
Tiga hari berlalu, kini Selir Sayinat dan juga para pelayannya bersiap-siap akan ke negeri sebrang dimana ia akan mengikuti lomba desain disana.
Queen yang mengintip bersama panglima tersenyum sinis melihat hal itu karena semua yang di bawa oleh Selir Sayinat sangatlah berlebihan mungkin cara dia mendesain gaun akan membutuhkan banyak perhiasan serta menambah beban berat gaun itu sama halnya dengan gaun yang di pakainya.
"Panglima kenapa aku tidak mencoba ikut yah? Pasti gaunku lebih bagus terlebih aku kan berasal di dunia modern bukan dimensi ini?" Tanya Queen kepada panglima yang menatapnya dalam.
Sungguh, panglima terlena akan kecantikan seorang Ratu yang ada di hadapannya ini. Andai saja Raja segera menceraikan Ratu dan memberikan Ratu kepadanya akan senang hati Panglima menjauh dari kerajaan ini, ia akan bekerja sebagai seorang petani seperti ayahnya dulu.
"Ada apa panglima? Apakah kau sedang memikirkan masa depan kita?" Tanya Queen seakan tahu tentang pikiran panglima.
Entah mengapa disaat melihat kedua mata panglima Queen menjadi tahu apa yang dipikirkannya mungkinkah itu suatu kelebihannya?
Panglima terlihat tersipu malu. "Ah ... Ratu bisa saja."
Queen menyenggol bahu panglima sehingga membuatnya terkejut. "Tersipu malu yah?" Tanyanya dengan senyuman menggoda.
Panglima semakin tersipu malu di buatnya. Queen pandai sekali menggodanya.
"Ibunda Ratu," teriak Putri Cantika yang tiba-tiba datang, berada di belakang mereka sehingga membuat badan mereka menegang apalagi Selir Sayinat pun melihat itu dan terkekeh karena tahu bahwa Ratu sedang mengintip kegiatannya hari ini.
"Diamlah!" Bisik Queen langsung menutup mulutnya.
"Percuma Ratu, putri sudah berteriak," ketus Panglima.
Putri Cantika melepaskan tangan Ibunda Ratu dari mulutnya, ia cemberut menatap Ibundanya yang terlihat kesal kepadanya.
"Nah. Kalian mengintip kan?" Queen menghela nafasnya begitu panjang disaat Selir Sayinat bertanya kepadanya dengan memperlihatkan senyuman remeh kepadanya.
'Aku lupa bahwa kejadian ini ada di novel. Seharusnya aku tidak segegabah ini,' ucap batin Queen merasa kesal dengan dirinya sendiri.
Selir Sayinat menarik tangan Queen, lalu menatapnya. "Takut kalah saing yah?" Tanyanya dengan senyum miring tercetak di wajahnya.
Queen geram di perlakukan seperti itu. "Menurut mu aku tidak bisa mendesain gaun begitu?" Sewotnya.
Selir Sayinat bersedekap dada, lalu melihat Queen dari bawah sampai atas. "Tidak bisa karena kau hanya beban bagi kerajaan apalagi kau Ratu antagonis!" Desisnya dengan mata yang melotot kearahnya.
Nafas Queen memburu, ingin rasanya ia mencekiknya. Namun, disaat mengingat novelnya ada adegan dimana ia menghajar habis-habisan bahkan mencekik Selir Sayinat sehingga Raja marah besar dan mengurungnya lagi di kamarnya.
Queen merinding setelah mengingat hal itu, tiba-tiba saja tangannya ingin mencekik leher Selir Sayinat Queen panik di buatnya karena tangannya tidak bisa ia kendalikan.
'Ais. Kalau beneran ini terjadi sesuai dengan novel itu bisa-bisa hidupku akan berakhir begitu saja disini dan tidak bisa kembali ke dunia ku,' lirih batinnya.
Queen sudah mencekik leher Selir Sayinat yang terkejut kepadanya. Bahkan, mereka pun tidak kalah terkejutnya. Queen panik sendiri jangan sampai ia menghajar Selir Sayinat pula.
"Kau mengatakan aku tidak bisa melakukan hal itu? Dan kau mengatakan bahwa aku beban kerajaan? Bukankah kau sendiri adalah beban? Bahkan sampah saja tidak mempunyai beban seperti dirimu. Namun, kau memang terlihat seperti sampah menjijikkan!" Teriak Queen semakin mengeraskan cekikannya di leher Selir Sayinat.
Putri Biana yang di lapangan tengah berlatih pedang, ia menyipitkan matanya melihat Ibunda Ratu mencekik leher Selir Sayinat. Lalu, ia berlari sekencang mungkin, melepaskan cekikan itu di leher Selir Sayinat sehingga membuatnya bernafas lega.
Queen melongo melihat kejadian ini, ia melihat kedua tangannya, matanya berkedip beberapa kali, ia tidak menyangka akan melepaskan cekikan itu tanpa ia ubah sama sekali takdirnya. Lalu bagaimana novel ini bisa berjalan sesuai alur di novel itu? Siapa yang akan menggantikan dirinya untuk menghajar habis-habisan Selir Sayinat?
Bruk ....
Disaat Queen melamun ia harus di kejutkan dengan Putri Biana yang menghajar perut Selir Sayinat. Queen menutup mulutnya begitu pun dengan yang lain.
"Ah ...."
Selir Sayinat berusaha bangkit dari teras kerajaan ini, ia memegang perutnya merintih kesakitan karena tingkah laku dari putri Biana itu.
"Anak kurang ajar!" Teriak Selir Sayinat dengan amarahnya yang menggebu-gebu.
__ADS_1
"Aku bukanlah anakmu. Selir sialan!" Desisnya langsung menghajar wajah Selir Sayinat sehingga gigi gusinya copot seketika dan menimbulkan banyak darah bahkan darahnya menetes di gaun itu.
Bukan hanya itu, Putri Biana pun mencekik leher Selir Sayinat. Queen ngeri melihatnya, Panglima hanya melihat ini dengan puas.
"Kau tidak ingin membantu Selir Sayinat?" Tanya Queen tidak percaya disaat melihat Panglima malah menikmati pertempuran ini.
"Mengapa? Dia sombong sekali. Selir Sayinat saja tidak meminta bantuan ku?" Tanyanya dengan cuek.
Queen mengedipkan matanya beberapa kali, bahkan prajuritnya saja diam. Namun, sayangnya disaat Prajurit Kimura datang ia langsung mendorong putri Biana dengan kasar sehingga kepala Putri Biana terbentur dinding kerajaan ini.
"PUTRI BIANA!" Queen langsung membantunya, Putri Biana malah tersenyum karena ia baik-baik saja hanya luka goresan saja di keningnya.
Putri Cantika kesal melihat sikap Prajurit itu, ia bahkan mencekal tangan Prajurit itu yang langsung menyodorkan pedang kepadanya.
Mereka melotot melihat hal itu, Queen langsung menarik pedang itu dan menendang dengan keras perut prajurit itu sehingga tubuhnya membentur dinding kerajaan dan mulutnya memuntahkan darah yang banyak.
Amarah Queen semakin menggebu-gebu. Ia mengkibaskan pedang itu keatas dan berlari kearah prajurit yang tidak berdaya itu, Selir Sayinat yang sebentar lagi menutup matanya karena lemas ia tidak menyangka melihat sisi gelap sang Ratu kembali.
"SIALAN KAU TELAH MELUKAI KEDUA PUTRIKU!" teriak Queen sekeras-kerasnya.
Pedang itu dikibaskan keatas sehingga akan membelah kepala Prajurit yang tidak berdaya itu, mereka menutup matanya termasuk Selir Sayinat yang sudah pingsan terlebih dahulu.
"BERHENTI RATU!" teriakan itu memberhentikan Queen. Ia membalikkan badannya melihat Raja yang melotot kepadanya.
Raja langsung menarik pedang yang Queen pegang. "Kau ingin membunuhnya? Ternyata sikapmu masih sama."
Queen menggelengkan kepalanya. Panglima tidak mau membela Ratu ia membiarkan saja hal ini terjadi karena menginginkan Raja semakin membenci Ratu bukan malah mencintainya.
"Aku tidak membunuhnya!" Bantah Queen.
"Ternyata meskipun kau lupa ingatan sekalipun kalau sudah darah pembunuh melekat di dalam tubuhmu maka kau bisa apa?" Tanyanya dengan senyuman sinis.
'Tidak di duniaku tidak di dimensi ini sama-sama menyebalkan!' desis batin Queen.
"Kau menganggap ku menyebalkan begitu?" Tanyanya kesal.
Queen tercenggang mendengarnya. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri mengapa Raja bisa mendengar isi hatinya?
Raja menatap Queen lama begitu pun dengan Queen. "Sekarang aku harus terpaksa mengurungmu di kamarmu lagi."
"Tidak mau!"
"Yasudah. Berarti di kamarku."
"APA?!" Queen melotot ia tidak mau berada lama di kamar Raja.
Raja melihat kearah Panglima yang menundukkan wajahnya. "Kunci Ratu di kamar Saya setelah itu jangan biarkan dia pergi dari sana!"
Panglima mengangguk. "Baik Raja. Mari Ratu," Queen meliriknya sinis ia tidak menyangka panglima hanya diam saja.
"Apakah kau tidak bisa membelaku? Atau memberikan pernyataan tentang kejadian ini? Bukankah kau juga ada disini? Mengapa sikapmu buruk sekali?"
Panglima menghela nafas. "Aku hanya bawahan Ratu tidak bisa berbuat apa-apa selain mematuhi perintah Raja atau nyawaku yang menjadi jaminannya."
Raja tersenyum penuh kemenangan. Queen geram melihatnya ia ingin sekali mencekik lehernya, menebas kepalanya dan membuang tubuhnya ke sungai yang di penuhi buaya.
Raja terkekeh setelah menebak apa yang ada di pikiran Queen. "Itu tidak akan terjadi Ratu. Menyerahlah ...."
Queen berdecak kesal, lalu memalingkan wajahnya disaat ia pergi dari sana dengan panglima yang ada di belakangnya.
__ADS_1
Putri Biana dan Putri Cantika menundukkan wajahnya dalam, mereka sama sekali tidak bisa membantu ibunda Ratu karena sorot mata Ayahanda sangat tajam kepada mereka.
"Maafkan kami ibunda Ratu ...."
...***...
Para pelayan terus saja bergosip sehingga menyebar kepada Rakyat yang juga terkejut sekaligus dendam atas perilaku sang Ratu di kerajaan ini. Entah mengapa disaat berita tentang keburukan sang Ratu begitu heboh namun disaat kebaikannya memberikan 30 peti emas mereka malah tidak menyebarkannya sehingga Rakyat semakin membencinya.
"Memang tidak ada salahnya kita harus mendesak Raja agar pemilihan Ratu segera di percepat."
"Betul sekali. Kalau tidak di percepat bisa-bisa kita akan habis juga di tangannya."
Para Rakyat itu terus saja membicarakan hal itu tanpa tahu fakta yang sebenarnya.
Disisi lain Queen memukul dada bidang Panglima beberapa kali ketika sudah berada di kamar Raja yang luas dan mewah ini.
"KAU GILA HAH?!" Panglima mengerutkan alisnya.
"SUDAH GILA TIDAK MENGAKUI JUGA!"
Queen terus saja memaki panglima, memukuli dada bidangnya. Namun, di balik semua itu ada seulas senyum kebahagiaan tercetak di wajah panglima.
"AKU TIDAK MAU BERADA DI KAMAR INI!"
"Lalu?" Tanya Panglima dengan wajah ketusnya.
"Yah aku ingin pergi dari sini."
"Kalau begitu maukah Ratu pergi dari sini bersamaku dan lengser dari tahta Ratu?" Queen terdiam mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Panglima.
Rasanya disaat melihat wajahnya sangat manis sekali sehingga Queen lupa akan masalahnya. Namun, Queen tidak mau keluar dari kerajaan ini dan lengser menjadi seorang Ratu. Kalau itu akan terjadi berarti Queen akan tetap tinggal disini sebagai seorang Antagonis yang terkenal di dimensi ini.
"Tidak! Tidak!" Teriak Queen seakan ngeri setelah membayangkannya.
Alis panglima menyerngit bingung. "Mengapa? Bukankah perlakuan Raja dan para Rakyat selalu membuat Ratu sakit hati? Inilah saatnya Ratu untuk bicara kepada Raja dan lengser dari tahta sehingga Raja memberikan Ratu kepadaku," jelasnya penuh harap.
Queen mengepalkan tangannya. "Aku tahu kamu disini menjadi tokoh apa dan aku tahu bahwa kau mencintaiku bukan? Kau ingin membuatku jauh dari kerajaan ini sehingga aku dan kamu menjadi satu. Apakah itu yang kau mau?"
Panglima mengangguk dengan cepat. "Kau tidak boleh gegabah panglima. Asal kau tahu disaat itu pula kau dan aku akan di hukum mati. Apakah kau mau itu?"
Panglima melotot mendengarnya. "Apa salahnya? Bukankah Raja sudah berjanji untuk memberikan Ratu kepadaku?"
Ratu menggelengkan kepalanya. "Bukan semudah itu."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau terus saja berada disini. Aku ingin pergi namun sebelum itu aku harus menuntaskan semuanya!"
Panglima memegang kedua bahu Queen. "Apa yang harus aku tuntaskan?"
Queen menatapnya tidak percaya. "Aku akan mengubah alur tulisanku sendiri dan kau diamlah!"
"Apa yang kau katakan aku tidak mengerti!"
"Katakan kepada Raja aku ingin menemuinya."
Panglima melepaskan kedua tangannya dari bahu Queen. Ia tersenyum kecut dan pergi dari ruangan ini.
Queen menatap dirinya di cermin besar ini, tatapannya begitu sayu dan menyedihkan, ia tidak menyangka bisa masuk kedalam tubuh orang lain.
__ADS_1
"Ternyata menjadi seorang Ratu tidak seenak apa yang kalian bayangkan. Aku masuk kedalam novel dan menjadi Ratu antagonis yang membuat semua orang membenciku sehingga aku merasakan sakit yang amat mendalam. Sungguh, aku ingin pergi dari sini karena menjadi Ratu antagonis itu sangatlah menyakitkan," lirihnya.