HaRima

HaRima
bagian 12. marahnya Bu Desi


__ADS_3

"Bu-"


"APA? CEPAT KATAKAN BERAPA BANYAK UANG YANG KAMU MINTA DARI SUAMI SAYA?!" potong Bu Desi cepat.


"Bu mohon jangan ribut. Tidak baik di lihat anak-anak"


"Bu Rina saya sudah bilang JANGAN IKUT CAMPUR!"


"Astaghfirullah. Bu Desi sabar Bu" ibu-ibu yang lain juga ikut menenangkannya. Namun dari kejauhan. Sepertinya ibu-ibu itu sedang mager untuk berjalan. Mereka hanya duduk manis menonton kejadian ini sembari berbisik-bisik.


"Pantesan saja suami saya sering belanja diam-diam tanpa sepengetahuan saya. Rupanya mau belanjain kamu ya. Dengerin ya ibu-ibu kalian harus hati-hati sama dia takutnya nanti suami kalian di godain lagi" ucapnya membara


Bagaimana ini?. Tolong beritahu Rima bagaimana cara menjelaskannya. Ia sungguh bingung sekarang. Tidak berani menatap Bu Desi ia hanya menunduk dan menunduk.


"Mah"


Suara pelan datang dari samping tubuh Rima. Mendengar suaranya saja Rima sudah tau kalau dia adalah Rafa, tadi anak ini pergi ke rumah Ucup untuk mengembalikan buku cerita yang kemari tag pinjam.


Melihat mamahnya menangis dan Bu Desi yang masih marah-marah. Rafa memandang Rima dengan bingung.Tidak berani menatap Bu Desi ia hanya menunduk dan menunduk.


"Mah"


Suara pelan datang dari samping tubuh Rima. Mendengar suaranya saja Rima sudah tau kalau dia adalah Rafa, tadi anak ini pergi ke rumah Ucup untuk mengembalikan buku cerita yang kemari dia pinjam.


Melihat mamahnya menangis dan Bu Desi yang masih marah-marah. Rafa memandang Rima dengan bingung. Apalagi sekarang Rima malah menjatuhkan tubuhnya, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tinggi tubuh Rafa kemudian mendekap anak laki-laki itu dengan erat. Sehingga tubuhnya yang basah akibat di siram air Bu Desi tadi ikut membasahi baju Rafa.


"Mamah kenapa nangis?" Tanya Rafa polos.


Rafa memandang bu Desi dan Bu Rina yang tampak adu mulut.


"DARI PADA KAMU IKUT CAMPUR. MENDING KAMU AJARIN DEH ANAK MURID KAMU ITU SUPAYA NANTI PAS UDAH GEDE MEREKA GAK PADA JADI PELAKOR!!!"


"Bu sudah Bu. Tenang. Bicarakan semua baik-baik."


"GAK BISA!"

__ADS_1


"bu Desi disini ada Rafa. Tidak baik orang tua bertengkar di hadapan anak-anak." Bu Rina masih berusaha untuk menenangkannya.


"SAYA TIDAK PEDULI. BIAR SAJA ANAKNYA TAU KALAU IBUNYA INI PE-LA-KOR. PEREBUT LAKI ORANG!"


"Ada apa ini?" Tanya pak RT? Yang kebetulan lewat di sana.Di susul pak Dian suaminya Bu Desi yang berjalan di samping pak RT.


Pak Dian yang melihat istrinya marah-marah kemudian melihat Rima yang tengah memeluk Rafa dan kembali memandang istrinya aneh.


Bu Desi yang sadar bahwa suaminya berada di sini menoleh kearahnya dan langsung menyambar telinga suaminya kemudian memelintirnya dengan kuat.


Ibu-ibu di sebrang sana di buat ngilu melihat telinga pak Dian merah.


"Itu si Dian pasti di godain tuh sama si Rima."


"Iya. Atau mungkin neng Rima pakai jampi-jampi ya?"


"Iya pasti itu makannya pak Dian kecantol sama dia. Padahal kan dia gak cantik-cantik banget"


" Bu kita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Jadi jangan berasumsi sendiri nanti jatuhnya fitnah."


"Iya bener"


"Bener tuh"


"Iya bener pasti begitu"


Rafa merasa situasi ini sangat menyakiti mamahnya. Rafa tidak tau apa-apa selain mamahnya yang menangis dan bude Desi yang marah-marah.


"Sudah bu Desi. Apapun masalahnya kita bicarakan baik-baik" pak RT menengahi.


Pak Dian hanya meringis sambil mengusap telinga nya yang memerah. Lalu tangannya menarik Bu Desi untuk pulang ke rumah. Tetapi arah matanya terus saja memandangi Rima yang masih memeluk Rafa. dasar mata keranjang sudah ketahuan istri juga masih genit. mau di colok itu matanya.


*****


malamnya di kediaman Bu Desi.

__ADS_1


suasana hening kini melingkupi rumah yang biasannya sangat ramai dengan ocehan khas dari seorang Bu Desi. namun, yang terdengar hanya suara jam dinding serta sendok dan piring yang saling bersentuhan.


disana di meja makan Nella hanya memandangi nasi serta ayam kecap yang di belikan kak Mawan- kakaknya Nella tadi, sebab sang ibu tidak memasak hari ini.


Mawan yang menyadari jika bapak dan ibunya sedang dalam masalah dan berakhir membuatnya serta Nella kelaparan akhirnya memilih untuk membeli makan. dan sekarang tepatnya di meja makan Nella hanya diam dan terus memandangi nasi serta ayam kecap nya tanpa ada niatan untuk memakannya kembali. setelah beberapa sendok makanannya masuk, suara pecahan terdengar di dalam kamar Bu Desi. dan itu membuat selera makan Nella hilang begitu saja.


semakin besar sifat Nella yang cerewet dan juga ceria perlahan memudar. semakin kesini sifat Nella yang baru perlahan mulai terlihat sekarang dia terlihat lebih pendiam dan juga cuek dengan sekitar. ya meskipun sifat cerewet nya tidak hilang begitu saja.


"makan lla" perintah suara yang berasal dari mulut laki-laki di samping Nella.


"kakak juga kenapa gak makan?" jawab Nella ketus. Mawan hanya diam. enggan rasanya meskipun hanya sekedar membuka mulut.


prangg


bunyi pecahan kedua dari dalam kamar memekik gendang telinga keduanya. Nella dan kakaknya saling pandang kemudian menunduk secara bersamaan.


"kak wan" ucapnya lirih.


"sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan itu" Mawan berdecak seraya menoleh kearah lain.


"hikss"


kenapa jadi begini?. kalau kehadiran bapaknya dari luar kota hanya untuk menyakiti ibunya Nella sungguh tidak akan rela. se rindu apapun dia dan se sayang apapun dia pada pak Dian Nella lebih memilih tidak bertemu dengannya jika harus menyakiti ibunya.


"sudah jangan nangis. kita nonton kartun kesukaan kamu aja di hape kakak." tawar Mawan tak tega melihat adik satu-satunya ini menangis. mendapat anggukan dari Nella tanda persetujuan akhirnya mereka berdua berakhir di kamar Mawan dengan di temani video Masha and the bear dari layar hp.


Mawan hanya diam saat melihat adiknya sedang menonton dibatas tempat tidurnya. sedangkan dia sedari tadi duduk di kursi belajar memperhatikan Nella dengan fikiran bercampur aduk.


Mawan tidak tau apapun. bahkan dia jarang sekali bertemu dengan Rima. meskipun tetanggaan dia sama sekali jarang keluar rumah apa lagi jajan. kalau keluar pun hanya untuk bersekolah.


sekarang tidak terdengar apapun di kamar orang tuanya. tidak ada lagi suara cekcok, adu mulut bahkan pecahan kaca sudah tidak lagi terdengar. hening.


mungkin ibunya sudah kelelahan akibat mengeluarkan suara yang tidak ada habisnya sedari tadi.


bagaimana Bu Desi tidak kecewa?. Rima sudah ia anggap anak sendiri meskipun Bu Desi sendiri masih muda tapi tetap masih mudaan Rima dan dia sekarang sudah mendapatkan perhatian dari suaminya. gadis yang selama ini ia bantu malah membuatnya begitu kecewa. seperti.....

__ADS_1


air susu dibalas air tuba


__ADS_2