HaRima

HaRima
bagian 21. saya berhak tau


__ADS_3

di dapur Rima dan Anis sedang memilih buah-buahan. katanya Anis ingin jus alpukat, tapi buah alpukat nya tidak ada. alhasil gadis bernama Anis ini bingung mau minum jus apa.


"emmm... mau jeruk, tapi lagi gak mau yang asem." Anis mengetuk-ngetuk jari telunjuk nya di bawah dagu sambil menatap beberapa buah yang Rima sudah keluarkan dari dalam kulkas. "ya udah. pisang aja lah"


Rima mulai menyiapkan buah pisangnya, namun tangan Rima di tahan Anis." gak jadi deh. yang pepaya aja hehehe"


Rima tersenyum kemudian mengangguk. ia membuat jus pepayanya di bantu Anis, katanya sih gabut makanya dia mau bantu.


"jangan pake gula ya..mbak eh kak" Anis mau memanggil Rima dengan sebutan 'mbak' tapi dia melihat Rima masih sangat muda untuk panggilan itu.


"siap.."


mereka berdua kembali melakukan kegiatannya.


dua gelas jus sudah terhidang. Rima baru tau kalau Anis ini adalah adik Rega majikannya. Rima pikir Anis ini pacar atau apalah..


tapi past Anis bilang 'bikinnya dua gelas ya kak. satu lagi buat ladang duit ku. kasian Abang ku itu pasti jarang sekali minum jus, gara-gara sibuk cari duit". Rima baru tau kalau Rega punya adik.


"kak, bisa minta tolong gak panggilin Abang. aku gak tau tadi Abang pergi kemana"


"baik non"


"ehhh jangan non, Anis aja kak. biar akrab" Anis paling tidak suka kalau ada yang menyebutnya 'non'. bahkan asisten rumah tangga di rumahnya pun semua memanggil dek Anis.


"iya Anis, permisi ke belakang. tadi kayanya kak Rega masih di belakang" ucap Rima kemudian berlalu ke taman belakang.


secara fisik, Anis dan Rega memang ada kemiripan. terutama di daerah mata. mata keduannya sama-sama tajam. kalau tubuh jelas berbeda, Rega sangat gagah dengan bahunya yang lebar dia juga tinggi. sedangkan Anis, dia memiliki tubuh yang mungil bahkan cenderung kurus.


di taman belakang, dada Rima terasa sesak. suara tangis yang sangat dia kenal, terdengar baik di telinganya.


Rima melangkah lebih cepat saat mendengar tangisan Rafa. kenapa Rafa menangis? raut panik Rima berubah tegang saat melihat Rafa terisak di dekapan hangat Rega.

__ADS_1


tubuhnya lemas begitu saja. anak ini berani sekali memeluk tuannya seperti itu. Rima takut kalau Rega risih dengan Rafa yang memeluknya. Rima segera mengambil alih Rafa ke dalam pangkuannya.


"maafkan anak saya kak."ucap Rima menunduk.


Rega yang terkejut pelukannya dengan Rafa di lepas paksa hanya memandang Rima aneh.


"kak Rega di panggil non Anis." Rima tidak berani menyebut nama adik Rega tanpa embel-embel 'non' dihadapannya langsung, kecuali ketika dia hanya berdua dengan Anis.


Rega berlalu begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Rafa sudah berhenti menangis, Namaun masih ada sedikit isakan yang keluar dari mulutnya.


"kenapa?" lirih Rima. anak ini tidak cengeng. bahkan di kontrakan Rafa termasuk anak yang cuek.


"Rafa cuma mau peluk om aja mah"


jawaban Rafa sukses membuatnya terkejut. bisa-bisa anak ini mempunyai keinginan seperti itu.


"Rafa gak boleh peluk-peluk om. nanti kalau om nya gak suka sama Rafa gimana? sudah jangan nangis lagi ya" Rima menurunkan Rafa, lalu berjongkok di hadapan putranya itu.


"jangan nangis, Rafa kan kuat." ucapnya sambil mengelus rambut serta pipi Rafa yang basah. "mau bantu mamah siram tanaman gak?" ajak Rima, ia ingin mengalihkan perhatian Rafa sebentar, walaupun Rima tidak tau apa yang menjadi alasan Rafa menangis, tetapi ia ingin menghiburnya untuk saat ini. mungkin nanti malam Rima bisa tanyakan lagi dengan Rafa.


setelah air keran di nyalakan Rafa memegang selang air dan mengarahkan ke tanaman yang ada di sana. karena kebetulan keran air ada dua , jadi Rima juga memegang selang yang lain dan membantu Rafa menyiram tanamannya. sesekali Rima juga mengusili Rafa dengan menyemprotkan air ke arah Rafa.


Rafa tentu tak tinggal diam, dia juga ikut membalas apa yang mamahnya lakukan padanya.


hal sederhana yang bisa membahagiakan dan merekatkan keduanya. Rima bahagia untuk saat ini, dan semoga untuk selamanya.


suara gelak tawa mereka terdengar di telinga Rega yang sedang meminum jus pepayanya di dapur. merasa penasaran, akhirnya Rega beranjak menyusul suara itu.


pemandangan ibu dan anak yang sedang bercanda membuat hatinya menghangat. tetapi raut wajahnya terlihat biasa saja, datar dan menyebalkan.


Rega menyesap jus yang dia bawa di tangan kanannya sembari menonton kegiatan menyenangkan ibu dan anak itu. biar saja air nya habis karena di pakai bermain main oleh wanita itu, nanti dia bisa memotongnya lewat gaji, pikir Rega. dia juga tidak mau rugi.

__ADS_1


malamnya seperti biasa Rima kembali sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam.


satu kegiatan yang Rima rasa sangat tidak ingin ia lakukan, menemani tuannya itu makan malam setiap hari. entah kenapa tuannya itu selalu meminta di temani makan malam. apa mungkin karena dia takut? takut apa? hantu, jelas itu sangat tidak mungkin.


seperti tidak ada kerjaan lain saja kecuali hanya duduk di meja makan sambil menemani pria itu.


malam ini cuaca sangat panas, Rima pikir akan datang hujan setelah gerah melanda. kasian Rafa, pasti dia susah tidur karena kegerahan. Rima harus segera membeli kipas angin, sebab Rafa sudah tidur jika tidak ada angin.


"khhmm"


Rima terperanjat kaget, suara dehemman Rega menyadarkan ia dari lamunannya.


"duduk" titah Rega yang sudah duduk duluan di kursi meja makan sambil menatap makanan yang terhidang. tidak ingin membuat tuannya marah, Rima segera duduk di tempat biasa ia duduk.


setelah beberapa saat terdiam sambil menemani pria di sebelahnya ini makan. akhirnya nasi beserta lauk pauknya habis di piring pria itu. Rima berniat untuk membereskan kembali meja makan, tetapi pergerakannya terhenti, sebab Rega lebih dulu menahannya.


"tunggu dulu"


Rima kembali duduk diam. ini sudah malam, ia lelah dan ingin cepat-cepat beristirahat. tapi sesuatu yang keluar dari mulut Rega membuatnya harus menunda keinginannya.


"ceritakan tentang dirimu dan juga anak mu" ucap Rega, suaranya terdengar biasa saja. tapi tidak dengan telinga Rima.


bingung harus menjawab apa. Rima hanya menunduk tidak berniat untuk menjawab.


"dengar. sekarang kamu dan anak mu tinggal di rumah saya. otomatis kamu dan anak mu itu juga tanggung jawab saya. saya tidak tau, bisa jadi nanti ada maling atau perampok yang masuk kerumah ini dan jika terjadi sesuatu pada kalian, pasti saya juga ikut terlibat." ucapnya panjang lebar.


"Tapi-"


"saya berhak tau. siapa tau kamu pernah melakukan tindakan kriminal kan? jika ada yang termasuk privasi, kamu boleh skip." ucap Rega


"sebenarnya saya ingin kita bicara berdua ini Daris seminggu yang lalu. tapi saya sibuk waktu itu. jadi malam ini kamu harus menceritakan asal usul mu." tambah Rega.

__ADS_1


mungkin ini termasuk lebay. tapi Rega baru pertama kali mempunyai pembantu. dia termasuk orang yang sangat hati-hati mengambil keputusan.


*****


__ADS_2