HaRima

HaRima
bagian 28. Target pertama


__ADS_3

"Kak Rega, bubur sama obatnya saya taruh di atas meja ya," ucap Rima usai mengetuk pintu kamar Rega.


Seharian penuh Rega tidak keluar diri kamarnya. Dari pagi selesai sarapan sampai sekarang setelah magrib pun dia belum menuruni tangga sama sekali. Rima sempat khawatir, tapi ia mencoba berpikir positif.


"Ya," sahut Rega dari dalam.


Oke, sepertinya Rega sudah agak baikan, suaranya tidak se bindeng tadi pagi. aneh,yang Rima tau kalau suara sudah bindeng, itu tandanya pilek akan menyerang. tau sendiri kalau pilek itu lama sekali sembuhnya,sekitar satu mingguan, lah ini, baru setengah hari sudah mulai baikan, bahkan belum minum obat.


"mah.." panggil Rafa dari arah kamar.


"iya sebentar,"jawab Rima.


Rima membuka pintu kamar. di sana Rafa sedang meringkuk di atas kasur, tanpa selimut tentunya. anak ini paling anti tidur dengan selimut, kecuali kalau lagi sakit.


"ada apa?" tanya Rima sambil menghampiri Rafa dan tidur di sebelahnya. "Rafa kenapa?" tanyanya lagi.


Rafa memandang Rima kosong, "Rafa kangen sama ucup, sama pak ustadz abu juga."


"sebentar lagi mamah punya uang. Rafa mau ketemu nenek gak?" Rima mencoba mengalihkan.


"nenek?" ulang Rafa.


"iya. nenek sama kakek, mereka tinggal di Desa. namanya Desa Mekarwangi. nanti mamah minta izin dulu sama om Rega kalau kita mau pulang kampung sebentar," ucap Rima dan Rafa hanya menganggukkan kepalanya.


Rima mencium pipi Rafa gemas. sungguh, sekarang Rima sangat rindu dengan ibu dan bapaknya. apa kabar mereka di sana? semoga mereka bisa memanfaatkan Rima dan menerimanya kembali.


"kalau Rafa ngantuk, tidur aja." tangan Rima mengusap rambut Rafa yang masih panjang. tidak tau kapan ia kan mengajak Rafa untuk merapikan rambutnya. waktu itu Rafa pernah cerita, lalu Rega mengajaknya untuk memotong rambut bersama. tapi sampai saat ini Rega masih belum mengajaknya kembali, dia masih sibuk dengan pekerjaannya. tubuh Rima sangat lelah hari ini. tadi dia ke apotek jalan kaki, karena tidak ada ojek sama sekali.


****


"eh Gina, kapan gendong cucu kaya mereka?"

__ADS_1


raut wajah Gina terlihat masam. dia benar-benar tidak menyukai suasana saat ini. katanya arisan, harusnya yang kumpul juga yang bersangkutan, tapi teman-temanya malah sibuk dengan kesenangan masing-masing.


lihatlah di sudut sofa ada jeng Sari yang memangku cucu keduanya, di samping jeng sari ada jeng Maria yang sibuk mencubit pipi Miko, cucunya juga. Dan di sampingnya ada Rosa yang sibuk memanas-manasi nya.


"jangan iri,jangan iri, jangan iri dengki," ledek Rosa, dengan mulut yang penuh cemilan. Rosa dan Gina sangat dekat. mereka sahabat sejak jaman SMA, makanya mereka tidak perlu sebutan 'jeng'.


"shutttttt. kamu juga belum punya cucu, kita sama Rosa, gak usah bawel," sungut Gina sebal.


"weh, si Nanda tes pek nya udah garis dua wle," ledek Rosa. wajah Gina semakin merah mendengarnya.


Nanda adalah anak dari Rosa, anak semata wayang. Gina iri, selama ini dia bisa menahannya, karena Rosa juga belum memiliki cucu, tapi sekarang?


Ruangan ini sangat ramai dengan anak-anak, makanan berceceran di mana-mana, dan itu semakin membuat Gina tidak betah. mereka sepertinya janjian untuk membawa cucu. lihatlah ini seperti acara ulang tahun anak dari pada acara arisan.


Gina tidak terlalu mengenal mereka, dia hanya kenal dengan jeng sari, jeng Maria, Rosa, dan jeng pita, yang lainnya dia tidak begitu kenal. tapi jeng pita tidak datang kali ini. katanya cucunya sakit dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit.


hufff cucu lagi, cucu lagi. Gina pusing memikirkannya.


"untuk apa saya di sini!. lagipula kalian kumpul di sini untuk pamer cucu kalian saja kan? toh acara arisannya juga dari tadi tidak mulai-mulai!


ini sudah masuk magrib. katanya mulai acarannya sore hari, saya sudah nunggu lama loh, tapi sampai sekarang kalian belum memulainya. malah sibuk pamerin kebiasaan cucu masing-masing. lain kali kalau mau arisan, simpen aja cucunya! gak usah di bawa-bawa!" ucap Gina menggebu, semua mata kini tertuju padanya.


Rosa menatap sahabatnya Gina dengan rasa bersalah, seharusnya dia tadi menenangkan Gina, bukan memanasi. Rosa sadar, dari tadi raut wajah Gina sudah menahan emosi.


"ya elah. jeng Gina lebay amat. kalau iri bilang aja kali," ucap salah satu anggota.


"iya. gak usah nyalahin cucu kita karena acaranya belum mulai," timpal yang lain mengompori.


tangan Gina terkepal kuat, dia benar-benar marah saat ini. "saya gak iri!. sebentar lagi anak saya Rega akan menikah! tunggu saja undangannya!"


setelah mengatakan itu, Gina pergi meninggalkan ibu-ibu yang memandangnya aneh.

__ADS_1


Gina tidak peduli, pokoknya Rega harus segera menikah, bagaimanapun caranya. dia sudah terlanjur mengatakan itu pada ibu-ibu arisan, mana mungkin dia mencabutnya begitu saja.


"pak mampir dulu ke cafe depan," ucap Gina saat memasuki mobilnya.


Gina ingin menyendiri, mungkin segelas kopi hangat bisa membantu menenangkan rasa iri di hatinya. Sudah lama Gina menahan diri untuk tidak terlalu memaksa Rega, tapi kali ini tidak bisa!


Rega harus segera menikah, ya paling tidak dalam satu bulan ini Gina harus bisa menemukan wanita yang cocok dan kali ini tidak boleh gagal seperti sebelum-sebelumnya. tidak peduli Rega mau atau tidak, Gina akan mencoba berbagai cara supaya anaknya ini menikah dalam waktu dekat,harus!


setelah Rosa mengatakan kalau Nanda hamil, Gina juga merasa senang sekaligus sedih di waktu yang bersamaan. Sahabatnya ini tidak begitu terobsesi dengan cucu, tidak seperti Gina, dia begitu ingin menggendong cucu. tapi kenapa malah Rosa yang pertama menggendong cucu bukan dirinya?


"sudah sampai nyonya."


tanpa lama-lama Gina langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam cafe. memesan segelas kopi latte hangat dengan beberapa makanan kecil.


"Tante" pekikan seorang gadis di pintu depan cafe. Gina mengalihkan pandangannya, menatap gadis itu itu dengan seksama, keningnya sempat mengkerut namun setelahnya senyum lebar terpampang jelas di wajahnya yang hampir keriput.


badannya yang kecil dan juga pendek hampir sama dengan Anis tapi gadis ini jauh lebih berisi. wajahnya juga terlihat lebih dewasa.


penampilannya sangat mencolok, tapi tidak norak.


gadis itu berjalan anggun kearah Gina dengan tas kecil di tangannya. perempuan ini terlihat elegan dan juga modis, dari mulai pakaian,rambut,tas sampai sepatu pun gadis ini sangat pandai dalam hal fashion.


"eh, claviora...." pekik Gina senang. sudah lama dia tidak bertemu dengan gadis yang pernah dekat dengan anaknya, Rega.


"Tante apa kabar?" tanya claviora sambil memeluk Gina manja.


"baik," balas Gina dengan senyum penuh arti. " ayo duduk, temani Tante malam ini" pinta Gina, membawa claviora duduk di meja yang sama dengannya. bibir Gina naik membentuk lengkungan.


"target pertama." Gina membatin.


target pertama setelah beberapa bulan yang lalu, Rega menolak semua wanita yang Gina rekomendasikan.

__ADS_1


__ADS_2