I am Queen bukan antagonis

I am Queen bukan antagonis
7. Terpukau


__ADS_3

Selir Sayinat selalu bersama Raja ia bahkan menyambut para tamu kerajaan yang berkunjung di kerajaan ini dengan membawa beberapa peti besar berisi emas.


"Apa maksud dan tujuan anda?" Pemuda itu tersenyum disaat Raja bertanya kepadanya.


Laki-laki itu berpakaian seperti seorang pangeran. "Hanya ingin bersilaturahmi saja kesesama kerajaan."


Raja paham maksud pemuda itu, ia mengerti sang Raja di kerajaan itu sudah meninggal dan pemuda itu takut jika Raja akan mengambil alih kerajaannya apalagi kondisi istananya belum stabil.


"Kau Pangeran Atotami yang akan menjadi Raja?" Pemuda itu mengangguk.


"Lantas kau ingin kerajaan kita bersahabat?" Pemuda itu mendongakkan wajahnya menatap Raja dengan senyuman manisnya dan juga matanya yang berbinar.


Raja tersenyum tipis. Sementara Selir Sayinat yang di sebelahnya bersedekap dada dengan wajah songongnya.


"Menurutku lebih baik penjarakan saja pangeran itu, sekap dia jangan sampai dia menjadi Raja dan kerajaannya kita ambil saja seperti kerajaan lain yang sudah Raja taklukan."


Pemuda itu mendengar apa yang dikatakan Selir Sayinat begitu pun dengan para menteri dan juga panglima, mereka menggelengkan kepalanya dan yakin bahwa Selir Sayinat itu tidak pantas untuk selalu berada di samping Raja karena selalu memberikan pendapat yang tidak masuk akal dan hal itulah yang membuat mereka khawatir jika Selir Sayinat menjadi Ratu nanti. Apalagi Selir Sayinat hanya rakyat biasa dulunya tidak seperti Ratu asli berdarah biru.


Raja menatap nyalang pemuda itu sementara pemuda itu sangat ketakutan sekali, apalagi ia tidak membawa prajurit bersamanya.


"Kapan penobatanmu menjadi Raja?" Pemuda itu tersenyum tipis, hatinya sangat tidak karuan sama sekali ia takut jika kerajaannya di ambil alih olehnya.


"Besok Raja."


Raja terkekeh kecil mendengarnya. Pemuda itu tidak paham dengan maksud Raja, apalagi Selir Sayinat yang terkenal sebagai Selir kesayangan Raja itu membuatnya kesal atas pendapatnya.


"Apakah benar kau mempunyai adik perempuan yang sangat cantik?" Selir Sayinat langsung menepuk pundak Raja dengan kerasnya. Mereka semua saja bahkan kaget mendengarnya.


"Yah Raja. Adikku memang cantik, dia sudah dijodohkan sejak kecil dengan pangeran Argantara di negri sebrang," jelasnya.


"Pernikahannya sudah di tetapkan?" Pemuda itu mengangguk.


Selir Sayinat menatap Raja sinis, ia tidak mau jika harus ada Selir lainnya di kerajaan ini. Apalagi adik pemuda itu pasti sangat muda, sementara dirinya sudah menginjak kepala tiga lebih tua dari pada sang Ratu yang masih sangat muda apalagi Ratu dan Raja sudah di jodohkan sejak Ratu bayi dan Raja sudah berumur 20 tahun. Bahkan, diusia sang Ratu 5 tahun mereka menikah dan disaat itulah kedua orangtua Ratu meninggal karena sebuah penyakit yang sudah lama mereka derita.


"Apakah Raja berkeinginan untuk menikah lagi?" Raja menghela nafas disaat Selir Sayinat bertanya seperti itu kepadanya.


"Jika benar apa yang akan kau lakukan?" Semua orang membuka mulutnya merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Maka aku akan memotong kecil-kecil timun yang selalu kau bawa kemana-mana Raja!" Teriak seseorang dengan sangat lantang yang membuat semua mata tertuju kepadanya.


Mereka terkejut sekaligus kagum dengan kecantikan sang Ratu yang sama sekali tidak pernah berdandan dan pertama kalinya Ratu berdandan dengan gaun pink yang sangat indah dipakainya. Bahkan, pemuda itu refleks berdiri dengan senyuman indah tercetak di wajahnya, matanya penuh kekaguman disaat melihat Ratu apalagi sang Ratu belum pernah keluar istana sama sekali, keluar kamar pun sudah jarang.


Rambut Ratu bergelombang berwarna hitam berkilau indah dengan hiasan bunga-bunga putih yang memperindah rambutnya. Gaun yang dipakainya pun sangat cantik, hiasannya tidak terlalu berlebihan seperti Selir Sayinat, Ratu terlihat sangat anggun dan sangat muda seperti berumur belasan tahun, ia bahkan seperti anak Raja bukan Ratu apalagi umurnya baru menginjak 20 tahun sementara Raja 40 tahun.


"Salam hormat putri Raja," pemuda itu membungkukkan badannya sedikit dengan senyuman manisnya dan juga mata yang penuh kekaguman.


Sementara mereka yang mendengar hal itu berusaha menahan tawanya, apalagi melihat Raja yang melongo disaat melihat kecantikan sang Ratu yang sangat cantik dan terlihat sangat muda. Bahkan, mereka pun berpikir bahwa Ratu adalah anak Raja bukan istrinya.


Queen merasa tersipu dilihat banyak orang seperti itu, apalagi melihat panglima dan Raja mereka sama-sama tidak bisa menutup mulutnya ataupun berkedip sekalipun.


'Sepertinya pemuda itu menyukaiku,' batin Queen.


Queen berjalan anggun kerahnya, pemuda itu tersenyum sangatlah manis menatap kedua mata Queen yang sangat indah.

__ADS_1


"Apakah aku terlihat seperti seorang putri?" Pemuda itu mengangguk dengan cepat.


"Kau sangat cantik. Aku yakin umurmu lebih tua dari adikku yang menginjak 20 tahun. Aku yakin kau berumur 17 tahun putri. Apakah aku benar?" Pertanyaan pemuda itu sedikit membuat Queen tersipu malu dan Raja serta panglima langsung sadar dengan apa yang dikatakan pemuda tadi sedikit membakar hatinya.


"17 tahun yah," pemuda itu mengangguk.


"Jika aku sudah dinobatkan menjadi seorang Raja, maka aku akan kembali ke istana ini dengan alasan melamar dirimu putri, apakah kau mau memegang janjiku ini? Apalagi penobatanku besok. Aku ingin kau datang untuk melihatku disana."


Queen rasanya ingin tertawa apakah ia tidak salah akan dilamar? Jika benar maka Queen akan mempunyai suami 2 yang satu tidak pernah mencintainya dan yang kedua sangat mencintainya apalagi keduanya seorang Raja.


"Apa jawabanmu putri?"


Raja menggeram. "SUDAH CUKUP!"


Pemuda itu terkejut mendengarnya, mereka pun sama seakan melihat api kecemburuan di dalam mata Raja.


"Jangan pernah menganggu 'RATUKU' apakah kau mengerti?!" Desisnya dengan menekan kata 'Ratuku' itu.


Pemuda itu sangat terkejut mendengarnya, ia melihat kearah Queen yang tersenyum manis kepadanya dan juga melihat kearah Raja yang menatapnya nyalang.


'Ya tuhan bisa-bisanya aku menggoda Ratu dan jika Raja marah bisa-bisa besok berperang,' jerit batin pemuda itu.


Langsung saja pemuda itu berjalan kearah Raja yang selalu tadi menduduki tahtanya dengan Selir Sayinat yang ada di sampingnya. Pemuda itu bersujud kepadanya meminta ampun atas kesalahannya.


"Maafkan hamba Raja, hamba tidak tahu jika itu sang Ratu, hamba tidak tahu karena Ratu sangat cantik dan sangat muda dari Selir-selir Raja. Lantas, aku tidak tahu bahwa itu adalah Ratu aku menganggapnya seorang putri karena Ratu sangatlah muda."


Pemuda itu terus saja bersujud Queen menghela nafasnya panjang.


"Mengapa dia harus melakukan hal seperti itu?" Gumam Queen dengan suaranya yang sangat pelan.


"Kembalilah dan rencanakan perang kita besok."


Pemuda itu langsung bangun dari sujudnya menatap tidak percaya kepada Raja begitu pun dengan yang lain. Sementara Selir Sayinat tersenyum bangga dengan apa yang dikatakan Raja.


"Tapi Raja ...."


"Itu lebih baik penglima kau jangan mencoba menentang apa yang dikatakan Raja. Lagi pula jika hal itu terjadi maka itu lebih baik apalagi kerajaan kita pasti yang akan menang karena kerajaan pemuda itu masih berumur sebiji jagung," tutur Selir Sayinat.


Para menteri merasa kesal dengan apa yang dikatakan Selir Sayinat. "Maaf Raja kami bukan menentang jika hal itu terjadi maka kita akan kehabisan prajurit dan jika memang kita kalah bagaimana? Bukankah kerajaan pemuda itu mempunyai persahabatan dengan kerajaan di negri lain. Bagaimana jika mereka membantunya?" Tanya salah satu menteri Raja.


Selir Sayinat memutar bola matanya malas. "Apakah dia sudah meragukan kemampuan di kerajaan ini Raja?" Tanya Selir Sayinat memanasi keadaan.


Queen bersedekap dada melihat kearah Selir itu. "Perang akan tetap terjadi dan saya akan mengambil kerajaan pemuda itu atau aku bunuh saja dia sekarang dan menghadiahkan kepala pemuda itu!" Tegas sang Raja.


Queen geram mendengarnya. Raja berdiri dari tahtanya begitu pun dengan yang lain, pemuda itu terus saja bersujud kepada Raja. Queen melihat Raja membawa sebuah pedang yang sangat panjang dan tajam ditangannya berwarna emas.


Mereka seketika menundukkan kepalanya tidak sanggup jika harus menyaksikan pembunuhan itu.


Disaat pedang itu melayang keatas Queen malah tertawa yang menghentikan Raja untuk melakukan hal tersebut.


"Apakah kau bisa diam sang Ratu?" Tanya Raja dengan kesalnya.


Queen berjalan kearahnya dengan senyuman manisnya, lalu membantu pemuda itu untuk berdiri dan menghapus semua air matanya. Pemuda itu terharu melihat Ratu yang sangat baik, ia hanya mendengar bahwa Ratu dikerajaan ini sangatlah jahat. Namun, setelah ia tahu yang jahat itu ternyata Selir Sayinat bukanlah Ratu.

__ADS_1


"Kenapa kau melakukan hal itu, hah?!" Tanya Raja dengan amarah yang menggebu-gebu seperti ada sesuatu yang terbakar di dalam hatinya melihat kejadian itu.


Queen mengambil pedang sang Raja dan memasukkan kembali pedangnya itu ketempat asalnya.


Queen menatap Raja lama begitu pun dengan sang Raja, lalu Queen memeluk Raja dengan sangat erat. Badan Raja menegang ia tidak menyangka Ratu memeluknya untuk sekian lamanya dan Raja hanya mengingat dulu disaat kecil Ratu memeluknya dan selalu bermain gendong-gendongan bersamanya.


Senyuman Ratu masih sama sangat manis persis seperti ia kecil. Sementara pemuda itu hatinya sangat sakit melihat gadis yang dicintainya ternyata sudah mempunyai suami.


"Jangan mengambil keputusan disaat kamu emosi. Aku tahu bahwa Raja cemburu, benarkan?" Goda Queen seraya mencubit ujung hidung Raja.


Jantung Raja langsung berdetak dengan sangat cepat, debaran ini masih sama seperti dulu, akan tetapi Raja tidak mau mengungkapkannya dan lebih memilih berusaha untuk tidak peduli saja.


"Cari muka," gerutu Selir Sayinat kesal sembari mengalihkan pandangannya.


Queen masih memeluk Raja dan berusaha menenangkannya dari amarahnya saat ini. Mereka melihat hal itu perlahan-lahan senyuman tercetak di dalam wajah mereka dan kebanggaan kepada sang Ratu telah bisa menenangkan sang Raja.


"Jika Raja membunuhnya hari ini, apakah Raja tidak akan di kenal sebagai seorang pengecut hanya berani di kandangnya saja?" Raja terhenyak mendengarnya.


"Bukankah Raja terkenal atas keberanian, kemampuan dan juga kepintaran Raja? Lalu mengapa sekarang Raja menjadi seperti ini? Biarkanlah jika benar pemuda itu ingin bersilaturahmi dan suatu saat nanti jika kerajaan ini membutuhkan sesuatu maka kita bisa meminta bantuannya begitupun sebaliknya. Terlebih pemuda itu akan menjadi Raja dan adiknya akan menikah apakah kau tega melakukan hal itu?"


Raja terdiam cukup lama menatap kedua mata indah Ratu. "Jika itu benar terjadi maka peperangan ini akan berlangsung lama karena banyaknya persahabatan yang terjadi di kerajaan pemuda itu meskipun ayahnya sudah meninggal sekalipun. Raja mengerti kan?"


"Kalau sudah terjadi peperangan nanti aku akan menjadi janda dan banyak yang mau sama aku. Apakah Raja menginginkannya?" Raja langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, sungguh gemas sekali bahkan mereka pun tidak percaya melihatnya karena sikap Raja seperti anak kecil saja.


Queen mengelus dada bidang Raja secara perlahan-lahan dengan senyuman yang menggoda. Raja tersenyum membalas senyumannya, bahkan Raja membalas pelukan Queen dan Queen tersenyum miring melihat kearah Selir Sayinat yang geram kepadanya.


Queen melepaskan pelukan itu. Namun, wajah Raja seakan tidak mau jauh darinya, lihat saja sekarang Raja memeluk Queen dari belakang, mereka merasa aneh dengan sikap Raja bahkan hal ini tidak pernah mereka lihat disaat Raja bermesraan dengan para istrinya.


"Maafkan atas segala ketidaknyamanannya. Kami menerima silaturahmi ini dan kami akan datang besok disaat hari dimana penobatanmu, apalagi ayahmu adalah teman dari almarhum ayahku dulu dan maaf aku tidak bisa datang di pemakaman itu, aku sedang sakit."


Pemuda itu tersenyum haru. "Maafkan aku Ratu aku tidak tahu bahwa yang ada di hadapanku sekarang adalah Ratu. Jika aku tahu hal itu maka aku tidak akan pernah melakukan hal seperti tadi," ucapnya penuh penyesalan.


Queen tersenyum manis kepadanya, Raja kesal melihat hal ini, lalu memeluknya dengan sangat erat.


Pemuda itu menundukkan badannya dengan senyuman kebahagiaan. Queen mengulurkan tangannya kepada pemuda itu yang bingung menatapnya begitu pun dengan yang lain.


"Sahabat?" Pemuda itu mengangguk cepat dengan senyuman kebahagiannya.


"Sahabat."


"Jika aku bosan berada di kerajaan ini apakah aku boleh berkunjung ke kerajaanmu?" Pemuda itu mengangguk.


Queen terkekeh. "Baiklah. Sekarang kamu boleh pergi dan kami besok akan datang semoga saja acaranya meriah yah?"


"Tentu Ratu acaranya pasti akan meriah dan Ratu akan melihatku lebih tampan dari ini aku pasti akan seperti suami Ratu."


Raja menatapnya nyalang. Queen mengelus tangan Raja yang terus saja memeluknya dari belakang berusaha untuk menenangkannya.


"Tentu saja karena kamu akan menjadi seorang Raja."


Pemuda itu tersenyum. "Pulanglah!" Ketus Raja.


Pemuda itu menundukkan badannya kepada Raja dan Ratu dan juga semua orang yang ada disini. Ia melirik sinis kearah Selir Sayinat yang selalu saja melihat kearah Raja dan Ratu seakan cemburu kepadanya.

__ADS_1


'Aku mengenal dia!' tutur batin pemuda itu.


__ADS_2