
ternyata benar, semalam yang dilihat Rega adalah maling. dua orang pria dewasa itu sepertinya akan mencuri di rumah Rega. tapi setelah mengetahui pemilik rumah bangun, dua orang itu pindah ke rumah sebelah setelah puas mengacak-acak taman belakang rumah Rega, entah apa maksud mereka menghancurkan tanaman di sana. mungkin mereka panik dan mencari jalan keluar? bisa jadi.
Bu janah dan pak Nandang (tetangga Rega) kehilangan satu sepeda motor dan perhiasan mereka di dalam kotak. rumah sebelah memang tidak memiliki satpam, jadilah kemanan rumahnya kurang baik.
"mau tambah lagi?" tanya Rima, saat melihat piring Rega sudah bersih. tuannya makan lumayan lambat hari ini, tidak selahap biasanya.
"tidak. saya mau istirahat seharian ini,jangan ada yang ganggu." setelah mengatakan itu, Rega beranjak dari duduknya. dia berjalan gontai ke arah tangga. mungkin benar apa yang Rima pikirkan, Rega sedang tidak enak badan, terdengar jelas dari suaranya yang bindeng.
Rima membereskan meja makan kemudian mengambil nasi serta sayur bayam. Rafa belum makan, anak itu sejak bangun tadi pagi langsung sibuk dengan peliharaannya.
"Rafa makan dulu."
Rafa menoleh, dia duduk bersila di atas rumput. halaman belakang masih berantakan, Rima berniat membereskannya nanti sore, setelah pekerjaan di dalam rumah selesai.
"Ini.. makan sendiri ya." Rima memberikan mangkuk berisi nasi dan sayur bayam.
"mau telur," gumam Rafa. tapi tangannya terulur menerima mangkuk yang Rima berikan kemudian memakannya.
"besok mamah masak telur, sekarang makan yang ada saja" ucap Rima, rupanya ia mendengar gumaman Rafa.
Rafa sedang makan bersama dua kelincinya yang masih didalam kandang. manik mata Rima memindai lingkungan sekitar.
sepertinya seharian ini Rima sangat sibuk, melihat taman yang tadinya indah dan sekarang begitu berantakan membuat tangan Rima begitu gatal. Niatnya Rima akan membereskan ini nanti sore saja. tapi apa boleh buat, ia begitu greget ingin segera membersihkannya.
__ADS_1
Rima mengumpulkan keramik pot yang pecah, tanaman hias yang masih bisa di tanam kembali juga ia kumpulkan, ikan-ikan yang masih bisa bernafas Rima pindahkan ke dalam ember yang berisi air. Rima akan menguras habis kolam ikan di sana, setelah tadi ia meraba dasar kolam ternyata sudah berlumut, meskipun tidak tebal.
tangannya sibuk menggosok kolam, sesekali lengannya mengusap keringat yang meluncur di kening. matahari sedang naik, dan itu tidak membuat Rima berhenti untuk membersihkannya.
kolam sudah bersih, Rima kembali menyalakan keran air dan mengalirkannya ke arah kolam. sementara air mengisi kolam, Rima kembali sibuk menyapu halaman, lalu membenarkan bunga yang tumbang, ada juga beberapa dahan tanaman yang patah.
pak Jajang menyusul ke halaman belakang saat mendengar grasak-grusuk dari arah sana. melihat Rima yang kelelahan, pak Jajang berniat membantu, tapi Rima bilang ini hampir selesai dan ia bisa membereskannya sendiri. akhirnya pak Jajang pergi ke arah dapur, katanya dia mau buat kopi.
Rafa juga tadi membantunya sedikit. setelah makan,anak itu tadi membantunya mengumpulkan dedaunan dan memasukannya kedalam plastik.
"berenang yang tenang. tempat tinggal kalian sudah aku bersihkan," ucapannya sambil memindahkan ikan dari ember ke kolam satu persatu. Ikan yang mati, Rima sudah menguburnya. tidak banyak, hanya ada sekitar 3 ekor ikan yang mati, sisanya masih bisa bernafas walaupun lemah.
halaman belakang sudah kembali rapi dan bersih, sekarang badan Rima yang kotor dan bau keringat. rasanya Rima ingin buru-buru mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
di dalam kamar Rega, laki-laki itu masih bergelung selimut tebal. jam menunjukkan pukul 13.45 pantas saja perutnya sudah kembali keroncongan, tapi malas sekali rasanya harus beranjak dari kasur ini.
satu panggilan tidak terjawab, Rega kembali menekan nomor telepon rumah ini. tidak lama kemudian suara Rima terdengar dengan nafas terengah.
"ha-halo selamat siang, ini dengan kediaman narendra-"
"antar makan siang saya ke atas!. kalau masih ada, saya mau sayur bayam yang tadi pagi, panaskan!" setelah itu Rega mematikan sambungan teleponnya, takut pulsanya habis.
di dapur Rima tengah menggerutu, kesal sekaligus panik, takut masakannya gosong. ia baru saja selesai mandi kemudian kembali di sibukkan dengan bahan dapur. Rima kembali memasak sayur bayam, untung saja di kulkas masih ada. sebenarnya sayur bayam yang tadi pagi masih ada sedikit, tapi sayur bayam tidak baik jika dipanaskan. lagian tumben-tumbenan tuannya ini mau makanan yang sama dalam satu hari.
__ADS_1
makanan telah siap di atas nampan,di sana Rima juga sudah memotong beberapa buah pisang supaya badan Rega lebih segar.
Rima tiba di depan pintu kamar Rega yang tertutup rapat seperti biasa. Rega tidak pernah membiarkan kamar nya terbuka walaupun hanya sedikit. dari dulu pria itu tidak suka jika kamarnya dilihat orang lain.
setelah mengetuk pintu berwarna putih itu tiga kali. Rima tidak mendapat jawaban, kamar ini sunyi. kembali Rima ketuk pintu itu lebih keras supaya Rega bisa mendengarnya.
tuk...tuk..tukk
"simpan di atas meja. nanti saya ambil" sahutan dari dalam.
Rima menyimpan nampan makanan itu di atas meja dekat pintu kamar rega kemudian pergi menuruni tangga. tadi Rima mendengar bel rumah ini berbunyi, makanya Rima buru-buru turun untuk membuka pintu.
"kamu siapa?" tanya wanita paruh baya uang berdiri di depan pintu saat Rima membukanya.
Rima menunduk "saya pembantu di sini."
"oh"
wanita paruh baya itu nyelonong masuk kedalam rumah sebelum Rima mempersilahkan. dari penampilan dan wajahnya Rima bisa tau kalau dia salah satu keluarga Rega, atau mungkin ibunya?
"Regaaaaa... anak ibu yang ganteng, kamu di mana? kebiasaan kalau di rumah pasti ngurung di dalem kamar. ibu kangen deh sama kamu, kamu sekarang jarang main ke rumah ibu. ih kamu tau gak jeng sari sama jeng pita pada aplod foto cucunya loh." entah dengan siapa dia mengobrol, Rega saja belum ada di hadapan wanita itu. suaranya sangat mirip dengan Anis, agak cempreng tapi tidak memekik gendang telinga.
Gina sedang menaiki tangga menuju kamar rega, tapi mulutnya dari tadi tidak berhenti mengeluarkan kata-kata. "pokoknya ibu gak mau tau. nanti malam kamu harus nginep di rumah ibu. ibu udah ada calon buat kamu, nanti kalau kamu cocok langsung gas aja." Gina kembali bermonolog.
__ADS_1
"cerewet" gumam Rima, setelah itu ia menepuk pelan bibirnya. "astaghfirullah" bisa-bisanya Rima berkata seperti itu pada ibu tuannya sendiri.
Rima geleng-geleng kepala saat telinganya masih bisa mendengar suara wanita paruh baya itu. Rima membiarkan wanita itu masuk ke kamar Rega, karena tau kalau dia ibu dari tuannya. tidak mungkin pak Jajang membiarkan orang luar masuk ke dalam rumah ini.