HaRima

HaRima
bagian 33. Sayang sekali


__ADS_3

Dua hari, sudah dua hari ini Rega bertukar pesan dengan Claviora. Rega menepati perkataanya untuk mengajak Claviora mengobrol meskipun dengan kontak sekunder (secara tidak langsung/ melalui ponsel). Yaa, meskipun hanya bertukar kabar atau sekadar menyapa yang sebenarnya tidak terlalu penting.


Meskipun Rega dan Claviora dulunya teman dekat saat duduk dibangku menengah atas, tapi setelah berpisah beberapa tahun, interaksi mereka sekarang lumayan kaku, bukan lumayan lagi,tapi memang kaku. Sebenarnya Rega ingin mengobrol secara langsung/ tatap muka dengan Claviora untuk kedepannya. Tapi karena dua hari ini dia lumayan sibuk serta Claviora sendiri juga sedang mengunjungi/menginap di rumah orang tuanya yang tempatnya lumayan jauh dari daerah sini, mungkin besok Rega berniat mengajak Claviora untuk jalan-jalan meskipun malas. Rasanya Rega lebih baik mengajak Rafa untuk lari pagi atau mengajak anak itu untuk jajan eskrim di minimarket.


Besok kebetulan jadwal Rega libur karena dalam satu Minggu Rega selalu menyiapkan satu hari untuk lepas dari yang namanya 'pekerjaan'.


Dan sekarang sudah memasuki waktu tengah malam, Rega baru saja memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Wajahnya kusut, dengan dasi yang sudah disampingkan di atas pundak.


Ceklek


Keadaan rumah masih terang, itu berati penghuni didalamnya masih melek, oh itu sudah pasti, karena Rega selalu melarang Rima untuk tidur sebelum dia sampai di rumah ini. Tapi rasanya kasihan sekali melihat dia tidur dengan menelungkup'kan tangannya di atas meja. Wajah wanita itu juga sangat lelah.


"Rima, bangun." Rega mengetuk-ngetuk meja tiga kali sampai Rima terbangun.


"Tuan.."


"Bangun. Pindah ke kamar." Rega menyuruh Rima untuk tidur kembali ke dalam kamar.


"Tuan tidak mau makan?"


"Siapa bilang? Saya cape kerja seharian. Dan perut saya lapar seperti biasa mana mungkin saya tidak makan." Rega mendudukkan dirinya.


"Biar saya panaskan makanannya."


"Tidak perlu. Kamu tidur saja di kamar."


"tapi tuan-"


"Tidur!"


Tanpa membantah Rima segera berbalik badan untuk masuk kedalam kamarnya.


"Rima, lain kali tidak perlu menunggu saya pulang sampai se larut ini. Cukup siapkan makan malam, setelah itu tunggu saya sampai jam 9 atau jam 10. Kalau saya belum pulang juga, kamu tidur saja di kamar. Jangan lupa kunci semua pintu." Rega pikir sudah cukup dia terlalu merepotkan Rima. Lagian kasihan juga kalau wanita itu harus menunggunya hampir setiap hari.


"Baik tuan."


****


Sesuai dengan jadwal yang ditentukan, hari ini Rega ada janji dengan Claviora. Cafe dengan nuansa coklat, adalah pilihan yang tepat untuk mengobrol.


Sore ini sangat panas, meskipun ini sudah hampir pukul empat sore, tapi sepertinya matahari masih betah memancarkan sinarnya. Ditambah lagi dengan suasana cafe yang sangat ramai, semakin membuat Rega menjadi gerah.


Sudah beberapa menit Rega menunggu, sampai-sampai kopi yang dipesannya tadi telah habis setengah. Sungguh Rega sangat benci jika harus menunggu seperti ini. Kenapa orang-orang sering kali mengulur waktu? Atau mereka tidak tahu kah bahwa orang yang mereka tunggu bisa jadi hanya memiliki sedikit waktu.


Rega melirik jam tangannya kemudian membuang napas kasar. Ini sudah hampir setengah jam dia duduk disini, sampai-sampai bokongnya terasa panas.


"Ck." Rega bangkit dari duduknya. Mungkin gadis itu masih punya kesibukan lain. ponselnya juga tidak aktif.

__ADS_1


Setelah membayar kopi, Rega segera pergi menuju mobilnya di parkiran. Baru saja dia membuka pintu, seseorang telah menepuk pundaknya yang membuat Rega segera berbalik dan dengan kasar menepis tangan itu.


Wanita dengan balutan tank top berwarna hitam dengan lapisan jaket rajut itu sempat tersinggung tangannya di tepis begitu saja. Tapi saat mendengar ucapan 'maaf' dari bibir Rega membuat senyumannya kembali.


"Mau kemana? Kita kan akan bertemu di sini?"


Bisa-bisanya gadis ini bertanya seperti itu setelah membuat dia lama menunggu.


"Ini sudah jam berapa? Dan kita tadi janji untuk bertemu jam berapa? Saya tidak punya banyak waktu untuk menunggu," ucapnya, setelah itu Rega masuk kedalam mobil.


"Maaf, tadi ada sedikit kendala. Kita jadi mengobrol kan?"


"Menurut mu?" Rega menurunkan kaca mobilnya.


"Aku harap begitu," ucapnya pelan.


Rega membuang napas lelah,"Kalau begitu masuklah, kita cari tempat lain." Sayang juga kalau hari ini mereka tidak jadi bertemu, pikirnya.


Mobil melaju membelah jalanan, Claviora dengan wajah bingungnya tidak tahu mau di bawa kemana, akhirnya memulai pembicaraan.


"Emm, ga, kita mau ke mana?"


"Tidak tahu, mungkin kita membutuhkan tempat terbuka untuk berbicara?" Rega melirik sekilas ke arah Claviora, "ada beberapa hal yang harus dipastikan, sebelum hubungan kita berlanjut. Kamu tidak keberadaan?"


"Tentu saja tidak." Claviora menjawab tegas. "tapi, bisakah kita berbicara dengan bebas, maksudnya tidak kaku seperti ini. Santai saja seperti dulu." Claviora mendesis setelah mengatakannya. Ada sedikit rasa malu untuk mengutarakan keinginannya.


"Benar juga."


****


"Jadi bagaimana?"


"Apa?"


"Apa yang mau kita bicarakan sekarang?"


"Ohh, tunggu sebentar." Rega meninggalkan Claviora di tempat duduknya menuju salah satu penjual minuman cup.


Mereka berdua sudah sampai di tempat yang mereka cari. Mungkin karena hari sudah sore, taman ini jadi lumayan sepi, sehingga keduanya bisa berbincang dengan tenang.


"Ini minum lah."


"Terima kasih."


"Hmm."


Sebenarnya banyak sekali pertanyaan dibenak Rega. Dia sama sekali tidak masalah kalau memang harus menikah dengan Claviora, toh tidak ada ruginya. Claviora cantik? Jelas! Wangi? Tentu! Pintar? Pasti!

__ADS_1


Tapi masalahnya, Rega tidak mungkin menikahi Claviora tanpa perkenalan lebih dulu. Sudah dibilangkan, meskipun mereka teman dekat saat dulu. Tapi kan itu dulu, bukan Sekarang. Jadi ya sama saja, Rega butuh waktu untuk mengenal sosok Claviora kembali yang tentunya versi sekarang.


Soal yang waktu di meja makan waktu itu, Rega yang berniat menikahi Rima. Itu hanya spontan, Rega sama sekali tidak berpikir sebelum mengatakan itu. Dia hanya ingin ibunya tahu kalau dia sama sekali tidak tertarik dengan Claviora ataupun wanita lain, dengan cara suapaya ibunya mengira kalau dia hanya tertarik dengan Rima, jadi ibunya tidak perlu repot-repot untuk mencarikannya wanita lagi.


Tapi mau bagaimana lagi? Ibunya ini sangat pemak-


"Rega." Suara Claviora mengalun dengan indahnya.


-sa.


"Khmm, begini, ada beberapa pertanyaan sekaligus pernyataan untuk pembicaraan kita ini." Rega tampak serius.


"Oke."


"kamu kembali ke Inggris?" Pertanyaan pertama. Ini termasuk pertanyaan sederhana yang tidak terlalu penting untuk segian orang. Tapi bagi Rega ini penting! Dia harus tahu kalau gadis ini berapa lama lagi tinggal di negri ini.


"iya, sekitar empat bulan lagi. Sebenarya aku kesini hanya ingin berlibur dan bertemu keluarga."


Rega cukup terkejut dengan jawaban Claviora, dia pikir Claviora sudah selesai dengan pendidikannya. terus kalau nanti mereka menikah, Rega bakal di tinggal pergi ke Inggris? sementara itu masih pengantin baru? ohhhh tidak bisa!


"Oke, terus kamu sudah punya pacar atau teman laki-laki?"


Claviora tertawa,"heyy kamu tau sendiri, aku ini punya banyak teman. Tentu saja aku punya beberapa teman dekat laki-laki. Aku harap kamu tidak keberatan akan hal itu?"


Tidak keberatan? Hah! Rega sangat keberatan. Dia tidak ingin memiliki hubungan dengan wanita yang memiliki banyak teman pria. Memang tidak ada salahnya. Tapi Rega juga berhak tidak menyukainya bukan?


"Kamu setuju dengan pernikahan ini?"


"Kenapa tidak?"


"Misal, setelah kita menikah, kamus akan tetap pergi ke Inggris?"


"ya, mana mungkin aku meninggalkan pendidikkanku. Pendidikan sangat penting Rega." Claviora sudah tidak terlalu kaku lagi sepertinya.


"Kalau memang pendidikan sangat penting menurutmu. Kenapa kamu mau menikah dengan orang yang hanya lulusan SMA."


"Apa? Kamu tidak kuliah?" Dia terkejut.


"Iya, kenapa?"


"Sayang sekali." Wajah Claviora terlihat muram.


"Sayang sekali apa? Hn, kamu malu kalau punya suami hanya lulusan SMA sedangkan sang istri lulusan luar negri?" Rupanya Rega tersinggung.


"Bu-bukan begitu-"


"Tidak ada yang bisa kamu banggakan dari saya, Claviora."

__ADS_1


...****...


__ADS_2