
Seorang gadis cantik berlari dengan cepat di bawah langit malam yang indah ini. Debaran jantungnya kian terasa, air mata yang penuh rasa sakit menjadi masalah dalam dirinya. Gadis itu terus berlari sambil melihat sebuah hotel yang terkenal di ibu kota Jakarta dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi di sekitarnya.
Queen Alstroemeria itulah namanya. Tidak ada kata henti baginya untuk bisa masuk kedalam hotel ini, meskipun banyak orang yang melihatnya aneh.
"Permisi, dimana kamar Raja dan juga Sayinat?" Tanya Queen kepada resepsionis itu.
Wanita itu tersenyum, tidak ada curiga terlintas di pikirannya, wanita itu hanya bekerja sama di tempat ini sembari beberapa kali mengotak-atik komputer yang ada di hadapannya.
"Di kamar 44 lantai 4 anda bisa naik lift, terima kasih."
Queen mengangguk paham. Dirinya menarik nafas begitu panjang, ia melihat sebuah Poto di dalam handphone nya wanita itu mengirimkan sebuah Poto Raja dan juga dirinya sedang tidur di kamar hotel. Bahkan, wanita itu mengirimkan nomor kamarnya, agar Queen bisa melihat kekasihnya sekarang bersama dirinya di ranjang yang sama tanpa sehelai pakaian.
Queen meremas ponselnya, air matanya mengalir begitu saja. "Raja bahkan telanjang dada, apa yang mereka lakukan?" Tanya Queen kedirinya sendiri, ia sangat khawatir sekali.
Pikiran Queen sangat kacau, ia tidak bisa berpikir jernih. Setelah menaiki lif dan menekan tombol kamar yang di tuju nya, tetap saja hatinya merasa tidak tenang, apalagi Sayinat adalah sahabatnya sendiri.
"Mengapa sahabatku bisa melakukan hal serendahan itu," lirihnya.
Akhirnya lif terbuka, Queen berlari secepat mungkin tidak memperdulikan orang lain yang melihatnya aneh. Dari ujung kamar ke ujung lainnya, akhirnya Queen menemukan kamar yang di tuju nya.
Air mata kini menjadi saksi, rasa gugup dan debaran jantung masih kian terasa. Perlahan-lahan pintu kamar ini terbuka, mata Queen melotot disaat melihat Raja dan Sayinat tengah berciuman di ranjang ini.
Queen melihat Raja telanjang dada dan tubuh Sayinat di tutupi oleh selimut putih. Hati Queen sangat hancur, ia tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi.
"Raja."
Deg ....
Raja langsung mendorong bahu Sayinat dengan sangat kasar sehingga membuatnya terjatuh di lantai dengan selimut yang masih menutupi badannya.
Queen melihat Raja hanya memakai celana pendek dan telanjang dada berjalan kearahnya dengan matanya yang sayu.
Queen tersenyum kecut, hatinya sangat sakit sekali. "Kamu berbohong ...," Lirihnya.
Raja berusaha memegang tangan Queen, namun Queen terus menepisnya dengan kasar. Sayinat yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan, ada rasa bangga di dalam hatinya bisa melihat adegan yang menurutnya indah.
"Ini yang dinamakan lembur di kantor? Jadi selama ini kamu selalu lembur di hotel ini bersama sahabat aku sendiri? Kalian sudah melakukan hal ini berapa kali?" Tanya Queen lirih.
Raja melotot tidak percaya mendengarnya. "Kamu salah paham!" Teriak Raja.
__ADS_1
"Salah paham dimana? Jelas-jelas tadi kalian berciuman dan aku? Mengapa kalian melakukan hal seperti itu? Apa salah aku? Aku hanya ingin kamu jujur. Bukankah kita akan menikah? Mengapa kamu mengkhianati aku Raja? Kalau tahu begini aku tidak mau menikah denganmu!"
Raja memejamkan matanya, air matanya keluar begitu saja. Queen melihat jari manisnya, ia mengingat kembali disaat Raja memakaikan cincin itu di tangannya.
Queen melepaskannya, ia memegang tangan Raja yang menatapnya sedih, Queen memberikan cincinnya itu ke telapak tangan Raja.
"Kita tidak akan pernah menikah, aku harap kamu bisa bahagia bersama sahabatku dan jadilah laki-laki yang bertanggung jawab."
Raja mengepalkan tangannya, ia memegang tangan Queen menatapnya penuh emosi.
"KITA AKAN TETAP MENIKAH! AKU TIDAK MELAKUKAN HAL APAPUN! SAYINAT SENDIRI YANG MENCIUMKU!"
"Dan kamu menerimanya dengan tenang?" Raja mengacak-acak rambutnya frustrasi setelah mendengar pertanyaan konyol dari kekasihnya itu.
"Bukan itu yang aku maksud!" Teriaknya kesal.
Queen tersenyum kecut. "Sudahlah mana mungkin kamu menolak barang yang sudah kamu tiduri."
Raja geram mendengarnya. "Aku tidak melakukan hal itu!"
Queen tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Raja. Ia melihat Sayinat yang menangis dibawah selimut yang menutupi badannya.
"Lanjutkan saja. Puaskan dia, lagi pula hubungan kami sudah selesai dan itu kan yang kamu mau? Wahai sahabatku?" Desis Queen dengan sorot mata kebencian yang ada di dalam matanya menatap Sayinat yang diam disaat melihatnya.
"Maafkan aku Queen," lirih Raja dengan mata yang berkaca-kaca.
***
Di langit malam yang mendung ini dengan suara Guntur yang terdengar begitu jelas. Queen berjalan begitu santai dengan luka yang dia bawa.
Hatinya sangat hancur, ia tidak menyangka bisa di khianati oleh calon suaminya dan juga sahabatnya sendiri.
"Aku wanita mandiri, aku selalu berjalan sendiri, aku tidak pernah banyak meminta kepadanya, aku bahkan selalu mengerti dirinya. Namun, mengapa dia malah berbuat seperti itu di belakang ku?" Tanyanya lirih.
Queen menangis tersedu-sedu, punggungnya bergemetar, tengah malam seperti ini dengan jalanan yang sempit Queen tidak tahu dirinya berada di mana.
Ia hanya melihat seorang nenek tua memakai pakaian jaman dulu yang tengah menatap lekat kearah Queen.
Dirinya sekarang harus berhati-hati, Queen menghapus air matanya berjalan begitu saja melewati nenek tua itu yang terus melihat kearahnya.
__ADS_1
"Mau kemana malam-malam begini, nak?" Tanyanya sambil tersenyum manis.
Queen memejamkan matanya, ia sudah menduganya kali ini. "Kemari nak."
Queen membalikkan badannya, ia melangkah mendekati nenek tua itu, lalu menyalami tangannya dan tersenyum tipis.
"Kamu habis menangis yah? Di khianati kekasihmu?" Mata Queen membulat ia tidak mengerti mengapa nenek tua itu bisa tahu apa yang telah di alaminya.
"Maaf. Nenek siapa?" Nenek tua itu malah tertawa puas.
"Aku tinggal di dekat sini. Aku hanya penjual pena. Kamu mau membelinya?" Tanyanya.
Queen bingung, ia tadi merasa tidak melihat nenek tua itu membawa koper yang di penuhi dengan pena. Namun, mengapa sekarang nenek tua itu membawanya dan memperlihatkan hal itu kepadanya.
"Ambillah ...."
Queen tersenyum tipis. "Maaf nek, pena di rumah masih banyak."
Nenek itu menatap Queen dengan matanya yang berkaca-kaca. Queen sekarang tidak tahu harus mengatakan apa disaat nenek tua itu menangis karenanya.
"Nenek belum makan dari kemarin nak. Kamu tidak mau membantu nenek?" Queen meneguk salivanya susah payah antara bingung dan juga takut, ia bahkan belum pernah melihat nenek tua ini di daerah sini.
"Jangan banyak berpikir, nenek yakin pena ini akan mengubah takdirmu," Queen terkekeh mendengarnya.
Mau tidak mau dirinya harus mengambil sebuah pena yang menarik perhatiannya karena pena itu berwarna emas.
"Ini nek," nenek itu tersenyum sambil mengambil uang merah yang Queen berikan kepadanya.
"Tidak ada kembalian nak," tuturnya.
"Buat nenek saja, siapa tahu uang itu bisa cukup buat nenek makan besok."
Nenek tua itu tersenyum haru mendengarnya, ia memeluk tubuh Queen dengan erat, Queen membalasnya dengan sangat tulus.
"Coret saja apa yang kamu mau nak. Percayalah hidupmu tidak akan menjadi seperti ini lagi ...."
Alis Queen menyerngit bingung. Nenek tua itu tersenyum menyeringai kepadanya membuat Queen takut saja.
"Ijin pergi dulu yah nek, permisi," tutur Queen. Kemudian, ia melenggang pergi begitu saja meninggalkan sang nenek begitu saja.
__ADS_1
Tanpa sadar pena yang Queen pegang itu berkilau dengan sangat indah begitu pun dengan bintang di langit. Queen merasa merinding, ia membalikkan badannya, dirinya bingung tidak melihat nenek tua itu lagi.
"Siapa nenek tua itu?" Tanya Queen bingung, ia bahkan tidak pernah melihat nenek tua berpakaian kebaya jaman dulu dengan membawa sebuah koper berisi pena kuno seperti yang ia pegang ini.