I am Queen bukan antagonis

I am Queen bukan antagonis
4. Dilema sang Raja


__ADS_3

Ruangan yang penuh dengan barang-barang kuno dan juga cermin yang begitu besar dengan hiasan emas di sekitarnya.


"Apakah Raja ingin melihat Raja di masa depan?" Tanya seseorang dari belakang.


"Tidak usah tabib," jawab Raja dengan seulas senyum tipis.


Tabib Farma menyipitkan matanya, ia melihat bahwa Raja sedang dilema. Bahkan, Raja tadi sempat bercermin dan cermin itu adalah sebuah cermin yang bisa meramal seseorang, cermin itu memang berada di ruangan tabib ini.


"Tapi Raja tidak pernah bercermin selama Ratu tidur dan sekarang Ratu sudah bangun Raja bercermin kembali. Ada apa Raja ceritakanlah."


Raja menghela nafas panjang. Ia duduk di kursi emas itu yang biasa ia duduki sementara tabib itu duduk dihadapannya dengan kursi sederhana meskipun terbuat dari emas sekalipun.


"Bukankah raganya sudah disesatkan dan mengapa Ratu bisa kembali kejiwanya. Sedangkan raganya itu di sesatkan di suatu tempat sehingga sulit untuk bisa keluar di tempat itu, bukan?" Tanya Raja serius kepada Tabib yang menggelengkan kepalanya.


Tabib merasa tidak percaya Raja akan melakukan hal sekejam itu kepada Ratunya sendiri. Memang tabib bisa melihat banyaknya perubahan Raja setelah Raja menikah dengan selir kesayangannya beberapa tahun yang lalu dan selir itu pun membantu Raja untuk bisa menghabisi Ratunya sendiri.


"Saya paham Raja malu dengan sikap Ratu karena Ratu pernah ingin membunuh Selir Raja dan juga putri-putri Raja ...."


"Aku pun akan di bunuh nya!" Tungkasnya.


Tabib itu menatap Raja dalam. "Bukannya saya tidak percaya kepada Raja. Namun, saya yakin bahwa bukan Ratu yang akan membunuh Raja waktu itu melainkan orang lain. Hanya saja, Ratu berada di tempat yang sama di saat kejadian itu berlangsung."


Raja berdecih. "JELAS-JELAS DISAAT SAYA MINUM RACUN DARI GELAS YANG TELAH DIHIDANGKAN SESEORANG, RATU DATANG DENGAN MEMEGANG GELAS ITU DAN MENATAP SAYA YANG TERTIDUR TIDAK BERDAYA DI LANTAI KAMAR SAYA SENDIRI!"


Tabib Farma memejamkan matanya. "Tetap saja Ratu tidak berani melakukan hal itu karena Ratu paham bahwa dia sangat mencintai Raja dan rumor disaat Ratu ingin membunuh Selir-selir Raja dan juga Putri-putri Raja memang itu benar."


Raja geram mendengarnya. "Saya sudah muak dengannya dan saya ingin Selir Sayinat yang akan menggantikan posisinya. Menurutmu kapan bagusnya hari itu tiba?"


Raja melihat Tabib Farka yang melihat bunga mawar merah itu menjadi hitam bahkan Raja sempat terkejut melihatnya.


"Jangan terburu-buru Raja karena Ratu sudah bangun. Saya harap Raja mengerti apa yang saya maksud?" Raja menatap nyalang sang tabib, ia sangat kesal sekali dengan apa yang dikatakannya.


"Cobalah Raja bercermin semenjak Raja menikah dengan Selir Sayinat Raja jadi tidak tertarik untuk bercermin di cermin peramal itu?"


Raja menghela nafas begitu panjang. Lalu, ia berdiri dan juga melihat sekilas cermin itu.


"Saya pergi dulu ada urusan."


Tabib Farka sedikit bingung kepadanya. Mau tidak mau ia harus salam hormat kepada Raja. Setelah Raja pergi dari ruangan ini tabib Farka berjalan dan berdiri di hadapan cermin itu yang langsung memperlihatkan sebuah rekaman masa depannya.


Di dalam cermin itu di perlihatkannya batu besar yang menimpa kerajaan ini dan serpihan batu itu mengenai dirinya dan itu sangat perih sekali sehingga jeritan kesakitan itu terdengar begitu jelas.


"Pasti ada arti lebih dalam kejadian itu dan apa maksudnya sebuah batu besar menimpa kerajaan sehingga melukaiku? Ada apa ini?"

__ADS_1


Tabib Farka terus saja bertanya-tanya kepada dirinya, ia merasa aneh sekali masalah ini selalu saja muncul di kerajaannya apalagi Ratu bangun dari tidurnya yang cukup lama dan Tabib pun tidak menyangka bahwa semua ini perbuatan Raja dan Selir kesayangannya itu.


***


Disisi lain seorang wanita memasuki ruangan Queen, gaunnya begitu indah dan juga elegan, hiasan di kepalanya sangat banyak, terlihat berlebihan namun tetap cantik meskipun tidak secantik sang Ratu.


Wanita itu berdiri di belakang Ratu yang memandangi balkon kamarnya ini. Ratu itu melihat interaksi antar rakyat dengan prajurit, hatinya cukup hangat bisa melihat itu meskipun dari kejauhan.


"Kenapa kau bisa bangun?" Pertanyaan itu sontak mengejutkan Queen yang sedang melihat betapa indah pemandangan ini meski hanya bisa melihatnya dari jendela kamarnya yang sangat luas dan megah.


Queen melihat seorang wanita yang cantik dengan balutan gaun cantik berwarna kuning seperti ada di negeri-negeri dongeng dengan rambut hitam yang terurai panjang. Wanita itu mirip dengan wanita selingkuhan pacarnya.


"Siapa kamu?" Tanya Queen penasaran. Apakah wanita ini wanita yang sama yang telah membuat hubungannya hancur dengan pacarnya dulu?


"Siapa kamu?" Tanyanya lagi. Wanita itu sangat terkejut mendengarnya.


Queen bisa melihat bahwa dirinyalah yang terjebak disini bukan dengan wanita selingkuhan pacarnya dulu karena Queen lah yang masuk kedalam di mensi ini.


"Apakah kamu seorang putri disini?" Wanita itu terkekeh, merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Ternyata benar rumor itu. Kau sudah melupakan semuanya ataukah pura-pura lupa ingatan agar Raja mengasihanimu?" Senyuman itu seakan mengejek kepada dirinya. Queen tersenyum simpul.


"Siapa kamu?" Suara Queen begitu lembut tidak seperti biasanya.


"Kau benar-benar lupa?" Tanyanya lagi dengan wajah serius. Queen mengangguk saja, lagi pula ini bukanlah asalnya.


"Sekaligus calon Ratu disini yang akan menggantikan posisimu itu," sambungnya dengan seulas senyuman yang mengejek.


"Kau ingin menggantikan diriku? Mengapa?" Tawa wanita itu semakin pecah setelah mendengar Queen bertanya seperti itu kepadanya.


Wanita itu mengelus bahu Queen dengan senyuman yang penuh arti. "Karena kau hanya Ratu pajangan yang tidak akan pernah Raja anggap. Sementara aku, meskipun aku seorang Selir. Namun, posisi ku sangat penting berada di istana ini sampai Rakyat memilihku untuk menjadi Ratu dan menggantikan dirimu yang sudah tidak berarti lagi di mata Raja ataupun Rakyat sekaligus anggota istana ini," jelasnya.


Queen terdiam beberapa saat. Wanita itu mencengkram bahu Queen sehingga membuatnya terkejut. "Kau seharusnya mati supaya memudahkan ku dalam menjalankan rencana ini! Kenapa kau hidup dan pura-pura lupa ingatan. Hah? Siapa dirimu sebenarnya?!"


Queen menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Aku tenggelam dan tiba-tiba saja aku sadar aku sudah berada di jiwa ini," lirih Queen merasa dirinya sangat tidak beruntung di kelilingi orang-orang yang sangat membencinya.


'Wanita itu ternyata bodoh. Memangnya aku lupa ingatan apa? Aku kan penulisnya aku tahu semua alur kisah di novel ini,' tutur batin Queen.


Selir Sayinat menatapnya dengan sorot mata yang tajam. Ia tidak percaya bahwa Ratu akan mengatakan hal seperti itu.


"Kau benar-benar sudah masuk ke dalam jiwamu ternyata. Aku sengaja menyesatkan jiwamu. Namun, sayangnya kamu malah kembali!" Sarkasnya merasa kecewa dengan semua rencananya.


"Ternyata rencanaku tidak berjalan semulus itu!" Geramnya.

__ADS_1


Rasanya Queen ingin tertawa lepas saja, lagi pula takdir Selir itu sekarang berada dalam tangannya, jika Queen merubah alur cerita ini maka nasibnya pun akan ikut berubah.


"Lagi pula Raja pun menginginkan kamu mati dan aku tangan kanannya," jelasnya dengan seulas senyum kebanggaan.


"Kau hanya selir," celetuk Queen yang membuat hatinya sakit.


"Meskipun aku Selir aku di cintai Raja. Semua orang tahu bahwa aku Selir kesayangan Raja yang selalu Raja bawa kemana-mana dan kau hanya seorang Ratu yang diasingkan di kerajaannya sendiri."


Queen memutar bola matanya malas. "Benarkah kau seorang Selir kesayangan Raja?" Tanya Queen pura-pura terkejut dengan apa yang dikatakan wanita itu.


Selir Sayinat bersedekap dada, menatap Queen dengan senyuman remeh. "Memang."


"Kalau begitu. Bisakah kau buktikan kepadaku jika kamu Selir kesayangan Raja yang sangat Raja cintai. Bolehkah aku meminta sesuatu kepadamu, wahai Selir kesayangan Raja?"


Kedua mata Sayinat membola, ia  tidak menyangka bahwa Ratu bisa mengatakan hal itu kepadanya, seakan dirinya benar-benar sudah menang sekarang. Bahkan, dulu saja Ratu belum pernah mengatakan hal itu dan jika ada yang mengatakan hal itu di hadapannya maka orang itu akan mati ditangannya.


"Apakah kamu sudah menyadarinya, bahwa aku selir kesayangan Raja?" Tanyanya dengan bangga.


Dulu saja Selir Sayinat ingin mendengar itu dari mulut sang Ratu. Namun, sayangnya sang Ratu malah memberikan kata-kata kasar serta meludah kepadanya. Setelah itu, Raja mengetahuinya dan sang Ratu benar-benar telah di benci Raja sampai dikurung di kamarnya sendiri atas perintah Raja.


Queen mau tidak mau harus mengangguk dengan senyumnya. Selir Sayinat tersenyum sombong kepadanya. "Baiklah, aku akan membuktikannya."


Queen bernafas lega. Akhirnya wanita ini bisa di manfaatkan juga olehnya.


'Karena aku bukan wanita bodoh maka aku akan membodohi kalian semua," ucap batin Queen.


Mau tidak mau Queen harus melakukan sebuah rencana dan ini harus berhasil demi dirinya bisa hidup di kerajaan ini dan mengubah takdirnya karena ia tidak mau di hukum mati dan posisinya di ganti oleh Selir yang mengaku kesayangan Raja itu.


"Pelayan Nurbaya," panggil Selir Sayinat kepada pelayannya berada tidak jauh darinya.


Pelayan itu yang sudah mencaci maki Queen waktu itu, bahkan wanita itu seakan tidak menghormatinya. Namun, berbeda jika sudah berhadapan dengan Selir Sayinat ini, pelayanan itu hanya tunduk dengan hormat tanpa mau menatap wajahnya.


"Ada apa Selir kesayangan Raja?" Selir Sayinat merasa malu di panggil seperti itu. Queen melihat itu merinding.


'Kenapa aku merasa kesal yah?' tanya batin Queen merasa aneh kepada dirinya ia merasa hatinya seakan terbakar saja.


"Panggilkan Raja sekarang, disini aku menunggunya!"


Pelayan itu sangat terkejut, sesekali melihat kearah Queen yang menatapnya datar. "Apakah serius? Selir kesayangan Raja?" Tanyanya seakan tidak percaya.


"Cepatlah!" Akhirnya pelayan itu pamit undur diri dengan hormat. Lalu pergi dari sana dengan banyaknya pertanyaan di kepalanya.


"Bagaimana?" Tanya Selir Sayinat dengan bangganya.

__ADS_1


Queen tersenyum tipis. "Aku tidak akan percaya bahwa kau kesayangan Raja sebelum Raja datang kesini."


Selir Sayinat tersenyum miring. "Mari kita tunggu."


__ADS_2