
Di dalam ruangan yang bernuansa putih dan biru kini Rima sedang mempertaruhkan hidupnya demi sang jabang bayi dia tidak peduli pada sakitnya. Yang dia pikirkan hanya bayinya yang kini akan lahir ke dunia.
Peluh keringat membanjiri keningnya.
"Tarik nafas... Tahan jangan dibuang mubajir" Bu Desi dengan situasi genting seperti ini masih saja, mulutnya tidak bisa di kontrol.
"Mati dong bu"kata suster yang berada di samping Bu Desi
"Eh iya-iya buang neng jangan ditahan nanti kata susternya mati"
Kali ini Rima merasa tidak mendengar apa yang mereka bicarakan fokusnya saat ini adalah bayinya harus selamat!. Meskipun dokter pernah bilang
"Perempuan di usia muda terancam luka serius saat melahirkan,dan dapat menyebabkan kematian pada ibu dan calon bayi"
perkataan dokter terus terngiang di kepalannya saat ini.Alih alih mendengarkan instruksi dari Bu dokter, fikiran Rima malah semakin kacau ditambah lagi Bu Desi yang seharusnya menenangkannya malah semakin membuatnya panik.
sekarang fikirannya mendadak kosong, bahkan dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang dokter dan suster itu katakan sedari tadi. yang ada dirinya malah mengantuk matanya kini terasa sangat berat.
"Dek.. dek jangan tidur" kata suster dengan menepuk pipinya. Dengan cepat Rima membuka matanya dengan rasa takut yang membuncah fikiran negatif sekarang menghantui dirinya. bagaimana jika bayinya tidak selamat atau dirinya yang tidak selamat atau kah justru dua-duanya yang tidak selamat. sungguh dirinya kini dilanda kebingungan diantara sakitnya.
"Tenang dulu, tarik nafas hembuskan..." Sekarang dokter Dewi sedang memberi arahan agar Rima tidak panik.
dengan perlahan Rima mengikuti arahan dokter Dewi. setelah menarik nafas dan menghembuskan nya ia merasa lebih baik tenaga yang sedari ia pakai untuk berfikir kini ia pakai untuk berjuang.
"Ayo dek dorong perlahan ya. kepalanya sudah terlihat" ucap dokter Dewi. Kepalanya menunduk.
Suara Rima saat ini memenuhi ruang persalinan. Ia mengejan dengan sesekali mengambil nafas dan menghembuskannya. Wajahnya yang tampak lelah di tambah lagi dengan keringat yang terus menerus membanjiri dahi dan juga lehernya.
"Ayo neng. Pasti neng Rima bisa. Masa kalah sama Bu Desi yang anaknya udah dua" ucap Bu Desi dengan jari telunjuk dan jari tengah Terangkat
"Ayo semangat, semangat, semangat"
"Ibu ini bukan konser Bu" kata suster tadi, yang sudah jengah dengan sikap Bu Desi
Bu Desi hanya mendelik kearah suster yang berada di sampingnya, dia tidak menghiraukannya. Tangan Rima yang sedari tadi menggenggam tangan Bu Desi sudah sangat basah. Wajahnya pun tampak pucat.
__ADS_1
"Dorong lagi..."
Kenapa susah sekali, bagian intinya terasa robek. Dengan sisa tenaga yang ia miliki Rima kembali mengejan
"Lagi dek... Sedikit lagi keluar"
"Arghhhhhhhhhh"
Seketika ruangan bernuansa putih biru ini penuh dengan tangisan seorang bayi. Bayi mungil nan lucu yang sudah 9 bulan dikandungnya sekarang telah lahir. Lahir dalam keadaan sehat, namun berat badannya yang kurang.
"Alhamdulillah"ucap semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut kecuali Rima yang sekarang keadaanya semakin lemah.
"Sus tolong bawa bayinya" perintah dokter Dewi yang di angguki suster tersebut.
" Bu Dokter, ini neng Rima nya kenapa malah pingsan?" Tanya Bu Desi yang melihat Rima sudah menutup mata sejak bayinya lahir.
****
"Bu Desi bagaimana keadaan nak Rima?" Tanya pak RT ketika sudah melihat Bu Desi keluar dari ruang persalinan. matannya masih merah akibat mengantuk. tadi pak RT tidur awal pas denger suara Bu Desi yang kaya toa masjid teriak-teriak minta tolong ia langsung bangun.
"Inalillahi"
"Pak rete neng rima pingsan bukan mati" sungut Bu Desi
"Memangnya kata inalilahi harus buat orang mati aja?" Tanya pak RT tak mau kalah
"Ya enggak juga , tapikan kesan awal nya denger pak rete ngomong kaya gitu neng Rima kaya udah mati"
"Sudah lah terserah Bu Desi saja, saya mau adzanin dulu bayinya" kata pak RT, kemudian pergi melenggang.Berbicara dengan Bu Desi bisa membuat penyakit darah tingginya kumat.
pak RT memang sudah tau kalau bayi yang di kandung Rima memang tidak ada ayahnya. sungguh kasihan harusnya yang mengadzani dan menemani bayi ini adalah ayahnya.
***
Matanya perlahan terbuka. Hal pertama yang Rima lihat adalah wajah Bu Desi yang berseri. Di tambah lagi telinganya mendengar suara nyempreng dari Nella. Rupanya anak itu ikut juga padahal ini sudah pukul 1 dini hari.
__ADS_1
berapa lama dia tidak sadar?.
"eh neng Rima sudah bangun... mau minum?" Rima mengangguk, dengan perlahan dia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang rumah sakit. tubuhnya terasa ngilu. tangannya kini mengelus perutnya yang sudah agak rata.
"dimana bayiku?" tanya Rima yang sudah tidak sabar bertemu dengan buah hatinya. dia masih belum percaya sampai detik ini, semua seperti mimpi.
" ada kok lagi di urus sama susternya, minum dulu neng" Bu Desi menyodorkan air mineral.
"sudah bu. terima kasih atas semuanya Bu Desi" ucap Rima.. Bagai mana tidak? Bu Desi lah orang yang paling berjasa tadi. Untung saja ia sudah menyiapkan seluruh kebutuhan nya di dalam tas berhari-hari yang lalu. Jadi ia tidak begitu repot pas akan melahirkan.
"Sama-sama neng Rima" tadi waktu dia melipat pakaian di rumah. suara pecahan kaca terdengar dari dalam kontrakan yang Rima tempati takut kalau Rima akan melahirkan sekarang. dengan perasaan panik dia keluar dan langsung masuk ke dalam kontrakan.
ternyata memang benar dugaan bu Desi kalau Rima akan melahirkan dalam waktu dekat. sekuat tenaga dia berteriak dan meminta bantuan. akhirnya pak RT serta hansip yang sedang berjaga malam ini datang dan membantunya.
sungguh Rima sangat berhutang pada Bu Desi.
Terdengar suara pintu ruangan terbuka di sana tampak dokter Dewi sedang menggendong bayinya.
Dengan perasaan haru Rima menerima bayi yang berada di gendongan dokter Dewi. Lama Rima memandang wajah yang kini menjadi anaknya. Dengan pandangan heran Rima melihat ke arah dokter Dewi
"Bu dokter dia cantik atau ganteng?" Tanyanya .Dia melihat bahwa bayinnya sama sekali tidak seperti perempuan.
"Ganteng dek"
"Yah gak jadi cewe dong" suara cempreng dari arah belakang Bu Desi. " Bu kalo ganteng berarti cowo dong yah kakak cantik PHP in Nella nih katannya mau cewek dedek bayinnya kok cowo sih?"
Namun Rima malah asik dengan bayinya yang sekarang sedang minum asinya begitu lucu dan menggemaskan. Rasanya sangat menggelikan ketika bayinya meminum asi.
"Kakak cantik jawab Nella dong kok malah senyum senyum si" ujar Nella yang tidak terima di acuhkan. Lihatlah bahkan bibirnya sudah maju.
Rima yang sadar sudah mengacuhkan princess yang dari dulu menemaninya pun menjawab"kakak tidak tau Nella kalau yang lahir bakalan ganteng" jawabnya dengan senyum yang tak pernah luntur di bibirnya
"Ih gak asik ah. Gak jadi make-up pan dong sama Nella"
TBC
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir 🙏