HaRima

HaRima
bagian 24. Diam dan jangan bergerak!!


__ADS_3

Braakkkk...


'suara apa itu?'batin Rima bertanya.


Ia bangun dari tidurnya menggelung tinggi rambutnya yang tergerai, jam menunjukkan pukul 24 :55. Dengan muka bantal Rima keluar dari kamar meninggalkan Rafa yang masih terlelap, anak itu nyenyak sekali tidurnya. Suara gerimis mulai terdengar, akhir-akhir ini hujan sering turun. Tapi tidak terlalu besar. Seperti sekarang ini.


Rima mencari-cari dari mana suara itu berasal. Perasaan bumbu-bumbu dapur sudah ia bereskan dengan apik, tidak mungkin kan bumbunya jatuh?.


"Dari mana suaranya?" Gumam Rima.


Braaakkk


Rima terperanjat, dia tau sekarang dari mana suara itu. Tanpa pikir panjang Rima mengambil kunci cadangan di dalam kamar dekat tempat tidur, kunci yang Rega berikan tempo hari, kemudian membuka pintu halaman belakang. Rima keluar dan kembali mengunci pintunya.


Halaman tidak gelap, karena ada 2 lampu taman yang menyala meskipun tidak begitu terang. Hujan gerimis mengenai lengan Rima yang terbuka, terasa dingin. Rima lupa tidak memakai blazer lusuhnya yang selalu dia pakai setiap saat. Tadi waktu Rima ingin tidur dia membuka nya.


Mata Rima memperhatikan keadaan sekitar. Tidak ada yang aneh, hanya saja kolam dekat gazebo terlihat berantakan apalagi tanaman hiasnya.


dengan rasa was-was sekaligus penasaran, Rima melangkah perlahan mendekati gazebo di sana. jantung Rima berdegup kencang, takut dan penasaran kini bercampur aduk.


Rima berbalik saat merasakan sesuatu melintas di belakang punggungnya. karena gugup yang sedari tadi menyerang, Rima kembali melangkah, tapi dengan langkah mundur.


karena terlalu fokus mengamati sekitar dengan rasa takut. Rima tidak memperhatikan langkah mundurnya, dia tersentak saat punggungnya menyender pada sesuatu yang keras serta kokoh.


keringat dingin kini membasahi kening serta lehernya, padahal cuaca sedang dingin-dinginnya.


Rima mematung saat kedua tangan besar berada di kedua sisi pundaknya kemudian membalikan tubuhnya secara kasar.


Rima menahan napas sambil menutup matanya rapat-rapat, kedua tangannya mengepal dengan tubuh gemetar. takut, tapi tidak bisa melawan. tubuhnya sudah lemah. bahkan Rima tidak ingin membuka matanya. dia menyesal, telah keluar.


Rima semakin memejamkan matanya kala helaan napas hangat menerpa wajahnya. Di tambah lagi cengkraman di bahunya semakin mengerat membuat jantung Rima bekerja lebih cepat.

__ADS_1


"Ngapain di sini?"


Rima menyipitkan matanya, suara ini tampak tidak asing, seperti suara yang selalu memerintahnya. Memanfaatkan keberanian yang tinggal secuil, Rima membuka matanya. Benar saja...


"Kak…"


Kalian pasti sudah taulah siapa orangnya, tidak mungkin pak Jajang satpam di rumah ini, bahu dan perutnya tidak sekeras Rega.


Rega memandang Rima aneh, kedua alisnya terlihat menyatu di keremangan. Tadi dia juga mendengar suara keras itu, makannya dia keluar lewat pintu depan, mengecek setiap sudut rumah dan berakhir di sini, di gazebo.


Pak Jajang malam ini izin, katanya istrinya sedang sakit. Karena itu Rega keluar dari rumah, hanya untuk memastikan.


Taman terlihat berantakan, apa lagi kolamnya, terlihat keruh dan kotor, ikannya juga ada beberapa yang kaku, entah mati atau hanya pingsan. Banyak juga tanaman hias yang tumbang beserta pot nya. Keadaan taman belakang terlihat hancur berantakan.


"Emm... Tadi saya-"


Jedeeeerrrrr


"Masuk cepat" Rega menyeret Rima masuk kedalam gazebo, suara petir yang menggelegar sangat memekik telinga mereka berdua. Tidak lama setelah itu hujan lebat serta angin kencang datang, bersamaan dengan kilatan petir di langit hitam.


Suara air yang bertubrukan dengan bumi terdengar sangat jelas. Rima memeluk kedua lututnya, di pikirannya hanya ada Rafa. Raut cemas sangat kentara di wajahnya.


"Tidak perlu cemas, anakmu baik-baik saja" ucap Rega yang duduk tepat di samping Rima. Wajahnya dia arahkan menghadap atap gazebo.


"Tau dari mana?.. kita berdua sama-sama di sini. Kamu tidak tau Rafa terbangun atau tidak!!. Petir nya sangat keras, tidak mungkin dia tidak terbangun dan menangis." Kata Rima keras karena petir kembali menyerang telinga keduanya.


"kamu?. Panggil aku kak!. Tidak sopan." Ucap Rega tak kalah tegas. kesal dengan nada tinggi yang wanita ini gunakan.


Rima sadar, dia begitu khawatir pada Rafa sampai tidak sadar telah membentak tuannya."maaf" ucapnya lirih. dia benar-benar khawatir Rafa terbangun karena petir, apalagi Rima tidak ada di sampingnya.


Setelah mengatakan itu, Rima berdiri, hendak pergi menerobos hujan lebat serta petir yang tak kunjung berhenti, tetapi pergerakannya terhenti karena Rega menahannya dan menarik tangannya dengan cepat, tanpa aba-aba.

__ADS_1


"Agrhh" desis Rega.


Mata Rima membola, dia terjatuh dan duduk tepat dipangkuan Rega. Rima ingin berdiri lagi tapi, tangan Rega kembali menahannya. "Diam di sini. Dan jangan bergerak" bisik Rega tepat di telinga Rima. Bahkan hidungnya menyentuh leher bagian belakang Rima yang terbuka karena rambutnya di Cepol ke atas.


"Sa-saya ingin turun" ucap Rima tidak nyaman dengan posisinya sekarang. Apalagi pucuk hidung pria itu menyentuh kulitnya


"Saya bilang jangan bergerak!!. Diam! Rafa akan baik-baik saja." tegas Rega, dan Rima bergeming.


jantung keduanya terasa berdetak lebih cepat. Rega memejamkan matanya, salah satu tangan yang melingkar di perut Rima semakin mengerat.


"kak..." ucap Rima, ia bergerak gelisah di atas pangkuan Rega. hujan serta petir seolah tidak ada sekarang, Rima gugup bukan main.


"shh"Rega semakin memejamkan matanya karena Rima tidak bisa diam di tempatnya. tangan Rega terkepal kuat. "turun!"


dengan segera Rima turun dari pangkuan Rega saat lilitan tangan Rega terlepas. mereka berdua kini duduk berdampingan kembali menunggu hujan lebat ini berhenti dengan perasaan canggung.


wajah Rega memerah, untung lampu taman tidak terlalu terang, sehingga wajah merahnya tidak terlalu jelas.


cukup lama mereka diam, Rega melirik jam tangan di pergelangan tangannya. rupanya mereka berdua sudah 10 menit duduk di di sini tanpa berkomunikasi.


"ngapain di sini?" tanya Rega suaranya terdengar serak.


"emm ta-tadi, ada suara benda jatuh"jawabnya.


"tanaman itu yang jatuh" Rega menunjuk ke rak tanaman dekat kolam. pot-pot tanaman di sana pecah semua.


"lain kali kalau kamu dengar sesuatu, jangan keluar!. diam saja di rumah!"


"tadi saya hanya ingin memerik-"


"meriksa apa?. tugas kamu hanya memasak, membereskan rumah dan melayani saya." ucap Rega kelepasan di akhir kalimat. "khmm. jika ada lagi kejadian seperti ini jangan keluar kalau perlu telpon pak satpam atau saya. pake saja telpon rumah." lanjutnya dan Rima hanya mengangguk kecil.

__ADS_1


bukan karena apa Rega berkata seperti itu. tadi dia melihat dua orang pria dewasa di sekitar sini, meskipun hanya sekelebat. Dua orang itu sudah pergi dengan memanjat tembok dan menyenggol rak bunga sehingga rak yang di penuhi tanaman itu jatuh kedalam kolam.


Rega juga sempat panik, dia lupa menutup pagar tadi sore tapi saat dia mengecek kembali menutup pagar serta memeriksa setiap sudut rumahnya, tidak ada yang terbuka. berarti kedua orang itu tidak masuk ke dalam rumah.


__ADS_2