
"Kakak cantik kapan dedek nya lahir" tanya Nella dengan tangan yang sibuk mengelus perut Rima
"Terus dedek-nya cewek apa cowok ya? Kan kalau cewek nanti bisa main dandan-dandanan bareng Nella dan Dara, tapi kalo cowok nanti mainnya bola sama Ucup,bagas, Nino, Riko, terus siapa lagi ya?" Nella bermonolog sendiri Dengan tangan yang menggaruk pipi, sedangkan tangan yang lainnya masih sibuk mengelus perut Rima yang besar.
"Kakak juga gak tau dedek-nya cewek apa cowok, tapi kata Bu dokternya cewek" memang hasil dari USG Rima waktu periksa ke dokter, katanya bayi yang Rima kandung ini perempuan, tapi jika nanti yang lahir pun laki-laki Rima sama sekali tidak mempermasalahkan gender yang penting nanti bayi nya selamat dan juga sehat.
dia tidak begitu percaya dengan hasil USG soalnya waktu di desa ada tetangganya yang hamil dan katanya hasil dari USG bayinya perempuan, eh pas lahir malah laki-laki mana pas hamil orang tuannya udah belanja serba pink lagi.
"Asikk nanti dedek-nya main make-up make-up an sama Nella sama Dara. kakak tau? make-up nya dara buaaanyak banget nanti kalau mau main dandan-dandanan make-up-nya punya dara aja hihihi. Nella juga udah nyolong lipstik ibu yang ada di dalam kotak hihihi... Jangan bilang-bilang ya" dasar Nella. Pantas saja tadi pagi Bu Desi ngamuk pas mau ke kondangan rupanya salah satu lipstik nya hilang.
"Lain kali kalau Nella mau lipstik nya ibu minjam aja jangan nyolong ya. minjam nya juga harus minta izin dulu kalau enggak izin nanti Nella bisa kena pukul malaikat"
"Ihihi... Siap kakak cantik nanti kalau dedek bayinya sudah lahir Nella bakalan minjam sama ibu gak bakal nyolong lagi kok janji deh . Nella kan juga takut kena pukul malaikat hihihi.. serem" sekarang tangannya sudah mengambil salah satu toples berisi snack ciki-ciki "kakak Nella mau ini ya"
Belum juga rima menjawab dia sudah melahap ciki-ciki itu dengan cepat. Nella ini memang susah diam mulutnya kalau gak ngomong ya makan.
"kakak ke kamar mandi dulu ya" Nella hanya mengangguk dan terus memakan cikinya. akhir akhir ini Rima jadi lebih sering buang air kecil
selesai dengan hajatnya Rima kembali duduk di atas karpet tipis dan menemani Nella yang asik bercerita dengan tangan yang juga tidak bisa diam.
"NELLA PULANG"teriak seseorang di rumah samping
"Ish itu nenek lampir ganggu orang lagi makan aja"Nella dan Bu Desi memang tidak pernah akur tetapi, ketidak akuran itulah yang membuat mereka dekat.
__ADS_1
Hari sudah malam karena itu lah Bu Desi memanggil Nella untuk pulang, tadi selesai sholat Maghrib Nella nekat keluar rumah dan bermain ke kontrakan nya hanya untuk mengelus perutnya.
"Sana Nella pulang dulu besok kan Nella bisa main lagi ke sini,tidak baik anak gadis main malam-malam" peringat nya karna Nella sangat tidak betah berlama-lama di dalam rumah. pengennya main terus
Ngomong-ngomong soal gadis main malam-malam dia jadi ingat waktu itu. Waktu ia pulang sekolah larut malam karna sibuk main bersama ketiga sahabatnya hingga lupa waktu. Saat itu dia pulang sendiri karna memang rumah mereka tidak searah, hujan turun dengan derasnya sehingga membuatnya mau tidak mau harus berteduh di bawah atap ruko yang sudah rapuh.lama dia menunggu, bukannya reda hujan justru semakin deras bahkan baju dan rok SMA yang di pakai nya pun sudah basah sebagian. Selang beberapa saat sesuatu dari belakang langsung membekapnya dan menyeretnya masuk kedalam ruko kosong itu.
Semuanya terjadi begitu saja sampai akhirnya si pria yang menyeretnya menitipkan benih di dalam rahimnya. Sungguh takdir sedang mempermainkan hidupnya.
"Kakak kenapa kok nangis sih?"tanya Nella yang masih setia dengan ciki di tangannya. Bukannya pulang malah makin anteng ni anak
Rima yang baru menyadari jika dirinya tengah menangis dengan segera menghapus air matanya "Gak papa kok, kakak cuma lagi kangen aja sama ibu dan bapak kakak di desa"
"Oh ya Nella juga suka kangen sama bapak"
Wajah Nella yang sedari tadi berseri kini meredup
"Bapak lagi di luar kota, kata ibu bapak lagi kerja cari uang buat Nella beli donat yang bolongannya gede hihihi... Jadi pengen donat lagi deh Nella"astaga ini anak mudah sekali berganti suasana.
Hufff Rima pikir Bu Desi adalah janda kembang di sini. dia juga baru punya dua anak, Nella dan Deon anak laki-laki pertama Bu Desi yang sekarang duduk di bangku SMP.
"NELLA PULANG SEKARANG ATAU NANTI IBU GAK BAKAL MASUKIN KAMU KE RUMAH LAGI" panjang umur baru juga dibicarakan dalam hati eh orangnya udah teriak - teriak di rumahnya. Nella juga dia tidak cukup satu kali teriakan maut dari Bu Desi.
"IYA NENEK LAMPIR I KOME"
__ADS_1
"Kak aku pulang dulu ya. Takut nanti Mak Lampir ngeluarin tongkatnya terus ngutuk Nella jadi... Jadi apa ya. Jadi apa kak?" Lah kok malah nanya
"Terserah ibu nya Nella nanti Nella mau di kutuk jadi apa. Sekarang Nella pulang aja udah malam, atau mau Kakak anterin?" Tawar Rima. Takut kalau Nella nanti di culik kalong Wewe (kelelawar besar)
"Gak perlu Nella kan gadis pemberani. kakak cantik bobok aja ya dadah. Assalamualaikum kak dedek nanti main lagi oke"pamitnya yang sudah lenyap di balik pintu.
"Waalaikumsalam"
setelah kepergian Nella. Rima membereskan sisa-sisa makanan yang tadi sempat di recoki Nella. memindahkan toples berisi ciki-cikian ke dalam rak kecil, di lanjut dengan membereskan tempat tidur dan juga menyapukan makanan sisa dan di kumpulkan di sudut ruangan. karna jika menyapu malam-malam dan langsung membuangnya katanya sama saja dengan membuang rejeki.
selesai bebenah. Rima berniat melakukan ibadah shalat isya yang tadi belum sempat ia kerjakan. berjalan dengan sedikit hati-hati karna rasa pegal kini menyerang pinggang belakang nya.
selesai berwudhu kini rasa pegal yang menyerang bagian pinggang belakang nya makin menjadi di susul nyeri di bagian intinya.
beberapa saat sakit nya mulai mereda. dengan perlahan Rima mengenakan mukena dan juga menyiapkan sajadah dan siap untuk menunaikan kewajiban nya. dia ingin berdoa kepada-Nya supaya di berikan kekuatan dalam menghadapi semuanya dan di berikan kemudahan atas segalanya.
saat rakaat kedua Rima merasakan sakit dan pegal lagi, sekarang di susul dengan sesuatu yang kental keluar dari bagian intinya seperti lendir. Rima sudah tidak bisa lagi menyeimbangkan badannya. tubuhnya kini linglung sesuatu yang basah kini mulai mengalir di bawahnya.
"tolong" teriaknya lemah
dengan lengan yang kini bersandar di lemari kecil. Rima masih bisa melihat gelas kaca dan juga mangkuk kaca yang berada di atas lemari kecil yang kini menjadi sandaran salah satu tangannya dan tangan satunya lagi masih setia dengan menangkup perutnya.
dengan sekali hentakkan tangan Rima menggeser gelas serta mangkuk kaca itu hingga jatuh dan berbunyi nyaring dengan harapan ada yang bisa mendengarnya.
__ADS_1
"astaghfirullah.. astaghfirullah... astaghfirullah" berulang kali bibirnya mengucap zikir dan istighfar. dengan sesekali memanggil-manggil nama Bu Desi
"seseorang tolong aku"