HaRima

HaRima
bagian 13. Ceritakan tentang....


__ADS_3

di kontrakan Rima dan Rafa sedang makan malam. makan dalam keheningan. mengingat tadi pagi Bu Desi datang dengan emosi yang menggebu, dan yang lebih parahnya lagi Bu Desi menyebutnya dengan sebutan pelakor.


"mah"


suara Rafa yang pelan mengalihkan perhatiannya yang sempat melayang ke kejadian tadi pagi.


"ya?. Rafa mau tambah nasinya?" tanyanya saat melihat nasi di piring Rafa sudah habis hanya tinggal kuning telur rebus nya saja disana. kebiasaan Rafa ketika makan pasti lauknya di sisain terus di gado sebagai penutup.


Rafa menggeleng sembari memasukan kuning telur rebus kedalam mulutnya dan mengunyah perlahan.


"tadi kenapa Bude Desi marah-marah?" tanya Rafa setelah meminum air putih yang sudah Rima siapkan di gelas plastik berwarna biru.


Rima hanya menggeleng dengan senyum lirih yang tampak jelas di wajahnya. " mamah juga gak tau sayang".


membereskan beberapa piring kotor kemudian membawanya ke kamar mandi untuk di cuci.


"Rafa ayo cuci tangan cuci kaki basuh muka sama gosok giginya" panggil Rima dari dalam kamar mandi.


setelah selesai bersih-bersih Rafa kembali di sibukkan dengan beberapa kertas serta pensil warna. sekarang memang waktunya untuk tidur, namun mereka berdua baru saja selesai makan mana mungkin bisa langsung tidur.


tadi Rafa sepulang dari masjid untuk shalat isya dia mengeluh lapar dan kebetulan ia juga belum makan karna memikirkan beberapa hal yang menyangkut kejadian tadi pagi.


melihat tumpukan baju yang belum terlipat Rima segera mengerjakan tugasnya untuk melipat pakaian sembari menemani anak kesayangannya yang sedang menggambar.


"tadi pulang di antar siapa?"


" sama ustadz abu mah" jawab Rafa tanpa menoleh sedikitpun. mata dan tangannya masih sibuk dengan kertas putih itu. putranya ini nampak murung sepulang dari masjid tadi.


"gak ada yang bicara kasar kan sama Rafa?"tanyanya. Rima takut jika putranya ini mendapatkan perlakuan ataupun perkataan yang tidak mengenakkan.


tidak ada jawaban. Rafa hanya sempat berhenti menggerakkan jarinya yang sedang mewarnai.


"Rafa, sayang kamu tidak apa-apa kan?" Rafa tidak menjawab dan itu sangat membuat Rima khawatir.

__ADS_1


"Rafa-"


Rafa menggeleng. namun menatap kosong pada kertas di hadapannya. gerak jarinya pun kini berhenti seolah sang pemilik sedang memikirkan sesuatu.


"ada yang jahat sama Rafa?" tanya Rima mendesak supaya putranya ini berbicara walaupun hanya satu kalimat saja.


"Rafa..." suara Rima terdengar lirih.


"apa mamah membuat kesalahan?" satu pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir mungil Rafa.


Rima menatap pria kecil di hadapannya ini dengan perasaan campur aduk.


"tadi Rafa dengar om-om yang di pos ronda lagi ngomongin mamah" sungguh Rima tidak tau harus bersikap bagaimana saat ini.


"emm.. ini sudah malam. sebaiknya Rafa tidur ya" Rafa yang tau kalau mamahnya ini tidak ingin menjawab akhirnya membereskan alat gambarnya.


merebahkan dirinya di samping Rima yang masih melipat pakaian di kasur lantai dengan bantal kesayangannya. Rafa belum bisa tidur dia terus bolak balik ke sana ke mari berguling-guling tidak jelas.


"kenapa? gak bisa tidur?" tanya Rima ia sedang memasukan baju-bajunya ke dalam lemari plastik. Rima terlihat begitu tenang, meskipun di dalam hatinya kini tengah berperang. keadaannya dengan Bu Desi sekarang sangatlah tidak baik. bahkan berita tentang dirinya telah merebut pak Dian dari Bu Desi sudah simpang siur di masyarakat sini. Rima memilih untuk menutup mata dan telinga saja. ia tidak mungkin bisa menutup mulut orang-orang di luaran sana untuk berhenti berbicara yang tidak-tidak tentang dirinya. biarkan saja mereka berbicara sepuasnya.


Rima mengambil kipas yang terbuat dari bambu. sejak kipas angin nya mati tangan Rima lah sebagai gantinya. Rima tidur di samping Rafa dengan tangan yang sibuk mengipasi tubuh Rafa yang berkeringat.


"kalau gerah banget buka aja bajunya."


"enggak. banyak nyamuk" tolak rafa


"mamah udah nyalain obat nyamuk nya jadi gak bakal ada nyamuk yang gigit Rafa" ujar Rima meyakinkan.


beberapa menit Rafa diam dia tidak mendengarkan apa yang Rima katakan tadi. dia masih mencoba tidur namun, keringat dan hawa panas semakin menambah Rafa sudah tidak kuat dan akhirnya dia membuka bajunya menyisakan singlet bergambar kartun.


"mau di bacain cerita?." tanya Rima. mengambil buku bersampul hewan kancil di atas lemari pakaian kemudian kembali berbaring di samping putranya. Rima membuka beberapa halaman di buku cerita itu.


Rafa menggeleng dengan mata terpejam. menandakan dia memang tidak ingin mendengar cerita yang sudah bosan dia dengar.

__ADS_1


"Rafa bosen denger cerita itu terus." ucapnya


Rima menghela nafas. ia kembali menutup bukunya." nanti kalau ada ungan lebih mamah pasti beli buku cerita baru. makanya setiap habis shalat Rafa harus berdoa kepada Allah supaya mamah sehat selalu. kalau mamah sehatkan nanti mamah semangat jualannya terus banyak juga dapat uangnya. ya"


Rafa mengangguk.


"yasudah sekarang Rafa mau dengar cerita apa?. kalau mamah tau nanti mamah ceritain deh." bujuknya


Rafa mengangguk antusias bahkan kedua matanya pun terbuka lebar. "janji?"


"emmm.... janji" jawabnya pasti.


Rafa terdiam beberapa saat. sepertinya putranya ini tengah memikirkan cerita apa yang dia ingin dengar.


"ceritain tentang......" ucap Rafa ragu. usai beberapa saat terdiam.


"tentang?" tanya Rima memastikan.


Rafa melirik kearahnya. mulut kecilnya sudah beberapa kali terbuka ingin mengat sesuatu namun kembali tertutup. kenapa dia begitu ragu?. apa Rafa takut kalau Rima tidak bisa bercerita. oh ayolah Rima bahkan sering berbicara sendiri saat masih sekolah. dan sekarang Rima sudah menyiapkan beberapa cerita anak di kepalanya.


Rafa terlihat ragu untuk mengatakannya. padahal Rima sudah tidak sabar ingin bercerita. apapun itu bahkan di kepalannya saat ini sudah ada daftar-daftar nama cerita yang mungkin saja Rafa sebutkan salah satunya. Rima bahkan sudah menyiapkan kata demi kata supaya ceritanya nanti bisa di mengeri. di mulai dari cerita rakyat dongeng-dongeng anak kecil Rima sudah menyiapkannya di dalam otak nya.


"tentang.... ayah"


buyaaaaarrrrr. semua cerita yang ada di kepalanya saat ini hilang begitu saja.


kosong.


hanya tersisa sedikit ingatan tentang malam kelam itu. dan mana mungkin Rima akan menceritakannya.


sungguh kisah yang Rafa ingin dengar dari mulut Rima tidak akan pernah bisa dia dengar. selamanya.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR 🙏


__ADS_2