
Queen manangis ia tidak menyangka akan serapuh ini bahkan selama hidupnya ia tidak pernah di perlakukan sehina ini. Apalagi sekarang Queen menjadi seorang Ratu antagonis di dalam novelnya sendiri.
"Apakah aku sehina itu? Mengapa para Rakyatku mengatakan hal itu? Bukankah aku sudah berusaha sebaik mungkin?" Tanya Queen lirih kedirinya sendiri.
Queen hanya bisa melihat betapa indahnya bunga-bunga yang bermekaran di taman ini, ingin rasanya Queen menjadi bunga banyak di sukai semua orang, bahkan selalu menjadi incaran serta pujian banyak orang sehingga kupu-kupu selalu mendekatinya.
Namun, apalah dirinya hampir sama dengan bangkai tidak ada yang tertarik kepadanya bahkan seakan Jijik dengannya.
Queen menjambak rambutnya frustasi, terdengar suara lirihan di mulutnya. Ia tidak sanggup lagi harus tinggal di di mensi ini.
Nyatanya Queen tidak tahu sedari tadi Panglima dan tabib terus memperhatikannya di belakang.
"Bagaimana Ratu apakah kau suka hidup di dimensi ini?" Tanya tabib dengan seulas senyum mengejek kepadanya.
Queen tercenggang melihatnya, ia menghapus air matanya. Sungguh pedih hatinya saat ini selalu berada di mana orang-orang terus mengejeknya seperti itu.
"Apakah Ratu pernah berpikir sebelum menciptakan tokoh dalam novel sehingga akan membuat tokoh itu merasakan kesakitan yang mendalam. Apakah Ratu merasakannya sekarang? Bagaimana Ratu akan hidup disini kalau Ratu putus asa seperti ini? Isak tangis tidak akan merubah semuanya bahwa Ratu seorang Antagonis."
Bibir Queen bergetar menahan tangisan, matanya berkaca-kaca. Ia sangat kecewa dengan dirinya sendiri.
"Tahta Ratu akan tergeser dan apakah Ratu akan menetap disini? Ratu terlalu bodoh mengapa Ratu mengikhlaskan Raja Ototami begitu saja padahal jaminannya sebagai Ratu disana? Mungkin hal itu akan mengubah alur cerita ini dan kalau begini apa yang akan terjadi setelah ini?" Tanya Tabib itu lagi seakan tahu sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.
Panglima mengelus rambut Queen dengan penuh kasih sayang, lalu menghapus semua air matanya.
"Ratu memang sudah melewatkan kesempatan itu. Mengapa Ratu rela mengikhlaskan Raja Ototami padahal istrinya ingin sekali Ratu menggantikannya," ucap Panglima dengan sangat lembut kepadanya.
Alis Queen menyerngit ia tidak menyangka panglima akan tahu semua itu.
"Dari mana kau tahu itu?" Tanya Queen penasaran. Lalu, panglima melirik ayahnya.
Queen menghela nafas ia sudah menduganya. "Maafkan aku Ratu karena aku ingin tahu aktifitas Ratu disana apakah pokus dalam misi ini apakah Ratu hanya ingin mencari cinta Raja Ototami saja. Ratu tahu aku bisa melihat masa depan, masa lalu bahkan apa yang di lakukan orang itu sekarang," jelasnya.
Queen mengangguk saja. 'Seharusnya aku tidak menciptakanmu dalam novelku. Sungguh menyebalkan,' cerocos batin Queen.
Tabib itu tersenyum tipis. "Ratu lupa bahwa aku diciptakan oleh Ratu bisa mendengar isi hati seseorang pula."
Queen memutar bola matanya malas. Sementara Panglima terkekeh-kekeh mendengarnya.
"Beruntunglah kau aku memberimu kelebihan," ketus Queen.
Tabib itu mengangguk dan tersenyum. "Kenapa Ratu membiarkannya pergi dari genggaman Ratu sementara Ratu masih menginginkannya?"
Queen menghela nafas berat. "Bukankah itu sudah terlambat? Jika aku menggantikan pengantin wanita maka kerajaan Raja Ototami akan mendapatkan banyak masalah begitu pun dengan kerajaan ini, aku tidak mau itu dan bodohnya seharusnya sebelum itu terjadi aku terus mendekat kepadanya agar alur cerita ini berubah. Namun, nyatanya tidak sesuai harapan."
Panglima dan tabib saling melirik. "Lantas, Ratu akan melakukan apa sementara lubang untuk ke dimensi Ratu mengecil?"
Queen menatap Tabib. "Tidak semudah itu untuk mengubah alur cerita ini. Aku tidak tahu dan aku bingung."
__ADS_1
Panglima menatap Ratu kasihan. "Ratu selalu di gosipkan berselingkuh baik bersamaku ataupun bersama ayahku dan Raja Ototami pula. Apakah Ratu tidak lelah? Kalau Ratu lelah pundakku masih hangat untuk menerima Ratu."
Lagi-lagi Queen merasa terbawa perasaan oleh tokohnya sendiri. Ia tidak menyangka bisa menciptakan tokoh semanis itu apalagi perkataannya itu sangat meneduhkan hati seakan terbang ke langit ketujuh.
Tabib tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, gemas melihat sikap anaknya yang seperti itu.
'Sepertinya anakku mulai menyukai Ratu,' ucap batin tabib itu.
Panglima mengelus pipi kanan Ratu yang merah merona. "Jangan terlalu bersedih ada aku disini. Coba katakan isi hatimu maka kesedihanmu akan hilang. Wahai Ratuku dan tetaplah bersamaku," tutur Panglima dengan senyuman yang menggoda menatap Ratu dalam dan penuh arti.
Queen tersenyum dan mengangguk. 'Kenapa banyak yang menggodaku sekarang?' tanya batin Queen.
Tabib yang bisa mendengar isi hati Ratu ia terkekeh geli. Apalagi sikap anaknya itu sangatlah manis kepada Ratu dan tanpa mereka ketahui Raja melihat hal itu secara sembunyi-sembunyi dari kejauhan dengan membawa sebuah bunga mawar indah di tangannya yang tadi akan di berikan kepada istrinya.
Namun, sayangnya bunga itu terjatuh dari tangannya di saat Ratu dan panglima berpelukan dengan saksi Tabib kepercayaannya. Air mata lolos begitu saja, Raja tidak menyangka banyak yang mengkhianati dirinya.
Air mata itu di usapnya dengan senyuman kecut penuh kecewa tercetak di wajahnya.
"Mereka mungkin saling mencintai seharusnya aku tidak menjadi orang ketiga," lirih Raja kemudian pergi dari sana dengan bahu yang bergetar. Mereka tidak tahu bahwa Raja menangis. Bahkan, tanpa Raja ketahui Selir Raia melihat hal itu ia sedih.
Selir Raia memegang dadanya. "Apakah Ratu berselingkuh?" Tanyanya penasaran saat melihat Panglima dan Ratu masih berpelukan bahkan mereka terlihat sangat bahagia.
***
Setelah melihat kejadian itu Selir Raia berusaha berbicara kepada Raja yang tidak mau di temui oleh siapapun berada di kamarnya. Selir Raia belum pernah melihat Raja seperti ini sehingga seharian ini mengurung diri di kamar. Bahkan, Queen pun harus tidur di kamarnya dulu.
Selir Raia tiba-tiba masuk disaat ia akan membuka seleting gaunnya. "Ada apa?" Tanya Queen terkejut.
"R-raja ...."
Queen menyerngit. "Raja kenapa?"
"Raja galau!!!!"
Queen melotot tidak percaya. "Apakah kau sedang bercanda? Seorang Raja galau? Galau kenapa?"
Selir Raia menceritakan semuanya tentang kejadian kemarin. Terlihat keterkejutan di raut wajah Queen.
"A-Aku tidak tahu itu maaf."
Selir Raia memegang kedua bahu Queen, ini pertama kalinya selir Raia menatapnya seserius ini.
"Aku tidak mau Raja sakit. Kumohon mengertilah."
Queen berdecih. "Bukannya Selir kesayangannya ada? Mengapa harus aku? Bukankah aku hanya Ratu buangannya?"
Selir Raia menggelengkan kepalanya. "Ini berbeda. Raja memang dulu pernah mempergoki Selir Sayinat dan juga Prajurit Kimura berpelukan, akan tetapi Raja biasa saja tidak seperti melihat Ratu berpelukan dengan panglima."
__ADS_1
Queen terdiam, ia mengerti sekarang mengapa selir Sayinat berpelukan dengan Prajurit Kimura. Bahkan, jika ia akan membuka mulut sekarang tentang selingkuhnya selir Sayinat pasti tidak akan percaya.
'Lagi pula Raja bukan di selingkuhi. Melainkan, Rajalah yang menjadi selingkuhannya,' ucap batin Queen.
"Ada apa?" Tanya Selir Raia bingung.
Queen tersenyum. "Ketiga putri Raja adakan? Siapa tahu bisa menghiburnya."
"Selir Sayinat pun tidak bisa, aku pun tidak bisa apalagi ketiga putriku. Wahai Ratu mengertilah! Kasihan Raja lagi pula jika ini terus berlanjut maka pameran itu akan berlangsung lama karena Raja tidak akan menghadiri pameran itu besok!"
Badan Queen menegang, ia menatap lama selir Raia. "Mengapa?"
"Karena Raja sedang cemburu kepada Ratu. Emosi Raja tidak bisa di kontrol sekarang! Ku mohon Ratu, Raja butuh Ratu sekarang ...."
Queen menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa."
Selir Raia menatapnya tajam, Queen tidak menyangka dia bisa melakukan hal itu kepadanya. "YASUDAH BERARTI MEMANG RATU INGIN MENJADI RATU ANTAGONIS YANG TERKENAL DI PELOSOK NEGRI INI!"
Queen terdiam. "Apakah Ratu tahu berita perselingkuhan Ratu bersama Panglima dan tabib sudah tersebar apalagi dengan Raja Ototami. Apakah Ratu sadar ada orang yang memanasi semua ini? Apakah Ratu bisa mengerti kondisi Raja sekarang bisa menyebabkan posisi Ratu tergantikan oleh Selir Sayinat?"
Queen terdiam. "Apakah Ratu ingin menjadi Ratu buangan Raja dan terkenal sebagai Ratu antagonis?!" Teriaknya kesal.
Queen menutup mulutnya, ia baru pertama kali melihat ini dari selir Raia dan bukankah adegan ini mengarah kepada Selir Sayinat dan mengapa sekarang di gantikan olehnya.
"Ah ...," Queen meringis ia pusing sekali.
Selir Raia tersenyum kecut. "Jika Ratu tidak datang juga menghampiri Raja maka terimalah jika besok para Rakyat semakin membenci Raja sehingga pemilihan Ratu akan di langsungkan besok."
Denyut jantung Queen berdebar kencang, matanya melotot melihat kearah Selir Raia yang tersenyum kecut kepadanya lalu pergi.
"Bagaimana mungkin jika itu terjadi bisa-bisa aku akan tetap menetap disini sebagai Ratu antagonis padahal aku seorang Queen dan bukan Ratu antagonis," lirih Queen sambil menjambak Rambutnya sendiri saking frustasinya.
_____
untuk lebih mengenal :
Ig : mianputry1414
tiktok : mianputry1414
aku juga punya akun ******* lho namanya : mianputry
Alhamdulillah aku juga sudah menerbitkan satu novel yang berjudul 'LEPASIN JILBAB LO!'
ADA DI SHOPEE KALAU MAU TANYA² SILAHKAN.
TERIMAKASIH
__ADS_1