
Selir Sayinat terlihat mengobrol asik dengan Raja sehingga dirinya selalu tertawa puas sementara Raja hanya sesekali tersenyum saja.
"Raja mencintaiku kan?" Raja menyerngit setelah mendengar pertanyaan konyol itu.
"Aku Selir kesayangan Raja kan?" Raja menghela nafas begitu panjang sehingga membuat Selir Sayinat tersenyum kecut.
"Raja tidak mencintaiku?"
Raja menatapnya begitu dalam, mereka berdua berada di satu ranjang yang sama dengan Selir Sayinat yang berada di pelukan Raja lebih tepatnya Selir Sayinat lah yang memeluk Raja.
"Apakah saya terlihat tidak adil kepada istri-istri saya?" Kini Selir Sayinat yang bingung dengan apa yang dikatakan Raja.
"Maksud Raja?"
"Ratu selalu mengatakan bahwa saya lebih suka menghabiskan waktu dengan kau dari pada dengan kedua istriku yang lain," suara Raja begitu sendu seakan ia sedang menyesali apa yang telah dibuatnya.
"Tidak buktinya Raja sekarang selalu menghabiskan waktu dengan Ratu dan Selir Raia serta anak-anaknya sehingga melupakan keberadaan ku. Apalagi aku mendengar Raja dan Ratu waktu itu ditaman tengah berciuman. Apakah Raja sudah mempunyai rasa kepadanya ataukah hanya memenuhi kewajiban saja?"
Raja hanya diam tidak bisa mengatakan apapun, denyut jantungnya bergetar dengan sangat cepat, bahkan Raja memejamkan matanya mengingat kembali momen itu.
"Berarti benar rumor dulu bahwa Raja mencintai Ratu. Bahkan, disaat waktu Ratu kecil Raja selalu tidak mau menjauh darinya meskipun Raja sudah menikah dengan aku dan Selir Raia waktu itu."
Raja terdiam ia jadi mengingat wajah Ratu yang lucu dan menggemaskan disaat ia masih kecil berumur 5 tahun dan setelah beberapa hari Raja menikahi Ratu ia menikah dengan Selir Raia kemudian tidak lama menikah dengan Selir Sayinat sehingga perhatiannya harus terbagi dengan dua istri lainnya.
Raja mengingat wajah Ratu ketika menatapnya sedih, memukuli dirinya menggunakan tangan mungilnya, tangisannya yang nyaring bahkan Raja melihat Ratu yang seakan ingin melemparkan sebuah batu besar tepat di kepala Selir Raia jika tidak langsung Raja cekal tangan sang Ratu mungkin Selir Raia akan terluka.
"Kenapa Raja melakukan hal itu! Apakah Raja tidak sayang lagi sama Ratu? Mengapa Raja terus memperhatikan wanita tua itu?!"
Mengingat cerocosan Ratu Raja tersenyum-senyum sendiri, Ratu waktu kecil sangat lucu dan menggemaskan serta bibirnya bawel sekali apalagi ketika sedang marah. Namun, setelah Ratu dewasa hal itu berbeda drastis Ratu jadi seorang Antagonis selalu mempunyai rencana untuk menjatuhkan serta membunuh sesuatu yang menghalanginya dari perhatian sang Raja.
Selir Sayinat kesal melihat Raja senyum-senyum sendiri ketika bersamanya dan Selir Sayinat sudah tahu bahwa Raja tengah mengingat sang Ratu.
"Meskipun Raja berada di dekatku. Namun, hati Raja seakan pergi entah kemana. Itulah yang aku takutkan, Raja selalu seperti itu."
Raja menengok kearahnya, ia bingung dengan apa yang dikatakannya.
"Itu tidak benar," ketusnya.
Selir Sayinat mendengus kesal. "Aku benar! Buktinya pemilihan Ratu saja Raja tunda. Mau raja apa sih?! Apa salahnya Raja lengserkan Ratu itu dan buat dia menjauh dari kehidupan kita sehingga kita bisa meluangkan waktu bersama dan aku akan menjadi Ratu bukan sebagai Selir kesayangan Raja."
Raja menyipitkan matanya. "Jadi kau tidak menginginkan menjadi kesayangan saya?" Selir Sayinat melotot mendengarnya.
"B-bukan begitu Raja!" Bantahnya.
Raja menghela nafas berat, ia bangun dari ranjang ini kemudian melenggang pergi begitu saja. Sementara Selir Sayinat kesal melihat hal itu sehingga ia membanting semua barang yang ada di dekatnya.
"KENAPA SELALU SEPERTI ITU!" teriaknya kesal.
***
Selir Raia tersenyum disaat melihat anak-anaknya sedang memilih gaun baru yang ditawarkan oleh pedagang di negri sebrang. Gaun-gaun itu sangatlah bagus dengan desain yang sangat indah meskipun kuno sekalipun.
Queen tidak sengaja melewati ruangan ini, Selir Raia melihatnya langsung mengajak Queen untuk bergabung bersamanya.
"Kesinilah Ratu," ratu tampak Ragu karena jujur saja ia tidak menyukai hal itu.
Mereka yang ada di ruangan ini terlihat sinis melihatnya, Selir Raia memegang tangan Ratu lalu mendudukkannya di kursi empuk ini.
"Ini pedagang dari negeri sebrang Ratu dan Ratu pasti menyukai semua gaun ini. Seperti biasa Ratu pasti akan memborong nya dan kami selalu kehabisan karena perintah Ratu yang tidak bisa di ganggu gugat," ucapnya disertai kekehan yang cukup garing untuk sang Ratu yang tidak mengingat kejadian itu.
"Aku memborong gaun?" Mereka mengangguk.
Queen tersenyum kecut. "Aku tidak terlalu suka berbelanja apalagi harus memborong."
Mereka tercengang mendengarnya langsung mengingat kejadian dulu disaat banyaknya para pedagang di negri sebrang dengan gaun-gaun yang sangat indah mereka bawa dan Ratu langsung memborong semuanya meskipun harus bertengkar dengan Raja serta selir Sayinat.
Karena keangkuhan sang Ratu dan janji Raja kepada ibunda Ratu sewaktu masih hidup untuk bisa membahagiakannya. Lantas, Raja membiarkan hal itu sehingga hal ini terus berlangsung selama berminggu-minggu lamanya dan keuangan kerajaan menurun. Bahkan, berakhir dengan pajak yang besar menuntut kepada Rakyat sehingga Rakyat mulai membenci sang Ratu.
Mereka merinding jika harus mengingatnya kembali. Pedagang itu berbisik kepada Selir Raia apalagi itu seorang wanita yang cukup sudah berumur.
__ADS_1
"Maaf Selir bukannya saya tidak sopan tapi saya hanya mengingatkan bagaimana kejadian dulu terjadi lagi apalagi Ratu ketika berbelanja ia tidak mau melewatkan satu keinginannya," bisiknya masih terdengar samar-samar oleh Queen.
Selir Raia menatapnya dan tersenyum. "Ratu kini sudah berbeda."
"Tapi ...."
"Apakah kamu tidak mau daganganmu laris?"
"Tapi aku lebih takut nyawaku ...."
Ratu bingung melihat mereka saling berbisik. "Ada apa?" Tanya Queen penasaran.
Mereka langsung menggelengkan kepalanya. Sementara para pelayan yang berada disini menatap Queen sinis.
"Kenapa Ratu tidak pergi dari ruangan ini? Menganggu saja. Lagi pula sebentar lagi Ratu akan lengser. Apalagi kalau Ratu berbelanja menghabiskan uang kerajaan saja," gerutu salah satu pelayan yang sedari tadi menatap Queen sinis.
Selir Raia dan juga anaknya terkejut mendengar hal itu, mereka yang tadinya asik memilih gaun harus di kejutkan dengan pertanyaan pelayan yang tidak mempunyai sopan santun.
Sementara Queen tahu hal ini pasti akan terjadi. Lantas, dirinya tersenyum saja.
"Aku tidak salah? Mengapa aku harus takut kepada Ratu antagonis seperti itu? Dia selalu menggelapkan harta kerajaan, menghabiskan uang kerajaan bahkan dia hina seperti bangkai! Seharusnya dia pergi dari sini atau di hukum mati saja sayangnya Raja masih membelanya. Dasar Ratu antagonis tidak tahu di untung ...."
Putri Biana geram mendengar pelayan itu terus saja mengoceh yang membuat darahnya mengalir sangat panas.
"Dulu saja disaat kalian masih kecil Ratu akan membunuh kalian satu persatu apakah kalian tidak ingat? Lantas mengapa kalian melihatku seakan membenci diriku? Aku memang seorang pelayan tapi aku juga Rakyat yang kesal dengan kelakuan Ratu seperti itu."
"Kau yakin?" Tanya Queen sambil bersedekap dada dengan senyuman yang mengejek melihat kearahnya.
"Aku yakin! Bahkan Ratu itu tidak di sayang Raja hanya ratu pajangan saja. Ratu memang seperti sampah seharusnya Ratu mati saja! Aku kalau menjadi selir raja akan membunuh Ratu tidak seperti ibu ketiga putri itu yang hanya diam saja sangat lemah."
Plak ....
Satu tamparan sangat keras begitu terdengar nyaring di ruangan ini. Putri Biana pelakunya, nafasnya tersengal-sengal, bahkan dirinya mencekik pelayan itu sehingga membuatnya kehabisan nafas.
Selir Raia memejamkan matanya, bahkan tidak ada yang berani melerai hal itu. "Jika kau mengatakan hal itu lagi tentang kedua ibuku maka aku akan membunuhmu hari ini juga!"
"PELAYAN GILA KAU YANG SAMPAH BUKAN IBUKU!"
Sret ....
Langsung saja Queen ambil pisau itu dengan mudahnya tanpa melukai tangan Putri Biana bahkan putri Biana terkejut melihatnya.
Pelayan itu menatap tidak percaya kepada Ratu bahkan air matanya mengalir begitu saja.
"Jangan seperti itu sayang ...."
Putri Biana mendekat kearah Ratu dan pelayan itu berusaha bangkit tanpa ada yang membantunya.
"Kenapa ibunda Ratu? Kenapa? Bukankah ibunda Ratu telah di perlakukanĀ buruk oleh pelayan rendahan itu? Ibunda Ratu berdarah biru seharusnya Ibunda Ratu di hormati, bukan? Mengapa ibunda Ratu diam tidak seperti dulu?" Cerocosnya.
Ratu mengelus rambut Putri Biana dengan sayangnya, lalu memeluknya sehingga membuatnya menangis.
"Sudah sayang jangan menangis lagi. Ibunda tidak apa-apa lagi pula ibunda Ratu paham rasa sakit mereka. Ibunda Ratu memang tidak ingat kejadian dulu seperti apa, akan tetapi ibunda Ratu akan memperbaiki semuanya."
Mereka tersenyum melihatnya, ada keterkejutan disaat melihat sikap sang Ratu yang berubah drastis. Bahkan, pelayan itu langsung bersujud meminta maaf kepadanya.
"Maafkan saya ratu, saya minta maaf saya tidak akan lagi merendahkan Ratu saya minta maaf ...."
Putri Biana langsung menarik rambutnya dengan sangat kasar sehingga membuatnya terkejut termasuk orang yang ada di dalam ruangan ini.
"Jangan melakukan hal itu putriku."
Putri Biana langsung melepaskannya, ia menatap ibunda Ratu dengan sedih. "Tapi dia jahat ...."
"Sudahlah."
Putri Biana memeluk sang Ratu, sehingga membuat perhatian beberapa orang yang berlalu lalang, mereka pun tersenyum melihatnya.
"Jika kamu ingin tahu percayalah sebentar lagi ada orang yang masuk keruangan ini memakai gaun yang begitu mewah dengan hiasan warna-warni berkilau layaknya sebuah berlian dan juga hiasan kepala berupa mahkota yang cukup besar meskipun itu bukan mahkota Ratu yang sesungguhnya. Para pelayan dan prajuritnya begitu banyak, orang itu yang akan membuat kekacauan selanjutnya."
__ADS_1
Mereka bingung mendengarnya. Bahkan, pelayan itu tampak tidak percaya, kemudian Queen menyuruhnya berdiri dan pelayan itu berdiri.
"SELIR KESAYANGAN RAJA MEMASUKI RUANGAN!!!!"
Teriakan prajurit yang berada di pintu ruangan ini mengalihkan semuanya. Terlihat selir Sayinat datang dengan para prajurit dan juga pelayan yang begitu banyaknya.
"Dia berlebihan ibu padahal masih selir," bisik Putri Aruna kepada Selir Raia yang terkekeh mendengarnya.
"Bukankah dia cocok sebagai badut?" Hampir saja Selir Raia akan tertawa mendengar gurauan anaknya itu.
Mereka langsung menundukkan badannya kecuali Queen, bahkan Queen merasa kesal disaat ia datang kesini tidak ada yang menghormatinya namun berbeda dengan Selir Sayinat padahal dia hanya seorang Selir saja.
'Seperti ondel-ondel di ibu kota Jakarta, sepertinya dia cocok jadi peran itu,' ucap batin Queen merasa lucu disaat melihat gaun yang di pakai Selir Sayinat itu.
'Jadi ngeri bagaimana Raja mencintainya dan selalu meluangkan waktu kepadanya sementara penampilannya saja seperti itu.'
Selir Sayinat menatap remeh kepada sang Ratu yang melihatnya.
"Bagaimana iri yah? Pelayananku lebih unggul dari pada dirimu yang sebentar lagi akan lengser dari sini?"
Queen memutar bola matanya malas. 'Kalau pun aku lengser aku tidak peduli dengan hal itu,' ucap batinnya.
Namun disaat itu pula langsung saja terdengar begitu nyaring di telinga Queen sehingga membuatnya menutupi kedua telinganya.
'JIKA ITU MAU MU MAKA BERSIAPLAH UNTUK TINGGAL SELAMANYA DI DI MENSI INI DAN MENJADI SEORANG ANTAGONIS YANG DI BENCI SEMUA ORANG!'
Suara itu bagaikan suara gaib yang hanya bisa di dengar olehnya saja.
"Mengapa?" Tanya Selir Sayinat seakan menantangnya.
Queen diam saja disaat Selir Sayinat melewati dirinya. Selir Sayinat melihat sedikitnya barang yang di beli selir Raia dan juga anaknya itu.
"Lebih baik sadar diri itu bagus untuk kalian," desisnya.
Ketiga putri itu geram mendengarnya. "Gaun-gaun nya bagus aku menginginkan semuanya!"
Mereka terkejut mendengarnya. "Ini sangat mahal! Seharusnya Selir kesayangan Raja berpikir lagi," usul Selir Raia.
Queen ingin muntah mendengar perkataan itu dari mulut Selir Raia. Bahkan ia mengatakan bahwa Selir Sayinat memang kesayangan Raja. Mana mungkin!
"Apa urusanmu? Raja menyayangi ku? Bukankah Ratu juga dulu seperti itu? Mengapa?"
Selir Raia terdiam. "Intinya semua yang kau bawa hari ini saya beli dan gaun-gaun itu simpan di ruangan khusus gaun-gaun ku!" Titahnya kepala para pelayan lainnya.
"Tapi ratu ini sangat banyak apakah Raja tidak akan marah?" Tanya penjual itu ia takut jika Raja marah dan akan membunuhnya.
"Tidak karena aku kesayangannya dan berapa harganya?"
"Semuanya setara dengan 30 peti emas Ratu."
Mereka melotot mendengarnya termasuk Queen. "BATAL! ITU TIDAK TERJADI DARI PADA HARUS DI BELIKAN UNTUK GAUN MENDING KITA BERIKAN KEPADA RAKYAT!" tegas Queen.
Selir Sayinat tersenyum sinis. "Bukankah dulu Ratu juga seperti itu? Jangan munafik aku tahu."
Ratu menggelengkan kepalanya. "Rakyat pasti membutuhkannya apalagi saya dengar akan ada pameran nanti, pilihlah gaun yang kamu butuhkan."
Selir Sayinat memutar bola matanya malas. "Iri yah?" Queen mendesis kesal.
"POKOKNYA SEMUANYA MILIKKU! TAGIH SAJA KEPADA RAJA PASTI RAJA AKAN MEMBAYARNYA!"
Setelah mengatakan hal itu Selir Sayinat pun pergi. Mereka langsung melihat kearah Queen termasuk pelayan yang tadi mengejeknya.
"Ternyata Ratu benar, itu adalah Selir Sayinat. Apakah Ratu seorang Dewi peramal masa depan?" Tanyanya penasaran.
Queen tersenyum saja andai mereka tahu bahwa Queen lah yang menuliskan takdir mereka lewat novel ini pasti mereka akan lebih terkejut.
'Asik juga begini," kekeh batin Queen.
Namun, satu hal yang Queen tidak tahu bahwa takdirnya akan menjadi seperti apa nanti.
__ADS_1