
Kini Queen sendirian di kamarnya ini. Meskipun kamar ini sangat mewah, luas dan indah. Namun, semua itu tidak bisa membuatnya bahagia. Queen bahkan tidak menyangka Raja kekasihnya dulu ada disini pula dengan tokoh seorang Raja dan dirinya menjadi Ratu antagonis.
Queen menangis tersedu-sedu. Bahkan, ia melihat cermin yang ada di tangannya, hatinya sangat sedih disaat ia berada di dalam tubuh seorang Ratu yang terkenal sebagai Ratu antagonis. Bahkan, wajah Ratu ini sangat pucat meskipun berkulit sangat putih bersih dan juga sangat cantik meskipun tanpa make-up sekalipun.
"Apa kesalahanku coba? Mengapa aku harus terkurung di ruanganku sendiri? Mengapa semuanya sama persis seperti novelku?" Tanya Queen kedirinya sendiri.
Queen mengacak-acak rambut panjangnya ini, ia tidak peduli lagi pula jiwanya milik orang lain. Namun, Raganya tentu miliknya.
"Pasti setelah ini ada yang masuk kedalam ruangan ini dan kalau itu benar bisa kupastikan bahwa aku benar-benar telah masuk kedalam novelku sendiri!"
Setelah beberapa menit menunggu Queen sangat bosan sekali, ia memanyunkan bibirnya tidak percaya bahwa tidak ada yang masuk ke ruangannya.
"Sia-sia saja ku menunggu," desisnya kesal.
Queen menghela nafas begitu panjang. Ia turun dari ranjangnya, matanya melihat kesekeliling, Queen melihat kaca jendela yang begitu besar berwarna emas. Queen tersenyum ia berharap bisa kabur lewat jendela itu.
Disaat Queen membuka jendela ini ternyata memang bisa terbuka dan memperlihatkan balkon kamarnya yang sangat indah. Akan tetapi, keindahan itu akan punah karena banyaknya pagar yang terbuat dari besi emas mengelilingi balkon ini, sekarang Queen bagaikan di penjara. Meskipun ia bisa membuka jendela dan bisa diam di balkon tetap saja ia hanya bisa mengintip luar kerajaan ini di sela-sela pagar emas ini.
"Mau keluar Ratu?" Badan Queen menegang disaat mendengar suara itu.
Setelah Queen membalikkan badannya, Queen melihat seorang wanita yang cukup muda mungkin ia sudah berkepala tiga bukan seperti dirinya yang berkepala dua. Bahkan, gaun wanita itu sangat sederhana hampir menyerupai seorang pelayan tanpa perhiasan sama sekali ataupun makeup.
__ADS_1
"Siapa kamu?" Wanita itu tersenyum hangat dengan salam hormat kepadanya. Queen tersenyum tipis ini yang dia inginkan sebuah rasa hormat dan harga diri menjadi seorang ratu bukan seperti tadi.
"Perkenalkan aku Selir Raia Selir pertama Raja yang sudah mempunyai tiga putri dari raja yang dulu ingin Ratu bunuh bersama diriku ...," Tuturnya.
Queen terkejut mendengarnya. "Aku ingin membunuhmu dan anak-anak mu?" Selir Raia mengangguk dengan anggun.
Queen menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya ini akan terjadi kepadanya. Ternyata semuanya benar Queen berada di novel bukan di dunianya. Ia berada di di mensi lain sebagai seorang Ratu yang terkenal antagonis di dalam novelnya sendiri. Bahkan, Queen tidak menyangka seorang penulis seperti dirinya bisa masuk dan merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang tokoh novel.
'Apakah aku sudah masuk kedalam novelku sendiri? Bagaimana mungkin seorang penulis bisa masuk kedalam novel dan tujuannya apa?' tanya batinnya.
Selir Raia tersenyum hangat kepadanya. "Ada apa Ratu? Apakah Ratu lupa? Ternyata memang benar apa kata pelayan Ratu sudah lupa ingatan dan Ratu hanya mengingat Raja karena Raja dulu adalah teman kecilnya Ratu ...."
Rasanya Queen ingin melemparkan dirinya kedunianya sekarang, ia ingin memperbaiki kisah di dalam novel yang telah ia buat sendiri kisahnya. Queen ingin kisah di dalam novel itu dirinya bahagia bukan menjadi sad seperti ini. Bahkan, Queen menjadi ratu yang tidak dihargai dan di hormati disini, rasanya Queen ingin memilih peran menjadi pelayan saja dari pada menjadi seorang ratu yang tidak ada gunanya.
Selir Raia tersenyum hangat. "Kalau itu bisa mungkin aku dan anak-anak ku akan ikut bersama ratu dan sayangnya itu tidak bisa."
Queen terkejut sekali dengan apa yang dikatakannya. "Bukankah kau menjadi seorang Selir yang dihormati mengapa ingin pergi dari kerajaan ini?"
Selir Raia menundukkan wajahnya dalam, Queen bisa melihat kekecewaan di dalam matanya.
"Aku tidak bahagia disini. Jujur saja aku memang dulu hanya rakyat biasa yang menolong nyawa Raja dari musuh dulu dan sekarang Raja menikah dengan ku sehingga aku mempunyai 3 anak putri darinya. Namun, semua itu tidak membuatku bahagia karena Raja tidak berlaku adil kepadaku ataupun kepada ratu ...."
__ADS_1
Queen semakin penasaran. 'Apakah aku bisa menggali informasi darinya?' tanya batin Queen.
Selir Raia tersenyum kepadanya. "Aku diabaikan begitu saja begitu pun dengan anak-anak ku. Raja memang adil kepada rakyatnya sampai lupa apakah dirinya berlaku adil kepada istrinya?"
Queen merasakan kesedihan itu. "Raja lebih memilih selir kedua yang sangat terkenal sebagai selir kesayangan raja dan aku hanyalah selir kasihan raja yang raja tolong karena kemiskinanku."
Queen mengelus bahunya. "Sabar yah ... Aku juga sama tidak diharapkan di kerajaan ini."
Selir Raia menghela nafas. "Sikapnya kepadaku seperti itu tidak masalah tapi kepada anak-anak ku? Dari bayi saja mereka tidak ada perhatian dari Raja dan Raja hanya memperhatikan selir kesayangannya. Bahkan, Raja tidak menganggap putriku sebagai anaknya karena dia hanya menginginkan anak laki-laki dan bukan perempuan."
Queen mengangguk paham. Ia memeluk Selir Raia yang terkejut akan sikapnya. Bahkan, Selir Raia menangis tersedu-sedu akhirnya ia bisa mencurahkan hatinya keorang yang tepat. Meskipun Selir Raia tahu bahwa Ratu yang telah memeluknya adalah seorang Ratu antagonis yang tidak pernah diinginkan keberadaannya.
"Akupun terpilih menjadi seorang Antagonis di dalam novel ini dan aku akan mengubahnya secepat mungkin apalagi setelah mendengar kisahmu itu dan asal kamu tahu bahwa akulah yang menuliskan takdirmu."
Selir Raia langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap tidak percaya kepada sang Ratu.
"Apakah Ratu masih sakit? Apakah Ratu masih bermimpi menjadi seorang Dewi? Apakah Ratu tertidur lama itu bermimpi menjadi Dewi? Mengapa ratu menjadi seperti ini?" Tanyanya tidak percaya dengan mata yang melotot menatap Queen.
Queen menghela nafas berat. Sungguh jika mereka tahu bahwa dirinyalah yang menuliskan takdir mereka pasti mereka akan menganggap Queen sebagai seorang Dewi meskipun ia harus mundur dari posisi sebagai seorang Ratu karena Queen bisa saja mengubah takdir yang ia suka karena Queen seorang penulis dan ia masuk kedalam novel ini.
'Rasanya aku akan menjadi dukun saja untuk mereka tahu bahwa aku bukanlah ratu antagonis. Bahkan, aku akan membuktikan bahwa aku bisa mengetahui takdir mereka karena akulah penulis takdir mereka mungkin dari sini aku akan menjadi seorang Dewi sekaligus seorang ratu yang di segani dan juga di hormati tidak seperti sekarang ...,' Tutur batinnya merasa puas dengan apa yang ia pikirkan tadi.
__ADS_1
"Hahah pasti menyenangkan," kekeh Queen.
Selir Raia menatap aneh kepada Ratu ia tidak percaya Ratu menjadi aneh seperti itu. Sehingga dirinya tersenyum-senyum sendiri tanpa ada sebab apapun. Bahkan, Selir Raia tidak menyangka bahwa Ratu antagonis ini bisa menjadi baik dan lupa ingatan. Lalu, ada apa dengannya?