HaRima

HaRima
bagian 20. sebuah pelukan


__ADS_3

"abangggggggg"


"yuhuuuuuuuuu.... babang tampanz ku minta duit dong"


suara teriakan gadis yang begitu nyaring serta cempreng memenuhi seluruh ruangan. bahkan Rima yang sedang berada di dapur pun dapat mendengarnya.selama satu Minggu Rima tinggal disini, tidak pernah ada yang datang ke rumah ini.


setelah mengeringkan tangannya, Rima berjalan ke arah ruang tamu. seorang gadis cantik berkulit putih dengan bar-bar nya tiduran di atas sofa.


sepertinya gadis itu masih remaja, terlihat jelas dari wajahnya yang tampak masih imut-imut.


"permisi"


gadis itu menoleh, dia memperhatikan Rima cukup lama setelah itu kepalanya menggeleng pelan. "kamu siapa?" tanya nya heran, keningnya juga ikut mengkerut.


Rima diam, tidak menjawab.


"mana Abang?"


"Abang? siapa?" tanya Rima balik.


gadis dihadapannya ini sangat manis. kulitnya putih bersih, Rima yakin kulit itu sangat halus. berbeda dengannya,kasar. warna kulitnya pun sekarang sudah tidak begitu putih.


"Anis. ada apa kesini?" tanya Rega dari arah tangga.


kedua gadis itu menoleh, eh tidak satu gadis dan satu wanita itu menoleh, memperhatikan Rega dengan pakaian santainya.


merasa bahwa ia tidak di butuhkan, Rima pamit ke belakang, tepatnya kamar Rafa. biasanya anak itu akan menghabiskan waktunya di kamar sendirian. tapi pada saat Rima membuka pintu kamar, Rafa tidak ada di dalam.


Rima panik. dia takut Rafa melakukan sesuatu atau merusak barang di rumah ini. ia juga mencarinya di kamar mandi, tapi rafa tidak ada di sana.


"Rafaaa" panggil Rima pelan, ia tidak mau mengganggu Rega dan gadis itu di ruang tamu.


langkah kakinya membawa Rima kearah taman belakang, kemungkinan Rafa bosan dan dia butuh suasana yang baru. kasihan juga dia, kalau seharian hanya berdiam diri di dalam kamar.


taman belakang rumah ini lumayan luas. apalagi udaranya yang sangat segar karena banyak tanaman. rumput Jepang nya juga rapih karena sering Rima rawat. waktu pertama melihat halaman belakang, taman ini lumayan kotor tidak terawat, rumputnya juga banyak yang tumbuh liar. karena tangan Rima gatal, jadi ia membersihkan dan merawatnya hingga kembali asri.


di sini juga ada gazebo. Rima pikir Rafa main disana jadi ia memtuskan untuk melihatnya.


"Rafa.." panggil Rima lagi. saat melihat Rafa termenung memandangi ikan yang berenang di kolam kecil depan gazebo.


"apa mah"

__ADS_1


Rima menggeleng. "tidak, Rafa lagi ngapain di sini?" tanya Rima. ia duduk di samping Rafa saat ini, ikut memperhatikan ikan yang berenang dengan lincah.


"nggak ngapa-ngapain" jawab Rafa seadanya.


selama satu Minggu bekerja di rumah ini, Rima merasa aman-aman saja. tidak ada perlakuan Rega yang membuatnya risih kecuali dia yang selalu meminta Rima menemaninya makan malam.


tapi yang Rima khawatirkan adalah Rafa, dia kesepian. Rumah ini terlalu sunyi untuk anak-anak.


waktu di kontrakan, Rafa sering bermain ke luar di banding diam di rumah, hanya sesekali membantunya membereskan barang dagangan.


"Rafa mau sekolah" ucap Rafa tiba-tiba.


Rima menghela nafas. "Rafa masih kecil. nanti setelah usia Rafa 7 tahun. langsung masuk SD saja. gak usah teka dulu ya" sekolah TK perlu banyak biaya dan Rima tidak sanggup untuk sekarang.


Rafa hanya mengangguk pasrah.


"Rima!"


Rima terperanjat, ia langsung berdiri dari duduknya. mendengar suara tegas Rega selalu membuatnya gugup tanpa alasan. "iya kak."


"buatkan Anis jus" perintah Rega, dan Rima tanpa banyak tanya lagi langsung pergi ke arah dapur.


setelah kepergian Rima. Rega memperhatikan anak laki-laki yang selama ini tinggal di rumahnya. Rega jarang sekali di rumah, dari pagi sampai larut malam dia selalu di kantor, akhir-akhir ini dia begitu sibuk.


Rega juga jarang sekali bertemu anak ini, tapi dia ingat nama anak laki-laki ini adalah Rafa.


"duduk om" tawar Rafa yang melihat majikan mamahnya hanya berdiri.


tanpa pikir panjang Rega duduk di tempat Rima tadi duduk, di samping Rafa.


Rafa terus memperhatikan wajah Rega yang tegas dan berwibawa. di dalam hati kecilnya Rafa berharap nanti kalau dia sudah besar, dia ingin sekali seperti majikan mamahnya ini. tampan dan banyak uang. Rafa selalu sedih saat mamahnya kesusahan karena uang.


"kenapa?" tanya Rega yang sadar sedari tadi di perhatikan Rafa.


Rafa hanya menggeleng kemudian kembali memandang ikan.


"bosan?" tebak Rega. namun tidak ada jawaban dari rafa.


"besok om belikan kelinci" ucap Rega. entah kenapa mulutnya spontan mengatakan itu.


"gak usah om. kata mamah Rafa gak boleh minta sama orang lain. kalau Rafa mau Rafa harus mintanya sama mamah aja"

__ADS_1


kening Rega mengkerut. "ini om yang nawarin. mau yang putih,hitam atau coklat?" tanya Rega lagi. dan Rafa hanya diam.


"apa aja. Rafa terserah om, kan yang punya uang bukan Rafa" jawab Rafa polos sampai Rega di buat gemas sendiri mendengarnya.


"ya sudah nanti beli tiga-tiganya" final Rega.


mata Rafa membulat." gak om!. satu aja, kelinci pasti mahal"


sudut bibir Rega terangkat " oke satu. mau warna apa?"


"emmm. putih" jawab Rafa semangat. Rega mengangguk kemudian mengacak gemas rambut Rafa sampai berantakan. "gimana lututnya, sudah sembuh?"


"sudah om. kalau mamah yang tiup pasti luka Rafa sembuh" Rafa memperlihatkan luka di lututnya yang sudah mengering.


"beneran?. nanti kalau om punya luka, mamah kamu suruh tiup luka om ya" ucap Rega spontan.


"emmm tapi kan om kuat. mana bisa om punya luka"


"bisa dong. om juga manusia kan sama kaya kamu" Rega mengambil makan ikan di pinggir gazebo kemudian menaburkannya ke dalam kolam.


Rafa terlihat antusias saat melihat ikan disana saling berebut. cukup lama mereka berdua diam memperhatikan ikan yang sedang makan. sampai akhirnya pertanyaan dari mulut Rega mengalihkan suasana.


"ayah kamu di mana?" tanya Rega penasaran. entah kenapa mulutnya sangat ingin menanyakan hal ini. melihat raut wajah Rafa yang berubah, Rega merasa bersalah. seharusnya dia tidak menanyakan itu kepada anak ini. "emm.. om-"


"kata mamah ayah Rafa sudah meninggal om" ucap Rafa sendu.


hati Rega teriris. dia di tinggalkan ayahnya saat lulus SMA saja sudah sangat sedih. bagaimana dengan Rafa yang sudah ditinggalkan sejak dini oleh ayahnya.


"jangan sedih. rafa masih punya mamah yang hebat. besok juga kan om mau belikan kelinci"


hibur Rega.


namun sepertinya tidak berhasil. Rafa terus termenung, entah apa yang di pikirkan anak itu sampai sudut matanya memerah.


"Rafa kenapa?" tanya Rega hati-hati.


"Rafa mau peluk ayah. tapi gak bisa" ucap Rafa. suaranya terdengar serak.


Rega merentangkan kedua tangannya, bermaksud mengajak anak ini masuk dalam dekapannya.


dengan segera rafa menubruk tubuh gagah itu. Rafa memeluk Rega, isakan kecil terdengar dari mulutnya. dengan senang hati Rega mengelus punggung Rafa.

__ADS_1


Rega tidak tau, kenapa perasaanya menghangat saat pelukan Rafa semakin mengerat, yang jelas dia nyaman saat anak ini memeluknya begitu kencang.


__ADS_2