
ceklek...
"loh kamu kok makan di kamar?" tanya Gina sambil menutup kembali pintu kamar putranya ini. Gina tau sekali kalau Rega tidak suka jika pintu kamarnya terbuka.
muka Rega terlihat masam. ***** makannya berkurang saat mendengar suara ibunya yang dari tadi memenuhi rumah ini.
"ada apa ke sini?" tanya Rega datar.
Gina terlihat menunduk, dia kecewa pada respon putranya ini. "emang gak boleh ya ibu main ke sini?" tanya Gina balik.
"boleh. boleh banget!" ucap Rega menekan kata terakhir, dan itu semakin membuat Gina menunduk.
"semenjak ibu nikah lagi. kamu kaya bukan Rega yang ibu kenal. kalau kamu gak setuju sama pernikahan ibu yang sekarang. kenapa enggak protes waktu itu." ucap Gina, merasa putus asa.
"duduk dulu." Rega melirik sofa di sebelahnya.
Rega kembali memakan-makanannya. bagaimanapun perutnya tetap harus diisi, dia butuh tenaga meskipun hanya untuk mendengarkan wanita di sampingnya ini mengoceh. rasanya malas sekali meladeni ucapan ibunya barusan.
"Rega." Gina menggoyangkan lengan putranya."kamu sakit?" tanyanya saat merasakan kulit Rega yang panas wajahnya juga terlihat pucat.
bukannya menjawab, Rega malam kembali bertanya."ada apa ibu datang kemari?"
"ayolah, kamu kembali ke rumah ibu,Anis sama papa.Dia sedih kamu lebih memilih pisah rumah sejak dia jadi papa kamu." ucap Gina, bibirnya melengkung ke bawah.
satu Minggu setelah Gina dan Amar menikah, Rega memutuskan pisah rumah, dan itu membuat hari Amar tersinggung. anak tirinya begitu cuek dan tidak mau peduli dengan keberadaannya.
"bilangin ke om Amar. dia tidak perlu merasa bersalah. Rega cuma mau mandiri aja." Rega meminum air putih sampai tandas. Rega menusuk beberapa potong buah pisang dengan garpu lalu memakannya.
__ADS_1
mata Gina terlihat berair, "masih om ya? dia udah jadi papah kamu Rega,"ucapnya. suaranya terdengar bergetar, dari dulu Rega belum pernah menyebut Amar dengan papah.
"sudah ya Bu. Rega mau istirahat." Rega berdiri melangkah ke arah ranjang membaringkan tubuhnya di atas sana. tidak peduli dia habis makan dan langsung berbaring.
Gina mengusap air matanya. dia kembali menghampiri Rega, dan duduk di tepi ranjang "ibu mau tanya."
"hmm"
"itu pembantu kamu?" tanya Gina penasaran.
Gina memang begitu. dia tidak suka berlarut-larut, lebih baik dia mengalihkan pembicaraan di banding harus menangis karena sikap Rega yang belum bisa menerima Amar sepenuhnya.
"iya" jawab Rega sambil menutup matanya.
"pantesan.. kamu betah di rumah. ehh dia masih muda kayaknya. kalau kamu suka sama dia kita lamar langsung kerumahnya." ucap Gina bersemangat.
alis Rega terlihat menyatu. dia memandangi ibunya dengan heran.
"kalau ibu setuju, besok Rega Lamar dia." ucap Rega tanpa pikir panjang. dia lelah mendengar ibunya terus membicarakan tentang ini.
"beneran?" tanya Gina terlihat tidak percaya.
Rega mengangguk dengan mata yang masih terpejam. "tapi Rega harus minta izin Rafa dulu" ucapnya cuek.
Gina mengernyit "Rafa, siapa?"
"anaknya"
__ADS_1
kedua mata Gina membola, dia juga membekap mulutnya yang menganga." dia sudah punya anak?"tanyanya tidak percaya. Gina menghembuskan nafasnya saat melihat Rega mengangguk pelan.
"dia janda punya anak satu, namanya Rafa. ibu mau cucu kan? besok Rega Lamar mamahnya." ucap Rega santai. entah dia serius atau tidak mengatakan itu.
"Gak!!!" teriak Gina. Rega membuka matanya, sudah dia duga respon Gina akan seperti ini.
"gadis masih banyak!. ngapain kamu nikahin janda." Gina mendelik. susah-susah dia mencarikan gadis-gadis cantik, tapi anaknya ini lebih tertarik dengan janda.
"status janda tidak se hina itu Bu" ucap Rega tidak suka ibunya seperti merendahkan status janda. "Rega sudah bosan dengan ibu yang selalu mengatakan cucu,cucu dan cucu. nanti Rega juga pasti akan menikah Bu. ibu tidak perlu khawatir, Rega juga tidak akan selamanya sendiri. apa ibu tau? selama ini Rega menolak semua wanita yang ibu kenalkan itu ada alasannya. Rega sedang mencari seseorang, dan Rega belum bisa tenang sampai Rega bertemu dia."
"Dia siapa?" tanya Gina.
"Dia-" Rega merapatkan bibirnya. dua tidak tau harus menjawab apa. dia sendiri tidak tau siapa yang sedang dia cari selama ini. aneh bukan? tapi memang begitu kenyataannya. "khmm.. ibu sebaiknya pulang. Rega mau istirahat."
"kamu ini. kenapa sih, selalu gak nyaman kalau ada orang lain di dalam kamar kamu, sekalipun itu ibumu sendiri. gimana punya istri kalau begini ceritanya."gerutu Gina. "ibu ke apotek dulu beliin kamu obat. sebentar lagi kamu pasti pilek, suaranya udah bindeng gitu." Gina beranjak keluar dari kamar Rega kemudian menutup pintunya kembali serapat mungkin.
Gina menuruni tangga dengan pelan, tubuhnya sudah tidak sekuat dulu, dia takut pinggangnya sakit kalau berjalan terlalu cepat. Gina melirik ke arah dapur, di sana ada Rima yang masih sibuk dengan urusan dapurnya. perabotan yang belum di cuci terlihat masih banyak.
"khmmmm" Gina berdehem. "siapa namamu?"tanya Gina.
"Rima, nyonya" jawab Rima gugup diperhatikan seperti itu.
"nanti malam buatkan anakku bubur. sekalian nanti kamu belikan obat demam." setelah mengatakan itu Gina berlalu dari dapur. niat awal ingin membelikan Rega obat tapi malah menyuruh Rima untuk membelikannya nya.
Gina keluar dari rumah ini, dia lupa punya janji dengan teman arisannya sore ini, makanya Gina menyuruhnya Rima untuk menggantikannya membeli obat di apotek. Gina pikir Rima bisa menjaga Rega. lagian wanita itu ada di sini untuk bekerja jadi tidak ada yang salah kalau Gina menyuruhnya.
"baik" jawab Rima, meskipun ibunya Rega sudah tidak ada di dapur. Rima memang sudah ada niatan ingin membuatkan Rega bubur untuk nanti malam.
__ADS_1
tanpa Gina suruh pun, Rima pasti akan membuatkan Rega bubur, karena ia tau kalau tuannya itu sedang tidak enak badan.
baiklah, hari ini begitu melelahkan untuk Rima. tadi malam waktu tidurnya berkurang karena terjebak di gazebo bersama Rega, paginya ia sibuk menyiapkan sarapan dan membereskan rumah, tadi siang Rima juga sudah menghabiskan waktunya di halaman belakang, dan sekarang Rima harus pergi ke apotek untuk membeli obat untuk rega, yang Rima tau apotek di daerah sini lumayan jauh, mungkin Rima akan naik ojek nanti. Rima berharap, semoga malam ini ia bisa tidur dengan nyaman tanpa ada gangguan.