
Sudah beberapa kost yang Rima temukan tapi semuanya penuh. Belum ada yang bisa menampung mereka. Rafa sudah kelihatan mengantuk sekali. Terlihat beberapa kali dia mengucek matanya.
Meskipun sudah larut malam. Masih banyak kendaraan yang lalu Langan di jalan. Tangan Rima sedari tadi tak lepas menggenggam tangan Rafa.
"Maaf ya sayang. Mamah sudah buat kamu susah" gumam Rima menatap putranya sendu.
"Aduh." ringis Rima. Tubuhnya bahkan sedikit oleng.
"Huahp... kenapa mah?" Tanya Rafa lirih. Setengah sadar.
"Sendal mamah copot. Sebentar ya mamah benerin dulu sendalnya" Rima melepaskan genggamannya pada tangan Rafa. Ia terlalu fokus pada sendalnya sampai tak tau kalau Rafa sudah jalan sendiri mendahuluinya.
"Ini bukan copot tapi putus." Gumamnya lesu.
"Rafa bisa bantu mamah pegang sen- Rafa.. Rafa.." mata Rima membulat. Ia tidak menemukan Rafa di sampingnya. Rima menoleh ke kanan dan ke kiri tapi Rafa juga gak ada.
Rima berjalan tergesa-gesa dengan sendal putus ditangannya. Perasaannya sangat khawatir sekarang. Ia takut sekali.
"Rafaaaaa" teriak Rima kencang saat melihat putranya di depan sana di susul suara kelakson dan decitan rem mobil.
"RAFAAAAAA" Rima berlari secepat mungkin ia tidak peduli pada sendal yang sudah ia lempar begitu saja. Trotoar terasa sangat dingin di kakinya yang polos.
Di sana Rafa terlihat di kerubuni oleh beberapa orang. Dada Rima semakin sesak. Ia takut terjadi sesuatu pada putranya. Rima menghampiri putranya yang terduduk di aspal tengah di peluk seseorang.
Suara tangis Rafa juga terdengar di telinga Rima namun tertahan karna pelukan seseorang berjas hitam.
"Hiks... Mamah" gumam Rafa lirih.
Rima yang mendengarnya langsung saja ikut berjongkok dan merebut Rafa kedalam pelukannya. "Ini mamah. Maafin mamah ya" ucapnya pelan. Rima mencium kening Rafa, memperhatikan wajahnya di sana tidak ada luka sama sekali. Syukurlah...
"Mana yang sakit hhemm?" Tanya Rima ambil mengusap air mata di pipi Rafa. Rima juga menangis ia takut sekali sesuatu yang buruk terjadi pada Rafa.
" kita ke rumah sakit" suara berat dari pria ber jas hitam itu mengalihkan pandangan Rima dari Rafa yang sudah berhenti menangis namun masih sesenggukan.
"Tidak perlu. Anak saya baik-baik saja" tolak Rima pelan. Ia tidak mempunya uang yang cukup untuk ke rumah sakit.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Cepat bawa dia masuk kedalam mobil" titah nya lagi dengan sedikit paksaan.
"Tidak usah-"
__ADS_1
" Lututnya terluka!!" Bentaknya. Memotong ucapan Rima yang hendak menolak.
Apa?. Dengan cepat Rima membuka celana berwarna hitam yang menutupi lutut Rafa. Dan benar saja disana terdapat luka yang lumayan dalam banyak darah juga. Bagaimana bisa Rima tidak menyadari itu.
"Shhh.... Sakit mah" Rafa meringis.
Rima mengusap air matanya." I-ya kita ke klinik sekarang. Ayo mamah gendong" Rafa mengangguk.
"Biar saya" ucap pria tadi dan langsung memangku Rafa dari depan.
"Maaf. Tapi biar saya saja. Terimakasih sudah menolong tadi. Biar anak saya di tangani di klinik terdekat saja disini. Anda bisa meneruskan perjalanan anda kembali" ucap Rima.
Si pria tadi langsung menoleh. Wajahnya menampakan raut tidak suka. "Saya juga bersalah disini. Jadi biar saya antar kalian ke rumah sakit"
Rima mengangguk. Tidak ada pilihan lain. Jika terlalu lama berdebat kasihan Rafa yang sedari tadi menahan sakit di lututnya.
****
" Lukanya tidak begitu dalam. Jadi tidak perlu dijahit" kata dokter sambil menuliskan resep obat yang harus di di tebus di apotek kemudian memberikannya kepada Rima dan Rima menerimanya.
"Alhamdulillah..." Ucap Rima pelan. Tangan kirinya sedari tadi mengelus punggung Rafa yang tertidur di pangkuannya. Rafa pasti sangat lelah dia tertidur sangat pulas.
Tak lama setelah dokter tadi keluar pria ber jas hitam tadi masuk untuk melihat keadaan Rafa. "rawat inap saja disini" ucapnya.
Rima menggeleng. "Tidak perlu. Lagi pula lukanya tidak begitu parah"
Pria itu tampak mengangguk samar. "Saya antar kalian pulang. Biaya rumah sakit sudah di bayar."
Rima menghela nafas."Terima kasih. Nanti saya ganti-"
"Tidak usah." Potongnya.
Pria itu melangkah mendekati mereka berdua lebih tepatnnya ke arah Rafa " biar saya yang menggendongnya". Dia mengambil alih Rafa dari pangkuan Rima dan menggendongnya dari depan seperti koala. Dia juga mengusap punggung Rafa saat anak itu menggeliat. Kepala Rafa bersandar di bahu kokoh pria itu.
Sesak sekali rasanya Melihat pemandangan ini. Rafa terlihat begitu nyaman di gendongan pria itu.
Sesampainya di depan mobil, Rima tampak begitu bingung. Ia harus kemana sekarang. Rafa sudah masuk ke dalam mobil bersama pria tadi. sedangkan ia harus menebus obat Dulu di apotek.
Rima menunduk mengamati kedua kakinya yang polos dan juga kotor. bisa-bisanya ia percaya begitu saja pada orang asing dan membiarkan Rafa di bawa olehnya.
__ADS_1
tadi Rima melihat jam dinding di rumah sakit menunjukan bahwa sekarang sudah pukul 2 dini hari. kurang lebih 3 jam lamanya mereka jalan berdua dari kontrakan sampai sekarang.
"masuk"
entahlah dunia Rima terasa begitu berat sampai-sampai ia tidak mendengar apapun. pikirannya campur aduk seperti benang kusut. "sekarang mau kemana?. tempat tinggal belum ada. uang juga tinggal sedikit lagi. ya Allah bantu aku".
"khemm..... kenapa belum masuk?" tanya pria tadi di dalam mobil. dia duduk di belakang kemudi sambil memangku Rafa.
"gak bisa buka?." tanya nya lagi.
Rima menunduk gugup. "b-bisa kok"
Rima membuka pintu mobil dengan tangan bergetar.
suasana di dalam mobil sangat hening. Rima mengelus punggung Rafa yang sudah pindah di pangkuannya.
"di mana rumah kalian?" tanyanya saat beberapa menit terdiam. pria itu sama sekali tidak menoleh. pandangannya hanya lurus memperhatikan jalanan yang lenggang.
"turun disini saja." ucap Rima pelan. ia tidak mau merepotkan orang lain.
"kenapa?"
Rima menggeleng "tidak apa-apa. kami turun disini saja"
mobil berhenti. Rima turun dengan mengendong Rafa yang lumayan berat untuknya. dan jangan lupakan keadaan kaki Rima yang masih polos.
"saya permisi. terima kasih sudah membantu kami" pria itu mengangguk. Rima berjalan kecil. dia melihat halte bus.
ia duduk disana memperhatikan lampu yang hampir redup sembari terus mengusap punggung Rafa.
dadanya terasa sesak. Rima tidak tau harus bagaimana lagi. air mata yang sedari tadi di tahan kini mulai keluar. Rima terisak pelan sambil terus mendekap tubuh Rafa.
kau sangat bodoh Rima. seharusnya kamu tidak pergi begitu saja dari kontrakan hanya karna emosi. lagi pula kamu tidak salah dan kenapa kamu yang harus mengalah. kalau tadi ia bisa membantah tuduhan om Dian, Rafa tidak akan menderita sekarang.
mobil yang tadi Rima tumpangi berhenti tepat di depannya. pintu mobil nya terbuka di susul dengan keluarnya pria berjas hitam tadi. "masuk"
**
hayo loh. pria jangkung atau pria berjas hitam?
__ADS_1