HaRima

HaRima
bagian 29. Rasanya berbeda


__ADS_3

"ayo, sekalian ikut mobil Tante aja. nanti Tante anterin sampai depan rumah," ajak Gina, setelah mengobrol banyak dengan gadis ini bahkan sempat berfoto juga. sifat dan sikap Claviora masih sama seperti dulu, dan Gina menyukai itu.


Rupanya claviora menghilang selama ini karena dia sedang melanjutkan pendidikannya di Inggris. Dia kembali ke sini karena memang sedang berlibur sekaligus mengistirahatkan otaknya yang lelah.


"tidak perlu Tante, Vio naik taksi aja," tolak Claviora lembut.


"ayo masuk. Temani Tante diperjalanan." Gina menarik paksa lengan claviora. gadis itu terlihat risih, ingin melepaskan, tapi tidak enak.


Akhirnya Gina membawa claviora masuk ke dalam mobilnya. wajah Gina yang tadinya suram, kini kembali cerah. entah apa yang di pikirkan ibu dua anak itu , dia tidak henti-hentinya mengagumi sosok Claviora yang tampak jauh lebih cantik dari pada yang dulu.


dulunya Claviora ini gadis tomboi, bahkan tidak segan-segan memakai pakaian Rega kalau sedang bermain di rumah Gina.


Gina tau kalau Claviora ini pernah menaruh hati pada putranya. dulu anak perempuan ini sering main kerumahnya untuk berangkat bareng Rega ke sekolah. Gina sudah banyak tau tentang Claviora, jadi dia tidak perlu berpikir dua kali untuk menjodohkan nya dengan Rega.


tapi pertanyaannya saat ini adalah,apa Claviora mau menikah dengan Rega, sedangkan pendidikan gadis ini jauh lebih tinggi dibanding putranya?


Gina kecewa pada Rega karena keputusannya yang tidak mau melanjutkan pendidikannya waktu itu. seandainya Hendrik tidak meninggal, Rega pasti kuliah dan dia tidak jadi bahan olokan temannya yang lain. tapi bukannya sekarang Rega juga bisa kuliah?tidak ada kata terlambat! lagipula umur putranya masih tergolong muda.


"rumah kamu masih yang dulu kan?" tanya Gina.


Claviora menggeleng,"aku sekarang tinggal di apartemen...." Claviora menyebutkan alamat apartemennya dan Gina mengangguk kemudian menyuruh sang sopir untuk mengantarkan mereka ke sana.


****


Dua minggu setelahnya, Gina tidak pernah absen untuk saling kabar dengan calon mantunya. Begitupun dengan Claviora, wanita itu senantiasa membalas semua pesan atau telpon dari ibu sahabat lamanya, Rega.


Gina dan Claviora tidak pernah bertemu lagi seminggu ini. Ya Gina tidak mau merusak liburan Claviora hanya untuk kepentingannya sendiri.. Dan dua minggu pula hubungan Gina dengan sahabat serta teman arisannya agak renggang sebab Gina selalu menghindari mereka di sosial media maupun real life.


Rega,Rafa dan Rima?. Sejauh ini mereka tidak ada hal spesial, sama seperti biasanya, Rima sibuk dengan pekerjaannya begitu pula dengan Rega.

__ADS_1


Niat awal Rima ingin pulang untuk menjenguk ibu dan bapaknya. Tapi belum di izinkan Rega. Rima sadar, dia belum terlalu lama bekerja di sini, tapi sudah seenaknya meminta libur meskipun hanya untuk empat hari.


Tiga hari yang lalu Rega menepati janjinya untuk mengajak Rafa ke tukang cukur untuk memotong rambutnya yang sudah panjang. Tidak hanya Rafa yang dipotong rambutnya, Rega juga ikut merapikan rambutnya. Mereka berdua menghabiskan waktu setengah hari untuk jalan-jalan, makan bareng, berfoto sampai main di taman anak-anak. Rafa sempat cerita pada Rima, kalau dia bahagia waktu itu


Namun Rima khawatir, takut tuannya risih dengan Rafa.


Rima juga sudah mewanti-wanti Rafa agar tidak terlalu mendekatkan diri dengan Rega.


Kecuali Rega sendiri yang memintanya.


Sebenarnya Rega sedikit merasa aneh dengan dirinya sendiri, kenapa sekarang dia lebih betah berada di rumah. Biasanya Rega sangat malas untuk pulang, sampai-sampai dia menyiapkan satu kamar di kantornya untuk tidur, ketika pekerjaannya menumpuk sampai tengah malam. Tapi akhir-akhir ini se larut apapun Rega selesai bekerja, pasti dia selalu pulang.


Rasanya berbeda, setiap kali pulang ke rumah sudah ada hidangan di atas meja makan plus orang yang selalu menunggunya pulang seperti perintahnya sendiri. Bahkan pernah, waktu itu Rega pulang jam 1 dini hari, Rima sampai ketiduran di meja makan, bukankah itu sebuah perhatian? Walaupun memang dasarnya Rima melakukan itu atas dasar sebuah pekerjaan. Tapi rasanya berbeda, Rega merasa seperti orang yang ditunggu-tunggu untuk pulang.


Ibunya Gina sekarang sangat jarang menelpon atau mengirimkan pesan pada Rega. Tapi satu postingan yang sempat lewat di beranda Instagram miliknya Minggu lalu, Rega sudah menemukan jawabannya.


Tapi,biarkan saja ibunya mau melakukan apapun,Rega tidak peduli. Masih banyak hal lain yang lebih penting dari sekedar melarang ibunya untuk mencampuri kehidupan Claviora saat ini.


"Rega," panggil seseorang, menyadarkan Rega dari lamunannya. Rega menegakan tubuhnya yang tadi sempat duduk menyandar di sandaran sofa.


Seorang laki-laki yang berdiri dekat pintu di ruang kantornya. Kulitnya jauh lebih putih dari kulit milik Rega.


"Sudah lama kita tidak berjumpa, kawan." Pria itu nyelonong masuk, duduk di sofa dan merangkul bahu Rega. "Gimana kabarmu?" Tanya pria itu.


"Ada apa datang kemari?" Tanya Rega mengabaikan pertanyaan yang Bima keluarkan.


"Kau ini, masih sama seperti dulu." Bima terkekeh. "Kerja terus. Gak cape apa?"


Rega membuang pandangannya sinis. "Saya bukan kamu. Meskipun kamu seorang pengangguran kantongmu tidak akan kering."

__ADS_1


Bima terbahak,"yaelah, gak usah terlalu formal gitu, santai aja kaya waktu SMA. Eh tapi muka kau nggak pernah berubah ya dari orok,Ngeselin." Bima kembali terkekeh kecil.


"malam-malam gini, masih aja ngantor, gak bosen?. Kaya gue dong hidupnya bervariasi," ucap Bima membanggakan diri.


Rega beranjak pergi hendak meninggalkan kantor, bukannya risih akan adanya Bima, tapi pekerjaanya memang sudah selesai.


"Eh, bro. Gue ikut ya ke rumah kau." Bima mengikuti langkah Rega dari belakang.


"Saya tidak menerima tamu untuk hari ini," balas Rega tanpa berhenti berjalan.


"Ayolah bro, bantu kawanmu ini. Gue lagi males pulang ke rumah bokap. Apalagi ke apartemen, jauh." Bima mensejajarkan langkahnya dengan Rega.


"Kenapa?. Papa kamu tahu?."


"Hehehe... Yoi. Gue kemaren 'main' di apartemen lupa kunci pintu. Ya akhirnya ketahuan deh," ucap Bima santai.


Rega geleng-geleng kepala, menghentikan langkahnya hingga Bima juga ikut berhenti."sudah saya ingatkan kamu dari beberapa tahun yang lalu, berhenti mempermainkan perempuan! Kalau kamu memang tidak bisa hidup tanpa s*x. Menikah lebih aman!" Peringat Rega, pria yang lebih pendek dari Bima itu kembali melanjutkan langkahnya.


"Lah, gue pake mereka,bayar bro. Orang pekerjaan mereka emang kaya gitu, gue sebagai pelanggan yang baik, membantu perekonomian mereka. kalo nikah? Lo sendiri tau lah kalo gue gak bisa hidup kalo cuma sama satu cewe. ayolah bantu kawanmu ini. cuma nginep satu hari aja gak lebih." Bima kembali memohon.


"terserah."Sudah malam, biarkan saja sahabatnya ini menginap untuk satu malam.


Rega mempercepat langkahnya, di ikuti Bima dari belakang dengan wajah sumringah.


****


maaf ya lama, semoga aja gak pada kaborrr hahaha...tapi kalo mau kabur juga gapapa. gak maksa juga buat baca cerita ini.


btw makasih banyak yang udah nunggu🔥

__ADS_1


__ADS_2