat di samping Rega.
"Hay." gadis bernama Claviora itu tersebut hangat ke arah Rima yang membalasnya kikuk.
Kalau dia tahu akan ada Claviora di sini. Rima mending tidak usah datang ke kantor tadi. Daripada harus merasa canggung di antara calon pengantin ini.
Lihatlah, Rega dan Claviora cukup serius berbicara dan merencanakan pernikahan mereka tanpa mengacuhkan Rima yang duduk di depan mereka bersama Rafa tentunya.
Sedari tadi yang mendominasi diantara mereka hanya Claviora. Rima lihat Rega juga tidak begitu bergairah dengan topik kali ini. Meskipun begitu Rega masih tetap merespon apa yang Claviora tanyakan kepadanya.
Setelah seminggu berlalu, Rega harus segera mengambil keputusan, untuk melanjutkan rencana Gina tentang melamar Claviora atau memutuskannya.
Dalam satu Minggu ini, Rega akui mulai nyaman dengan Claviora, bahkan gadis itu mau memutuskan untuk tidak melanjutkan studinya. Entah muzizat dari mana yang gadis itu dapatkan.
Setelah pertemuan terakhir di hari kemarin Rega meluangkan waktu untuk mengobrol dengan Claviora. Rega berfikir, tidak ada salahnya kan kalau dia menikah dengan Claviora? toh dia juga sudah siap dengan ekonominya. Tapi jika dibandingkan dengan gaya hidup Claviora apa dia sanggup?
Hari ini, hari yang paling Gina tunggu-tunggu. Sebab anak sulungnya akhirnya menerima permintaannya untuk melamar Claviora. Gina tahu anaknya ini pasti sudah memikirkannya terlebih dahulu sebelum memutuskan.
Lihatlah, wajah cerah Gina kini sangat kentara sekali, sambil memolesakan make up pada wajahnya, ibu dari dua anak ini sesekali bersenandung dan tertawa kecil untuk menunjukkan rasa senangnya.
__ADS_1
"Anis- itu hantaran yang ibu siapin tadi malam, jangan sampe ketinggalan," Omel Gina berulang kali.
"Udah di mobil Bu, cerewet amat dari tadi."
"Eh, ngapain kamu pake baju kayak gini? Ibu udah siapin kebaya yang bagus kenapa gak dipake? Ini acara penting buat Abang kamu loh. Cepetan sana ganti, jangan lupa rambutnya disanggul."
Dengan malas Anis melangkahkan kakinya kembali ke arah kamar, "kan penting buat Abang, bukan buat Anis," gerutunya.
"jangan lupa, itu bedaknya ditebelin lagi. pake lipstik nya juga ya. itu kamu tadi cuma pake lip balm. Bibir kamu pucet gitu, risih ibu lihatnya."
Sementara itu, Rega masih betah menatap penampilannya dicermin besar yang ada di dalam kamarnya. Mengamati tampilannya yang sudah rapi. Bahkan kumis tipisnya sudah ia cukur.
Rega senang, tapi entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa janggal. Sebentar lagi dia akan melamar seorang wanita. Harusnya hatinya sudah mantap jauh sebelum mengambil langkah ini. Beberapa jam yang lalu dia sempat berpikir akan membatalkan lamaran ini. tapi tidak mungkin juga kan dia membatalkannya tanpa alasan yang jelas.
"Kau jangan berpikiran yang aneh-aneh, kata bokap gue, kalo deket waktu acara bakalan banyak setan yang goda."
Rega sama sekali tidak menggubris apa yang diucapkan Bima barusan. Iyah temannya ini akan ikut serta menemaninya untuk melamar Claviora. Katanya sih dia lagi bosan dengan kehidupannya sendiri. Lagipula hari ini Bima tidak punya jadwal apapun, ahh dia kan memang pengangguran.
"Abangg." Itu teriakan Anis.
"Ayo buruan, mamih dari tadi udah ngomel. Abang lama banget, eh ada om Bima. Emang diundang om?" Anis terkekeh.
Bima melengos, malas rasanya menghadapi bocah bar-bar ini. Rega juga sama kesalnya. Bima sama Anis ini tidak ada bedanya. Mereka berdua masuk kamarnya tanpa ijin. Tahu sendiri kan Rega ini paling tidak suka jihka ada yang masuk kamarnya tanpa ijin. Tapi tidak tahu kenapa sekarang dia benar-benar malas membuka mulut. biarkan saja dua orang ini berbuat semaunya.
"Yo lah. Lo udah rapi tinggal siapin aja kata-kata buat lamaran nanti.. jangan sampe malu-maluin kita nanti."
"Eh om, masa perawan cantik ini dicuekin sih," kesal Anis karena pertanyaannya tidak dijawab.
"Bodo ah bang Bima males debat sama kamu."
Mereka bertiga menuruni anak tangga rumah ini. Suara sepatu yang berbentur dengan keramik begitu terdengar dengan jelas. Alis Rega mengkerut, aneh saat melihat Rima masih sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan wanita itu sama sekali belum terlihat siap akan pergi.
"Kenapa belum siap-siap?"
__ADS_1
Astaga! Rima benar-benar kaget. Saat ini dia memfokuskan dirinya untuk melihat tuan Rega yang hendak pergi untuk melamar pendamping hidupnya. Laki-laki itu berdiri dengan gagah. Jas hitamnya kini menutupi otot lengan yang biasanya Rima lihat saat Rega mengenakan kaos tipis.
"Kenapa gak ikut? Bukankan malam itu saya ajak kamu buat ikut ke acara saya? Malam ini?"
Rima gelagapan, kain lap yang berada di tangannya ia remas dengan kuat. Kepalanya menunduk menatap kedua kakinya yang kusam. "Maaf kak rega. Saya tidak bisa ikut. Rafa sedang sakit. Jadi saya tidak mungkin meninggalkannya," Ucap Rima tidak enak hati.
"Sakit? Kenapa tidak beritahu saya? Bawa kerumah sakit sekarang!."
"Rega!" Suara Gina menghentikan gerakan Rega yang hendak menemui Rafa di kamarnya. Bima dan Anis sudah keluar dan duduk anteng di dalam mobil. Sedangkan tokoh utama yang akan melangsungkan lamaran malam ini malah sibuk dengan seorang pembantu?
Sungguh Gina merasa kesal.
"Ayo, kita sudah terlambat. Dia bisa urus anaknya sendiri." Gina menarik lengan Rega dan membawanya ke luar rumah.
"Iya, Rafa juga tidak terlalu parah kak. Semoga berhasil!" Ucap Rima saat Rega menatapnya. Sembari memperlihatkan senyuman terbaliknya. meski Rega tahu senyuman itu dengan mata sayu.
Entah kenapa melihat senyuman manis itu raganya sangat berat untuk keluar dari rumah. Rega hanya bisa berdoa semoga apa yang dia pilih saat ini tidaklah salah. Berharap semua yang dilakukan adalah langkah yang benar, meski langkah itu tidak benar sepenuh hati.
****
hallo!
Maaf lama buangeeett gak update. hehe aku tahu kok aku salah. Mungkin aku up juga gak ada yang baca lagi. Saking lamanya aku gak up.
Sebenernya aku tuh gak pede sama cerita aku sendiri. makanya aku gak lanjut. Tapi setelah aku pikir. Gak ada salahnya kan aku lanjutkan semampunya.
ternyata menulis itu tidak lah gampang.
Nemu ide. Tulis. Nemu lagi. Tulis lagi cerita baru. Padahal cerita sebelumnya belum tamat!
percaya deh. Menurutku lebih susah namatin dibanding cari ide cerita baru.
hahaha
__ADS_1
yang udah baca sama like, Beribu makasih aku berikan ^_^