HaRima

HaRima
bagian 5. hari-hari telah berlalu


__ADS_3

Tidak terasa kini usia kandungan Rima telah menginjak angka delapan bulan dan itu artinya dia sudah berhenti menjadi asisten rumah tangga Bu rara, dan sekarang dia kini membuka warung kecil-kecilan di depan kontrakan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. ya meskipun tidak banyak tetapi cukup untuk dirinya makan dan juga menabung sedikit demi sedikit uang untuk nanti persalinan.


Di sini memang banyak sekali anak-anak. Karena itu Rima akhirnya memilih untuk menjual jajanan anak. Setelah berhenti dari pekerjaannya di rumah Bu Rara karna Bi Sumi asisten rumah tangganya Bu Rara sudah kembali ia memutuskan untuk berjualan jajanan kecil saja dengan modal hasil kerjanya di rumah Bu Rara. bekerja di rumah Bu Rara sangatlah berat tidak ada waktu untuk istirahat kecuali memang sudah waktunya pulang.


watak Bu Rara yang memang tegas membuat Rima kewalahan. jika ada sedikit saja kesalahan yang Rima lakukan dia pasti akan menambah kerjaan untuk Rima atau menambah waktu kerja Rima.


Perutnya yang semakin besar tentu menghambat pergerakan Rima. Tetapi, ia tidak masalah akan hal itu justru Rima sangat menikmati perannya saat ini. Berjualan seperti ini memang tidak mudah bahkan hari pertama Rima membuka warung sama sekali belum ada yang membeli tetapi karena Rima selalu bersyukur Alhamdulillah sedikit demi sedikit warungnya mulai ramai. Meskipun kadang-kadang hanya ada dua atau tiga orang yang datang untuk membeli.


"Eh kak masih ada gak es lilin yang rasa mangga?" Tanya anak yang seusia Nella namanya Dara dia juga salah satu teman Nella.


"Iya kak kalau aku yang lasa setlobeli" tambah anak lelaki di samping dara. namanya ucup dia sepupu Dara yang usianya lebih muda dari Dara.


"Boleh sebentar ya kakak ambil dulu di kulkas" kulkas bekas namun masih bisa berfungsi dengan baik.


"Siap kak"


"Kalau mau duduk duduk aja ya" ujar Rima menunjukan kursi kayu panjang di dekat sana.Rima berjalan memasuki kontrakan kecilnya untuk mengambil kan dua batang es lilin.


"Oke" jawab mereka bersama dan langsung duduk di kursi


Cuaca hari ini sangat terik meskipun jam masih menunjukkan pukul 8 pagi tetapi sudah membuat sebagian orang kehausan. Termasuk dua bocah kecil yang saat ini tengah anteng duduk di kursi kayu dengan es lilin di tangannya. Kata mereka es lilin buatan kak Rima paling juara deh.


"Dara kelas berapa sekarang?" Tanya Rima di sela-sela aktivitas nya yang sedang memanggang sosis pesanan mamanya Dara, Tante Dira. Tante Dira memang kerap sekali menitipkan pesan pada dara untuk membelikan sosis bakar ketika Dara ingin membeli es lilinnya.


"Emmm... Aku kelas 3 SD sama kaya Nella" jawabnya.


"Kalau aku kelas 1 kak" ucap anak yang satunya lagi tanpa ditanya dengan mengacungkan dua jarinya.


"Itu dua ucup! Kalau satu itu begini" kata Dara mengacungkan jari telunjuknya.


Ucup memang anak yang menggemaskan sifatnya hampir sama dengan Nella berbeda dengan dara yang lebih dewasa.

__ADS_1


"Eheheh.... Iya iya ka Dala ucup tadi lupa" jawabnya cengengesan


"Ucup nama aku itu Dara D A da R A ra DARA bukan Dala" sungut dara yang tak terima jika namanya di ganti sama ucup. Padahal Kan ucup memang cadel dari lahir.


"Ish sama aja tau" jawab ucup tak kau kalah


Rima yang mendengar keduanya terus mengoceh hanya terkekeh dengan tangan yang sibuk memberi mayones, kecap dan juga saos di atas sosis yang sudah matang kemudian membungkusnya.


"Dara ini sosis bakarnya sudah siap"


"Iya kak bentar... Ini uangnya sekalian sama yang punya ucup ya kak."


"Sebentar. Ini kembaliannya. Bilangin makasih sama mamanya Dara ya"


"Iya kak. Makasih kak rima. Yuk cup kita pulang" ajaknya


"Iya sama-sama hati-hati ya"


********


Menjelang sore Rima berniat ingin membereskan semua barang dagangannya. Alhamdulillah hari ini lumayan ada uang yang masuk meskipun tidak se-rame biasanya tapi tidak apa.


"Eh kakak cantik jangan dulu tutup dong. Nella kan hari ini belum jajan" Nella si gadis cilik yang dari tadi pagi tidak keliatan entah kemana akhirnya muncul juga.


"Ya sudah Nella mau jajan apa? Biar kak Rima buatkan" Nella yang awalnya diam dan memandangi beberapa jajanan di sana pun berkata


"Aku mau ini, ini sama es lilin nya satu" tunjuk nya.


"Boleh" Dengan senang hati Rima membuatkan nya untu Nella


"Es lilinnya Nella ambil sendiri ya. Di pinggir kulkas ada kursi kok jadi kalau gak sampai naikin aja kursinya"

__ADS_1


"Siap"ucapnya sembari melangkah masuk


Nella sudah ia anggap ponakan nya sendiri. Di saat dia sedang sedih dan juga bosan Nella selalu menemaninya tak jarang Nella juga hobi mengelus perutnya.


di saat orang lain hamil maka yang mengelus perutnya adalah suaminya berbeda dengan Rima yang perutnya sering di elus Nella. di dalam hati Rima dia ingin sekali perutnya di elus ibu.


meskipun mereka (orang tuanya) tidak mengharapkan kehadiran cucunya tetapi, Rima sudah bertekad jika nanti anaknya lahir dan tumbuh dengan sehat dan juga dia mempunyai uang lebih, Rima ingin membawanya menemui kakek dan nenek nya.


entah kapan yang pasti Rima sudah bertekad.


malamnya usai melaksanakan shalat isya Rima merasa sangat pegal di bagian pinggangnya mungkin karna kecapean jadi gini ni.


"sabar ya nak bentar lagi juga kamu lahir kok" ucapnya dengan tangan yang sibuk mengelus perutnya dengan tiba-tiba mendapatkan balasan berupa tendangan sayang dari dalam.


"eh jangan keras-keras ya nak mamah jadi kaget tadi. kalau mau main di sana yang anteng ya"


dari awal hamil Rima tidak mengalami gejala seperti mual, lemas dan lain-lain seperti gejala ibu hamil pada umumnya. dia sudah periksa ke dokter katanya...


'beberapa perempuan akan mengalami semua gejala awal kehamilan ada juga yang hanya mengalami beberapa atau tanpa gejala. selama kehamilan berkembang dengan baik dia tidak perlu khawatir' @popmama.com


Tiba-tiba saja ingatan Rima kembali ke kejadian yang membuat dirinya hamil. Dengan perlahan tangan yang sedang mengelus lembut perutnya kini beralih ke leher nya yang polos. Dulu dia mempunyai sebuah kalung yang sangat cantik pemberian dari ibu walaupun bukan emas sungguhan tetapi kalung itu sangat berarti bagi Rima. Dan sekarang kalungnya sudah hilang akibat kejadian di malam itu.


Menghela nafas sejenak Rima kini kembali mengelus perutnya.


Duhg


"Eh.. kenapa? Mau main ya? Mainnya hati-hati ya. Kamu kayanya aktif banget nak, ini baru di dalam perut gimana kalau sudah keluar terus sudah bisa merangkak,berdiri, dan berjalan pasti kamu sangat menggemaskan apalagi kalau sudah bisa bicara manggil mamah sama ay-- eh nggak jadi. Panggil mamah aja ya, ayah jangan di panggil." Rima berharap jika nanti kalau anaknya sudah lahir dan tumbuh besar dia tidak akan pernah menanyakan ayahnya.


Meskipun nanti pasti ada saatnya anaknya menanyakan di mana ayahnya maka Rima sudah menyiapkan jawabannya sendiri.


"Kamu hebat nak. Sehat-sehat disana nanti kalau sudah mau keluar kasih tau mamah ya hehe.."

__ADS_1


__ADS_2