
Pagi-pagi sekali Rima terbangun dari tidurnya perutnya merasa lapar kemarin dia hanya makan 2 roti dari warung untuk menemaninya mencari kontrakan.
Sekarang dia sudah mempunyai tempat berlindung di malam hari, ya meskipun tempatnya sangat kecil tapi itu tidak masalah bagi Rima, toh dia juga bayar murah kok.
merasa lengket pada tubuhnya Rima segera beranjak ke kamar mandi.untung saja waktu masih di desa dia membawa sabun dan juga sikat gigi beserta pastanya. Tentunya untuk menghemat uang yang semakin lama semakin menipis.
Entah berapa kali ia menghela nafas, dirinya belum siap untuk semuanya. Dia masih ingin hidup di desa dengan keluarganya, bersekolah seperti biasanya. Bermain bersama teman-temannya di kelas 11. Iya, Rima masih berumur 17 tahun. Sayang nya kejadian dimalam itu telah merenggut semuanya.
Selesai mandi Rima duduk melamun di kasur lantai tipis pemberian Bu Desi tadi dengan keadaan lapar. Tapi, rasa lapar itu seolah tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit pada hatinya. Bayangan ibu dan bapaknya yang menangis menatapnya kecewa terus saja berputar di otaknya sampai-sampai ia tidak bisa tidur semalam, matanya juga bengkak. Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
"KAKAK CANTIK" Teriak dari luar.
"Astaghfirullah..." Ucap Rima dan segera bangkit untuk membukakan pintu. Kalian pasti sudah tahu kan yang teriak itu siapa. Siapa lagi kalau bukan si gadis cilik Nella.
"Nella, Ada apa?" Tanya Rima. Menatap bocah berseragam SD di depannya dengan rantang di tangannya.
"Eheheh.. kakak cantik tadi ibunya Nella suruh Nella antar ini ke kakak cantik" ujarnya dengan tangan yang mengasongkan rantang.
Rima yang melihatnya jadi gemas sendiri, kemudian mengambil alih rantang ditangan kecil itu.
"Makasih ya Nella. Tunggu sebentar. Nih ada permen, kemarin kakak beli di warung depan pas mau kesini" Rima memberikan permennya. permen biasa dengan rasa susu dan juga coklat.
"Wahhh.. permen. Makasih ya Kaka cantik"
Melihat ekspresi Nella yang sangat riang membuatnya menjadi lebih tenang.
Setelah itu Nella pamit di hadapan Rima, katanya dia mau berangkat sekolah. Rima kembali kedalam rumah, ia akan makan makanan pemberian dari Bu Desi. Bu Desi sangat baik. Semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik baik lagi.
Bingung, itu yang Rima rasakan saat ini. Ia butuh uang, dan untuk cari uang dia butuh pekerjaan. Dan sekarang pertanyaannya siapa yang mau menerima seorang yang hanya lulusan SMP sepertinya?. bahkan yang paling mengenaskan nya adalah dia lupa membawa ijasah SMP-nya. sungguh lengkap penderitaannya.
"Dimana aku bisa mendapatkan uang" gumamnya
Rima berjalan di taman dengan tatapan kosong. Dia seperti kehilangan arah.Kalian pasti bingung kan bagaimana Rima bisa hamil dan tak tau siapa yang menghamilinya. Entahlah mengingat itu, Rima jadi jijik sendiri. Semua itu terjadi begitu saja. Nanti jika sudah waktunya pasti akan Rima ceritakan pada kalian tunggu saja.
Semilir angin menerpa wajah serta rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, matanya terpejam menikmati sentuhan angin yang menyapa kulitnya. Entah sejak kapan, kini salah satu tangan Rima sudah mengusap perutnya yang masih rata. Rima sudah mencoba ikhlas tapi, itu sangat susah! Bayangkan saja jika kalian berada di posisi Rima apa yang akan kalian lakukan?
Bingung kan.
Seperti itulah Rima dan sampai akhirnya dia memutuskan untuk tinggal di kota yang jauh dari desanya.
Rima berhenti tepat di toko roti yang kelihatannya ramai, dia ingin mencari pekerjaan siapa tau dia bisa bekerja disana.
Melihat keadaan toko yang penuh dengan pelanggan. Rima pikir toko ini sepertinya membutuhkan tambahan tenaga kerja, siapa tau dia bisa diterima disini
__ADS_1
"Permisi.." Karana keadaan toko yang lumayan penuh dengan pembeli jadilah, suara Rima tidak begitu terdengar.
"Permisi.." kali ini Rima mengeraskan suaranya. Hingga tepukan di bahunya membuatnya membalikan badan.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita paruh baya yang sepertinya pemilik dari toko ini. Terlihat jelas dari bajunya yang memakai logo toko ini.
"Anu.. maaf apa di sini butuh pekerja? Kalau ada saya ingin bekerja disini. Sungguh saya benar-benar membutuhkannya" jelas Rima
Terlihat wanita paruh baya itu menghela nafas dan berucap "maaf tapi saya sudah tidak membutuhkan lagi pekerja"
"Saya mohon bu, saya sangat membutuhkannya" pinta Rima dengan kedua tangan yang menyatu
"Kamu pikir bayar gaji orang itu mudah? Meskipun toko ku ramai hari ini, belum tentu besok bisa seramai ini, maaf tapi dua pekerja sudah cukup untuk toko yang masih kecil ini ini. Saya permisi" ternyata mencari kerja itu sangat susah kalau tidak ada orang dalam.
Hari sudah sore sedangkan Rima masih setia duduk di bangku taman yang tadi ia lewati.dia sudah beberapa kali melamar pekerjaan tetapi tidak ada satupun yang menerimanya karna memang tidak membutuhkan pekerja lagi meskipun hanya sebagai pencuci piring.
"Pak, buk maafkan Rima," lirihnya
"Rima sudah mempermalukan kalian berdua, tetapi Rima mohon tolong doakan Rima di sini supaya bisa menjaga diri Rima baik-baik dan juga doakan Rima supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak" sambungnya
sesampainya di depan kontrakan, Rima melihat Bu Desi yang sedang menyapu halaman rumahnya sambil bersenandung ria.
"*saya* *masih* *ting-ting*" senandung nya
"*di jamin masih ting-ting, sama sekali belum berpengalaman*" lanjutnya dengan pinggul yang bergoyang
"eh neng Rima,udah pulang neng" sapanya dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya. pantas saja Nella sangat ceria dan juga menggemaskan ternyata turunan dari ibunya, Bu Desi.
"ihhh ibu gimana si, kalau kakak cantik belum pulang mana mungkin dia ada di sini dasar bodoh" astaga ini anak datangnya gak bilang-bilang udah gitu mulutnya lemes banget lagi. tapi lucu sih, kalau nanti bayinya sudah lahir perempuan apa laki-laki ya?
__ADS_1
"heh ni anak turunan siapa sih ngomongnya gak bisa di rem. jadi ragu deh ini anak Bu Desi yang cetar membahana"balas Bu Desi tak kalah pedasnya.Memang ya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
"Nella kamu mandi sekarang. pulang ke rumah kok mau hampir magrib, kalau besok kamu pulang sesore ini lagi mending gak usah pulang sekalian" usir Bu Desi. Nella yang mendengarnya hanya cengar-cengir gak jelas setelah itu menganggukan kepalanya dan lari masuk kedalam rumah
"Bu Desi"
"ada apa neng Rima?"tanya Bu Desi dengan tangan yang sibuk dengan sapunya
"saya lagi butuh pekerjaan Bu tapi dari tadi saya terus ditolak, kalau Bu Desi tau tempat yang masih Nerima pekerja kasih tau saya ya Bu Desi" Bu Desi yang awalnya fokus menyapu sekarang pandangannya melihat ke arah Rima
"kalau disini memang susah buat cari kerja ada sih di Bu Rara disana dia lagi butuh pembantu, tapi kan kamu lagi hamil nanti kalau terlalu kecapean kan bahaya" ucap Bu Desi kembali mengumpulkan dedaunan.
"saran ibu sih kamu buka usaha sendiri" sarannya
tapi kan buat usaha sendiri juga butuh modal dan saat ini Rima belum memiliki modal.
"Bu terimakasih atas sarananya tapi, saya sangat butuh pekerjaan saat ini jadi ibu mau kan bantu saya ke rumah Bu Rara" pinta Rima dengan raut memohon
"em baiklah besok kita ke sana dan ibu mohon sama kamu,kamu harus jujur tentang keadaan kamu yang lagi hamil urusan di terima atau enggak itu urusan nanti yang terpenting kamu sudah jujur" perkataan Bu Desi mampu membuat sudut bibir Rima Ter angkat.
"makasih bu Desi"
Bersambung
Masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Aku nulis disini untuk belajar jadi apabila ada kesalahan mohon kritik dan sarannya.
Makasih☺️
2 like untuk lanjut😁
__ADS_1