HaRima

HaRima
bagian 8. Muhamad Rafa Sagara


__ADS_3

Suka duka telah Rima lewati bersama buah hatinya yang kini berusia 3 tahun. Iyaa sudah tiga tahun berlalu sungguh waktu begitu cepat berlalu.


Rima sangat menikmati perannya menjadi seorang ibu di usianya yang masih muda. Dimulai dari repot nya pas usia anaknya masih beberapa bulan dan untungnya Bu Desi selalu siaga membangunnya. Di mulai membersihkan popok, memakai kan baju bayi, memandikan, dan masih banyak lagi itu semua Bu Desi yang selalu mengajari nya.


Setelah beberapa bulan melahirkan Rima menutup warungnnya. Dia hidup hanya mengandalkan uang tabungannya saja dan pada saat usia anaknya menginjak angka 3 bulan dia kembali membuka warungnnya karna uang yang ia simpan telah menipis.


Waktu persalinan pun Bu Desi dengan senang hati membayar biaya yang kurang. Rima menganggap itu adalah hutang, dan Alhamdulillah dia sudah melunasi nya sedikit demi sedikit.


Muhamad Rafa Sagara namannya. Entah apa yang membuat Rima memberi nama itu. Terlintas begitu saja di kepalannya nama Muhamad Rafa Sagara.


Rafa semakin besar dia sama sekali tidak ada mirip-mirip nya dengan Rima. usiannya menginjak angka 3 tahun sekarang, wajahnnya sangat tampan dan juga menarik kalau kata Bu Desi mah...


"Ini mah muka-muka orang kaya atuh neng Rima"


Memang wajah Rafa sangat berbeda dengan Rima yang wajahnnya jauh lebih kampungan.


"Mah" teriak Rafa yang baru pulang main dari rumah Nella


"Salam dulu Rafa!"tegur nya


"Ehh iya assalamualaikum mamah"


"Waalaikumsalam. Rafa sudah makan siang belum?" Tanya Rima pada anak semata wayangnya. Rafa hanya menggeleng .Dari tadi pagi sampai sekarang waktu Dzuhur tiba Rafa baru pulang ke kontrakan. Ya meskipun mainnya di rumah Nella yang tepat berada di samping kontrakan nya Rima tetap saja khawatir


Sudah dua tahun ayah Nella yang bernama Dian itu pulang dari luar kota dan selama itu juga perasaannya tidak tenang, ayah nya Nella selalu saja mengirimkan benda-benda yang menurutnya tidak penting. Bahkan dia juga pernah mengirim uang tapi ia tolak mentah-mentah. Semua barang dan juga uang yang di berikan ayah nya Nella tentu saja dari perantara rafa. Dia selalu memberikan jajanan atau pun uang kepada Rafa. Dan itu semakin membuat perasaanya menjadi tidak tenang. Rima juga mengajarkan Rafa supaya tidak menerima apa saja yang orang lain berikan untuknya.


Rima sama sekali tidak pernah menerima barang ataupun uang yang ayah Nella berikan, ia selalu mengembalikannya secara langsung atau pun lewat Rafa.


Tetapi Rafa dia sangat susah sekali untuk tidak menolak apa yang ayah Nella berikan. Dia selalu menerima nya. Namun setelah Rima berkata..


"Kalau Rafa terus menerima pemberian dari om Dian, mamah gak mau lagi bicara sama Rafa"

__ADS_1


Dan setelah itu Rafa benar-benar Tidak pernah menerima lagi pemberian dari ayahnya Nella. Bagaimanapun caranya Rafa selalu menolak. Yang paling Rafa takuti adalah dia kehilangan mamahnya. Jika mamah tidak berbicara padannya lagi itu tandannya mamahnya sudah tidak menyayangi nya lagi, begitu fikir Rafa.


"Yaudah sebentar ya mamah ambilin dulu"


Dengan senang hati Rima berjalan ke arah dapur kecil di sudut ruangan. Menyendokan nasi secukupnya dan juga telur mata sapi yang di lumuri dengan kecap.


"Nah ini, ayo makan" dengan senyum ceria Rima hendak menyuapi Rafa, namun Rafa malah memundurkan kepalannya


"Mah"


"Ya" dengan kening mengkerut ia memandangi Rafa


"Rafa bosan makan telur Mulu"melihat senyum yang sedari tadi menghiasi bibir Rima kini lenyap, Rafa kembali berbicara"tapi tidak papa telur buatan mamah yang paling enak"


Rima tersenyum tipis, ia tau Rafa sudah bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Di usiannya yang menginjak angka 3 tahun, Cara bicaranya seperti anak berusia 5 tahun.


Dengan lahap Rafa memakan makanan yang sudah ia buat, rasa haru kini merenung di hatinya.


Malamnya selesai sholat isya Rima membereskan kasur lantai yang sudah menemaninya tiga tahun ini. Sedangkan Rafa,anak itu sibuk dengan mobil-mobilan yang di berikan Ucup. Rafa memang tidak begitu banyak mengoleksi mainan mobil,motor ataupun robot. Biasanya Rafa selalu menghabiskannya waktu dengan menggambar di buku gambar ataupun di kertas HVS. Tumben-tumbenan anak itu sekarang main mobil.


"Rafa main mobilnya sudah duluya, sekarang rafa ambil wudhu terus kita belajar sholat" perintahnya yang di angguki oleh Rafa.


Rafa memang penurut. Meskipun usianya baru menginjak angka 3 tahun tetapi sikapnya sangat jauh dari anak-anak seusianya entah apa penyebab nya. Bahkan Rima merasa takut kalau anaknya itu dewasa sebelum waktunya.


"Rafa kenapa?"tanya Rima yang melihat putranya murung setelah mengambil wudhu.


Rafa hanya menggeleng sebagai jawaban.


Rima nampak tidak puas dengan jawaban yang diberikan Rafa


"Kenapa?"tanyanya lagi dengan lembut

__ADS_1


"Kenapa anak mamah yang ganteng ini murung" lanjutnya yang kini berjongkok di depan Rafa dan memenggang dagu anak itu


Namun lagi-lagi Rafa menggeleng dan itu membuat Rima sangat tidak tenang dengan sifat rafa yang tiba-tiba berubah menjadi murung. Meskipun Rafa memang tidak terlalu suka berbicara tetapi jika wajahnya murung seperi ini itu bukan hal biasa di diri Rafa. Seperti ada yang sedang dia fikir kan.


Rima tersenyum melihat Rafa yang sedang memakaikan peci di kepalanya.


"Yasudah sekarang Rafa mulai belajar sholatnya ya"


"Ma.." Kata Rafa dengan pelan


Kening Rima mengkerut "ya.."


"Aku kan laki-laki mustinyakan yang ngajarin aku sholat bukan mamah tapi...." Rafa tidak melanjutkan lagi ucapannya. Beberapa bulan yang lalu dia juga pernah bertanya pada Rima tentang ayah, katanya dia juga ingin ayah. Rima sudah menjelaskan bahwa Rafa juga mempunyai ayah namun Rafa masih tetap kekeuh terus dan terus menanyakan hal yang sama hingga mencapai batas kesabaran Rima. Rima yang saat itu emosi hanya diam dan tidak lagi peduli dengan apa yang ditanyakan Rafa padannya.


Hingga membuat Rafa sadar kalau dia harus berhenti menanyakan hal itu lagi.


"Maafin Rafa mah. Tapi Rafa ingin tau tentang ay-"


"Ayahmu sudah meninggal" potong Rima dengan emosi yang tertahan "jadi mulai sekarang berhentilah menanyakan hal itu" Rafa yang mendengar itupun seketika menunduk.


melihat Rafa yang menunduk Rima membawa Rafa kedalam pelukannya" dengarkan mamah, Rafa jangan pernah dengarkan orang lain berbicara tentang ayah Rafa mengerti? Semua yang dikatakan mereka itu bohong! Tidak ada yang benar. Mereka hanya sok tau dan menerka-nerka saja. Rafa punya ayah namun ayah Rafa sudah...... meninggal" jawabnya pelan di akhir kalimat


"Jadi jangan pernah menanyakan hal itu lagi pada mamah"ancamnya dengan tangan yang mengelus lembut putra tercintanya.


Tiba-tiba Rima merasakan punggung anaknya yang bergetar dia bahkan sudah sesenggukan. Oh ayolah usiannya baru menginjak angka 3 tahun tapi di seperti orang dewasa saja. Apa ada yang seperti itu?


"Dengar Rafa. Meskipun Rafa tidak memiliki ayah, mamah usahakan untuk terus membahagiakan Rafa bagaimana pun caranya. Sudah ya jangan nangis lagi Rafa kan anak hebat. Kalau Rafa gak mau belajar sholatnya sama mamah nanti Rafa belajarnya sama pak ustadz abu saja ya" ustadz abu dia sudah berumur, cucunya saja sudah sebesar Rima sekarang.


TBC


Percepat sajalah.

__ADS_1


__ADS_2