
malamnya, pukul 10.15 suara mesin mobil terdengar di susul decitan gerbang yang terbuka. langkah kaki lebar kini menuju pintu utama rumah ini.
derap langkah yang lumayan jelas menyadarkan Rima dari lamunannya. makan malam sudah terhidang di atas meja, Rima saat ini hanya sedang membersihkan yang perlu di bersihkan.
Rafa sudah tidur dari dua jam yang lalu. anak itu sepertinya bosan. biasanya dia akan main bersama temannya ataupun membantu Rima membereskan dagangannya. tadi juga dia sempat ingin membantu Rima beberes rumah, namun tidak di izinkan karena takut nanti Rafa merusak sesuatu.
pintu terbuka, Rega dengan segala kepenatannya merebahkan diri di sofa dengan memijat lembut dahinya. baju kemeja serta jas yang pria itu gunakan terlihat sangat kusut.
tadi siang Rega ada rapat mendadak, yang awalnya akan santai-santai di rumah malah sibuk seharian penuh. ada beberapa masalah di kantornya, dan harus segera di selesaikan hari ini juga.
sekarang Rega bisa bernapas lega, Masalah sudah beres, tapi penat fisik juga pikiran masih setia mengikutinya.
tuk
"tehnya tuan." Rima menunduk dengan suara lirih.
Rega membuka matanya. dia baru ingat ada orang lain di rumah ini. rumah juga lebih rapi dan bersih dari biasanya. Rega menyenderkan punggungnya di sofa kemudian membuka jas nya dan di taruh begitu saja di samping sofa
"duduk," titahnya.
"saya?" tanya Rima memastikan.
"iya.. duduk. kita perlu bicara" ucap Rega dan Rima mengangguk duduk di sebrang sofa.
"kamu, belum tau saya?" tanya Rega, matanya memicing.
jujur saja Rima sangat gugup. suaranya yang bass terkesan serak semakin membuat Rima deg-degan. bukan karena apa, ia hanya gugup karena suaranya sangat berbeda pada saat pertama kali Rima mendengarnya. atau memang Rima nya saja yang tidak begitu memperhatikan?.
"belum, tuan"
" jika ada yang menanyakan saya di di luaran sana. mereka akan menyebut saya dengan sebutan Rendra. dan terkhusus di rumah, nama saya Rega. mengerti?" tanya Rega dan Rima mengangguk paham.
"satu lagi"
__ADS_1
"jangan panggil saya tuan. saya masih muda, mungkin kita juga seumuran, dan untuk yang tadi pagi saya maafkan. saya merasa sangat tua jika di panggil seperti itu."
"baik tu- emm...kak?" cicit Rima ragu-ragu.
"itu lebih baik." Rega memegang cangkir berisi teh hangat buatan Rima kemudian menyesapnya sedikit. "berapa usiamu?"
Rima gelagapan. dia lupa umurnya berapa, dia hamil Rafa sekitar usia 17 tahun kemudian melahirkannya dan merawatnya selama 3 tahun, karena usia Rafa sekarang masih 3 tahun. berarti sekarang usianya..
" dua puluh tahun.." jawabnya pelan.
Rega menganggukkan kepalanya kemudian memijitnya sejenak. "saya setahun lebih tua dari kamu."
lagi-lagi Rima mengangguk.
"tugasmu tidak berat. hanya beberes rumah, memasak dan menyiram tanaman yang ada di sini. untuk membersihkan rumah kamu harus membersihkan semua ruangan kecuali kamar saya. tidak ada yang boleh masuk ke kamar saya siapapun itu!. paham?"
"paham"
berapa?. oh ayolah, Rima sudah sangat beruntung mendapatkan tempat tinggal yang layak. tapi ia juga butuh uang untuk membeli keinginan Rafa. kalau di jawab segini nanti di anggap kemahalan, kalau di jawab terserah gimana kalo nanti gak di gaji?.
"terserah kakak saja... saya sudah beruntung bisa tidur dengan aman" lohhh mulut mu kenapa Rima?. di pikiran kamu sudah berhasil menemukan nominal yang cocok dan siap untuk di ucapkan. tapi malah kalimat lain yang keluar.
"nanti saya pikirkan lagi. kamu masak apa malam ini?" tanya Rega. dia melangkah mendekati meja makan sembari menggulung lengan kemejanya. perutnya terasa keroncongan sebab belum makan siang, untung saja tadi pagi dia sarapan nasi jadi masih bisa di tahan.
melihat majikannya menuju meja makan, Rima bergegas membantu untuk menyiapkan alat makan serta menuangkan air putih ke dalam gelas.
"saya permisi ke belakang" Rima ingin istirahat, sekaligus melihat Rafa tidur dengan benar atau tidak. tapi, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"duduk dan temani saya makan"
Rima terperangah mendengarnya.
apa?. bukankah untuk ukuran pembantu ini sangat tidak memungkinkan. seorang pembantu dengan majikan laki-lakinya duduk dan makan di satu meja yang sama? yang benar saja!
__ADS_1
"apa kamu tidak mendengarnya?" tanya Rega datar.
"maaf tapi-"
"tidak ada tapi. perintah saya wajib kamu turuti selagi itu kegiatan positif" lagian apa susahnya tinggal duduk dan menunggunya selesai makan malam, pikir Rega.
"tapi saya-"
"saya hanya meminta kamu untuk menemani saya makan, bukan untuk menemani saya tidur. duduk!" perintahnya tanpa ada penolakan.
akhirnya Rima mengalah. dia duduk di sebelah Rega.
"ambilkan saya nasi!" Rega terus meminta Rima mengambilkan ini dan itu. sampai sekarang Rima tengah duduk sembari menunduk, menunggu tuannya ini selesai makan malam.
Tadi Rega sempat memaksanya untuk ikut makan bersamanya. namun Rima bersih keras menolak, perutnya sudah kenyang, tadi sore Rima sudah makan bersama Rafa.
"besok-besok kamu harus menunggu saya pulang dulu. khususnya makan malam, kamu harus menunggu saya. baru boleh makan," ucapnya tegas.
setelah semuanya beres Rima berjalan menuju kamarnya dan juga Rafa. selesai dengan kegiatan membersihkan meja makan serta mencuci beberapa piring, akhirnya Rima bisa merebahkan tubuhnya di samping Rafa yang tengah terlelap.
"nanti mamah pasti di gaji sama tuan Rega eh kak Rega maksudnya. Rafa mau apa? nanti kalau mamah bisa belikan in sya Allah mamah belikan. sisa uangnya kita tabung buat jengukin nenek sama kakek ya. nenek pasti seneng bisa bertemu dengan cucunya yang tampan ini." Rima mengusap air matanya yang meluncur bebas membasahi pipi tirus itu.
memandang puteranya sendu. rasa rindu pada ibu dan bapaknya sangat besar sekali. apa mereka sehat-sehat di sana?. semoga saja mereka mau memaafkannya dan kau menerima ia kembali.
"nanti kalau Rafa udah besar, jangan pernah sama sekali merusak wanita ya sayang" nasehatnya sambil mengelus pipi tembem milik Rafa serta mengusap halus mata yang terpejam itu.
"wanita itu lemah. namun ada masanya wanita juga bisa menjadi kuat akibat dorongan dari kejadian yang membuatnya mau tidak mau dan siap tidak siap dia harus melewatinya."
"kamu anak laki-laki yang terlahir dari rahim mamah... harus bisa menghormati Wanita. jangan seperti ayah kamu ya. mamah gak mau Rafa seperti dia." Rima usap rambut Rafa yang mulai panjang.
"walaupun Rafa terlahir dari pria yang tidak bisa menghargai wanita. mamah harap rafa tidak seperti itu ya nak" banyak orang bilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. tapi, semoga saja Rafa tidak akan pernah melakukan hal yang sama seperti yang ayahnya lakukan terhadap Rima.
"maafkan mamah juga, belum bisa buat Rafa bahagia. semoga kasih sayang yang mamah berikan cukup untuk menggantikan sosok ayah dalam hidup Rafa" ucap Rima lirih, berbisik tepat di telinga Rafa. Rima mengecup kening Rafa sekilas kemudian memeluknya erat "selamat malam, mimpi indah ya"
__ADS_1