HaRima

HaRima
bagian 2 . memulai hidup baru


__ADS_3

Rima,Mardi dan Nilam sekarang sedang duduk di kursi yang berada di ruang tengah. katanya Mardi ingin membicarakan sesuatu yang penting, menyangkut Rima tentunya. Cukup lama mereka terdiam akhirnya suara Mardi memecah keheningan.


"Bapak tidak bisa menerima kamu lagi disini."


Deggg


Rima hanya menunduk dengan air mata yang membasahi pipinya, sungguh dirinya tidak ingin keluar dari rumah ini tapi, dia juga mengerti kenapa bapaknya berkata demikian.


"Kamu tau sendiri kan, di Desa ini orang yang hamil di luar nikah masih jarang. sekalinya ada itu dianggap aib dan juga pembawa sial bagi desa ini. Kamu mengerti kan?"


"Rima ngerti pak. Kapan Rima pergi dari rumah dan Desa ini?"ucap Rima dengan kepala yang masih menunduk, tidak berani menatap kedua orang tuanya.


"Sekarang juga!!" Ujar Mardi dengan tegas.


"JANGAN" Nilam segera beranjak dan langsung memeluk Rima dengan erat.


"Jangan sekarang pak ini sudah malam, biarkan malam ini dia tidur disini dulu"pinta Nilam diiringi isakan nya.


Mardi menghela nafas panjang dengan tangan yang mengusap wajahnya kasar


"Baiklah besok subuh kamu sudah harus pergi dari sini, bapak ke kamar dulu"putus pak Mardi sembari melangkah meninggalkan Putri dan istrinya yang ia sayangi masih berpelukan


Tak di pungkiri bahwa Mardi juga tidak ingin Rima keluar dari sini. Namun apa daya, jika tidak, warga se Desa bisa saja membakar rumahnya


Biarlah, biar Rima tahu sebesar apa kesalahannya ini


Biarlah Rima bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri


Biarlah Rima belajar mandiri, berjalan dan berdiri dengan kaki sendiri


Yakinlah sebesar apapun kesalahan anak kepada orang tuanya. Rasa sayang yang hadir di hatinya tak akan pernah pudar


Begitupun dengan mardi, meskipun hatinya dilingkupi rasa kecewa dia juga masih menyayangi Rima. Namun kesalahan yang Rima buat sama sekali tidak pernah ia bayangkan


Keesokan paginya Rima sudah berdiri di depan rumah tepatnya pukul 05.00, dengan tas yang berisi baju di dalamnya.

__ADS_1


"Rima pergi pak....buk assalamualaikum"pamit Rima dengan suara lirih matanya bahkan membengkak serta terdapat lingkaran hitam yang menghiasi bawah matanya


"Waalaikumsalam silahkan pergi mumpung belum ada warga yang menyadari, mereka tahu kalau kamu sudah pergi tadi malam" balas Mardi dengan raut wajah datar dan langsung memutar tubuhnya masuk ke dalam rumah


Rima yang melihatnya hanya bisa diam hatinya sangat sakit ia menangis meskipun tidak ada setetes air di matanya. sampai ia merasakan hangatnya pelukan pada tubuhnya. pelukan terakhir dari ibunya, Nilam.


"Ibu Rima pamit assalamualaikum" pamit Rima yang kedua kali


"Sebentar na" tahan Nilam dengan tangan yang merogoh sesuatu di dalam saku bajunya


"Ini ada sedikit uang untuk mu ambilah dan jaga cucu ibu. Sampai dia besar nanti ibu harap dia bisa bertemu dengan kakek neneknya" suara lembut Nilam membuat Rima tersenyum tipis dan mengangguk


Rima menerima uang pemberian ibunya dan memasukannya ke dalam tas tadi


"Makasih bu. Sekali lagi Rima minta maaf"


****


Cuaca sangat panas, matahari sekarang sudah berada tepat diatasnya


Tapi mencari tempat tinggal di kota sangatlah tidak mudah. Dari tadi Rima sudah mencari kosan atau kontrakan tapi tidak ada yang cocok di kantongnya yang pas-pasan,ada juga yang menolaknya mentah-mentah karena Rima memberi tahu kalau dia sedang mengandung yang mereka bilang anak haram. sungguh hati Rima sangat sakit jika ada yang berbicara seperti itu kepada anaknya. Sampai kaki nya berhenti di sebuah kontrakan yang begitu kecil catnya juga sudah mengelupas serta terdapat banyak sekali debu. sepertinya kontrakan ini sudah lama ditinggal sang pemilik atau justru belum ada pemiliknya?


"Cari apa kak?" Tanya gadis yang memakai serangan sekolah dasar dengan jilbab yang penuh dengan noda coklat , jangan lupakan giginya yang juga berwarna coklat.


"Eh!..anu itu. Adek tau gak rumah ini punya siapa?"


"Oh ini kontrakan ibunya Nella kak" ucapnya dengan senyum lebarnya sehingga menampakan giginya yang coklat


"Nella siapa?"tanya Rima


"Kakak gimana si kan Nella itu aku kak" jawabnya cemberut


"Ohh nama kamu Nella. Baiklah Nella kakak bisa bertemu sama ibunya Nella gak?"


"Bisa kak bentar yah."

__ADS_1


Rima kira gadis kecil ini akan pergi kerumahnya untuk memanggil ibunya. nyatanya dia malah diam ditempat dan bersiap seperti akan...


"IIIIIBBBUUUUUUU...." Benar dugaan Rima dia akan berteriak.


"IBUUUU DISINI ADA KAKAK CANTIK. KATANYA MAU KETEMU IBU" astaga suaranya sangat nyaring. Tidak lama setelah itu Rima melihat ke rumah samping kontrakan, disana ada ibu-ibu ber daster keluar.


"Astaghfirullah NELLA! kalau mau panggil ibu ya jangan teriak-teriak gitu kasihan tetangga bisa rusak nanti gendang telinganya. Udah sana kamu mandi" selorohnya. Nella tanpa sepatah katapun sudah berlari memasuki rumahnya


"Emm maaf Bu nama saya Rima. Saya dari desa lagi cari tempat tinggal dan kebetulan saya lihat kontrakan ini" jelas Rima


"Ohh boleh banget kalau eneng nya mau tinggal disini" ucapnya dengan senyumnya yang manis " tapi maaf nih neng kontrakannya juga kecil cuma ada satu ruangan sama kamar mandi kecil di dalam. tapi tenang aja neng cocok kok sama kantong" katanya cengengesan.


"Gak papah kok Bu saya juga belum kerja dan kebetulan lagi cari yang murah"jawab Rima dia hanya ingin ada tempat untuknya tidur dan mandi itu sudah lebih dari cukup.


"Yasudah neng silahkan di lihat dulu"


Rima berjalan memasuki kontrakan kecil yang akan menjadi tempat tinggalnya nanti.


Ternyata didalam rumah tidak sekotor luarnya ini lumayan bersih


"Maaf ya neng luarnya kotor karna ibu hanya sempat beresin bagian dalamnya aja. Oh iya panggil aja ibu Desi"


"Gak papah kok Bu Desi malahan saya sangat berterimakasih. Tapi Bu saya.." Rima menggantung ucapnya dia ragu apakah kalau dia jujur sedang mengandung tanpa seorang suami masih bisa di terima disini, soalnya tadi Rima pernah ditolak karna alasan ini.


"Iya ada apa neng rima?"


"Anu... Saya sedang mengandung" ucap Rima menunduk dengan suara lirih


Bu Desi yang melihatnya seketika mengerti. memang di kota seperti ini hal seperti itu sudah banyak


"Iya tidak papa neng rima saya terima kok tidak masalah kalau soal itu" senyum tipis terbit di bibir Rima


" Sekali lagi Makasih Bu Desi "


Baiklah di mulai hari ini Rima akan memulai hidupnya kembali, dia akan melewati hari-hari nya sendiri. Eh tidak dia akan melewati hari-hari nya berdua,iya berdua dengan sang janin yang nantinya akan menjadi anaknya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2